Rabu, 26 Desember 2012

Hujan, Penjaja Payung, 2.000




Udah lamaaaa vakum dari dunia tulis menulis neh...(hahaha lebay padahal baru 1 minggu nggak nyentuh laptop khusus buat nulis....). Alasannya karena lagi asyik membantu persiapan nikah mbak, biasa bantu ‘sripilan-sripilan’ dari mulai nempelin nama di undangan, bungkus undangan, sampai nyebarin undangan,dan seabrek lainnya. Pokoknya semangat 45 banget bantunya, padahal dalam hati sambil berharap “ siapa tahu dengan membantu persiapan nikah mbak, nanti jodohku dilancarkan ma Allah” Aminnn (hahaha,,ujung-ujung tetep ngarep)Tapi yang pasti aku tulus kok mendoakan semoga nikahannya mbkq lancar, aminnn (congratz mbk Upi dan mas Adit, doakan aku segera nyusul....).

 
Kali ini nggak nulis serius,Cuma pengen ‘corat-coret aja’ pengalaman beberapa hari lalu. Sepulang dar i Jakarta dan habis dapet durian runtuh gara-gara berkesempatan nginep di hotel Mercure Ancol yang kalau buka jendela  kamar pas banget bisa liat laut yang pemandangannya okee banget pokoknya (yang ini diceritain lain kali aja...).

Dari Jakarta, gara-gara nggak dapet tiket kereta (maklum  bertepatan dengan liburan Natal yang membuat tiket langsung terkuras habis), akhirnya  diputuskan pulang kerumahnya mau nggak mau mesti naik bus. Akhirnya  aku segera meluncur  ke Terminal Bekasi. Kenapa terminal Bekasi? Karena jujur aku nggak tahu tentang serba-serbi dunia keterminalan di Jakarta, hampir setahun hidup di Bekasi membuatku sedikit tahulah dimana letak terminal, kesana harus naik apa, jadwal keberangkatan bus ke Kebumen, sampai muka yang jaga tiket bus pun hapal.

Finally nyampe terminal jam 02.00 siang, padahal busnya baru berangkat jam 05.00. Mau nggak  mau harus menunggu diterminal. Rencananya seh pengen jalan-jalan dulu di Metmall (dah kangen cuci mata, lama banget nggak pergi kesana) tapi apa dikata cuaca tidak mendukung dan yang paling pasti duitpun tidak mendukung #halah (Bisa-bisa   khilaf blanja, uang ludes, nggak bisa pulang, dan harus nggelandang di terminal).

Belum ada setengah jam menginjakkan kaki di terminal, tiba-tiba hujan langsung turun dengan sangat derasnya, bagai ditumpahkan dari langit. Aku yang nggak kebagian tempat duduk terpaksa dan harus ihklas berdiri sambil memandang tiap tetea air yang jatuh sambil melamun kesana-kemari. Jujur suasana pas hujan itu enak banget kalo kita nikmatin. Hawa sejuknya, tetesan airnya, dan suaranya yang beririma. (Coba sambil bayangin hal-hal yang romantis, pasti semakin romantis den #gubrak).....


Lagi asyik melamun “sesuatu hal”, tiba-tiba dihadapanku sudah berdiri seorang anak kecil dengan tubuh kurus keringnya dan pakaian yang kuyup oleh air hujan. Anak itu mengacungkan payung yang sedikit rusak ke arahku, sementara dia membiarkan badannya basah ditimpa air hujan..
“Mbak payung mba,,” tawarnya.
Aku menggeleng, karena memang aku tidak membutuhkan payung tersebut.
“Mbak payung mba,” tawarnya lagi pantang menyerah.
“Maaf, nggak de,” jawabku sambil menggeleng.

Kemudian dengan kecewa si anak langsung berlari, bergabung dengan teman-temannya sesama penjual jasa payung. 

Anak tersebut berlari penuh semangat setiap  ada bus datang. Dia langsung standby di depan pintu bus untuk menjajakan payungnya.

“Payung bu, pak payung,” tawarnya yang ditimpali oleh teman-temannya. 

Satu dua orang menyambut tawaran para penjaja payung.

Anak kecil itu tersenyum gembira sekali ketika seorang ibu menerima tawarannya. Dengan semangat dia langsung memberikan payung itu menjadi hak sepenuhnya si ibu. Sementara dia dengan setia membututi  si ibu dari belakang tanpa payung. Kini tubuh kecilnya sempurna basah kuyup. Badannya yang kurus kering membayang dari balik bajunya. Akupun mau tidak mau entah kenapa menjadi tertarik untuk mengamati gerak-gerik si anak dan melupakan begitu saja lamunanku barusan.

Setelah sampai di tempat berteduh si ibu memberikan payung tersebut pada anak kecil itu. Anak kecil itu dengan setia menunggu si ibu yang sedang sibuk mencari uang recehan dari dalam tas, saku baju. Semua diinspeksi si ibu guna mendapatkan uang receh untuk si anak. Lama si ibu memncari uangnya. Namun, si anak dengan setia menunggu sambil memandang si ibu dengan pandangan khas anak kecil yang tulus. (Aduh bener-bener trenyuh lihatnya....).

Lama menunggu (Jadi ikut nggak sabar), akhirnya si ibu berhasil mengeluarkan uang receh sebesar 2.000 dan memberikannya kepada si anak.

Anak kecil tersebut menyembutnya dengan sangat  gembira sambil mengucapkan terima kasih. Digenggamnya uang 2.000 itu dengan erat sebelum dimasukkan ke saku celananya yang basah. Aku sempat melihat senyum senangnya sebelum kemudian dia  berlari lagi ke arah bus yang berhenti di terminal, kembali menjajakan payungnya yang rusak tersebut.
Dia memang kelihatan lincah dan gembira bersama teman-temannya. Namun, aku bisa menangkap sedikit getaran di tubuhnya karena menggigil kedinginan. Dia memang tersenyum sangat tulus setiap ada orang yang mau menerima jasanya. Namun, warna biru di bibirnya tidak mungkin tersamarkan. 

Aku memperhatikan semua itu. Namun, dia, anak kecil penjaja payung tersebut mana peduli dengan semua itu. Yang dia peduli adalah bagaimana caranya mendapatkan banyak uang dari menjaja payung. Walaupun itu hanya 2.000, kelihatan sekali si anak sangat mensyukuri nikmat dari Allah SWT tersebut.

Semua pemandangan itu terpampang jelas di hadapanku. Nasib mereka  memang  tidak begitu mujur. Namun, ada hal besar yang patut kita pelajari dari mereka yaitu semangat. Semangat untuk mencapai sesuatu dan semangat untuk memperbaiki nasib mereka.Dan aku pun merasa tersindir................



(Saat itu langsung terpikirkan untuk membuat novel tentang mereka anak-anak penjaja payung. Namun, novel keduaku saja mandeg begitu saja di tengah jalan, dan novel pertama belum ada penerbit yang berminat. Doakan saja semoga saya punya semangat seperti mereka sehingga saya punya energi untuk membuat novel tentang mereka dan menyelesaiakan semua tulisan saya yang tertunda. ^^)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar