Minggu, 17 November 2013

Seberapa Pentingkah Menikah Itu?




Mungkin Anda pernah mendengar istilah "Jomblo Jatuh Tempo" yang pernah menjadi tema di salah satu  program “Mario Teguh Golden Way”. “Jomblo Jatuh Tempo”  istilahnya  menohok banget ya, tentunya yang paling tertohok adalah para jomblo yang sampai sekarang  belum juga mendapatkan pasangannya padahal target nikah sudah diujung tanduk. Opss.
Menikah? Sebuah kata yang mungkin menjadi impian dan idaman banyak orang. Sebagian mengatakan dengan menikah kita akan menemukan pelabuhan hidup kita. Sebagian lainnya  mengatakan dengan menikah kita akan menjadi lebih bahagia dalam menjalani hidup ini. Sebagiannya lagi mengatakan dengan menikah kita akan dapat melanjutkan keturunan kita.   Yang menjadi pertanyaan sebenarnya seberapa pentingkah menikah itu?
Untuk para jomblo (termasuk saya,hehe), mungkin sudah banyak sekali membaca tulisan yang memotivasi dan menguatkan jombloer  untuk tetap kuat  dalam menjalani hidup dengan status kejombloannya. Beberapa tulisan ada yang menjelaskan betapa bahagianya menjalani hidup lajang, kita bebas menikmati hidup kita, bebas berkumpul dengan teman-teman, bebas hang out, bebas pergi  dan melakukan hal apa saja yang kita suka. Memang tulisan tersebut ada benarnya, namun sampai kapan kita bertahan dengan ‘kebebasan’ itu.
Ketika usia kian merangkak naik, kita dipusingkan dengan  pertanyaan orang tua “ Kapan nak kamu mau mengenalkan calon suamimu” . Kita dibuat gila oleh gunjingan para tetangga “Kamu kapan nikah?” dan parahnya kita menjadi stress ketika bertubi-tubi mendapatkan undangan nikah dari teman kita. Lalu mungkin timbul pertanyaan  “Kenapa menikah seakan menjadi keharusan sih, padahal aku sudah cukup bahagia dengan hidupku sekarang”
Sudah menjadi kodrat, manusia  memerlukan suatu pelabuhan yang menjadi tempat untuk berbagi kebahagiaan, masalah, air mata, tawa dan tangis, karena sejatinya manusia membutuhkan tempat untuk menuangkan apa yang dirasanya. Contoh gampangnya saja, ketika kita memiliki masalah kita pasti ingin berbagi cerita masalah ini pada seseorang. Walapun kita belum menemukan solusinya, paling tidak dengan berbagi cerita  kita akan menjadi lebih plong.
Dengan menjadi lajang mungkin kita akan bebas lepas melakukan apa saja. Namun ketika kita pulang kita akan merasa ‘sendiri’. Memang kita memerlukan “Me Time” tapi terkadang “Me Time” juga ada kadarnya. Sebagai makhluk sosial tidak dipungkiri kita memerlukan orang lain untuk menopang hidup kita.
 Ketika kita menikah ada seseorang yang selalu setia mendampingi hidup kita baik kala suka dan duka.Ketika kita lelah dan capek dengan semua urusan kantor ada istri yang menyambut kita dengan senyuman manisnya dan secangkir kopi nikmat. Ketika kita memiliki masalah ada suami yang siap mendengarkan semua curahan hati kita. Ketika kita sakit ada seseorang yang akan dengan setia dan penuh kasih merawat kita sampai sembuh. Kebahagiaan itu akan semakin bertambah dengan kehadiran sang buah hati yang tawa dan candanya saja  sudah cukup membuat hati kita buncah dengan kebahagiaan.
Untuk kita yang masih membayangkan indahnya menikah padahal masa jomblo kita sedang mendekati jatuh tempo tetaplah berpikir optimis, lakukan semaksimal apa yang kita bisa lakukan. Kalau kita sedang naksir orang, kenapa kita tidak mulai bergerak untuk mendekatinya sebelum diambil alih oleh orang lain. Kalau kita masih belum punya gebetan kenap kita tidak mencoba untuk memperluas pergaulan, mengikuti organisasi, berkunjung ke tempat teman siapa tahu nanti kita akan  dapat gebetan.
Kadang dengan menetapkan tempo memberi kekuatan bagi kita untuk segera memenuhi target sebelum tempo itu jatuh. Meminjam istilah the power of kepepet, semakin kita kepepet semakin besar usaha yang akan kita lakukan dan insyaAllah kemungkinan untuk berhasil juga semakin besar jangan lupa untuk diiringi dengan doa tentunya.
Untuk para jomblo yang sudah mendekati jatuh tempo teruslah berusaha semaksimal mungkin semasih belum jatuh tempo, soal hasil akhirnya pasrahakan saja sama Allah SWT, kan hanya Allah SWT yang tahu terbaik buat kita.

1 komentar: