Senin, 21 Januari 2013

UNTITLED_Part 3


5 Tahun Kemudian


“Gubraaaaaaaaaak,” Maya bertabrakan dengan seseorang.

Buku  di tangan Maya jatuh berhamburan di lantai.

“Maaf, maaf,” ucap Maya sambil menunduk dan  mengambil bukunya yang jatuh berserakan di lantai. 

Gara-gara terburu-buru, Maya jadi meleng jalannya dan akibatnya dia  menabrak orang.

“Kalau jalan pakai mata dan kaki yang benar,” ucap suara cowok yang tadi ditabrak Maya dengan ketus.

Maya yang sedang sibuk mengambil bukunya, menoleh ke cowok tersebut.

Dihadapannya berdiri seorang cowok manis tinggi tegap dengan pakain rapihnya. Sejenak Maya mengagumi ketampanan cowok di depannya. Namun, Maya buru-buru mengusir rasa kagumnya demi mendengar ucapan nyolot cowok tadi.

“Aku kan sudah minta maaf barusan.”

Cowok tersebut hanya diam.  Kemudian berlalu begitu saja tanpa bilang apa-apa.

Maya menahan rasa kesalnya demi  melihat ulah cowok itu. Maya jelas-jelas sudah minta maaf. Lagian dirinya juga tidak sengaja menabrak.

“Hay,” sentak sebuah suara yang mengagetkan Maya.

“Ina, kamu ngagetin aku aja.” Maya menumpahkan kekesalannya pada Ina.

“Lho..lho kok kamu  tiba-tiba marah-marah ke aku. Tiada angin tiada hujan.” Ina tidak terima.

“Habisnya kamu ngagetin aku,” Maya mencari alasan, padahal alasan sebenarnya Maya hanya melampiaskan kekesalannya pada cowok barusan ke Ina.

“Habisnya kamu nglamun. Hayo nglamun siapa?” goda Ina.

“Apaan seh. Aku nggak nglamun apa-apa.”

“Pasti bohong,” Ina terus menggoda Maya.

“Udah ah yuk masuk kelas, ntar keburu pak Eko masuk,” ajak Maya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Ina mengikuti langkah cepat Maya yang sudah berlalu duluan sambil terus menggoda Maya.
                                                                      *

Maya dan Ina sama-sama menghela nafas lega ketika masuk kelas pak Eko belum datang.

Pak Eko yang mengajar mata kuliah hukum perdata terkenal sebagai dosen killer di kampus mereka. Semua mahasiswa yang datangnya di belakang pak Eko, dilarang masuk kelas. Walaupun jelas-jelas pak Eko datangnya lebih awal 5 menit. Siapa yang protes siap-siap saja  dicatat namanya dan nilai D pun menanti. Pak Eko memang sangat pelit nilai, mendapat nilai C saja, sudah sangat Alhamdulilah.

Pandangan Maya langsung tertuju pada seorang cowok yang dengan santai  duduk di kursi depan dan kursi  itu adalah kursi  yang sering diduduki Maya. Tiba-tiba rasa kesal Maya muncul kembali demi melihat cowok yang duduk di kursinya adalah cowok yang tadi bertabrakan dengannya.

Maya memandang tajam cowok tersebut, yang sedang asyik memainkan tabletnya. Merasa 
diperhatikan cowok tersebut menatap Maya sekilas dengan angkuh kemudian kembali asyik dengan tabletnya, menganggap Maya seperti tidak ada.

“Heee maaf ini kursi saya.” Ucapan Maya bernada mengusir.

“Masih banyak kursi kan.” Cowok itu menjawab malas.

“Tapi aku biasa duduk disini, sejak dulu.” Maya sengaja menekankan kata ‘sejak dulu’. 

“Enak aja kamu yang baru datang ngrebut kursiku.”

Ina yang tidak tahu apa-apa jadi bingung sendiri.

“Udah May, kita pindah duduk aja.” Ajak Ina mencoba menenangkan Maya yang sedang jengkel setengah mati. Maya tidak menggubris Ina.

“Eh, kamu tuli ya. Pindah nggak,” Maya setengah berteriak.

Ina kaget dan mencoba menenangkan Maya. Seisi kelas mulai memperhatikan meraka.

Cowok tersebut bukannya pindah malah tidak mengindahkan Maya sama sekali. Dia masih asyik dengan tabletnya.

“Pak Eko datang May,” ingat Ina sambil manarik tangan Maya ke belakang.

Maya bersungut-sungut dengan kesal berjalan ke belakang. Sambil mencari kursi yang masih kosong.

“Kamu kenapa seh May, kelihatannya sensi banget ma tuh cowok,” bisik Ina setelah mereka mengambil tempat duduk di barisan paling belakang.

Padahal Maya benci sekali duduk di paling belakang. Matanya yang minus terkadang kurang jelas melihat layar LCD di depan. Apalagi ini mata kuliahnya pak Eko. Maya harus benar-benar mencatat dan memperhatikan jika ingin bisa mengerjakan ujian pak Eko yang super banget susahnya.

“Aku  sebel banget ma tuh cowok. Udah sombong, nyolot,” sungut Maya.

“Kamu kenal dia?”

Deheman pak Eko menghentikan  obrolan Maya dan Ina. Mereka pun segera memperhatikan pak Eko jika tidak ingin dikeluarkan dari kelas.

“Sebelumnya bapak akan menyampaikan informasi kepada kalian.” Pak Eko mulai membuka kelas.

Suasana kelas hening. Semua fokus mendengarkan pak Eko.

“Selama tiga bulan ke depan bapak tidak bisa mengajar kalian karena bapak ada tugas study ke luar negeri.”

Semua dengan refleks bersorak kesenangan. Deheman dan pelototan pak Eko sudah cukup membuat mereka terdiam.

Maya mengangkat tangannya.

“Ya Maya,” pak Eko mengijinkan Maya untuk bicara.

“Terus nasib kelas kita gimana pak. Apakah kita hanya dikasih tugas atau sama sekali tidak ada kelas?”

Seisi kelas dalam hati  mengamini kata-kata ‘sama sekali tidak ada kelas’.

“Kelas tetap jalan,” jelas pak Eko. Raut muka seisi kelas mendadak jadi kecewa.

“Akan ada yang menggantikan bapak mengajar disini. Dia adalah asisten bapak dan baru lulus S2 dari Oxford University. Dia sudah hadir disini. Namanya Rio.”

Seisi kelas penasaran. Sambil celingak-celinguk mencari orang yang dimaksud pak Eko.

Betapa kagetnya Maya ketika melihat cowok yang bertabrakan dengan Maya berdiri kemudian menghampiri pak Eko.

Ina disebelahnya tak kalah keget.

Maya hanya bisa menelan ludah, menelan pahit kenyataan. Sementara  Rio memandang Maya dengan tajam seakan siap menyiksanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar