Minggu, 02 Desember 2012

"NO TITLE"



 Bagaimana jika cowok yang kita taksir mati-matian waktu SMA yang jelas-jelas menolak kita muncul kembali mengusik kehidupan kita, menawarkan sebuah cinta....Namun, disaat waktu yang tidak tepat karena  kita sedang mencoba menerima cowok lain yang dapat menerima kita apa adanya....... (*lagi alay..............)



No TITLE
(Masih bingung judulnya..............)


Bagian 1


               “Mayaaaaaaaaaaaaaaa,” Kikan menepuk bahu Maya dengan keras.
            Maya yang sedang melamun kaget setengah mati mendapat serangan mendadak dari Kikan.
              “Kan, kamu  mau buat aku mati jantungan,” gerutu Maya kesal.
               Kikan tertawa.
            “Maaf Maya sayangku cintaku, habisnya kamu daritadi melamun terus. Katanya mau ngajarin aku soal Fisika ini.” Kikan mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas soal-soal Fisika yang hampir membuat kepalanya pecah.
            “Heeeem.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Maya, nampak  tidak bersemangat sekali.
            Maya memang sedang tidak mood dengan soal-soal Fisika itu, walaupun Maya suka sekali pelajaran Fisika. Namun, untuk detik ini, semua ruang di pikiran Maya tersita untuk satu nama, Dimas.
*
            Maya berlari kencang dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada. Dalam hati Maya merutuki nasib sialnya pagi ini. Maya bangun kesiangan di hari Senin. Itu artinya jika Maya terlambat mengikuti upacara, maka hukuman dijemur pun menanti di depan mata.
Ini semua gara-gara semalam dirinya begadang nonton film korea “Pasta in Love”. Saking asyiknya jalan cerita “Pasta in Love”, Maya memaksakan untuk  menghabiskan seluruh episode malam itu juga.  Akibatnya Maya pun baru tidur jam 2 pagi dan bangun jam 6 pagi.
Maya langsung mandi secepat kilat dan menyambar sepotong roti dari meja makan sambil berlari menyetop angkot yang lewat di jalan depan rumahnya. Tak dihiraukan omelan Mamanya yang gerah melihat ulah Maya.
            “Kamu telat lagi,” tegur pak Arif, satpam sekolah  sambil geleng-geleng kepala.
Kurang cepat semenit lagi maka Maya bisa masuk pintu gerbang dengan aman karena pak Arif baru saja menutup pintu gerbang sekolah.
            Maya tidak menjawab. Matanya melirik ke halaman sekolah. Upacara bendera sudah akan dimulai.
            “Please pak ijinin saya masuk ya. Saya kan cuma telat semenit. Lagian upacara benderanya juga belum dimulai.” Maya mengiba.
            Namun, pak Arif tidak tersentuh dengan raut muka Maya yang sengaja dipasang memelas. Trik yang sudah sangat sering dijumpai pak Arif sebagai petugas penutup pintu gerbang sekolah.
            “Kamu telat ?” tegur sebuah suara.
            Di samping pak Arif  tiba-tiba  berdiri Dimas  dengan muka angkuhnya. Maya sempat terpaku beberapa detik karena terpesona dengan kecakepan Dimas. Hal yang sama pasti akan terjadi pada cewek normal.
Dimas adalah ketua PKS di sekolah. Dimas memang tampan dengan wajah angkuh dan tubuh tinggi tegapnya. Selain sebagai ketua PKS, Dimas juga tergabung dalam tim basket sekolah sebagai kapten basket pula.
Yang naksir Dimas, jangan tanya dari kelas satu sampai kelas tiga tak terhitung jumlahnya. Mereka ada yang terang-terangan bilang suka, ada yang  mengejar-ngejar dengan usaha yang ekstra atau ada juga yang cukup puas sebagai pengagum rahasia. Nah, Maya ini masuk yang golongan terakhir. Rasa kurang percaya dirinya, membuat Maya terpaksa  menyembunyikan rasa kagumnya pada Dimas.
            Maya hanya gadis biasa di dekolah. Wajah pas-pasan dengan sedikit kesan manis dipadu dengan kulit hitam eksotisnya. Maya juga tidak seterkenal Rachel, model dan  kapten cheers  nanum juga tidak secupu Lili, gadis kutu buku yang selalu menjadi juara umum di sekolah. Penampilan Maya pun standar berangkat sekolah cukup dengan bedak tabur dengan sedikit olesan lipgloos di bibirnya, minyak telon bayi, dan rambut yang cuma dikuncir kuda dengan sedikit acak-acakan. Pokoknya semua tentang Maya itu standar.
            “Kenapa terlambat?” tanya Dimas membuyarkan lamunan Maya.
            Maya gelagapan mencari jawaban.
            “Ba ba bangun kesiangan kak,” jawab Maya tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.
            Dimas menggeleng.
            “Tetap berdiri di luar sampai upacara selesai.” Ucap Dimas tegas dengan muka datarnya.
            Maya pun pasrah dengan nasibnya.
            Setelah upacara selesai, penderitaan Maya dan teman-teman yang senasib karena datang terlambat belum berakhir. Meraka masih harus menyiapkan kuping baik-baik untuk menerima “nesehat” dari kakak-kakak PKS.
            “Kalian ini mau jadi apa? Datang ke sekolah terlambat tidak ikut upacara, Kalian bangga dengan semua ini,” bentak Meta, anggota PKS yang paling galak.
            Maya tidak suka dengan Meta. Meta selalu saja cari muka di depan Dimas dengan cara memberi nasehat panjang lebar di depan mereka agar dikira Meta itu siswa teladan. Padahal kelakuan Meta sama saja. Jika dia bukan anggota PKS maka sekarang dia  pasti akan berdiri bersama-sama Maya. Tadi Maya seangkot bareng Meta dan Meta berjalan jauh di belakangnya ketika berjalan dari terminal menuju sekolah. Sudah dipastikan Meta pasti telat tapi dia santai saja jalannya mentang-mentang dia anggota PKS.
            Dimas menyela “pidato” Meta yang kepanjangan. Kuping Maya aja sampai bosen.
            “Sekarang kalian tulis nama kalian di kertas ini,” Dimas menunjukkan kertas putih yang ada di tangannya.
            Semua mata dan perhatian cewek bukannya tertuju  kepada kertas yang ditunjuk Dimas, malah asyik memperhatikan Dimas.
            “Jika besok kalian terlambat lagi. Maka sebagai hukumannya adalah membersihkan lapangan bola. Kalian mengerti?”
            “Mengerti kak,” jawab Maya dan teman-temannya dengan kompak.
*
            “Kamu kok bisa telat?” Kikan langsung menanyai Maya ketika sudah masuk kelas.
            “Semalam keasyikan nonton ‘Pasta in Love’...”
            “Huh dasar, korea maniak sih kamu....”
            Maya hanya nyegir.
            Kikan memandang Maya dengan aneh. Bukannya menyesal atau uring-uringan habis dihukum. Maya malah senyum-senyum sendiri.
            “Kamu kenapa? Belum minum obat?” tanya Kikan bingung.
            Maya tidak menggubris pertanyaan Kikan. Hati Maya sekarang sedang berbunga-bunga.
*
            “Ke kantin yuk, Kan,” ajak Maya.
            “Kamu nggak bawa bekal May?”
            Maya selama ini jarang sekali ke kantin. Biasanya dia bawa bekal dari rumah katanya biar ngirit. Maya memang suka sekali megumpulkan uang sakunya.
            “Bawa bekal kayak anak SD aja.”
            Kikan menempelkan punggung tangannya ke dahi Maya.
“Nggak panas,” ucap Kikan.
Maya menepis tangan Kikan dengan kesal.
            “Ayo Kan, temenin ke kantin. Laper neh, ntar kamu aku traktir deh,” janji Maya sambil setengah memohon.
            Mendengar kata traktir Kikan tiba-tiba jadi semangat 45.
            Ternyata memang ada udang dibalik batu. Maya ke kantin bukannya mau menikmati makanan. Namun, menikmati menatap Dimas, meskipun dari jauh. Entah kenapa sejak kejadian dirinya yang terlambat. Bayang-bayang Dimas selalu melintas di pikirannya. Pokoknya yang ada di otak Maya ingin melihat Dimas.
            Di kantin Maya hanya bisa melihat Dimas dari jauh. Di seberang sana Dimas sedang asyik makan dengan teman-teman gang basketnya yang terkenal eksklusif. Dimas tidak banyak bicara di tengah teman-temannya.
  Namun, pemandangan yang membuat Maya risih adalah Rachel yang nampaknya selalu saja menempel Dimas kemanapun pergi.
            Tentu saja Rachel dengan mudah  diterima untuk bergabung dengan gang Dimas. Rachel kapten tim cheer yang juga model. Tampang dan penampilannya jangan ditanya. Rachel sangat cantik dan modis ditambah dengan postur tubuhnya yang langsing dan tinggi semampai. Pokoknya Rachel itu gambaran cewek yang sempurna.
         Maya merasa iri. Rachel begitu mudah mendekati Dimas. Sementara dirinya bersama puluhan cewek lain hanya bisa diam-diam. Seandainya Maya seperti Rachel, cantik, terkenal, kaya.  Namun, sayangnya Maya hanya gadis biasa,walaupun cukup manis, namun kemanisan Maya tertutup dengan ketomboyannya dan sifat cueknya terhadap penampilan atau pakaian yang dikenakan.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar