Rabu, 05 Desember 2012

UNTITLED_ part 2


Lagi-lagi Kikan dibuat takjub oleh Maya. Setelah dibuat heran dengan kebiasaan baru Maya yang sering pergi ke kantin. Kini Kikan terngaga oleh penampilan baru Maya.
            “Kamu pakai maskara? Kamu pakai lipstik.?”
            Kikan terkejut bukan main seperti orang  yang baru saja mendapatkan undian berhadiah. Namun, dengan hadiah yang tidak terlalu besar.
            Maya hanya tersenyum. Senyumnya pun sekarang beda, tidak mengaga seperti mau menelan dondong bulat-bulat. Senyum Maya  hanya membentuk garis yang sangat tipis.
            Lagi-lagi Kikan menempelkan punggung tangannya ke dahi Maya.
            “Apa-apaan sih Kan,” Maya nampak kesal dengan ulah Kikan sambil menampik tangan Kikan.
            “Kamu habis kesambat apa? Kemarin kamu pulangnya pasti lewat jalan pintas yang ada kuburannya ya?”
            Maya tertawa. Kali ini juga tertawanya kecil. Tidak seperti ketawa mak Lampir, ciri khas Maya.
            “Aku pengen tampil beda aja. Nggak ada salahnya kan?  Dulu kamu yang paling cerewet  nasehatin aku untuk memperbaiki penampilan. Sekarang aku sudah berubah. Eh kamu malah heran.”
            “Iya seh. Tapi nggak spontan gini.” Kikan masih heran.
            “Terus sekarang gimana  dengan penampilan baruku?”
            “Mirip ondel-ondel.”
            Kikan menimpuk punggung Maya dengan tasnya. Namun, Kikan dengan sigap menghindar dan tertawa menang.
*
            Maya hari ini membolos dari kegiatan ekstrakulikurelnya di  koran sekolah. Apalagi kalau bukan demi untuk melihat Dimas. Dalam minggu-minggu ini tim basket sekolah memang sedang gencar latihan, hampir setiap hari malah. Mereka sedang bersiap mengikuti kompetisi basket antar sekolah se Jakarta.
Walaupun latihan belum dimulai, Maya sudah mangkal duduk di pinggiran lapangan basket bersama puluhan cewek lainnya yang ternyata sudah lebih dulu datang dibanding Maya.
            Pandangan Maya langsung terfokus pada Dimas yang terlihat sedang bersiap-siap untuk latihan di pingir lapangan . Di samping anak-anak basket, berdiri segerombolan cewek cheers yang juga akan latihan. Tak ketinggalan Rachel ada disana.
            Rachel menghampiri Dimas sambil menyodorkan sebotol air minum.
            “Gud luck ya Dim,” ucap Rachel memberi semangat pada Dimas sebelum turun latihan.
            “Makasih, chel,” jawab Dimas sambil tersenyum, senyum yang bisa buat hati cewek-cewek klepek klepek.
            Maya dan gadis-gadis lain melihat kejadian itu dengan iri tingkat dewa. Dalam hati Maya merutuki nasibnya. Kenapa dia hanya bisa sebagai pengagum rahasia. Seandainya dia seperti Rachel. Maya mulai berkhayal.
Maya merogoh sesuatu dari tasnya. Dipandanginya bungkusan dari kertas kado yang terbungkus rapih dan cantik. Semalaman Maya membungkus kado tersebut dengan hati-hati agar bentuknya rapih dan sempurna. Di dalam kado tersebut adalah hadiah istimewa yang khusus Maya persembahkan hanya untuk Dimas.
*
            Maya selalu menantikan saat jam pelajaran  olahraga. Karena pada saat inilah terbuka kesempatan untuk bisa melihat Dimas sepuasnya. Jam olahraga kelas Maya berbarengan dengan jam olahraga kelas Dimas. Tak jarang kelasnya dan kelas Dimas yang satu tingkat diatasnya berada dalam satu lapangan ketika berolahraga.
            Hari ini kelas Maya sedang melakukan penilaian olohraga lompat tinggi. Olahraga yang paling dibenci Maya. Jujur Maya tidak berbakat dalam bidang olahraga, terutama lompat tinggi. Bahkan untuk ketinggian satu meter saja Maya kesulitan melompat meskipun postur badan Maya tidak pendek. Sangat berbanding terbalik dengan Dimas yang sangat jago olohraga.
            Maya semakin bertambah cemas ketika hampir tiba gilirannya.Hari ini sepertinya Maya sedang sial karena  kelas 3 banyak yang sedang duduk-duduk sambil melihat adik kelasnya olahraga dan salah satunya adalah Dimas . Karena kelas tiga juga sedang ada penilaian lompat jauh sehingga yang belum tiba gilirannya bisa leluasa menonton.
            Jantung Maya semakin berdegup kencang ketika tiba namanya dipanggil. Maya tidak berani memandang sekeliling. Maya hanya fokus pada kayu yang akan dilompatinya. Namun, semakin lama Maya memandang, kayu tersebut terlihat semakin tinggi. Nyali Maya pun semakin menciut.
            “Ayo Maya semangat kamu pasti bisa,” Kikan menyemangati Maya dipinggir lapangan. Kikan tahu kalau Maya sedikit pobia dengan lompat tinggi.
            Maya melangkah dengan pelan. Cemas, ragu, dan malu bercampur aduk di dalam hatinya. Sekilas Maya memandang tampak Dimas sedang memeperhatikan dirinya. Entah   itu kenyataan atau cuma ilusi Maya. Tapi yang pasti perhatian Dimas itu datang di saat yang tidak tepat. Dimana Maya hampir 80% memastikan bahwa dirinya pasti akan membuat malu dirinya sendiri di hadapan orang-orang terutama Dimas.
            Maya siap mengambil ancang-ancang, Dipejamkannya mata Maya rapat-rapat sambil terus merapal doa, berharap kali ini Tuhan baik padanya sehingga lompatannya bisa melewati kayu itu dengan sempurna.
            Namun, ternyata keberuntungan belum berpihak padanya. Ketika melompat, Maya merasakan kakinya terantuk oleh benda keras dan itu menyebabkannya jatuh terjerebab di pasir. Sialnya lagi Maya terjatuh tepat di muka sehingga muka Maya membenam di pasir.
            Bukannya  simpati yang di dapat oleh Maya. Namun suara tertawa dan ejeken terdengar  keras dari seluruh penjuru lapangan yang menyaksikan Maya terjatuh dengan posisi yang menyedihkan. Tidak Cuma teman kelasnya Maya yang tertawa melihat kejadian lucu tadi. Namun, anak kelas 3 pun ikut tertawa. Mereka seakan mendapatkan hiburan gratis dari Maya.
            Maya mengaduh kesakitan, kakinya yang terantuk kayu terasa nyeri. Sementara mukanya penuh dengan pasir. Maya membuang ludahnya berkali-kali ke pasir, karena ternyata pasir juga masuk mulutnya.
            Kikan dan Pak Budi, guru olehraga Maya bergegas menghampiri Maya.
            “Kamu nggak papa May?” tanya pak Budi.
            Maya hanya menggeleng sambil menahan nyeri di kaki dan terutama lututnya yang lecek karena terantuk pasir dengan keras.
            Kikan dan pak Budi membantu Maya berdiri.
            “Kan, kamu bawa Maya ke UKS ya.” Perintah pak Budi.
            Kikan mengangguk lalu bergegas membawa Maya ke UKS.
            “Kan sumpah aku malu banget. Apalagi kelas 3 suara ketawanya paling keras,” ucap Maya dengan suara memelas ketika mereka sudah berjalan jauh meninggalkan lapangan.
            “Kamu kenapa tadi pake jatuh segala?”
            “Tadi aku nggak konsen, ini gara-gara..” Maya memutus kalimatnya.
            “Gara-gara apa?” tanya Kikan.
            Maya buru-buru menggeleng.
            “Heheheh nggak papa Kan. Kan kamu tahu sendiri kalo aku nggak bisa olahraga apapun itu jenisnya,” elak Maya.
*
UKS
Maya berkali-kali membolak-balikkan badannya di kasur sempit UKS. Maya menahan rasa perih di lutut dan pergelangan kakinya yang tadi baru saja diberi obat merah oleh petugas UKS. Perihnya terasa sekali. Maya sampai merintih pelan. Sementara Kikan sudah daritadi masuk kelas, meninggalkan Maya sendiri di UKS.
“Bisa diam nggak,” tiba-tiba  terdengar sebuah suara dari ruang sebelah yang hanya dibatasi oleh tirai putih.
Maya yang sedang merintih kesakitan, segera menghentikan erangan demi mendengar suara cowok dari ruang sebelahnya.
“Kamu nggak tahu kalau aku lagi kesakitan,” balas Maya ketus, jengkel dengan orang yang ada disampingnya.
“Tapi suara jelekmu itu membuatku nggak bisa tidur. Aku juga butuh istirahat,” suara dibalik tirai nggak mau kalah.
Maya semakin kesal, mendengar suaranya dihina.
“Yang datang duluan ke UKS siapa? Jadi terserah aku dong mau ngapain. Mau ketawa kek, nangis kek, nyanyi-nyanyi kek, itu bukan urusanmu!  Lagian ngapain juga kamu ikut-ikut ke UKS,” balas Maya semakin kesal, rasa perih di kakinya sedikit terlupakan akibat pertengkaran ini.
“Malas gue berdebat ma gadis cupu yang bodoh dalam olahraga.”
Maya meradang mendengar olokan cowok itu.
“Jaga omonganmu ya,” teriak Maya sambil menyingkap tirai di sampingnya demi melabrak cowok yang tidak tahu diri itu.
Namun, Maya terdiam.  Wajahnya tiba-tiba memucat ketika tahu siapa cowok yang daritadi mengajaknya berdebat.
“Kak Dimas,” hanya suara pelan itu yang mampu keluar dari mulut Maya.
Dimas hanya tersenyum sinis ketika melihat kepala Maya menyembul dari tirai yang membatasi tempat tidur mereka.
Dimas tersenyum sinis.
Maya tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bunyi erangan yang keluar dari mulutnya.
“Gue paling muak sama cewek tipe kayak gini.”
Maya diam.
“Cewek yang beraninya suka sama orang di belakang. Rajin ngirim hadiah tapi tanpa nama. Suka sama orang tapi nggak berani bilang. Giliran ketemu orangnya nggak berani bilang apa-apa. Kayak kamu!” dingin suara Dimas.
“Maksud kak Dimas apa?” tanya Maya yang tersentak seakan baru bangun dari pingsannya.
“Kamu kan yang ngirim ini semua.” Dimas tiba-tiba mengeluarkan semua coklat dari sakunya.
Maya memandang coklat tersebut sambil menelan ludahnya. Semua coklat itu adalah kiriman kakaknya yang sekarang sedang sekolah di Jerman menemani ayah Maya yang sedang tugas di Jerman.
Maya memang suka sekali coklat, apalagi coklat kiriman kakaknya dari Jerman  yang membuat  Maya ngiler. Tapi, lagi-lagi demi Dimas, Maya rela menahan diri untuk tidak  memakan semua coklat tersebut. Maya lebih memilih memberikan semua coklat itu untuk Dimas.
Maya mematung diam. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Antara rasa malu, kesal dan terhina. Malu karena kedoknya sebagai pengagum rahasia Dimas sudah terbongkar, kesal karena Dimas begitu kasar padanya dan sangat terhina dengan ucapan Dimas, semuanya bercampur aduk menjadi satu tidak karuan.
Sementara, Dimas  dengan muka dinginnya seakan puas sudah mempermalukan Maya.
“Itu bukan dariku,”elak Maya.
Dimas hanya tersenyum sinis mendengar pembelaan dari Maya.
“Kamu kira aku tidak tahu kalau hampir  tiap hari kamu mengendap-ngendap ke kelasku lalu meletakkan coklat-coklat  ini di laciku.  Kamu yang selalu saja menguntitku ke kantin dan lapangan basket. Itu semua sudah cukup menjadi bukti kan kalau kamu suka aku?”
Maya gelagapan dengan ucapan Dimas barusan.
“Kamu sama saja dengan semua cewek disini. Kalian yang sama sekali tak punya nyali. Aku muak dengan kalian semua.”
Maya bagai tersambar petir di siang bolong demi mendengar ucapan Dimas. Dimas muak dengan Maya, Dimas tidak suka dengan Maya dan yang pasti Maya ditolak mentah-mentah oleh Dimas. Semua kenyataan itu membuat Maya mau menangis. Namun, Maya mencoba sekuat tenaga menahan air matanya yang hampir jatuh. Maya tidak ingin Dimas semakin tertawa senang diatas semua kesedihannya.
“Siapa bilang itu dari aku. Kamu jangan ge-er ya,” Maya mulai memberanikan diri untuk mengeluarkan suara. Sementara  hatinya benar-benar  kembang kempis menahan kesal. Harga dirinya yang terhina membuat Maya bersumpah akan menutupi semua rasa sukanya kepada Dimas.
“Aku cuma membantu temanku yang suka kamu. Coklat itu dari temanku. Aku yang selalu menguntitmu ke kantin dan lapangan basket itu karena temenku memintaku mencari informasi tentang kamu.”
Maya menghela nafasnya.
“Dan yang pasti aku tidak akan pernah suka sama cowok sombong, angkuh dan dingin kayak kamu.” Suara Maya bergetar. Dimas hanya diam.
Maya menutup  tirai yang membatasi mereka berdua dengan kasar. Maya merebahkan badannya dan akhirnya air mata Maya jatuh juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar