Minggu, 01 September 2013

Andai Aku Bertemu Denganmu Lebih Dulu

Dia Karyawan baru di perusahaanku bekerja. Mukanya tidak tampan-tampan amat. Tapi cukup punya karisma. Postur tubuhnya yang tinggi kurus menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi kalau dia tersenyum sungguh sangat memikat. Dan aku mungkin adalah salah satu orang yang tersihir dengan semua daya tariknya tersebut.

Aku dan dia berada dalam bagian yang sama, sehingga kita sering bekerja dalam satu tim. Awalnya kita biasa saja. Entah dapat ilham darimana, teman-temanku mulai mengejek kedekatan kami. Sampai tidak lama kemudian aku dan dia  pun menjadi bulan-bulanan perjodohan  mereka.

Aku hanya bisa tersenyum jengah menjadi bahan ledekan mereka. Memang nasib jomblo seperti diriku rentan untuk dijodoh-jodohkan dengan orang lain. Terkadang aku gusar juga dengan ledekan mereka. Aku takut dia menilai kalau aku suka dia. Padahal aku sangat gengsi dalam urusan naksir cowok. Aku tidak mau aku yang terlihat naksir duluan. Mungkin ini juga yang membuatku lama menyandang status jomblonya.

Sedangkan dia, hanya tersenyum saja jika sedang diejek dijodohkan denganku.

"Sudahlah Ta, kamu kan masih jomblo apa salahnya dicoba dengan dia," 

"Ta, dia tinggi, cakep, baik lagi. Jangan disia-disiakan lho. Nanti kamu rugi."

"Ta, kayaknya dia suka kamu deh. Buktinya kalian nyambung kalo ngobrol. Terus dia juga sukanya berdiskusi ma kamu. padahal kalau nanya ke aku juga bisa, tetapi dia lebih memilihmu."

"Ta, dari pada kamu kelamaan menjomblo, mending kamu jadian ma dia."

Ucapan teman-temanku berputar-putar di kepalaku, rasanya suara-suara  itu tidak  mau pergi dari pendengaranku. Ya Tuhan kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Apakah aku mulai menyukainya.

Akupun mulai terobsesi untuk mengenalnya lebih jauh. Ku search namanya di google, kucari FBnya dan kubaca semua status di timelinya secara diam-diam, aku belum berani untuk men add FBnya , lagi-lagi karena kegengsianku. entah kenapa aku sangat menikmati menelusuri semua tentang dirinya. Bahkan tidak bosanbosan akun baca timeline di FBnya tiap hari.

Ya Tuhan apakah aku sudah mulai menyukainya. Kita dekat setiap hari tapi entah mengapa aku merasa seperti jauh. Sampai tiba pada suatu hari yang akan selalu kuingat dalam hidupku. Dia mendatangi mejaku dengan muka berbinar membawa sepucuk kertas yang entah aku tidak tahu apa. Tapi nampaknya seperti sebuah undangan.

"Buat kamu Ta," dia menyarahkan kertas yang seperti undangan itu kepadaku.

"Apa ini?" 

"Undangan nikahku Ta. Aku sudah lama bertunangan dengan dia. Tapi kita baru mantap menikah sekarang. bla bla bla." curhatannya sudah tidak aku dengar lagi. Yang aku dengar hanya bunyi dengungan saja.

Ya Tuhan pandanganku mendadak gelap. Seakan  aku terjatuh dalam  lubang yang amat sangat dalam. Disaat aku menyukainya dan terobsesi dengannya ternyata dia sudah mempunyai orang lain  dan  sudah lama menjalin hubungan dengannya.

Ya Tuhan seandainya dia bertemu denganku lebih dulu, mungkinkah dia akan memilihku. Tiba-tiba aku sangat menyesal kenapa Tuhan mempertemukanku dengan dia terlambat...

Tanpa kusadari air mataku menetes. Oh Tuhan dia tidak boleh melihatnya. Aku buru-buru menyekanya dengan tanganku.

"Aku pasti datang. Selamat ya..."

"Makasih Ta. Sekarang aku yakin dia yang terbaik untukku Ta. Aku doakan semoga kamu juga menemukan yang terbaik untukmu Ta. Amiiin."

Dia baru menyadari sekarang. Berarti dia sempat menimbang dengan orang lain sebelum memutuskan kalau calon istrinya adalah yang terbaik dan tiba-tiba aku merasa orang lain yang menjadi bahan perimbangan  itu adalah aku. Ya Tuhan kini aku menyadari kalau yang pertama belum tentu akan menjadi yang terbaik karena jodoh hanya di tangan Tuhan.

 "Selamat ya, semoga kamu berbahagia dengannya. Betapapun sakitnya ini, aku harus terus menjalani hidupku."


- Seperti yang dikisahkan oleh seorang teman -





2 komentar: