Rabu, 10 Oktober 2012

part 6 - 10


6
Sekolah Gratis


Sekolah  yang dibayangkan oleh Maya tidak seperti yang terlihat di depannya sekarang. Sekolahnya bukan berbentuk bangunan namun hanya saung-saung yang berjejer di halaman sebuah rumah yang cukup besar.  Murid-murid duduk lesehan menghadap ke papan tulis hitam. Di setiap saungnya di tempel  papan yang menunjukkan kelas-kelas, ada kelas 1 sampai kelas 6 SD dan kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMP. Sehingga totalnya ada 12 saung.  Sepertinya sekolah ini mencoba mengelompakkan murid-muridnya sesuai dengan usianya.
            “Halo,” sapa seseoang tiba-tiba, mengagetkan Maya.
            Di hadapan Maya dan Niken  sekarang  sudah berdiri Dimas dan seorang cowok yang tadi mengagetkan Maya. Cowok tersebut lumayan cakep juga, batin Maya. Dari mukanya juga terlihat cukup dewasa.
            “Kirain nggak jadi  datang,” ejek  Dimas lirih yang ditujukan kepada Maya.
            Maya mendelik  kesal.
            “Ini yang namanya Maya.” tanya cowok cakep tadi sambil memandang Maya.
            Maya mengangguk sambil tersenyum.
            “May, kenalin ini Mas Bayu. Dia bersama teman-teman kuliahnya yang mendirikan  sekolah ini. Ini rumahnya mas Bayu.” Terang Niken.
            Ternyata rumah besar yang halamannya dijadikan sekolah gratis adalah  rumahnya mas Bayu, diam-diam Maya menganggumi mas Bayu, sudah cakep punya jiwa sosial yang tinggi lagi.
            Mas Bayu tersenyum dengan ramahnya pada Maya lalu menjulurkan tangannya kea rah Maya mengajak Maya berjabat tangan. Maya menjabat tangan mas Bayu..
            “Maya.”
            “Bayu. Senang berkenalan dengan kamu Maya,” ucap mas Bayu ramah.
            “Mas Bayu ini mahasiswa UGM jurusan Teknik Sipil lho, May. Hebat kan dia bisa masuk UGM. Selain pintar dia juga mempunyai jiwa sosial yang tinggi” jelas Niken sambil memuji-muji mas Bayu.
            “Ah kamu berlebihan, Ken.” Mas Bayu  terlihat agak sungkan di puji-puji terus oleh Niken.
            Niken hanya tersenyum.
            “Oya Maya, kamu bisa bahasa Inggris?” Tanya mas  Bayu.
            “Bisa dikit-dikit, mas.” Maya merendah.
Padahal sebenarnya  kemampuan bahasa Inggris Maya tidak perlu diragukan lagi. Ayah Maya  yang bekerja di Departemen Luar Negeri,  dulu pernah ditugaskan di keduataan besar Indonesia di  Amerika  selama empat  tahun.  Maya dan mamanya ikut diboyong juga ke Amerika. Karena hidup dan sekolah disana, bahasa Inggris Maya jadi lancar.
            “Kalau gitu mas bisa minta tolong kamu ngajar bahasa Inggris kelas 4  dong.”
            “Eh ngajar, mas? Aku nggak bisa ngajar mas” Maya langsung menolak. Maya kira dia ikut kesini cuma untuk menemani Niken saja, bukan malah disuruh mengajar.  Maya sama sekali belum pernah memiliki pengalaman mengajar. Lagian Maya juga malas kalau  harus mengajar dan berhadapan dengan anak-anak kecil.
            Mas Bayu nampaknya  membaca keraguan di wajah  Maya.
“Tenang May, kamu tidak sendirian kok. Ada Dimas yang mendampingi.”
Mas  Bayu melirik kearah Dimas, Dimas dan Maya sama-sama kaget mendengar ucapan mas Bayu barusan.
            “Sama Dimas, mas?”  tanya Maya kaget sambil menunjuk Dimas dan menunjukkan sikap tidak setuju.
            “Siapa juga yang mau mengajar sama kamu.” timpal Dimas nggak mau kalah.
            “Nggak papa kan Dim, May”  mas Bayu  membujuk mereka.
            Maya dan Dimas masih diam.
            “Sekali ini saja ya, Maya, Dimas,” bujuk mas Bayu lagi.
            Dimas dan Maya akhirnya  mengangguk bersamaan, terpaksa karena tidak enak dengan  mas Bayu.
*
            Maya memperhatikan  Dimas dengan sedikit rasa kekaguman yang tiba-tiba muncul begitu saja. Ternyata si angkuh yang selama ini menjadi teman sebangkunya bisa berubah menjadi seorang guru yang kocak dan penuh semangat. Dimas mengajar bahasa Inggris bukan dengan metode yang kaku, namun dengan permainan-permainan yang menarik. Anak-anak pun menjadi antusias dan bersemangat dalam belajar. Sejak tadi, Maya hanya menonton Dimas mengajar. Maya ingin melihat dulu bagaimana caranya mengajar. Maklum Maya belum pernah mengajar sama sekali
            Maya dan Dimas hari ini kejatah mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak setingkat kelas 4  SD.  Jumlah muridnya sekitar 8 orang.  Rata-rata anak-anak disini adalah pengemis, pengamen, pemulung  atau buruh di pasar. Terlihat dari penampilan dan pakaian mereka. Mereka terlihat sedikit kumuh dengan pakaian yang sobek di beberapa bagian. Maya merasa  iba dengan keadaan mereka.
Untung ada orang-orang seperti mas Bayu dan temen-teman UGMnya, Niken serta  Dimas yang peduli dengan  pendidikan mereka. Maya menjadi sedikit merasa malu dengan dirinya sendiri  yang selama ini tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Waktu d Jakarta, ketika mobil Maya berhenti di lampu merah, Maya lebih suka untuk menutup kaca mobilnya daripada memberikan uang receh kepada pengamen atau peminta-minta.
            “Oya adik-adik  hari ini kita kedatangan kakak baru,” kata Dimas tiba-tiba sambil  menatap Maya yang duduk di belakang anak-anak.
Maya tersadar dari lamuanannya. Semua anak spontan menoleh ke belakang, memandang Maya.  Maya  melempar senyum  kepada mereka.
            Dimas memberi  kode pada Maya agar maju kedepan memperkenalkan dirinya pada anak-anak.
            Maya berjalan ke depan lalu duduk di samping Dimas. Dengan isyarat Dimas menyuruh Maya memperkenalkan dirinya.
            “Halo adik-adik, kenalin namaku Maya. Senang berkenalan dengan kalian.” Maya memperkenalkan  dirinya singkat, sedikit kaku.
            “Guru barunya cantik,” seru suara anak cowok bertopi merah  yang duduk di barisan paling depan.
            Maya tersipu-sipu malu.
            “Terimakasih…., eh namamu siapa?” tanya Maya pada anak tersebut.
            “Iqbal, kak.”
            “Oh, terimakasih Iqbal. Kamu juga cakep.” Maya memuji. Iqbal langsung  tersenyum malu-malu. Semua temannya langsung tertawa meledek Iqbal.
            “Kak Maya, temannya kak Dimas ya,” seorang gadis manis  dengan pakainnya yang berlubang-lubang bertanya dengan malu-malu kepada Maya.
            “Iya, adik manis,” jawab Maya sambil melirik kearah Dimas.
            “Oh, aku kira pacarnya kak Dimas kayak di sinetron-sinetron.” ucap gadis tersebut malu-malu yang langsung disambut seruan anak-anak lain, menggoda Maya dan Dimas.
            Pipi Maya langsung memerah. Sementara disampingnya, Dimas juga jadi ikut  terlihat canggung. Entah kenapa tiba-tiba Maya jadi salah tingkah begini, padahal hanya dibencadain sama anak kecil dan lagi dirinya dipasang-pasangin dengan Dimas yang jelas-jelas tidak akur dengannya.
            “Sekarang waktunya kamu yang mengajar,” ucap Dimas lirih dekat dengan telinga Maya, membuyarkan  lamunan Maya.
            “Hah aku?” Maya merasa belum siap jika harus mengajar.
            Dimas mengangguk lagi. Maya hanya mengangguk lemah sedikit ragu-ragu untuk memulai.
            Maya menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Maya berusaha tidak terlihat bodoh di depan Dimas. Maya tidak ingin jadi bahan cibiran Dimas lagi.
            “Ok adik-adik sebelum kakak ngajarin kalian bahasa Ingris, kalian perkenalkan diri kalian dulu yah, kakak kan belum tau nama-nama kalian.” Maya memulai mengajar.
            “Baik kak, “ teriak mereka kompak.
            “Tapi pakai bahasa Inggris ya,” pinta Maya.
            “Yahhhhhh,” semua anak kompak  mengeluh.
            “Eittt, kalian kan dah belajar bahasa Ingris sama kak Dimas pasti bahasa Inggris kalian dah bagus-bagus. Kakak pengen tahu kemampuan bahasa Inggris kalian seberapa.” Maya memberi alasan sambil melirik kearah Dimas.
            Mau tidak mau anak-anak menuruti Maya. Maya memandu perkenalan mereka satu persatu. Sementara itu, Dimas terus memperhatikan Maya mengajar.
            Hampir tiga jam, Maya dan Dimas berkolaborasi mengajar bahasa Inggris. Kali ini mereka nampak akur. Anak-anak pun terlihat senang diajar oleh Maya dan Dimas.
           
*
            Setelah  mengajar,  Maya dan Niken tidak langsung pulang   mereka ngobrol-ngobrol dulu   dengan mas  Bayu dan Dimas.
            “Gimana, Maya? Asyik kan mengajar?” Tanya mas Bayu.
            “Yah gitu mas. Masih pertama kali jadi masih banyak yang salah. Untung ada Dimas yang ngebenerin kalau salah.” Kalimat Maya yang mengalir begitu saja mengagetkan Maya sendiri dengan kata-kata  ‘Untung ada Dimas’. Maya langsung diam. Sementara Dimas jadi sedikit salah tingkah.
            “Wah kalian ternyata cepat juga kompaknya ya. Kayaknya aku  nggak salah jodohin kalian sebagai pasangan mengajar.” Ucap mas  Bayu sambil tertawa.
            Maya dan Dimas hanya tersenyum kecut. Niken ikut-ikutan tertawa, meledek Dimas dan Maya.
            “Wah kayaknya cukup sekali ini saja mas. Repot juga kalau tiap kali harus benerin kesalahan Maya,” ucap Dimas nyinyir sambil ngelirik ke Maya.
            “Siapa juga yang mau ngajar bareng kamu. Itu tadi juga karena aku terpaksa.” Maya tersulut dengan ucapan Dimas.
            “Kalian ini baru saja akur sudah bertengkar lagi. Kayak kucing ma tikus aja,” Niken menimpali.
            “Dia yang mulai duluan,” ucap Maya sengit kepada Dimas.
            “Tapi, May. Mas harap kamu masih mau tetap mengajar disini. Kebetulan disini masih kekurangan pengajar,” sela mas Bayu.
            “Lagi mas? Mas kan tahu  aku nggak bisa ngajar,” tolak Maya halus. Maya berharap ini pertama dan terakhir kalinya dia mengajar. Apalagi jika harus berpasangan dengan  Dimas.
            “Kan belajar tidak dalam satu hari, May. Dulu waktu pertama kali  mas  mengajar juga masih canggung dan sering salah. Tapi lama-lama kalau  sudah terbiasa ngajarnya akan terasa enak dan lancar, May.”
            “Iya, May, benar kata mas Bayu. Nggak ada salahnya kan May dicoba dulu. Aku yakin kamu bisa,” rayu Niken ikut-ikutan mas Bayu  membujuk Maya.
            Maya diam terlihat sedang berpikir. Mengajar sebenarnya  bukan jiwa Maya. Jiwa Maya ya senang-senang, belanja ma nonton. Apa kata Lulu dan Nika nanti kalau tahu ternyata Maya jadi guru di sekolah gratis.
            “Gimana Maya?” Tanya mas  Bayu lagi.
            Maya melirik Niken, Niken mengangguk meyakinkan Maya.
            “Sebagai imbalannya, nanti aku temenin kamu nonton dan main sepusanya,” ucap Niken lirih.
            Namun, Maya masih ragu dan bimbang, sogokan Niken tidak cukup kuat untuk membuat Maya mau mengajar lagi di sekolah gratis.
            “Hanya orang yang berjiwa sosial lemah yang menolak tawaran ini,” ucap Dimas tiba-tiba. Maya memandang kearah Dimas dengan sengit. Lagi-lagi ucapan nyinyir Dimas membuat Maya menjadi panas.
            “Oke mas, aku mau mengajar,” ucap Maya mantap pada mas  Bayu.
            Mas Bayu tersenyum senang  begitu juga dengan Niken. Maya melirik Dimas dengan sengit. Lai-lagi karena Dimas, Maya harus melakukan hal yang Maya tidak sukai.
           

7

Buku Gambar



Hari ini, Niken tidak masuk sekolah karena sakit. Padahal hari ini rencananya Maya dan Niken mau  pergi ke kota Jogja sepulang sekolah dengan diantar pak Herman. Kemarin  Niken berjanji  mau menemani Maya jalan-jalan ke Mbarukmo Plaza, mal terbesar di Jogja. Selain jalan-jalan mereka juga  sekalian mau  nonton film. Ini semua  sebagai imbalan Niken kapada Maya karena  Maya mau mengajar di Sekolah Gratis. Namun, karena Niken tidak masuk karena sakit maka otomatis rencana tersebut gagal semua.
Bel istirahat sudah berbunyi. Namun, Maya malas untuk  beranjak dari tempat duduknya. Biasanya kalau istirahat Maya ke kantin bareng  Niken. Tapi sekarang Niken tidak masuk, Maya malas ke kantin sendirian. Ngajak Dimas, tentu saja nggak mungkin. Maya melirik kearah Dimas yang sedang asyik ngobrol  dengan Toni, teman sekelasnya. Toni  tersenyum kearah Maya. Maya membalas senyum Toni.
“Maya mau ikut ke kantin bareng?” ajak Toni.
Maya menggeleng. Sebenarnya Maya lapar juga, tapi mana mungkin dia ke kantin bareng Dimas dan Toni. Makan semeja ma cowok angkuh bernama Dimas tentu akan sangat tidak mengasyikkan. Lagian siapa tahu Dimas juga tidak mau dirinya ikut mereka ke kantin.
“Mau nitip sesuatu di kantin nggak, May?” tanya Toni  lagi sok baik kepada Maya.
“Nggak, Ton. Makasih ya.” Tolak Maya lagi.
Toni  hanya mengangguk, agak kecewa. Lalu Dimas dan Toni  beranjak pergi ke kantin. Sementara, Maya di kelas sendiri hanya membaca. Bosan juga lama-lama membaca, apalagi buku yang dibacanya adalah buku pelajaran sejarah, membuat mata Maya menjadi mengantuk.
Maya melirik ke meja Dimas. Tiba-tiba  muncul rasa penasaran Maya untuk melihat-lihat barang-barang Dimas. Maya penasaran dengan buku gambar yang selalu dibawa Dimas. Ketika jam istirahat, jam kosong atau ketika sedang diterangkan di depan kelas, Dimas terkadang asyik sendiri dengan buku gambarnya. Asyik menggambar sesuatu dan seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.
 Ketika Maya sedang melihat Dimas menggambar, Maya melihat ada keseriusan dalam mukanya dan Dimas kelihatan sangat tenang dengan muka yang antusias. Jujur diam-diam Maya suka jika melihat Dimas sedang menggambar.
Sambil mengamati keadaan sekeliling, Maya merogoh laci meja Dimas. Tangan Maya menyentuh buku gambar Dimas. Dengan hati-hati Maya menarik buku gambar tersebut dari dalam laci.
Sampul buku gambar tersebut tertulis nama Dimas dengan huruf yang lumayan besar. Maya lalu mulai membuka kertas gambar tersebut satu persatu dan menikmati dengan seksama  setiap gambar yang ada didalamnya. Ternyata banyak juga gambar-gambar Dimas dan semuanya bagus-bagus.  Gambar Dimas  begitu nyata, natural, selain itu garis-garisnya juga terkesan tegas. Diam-diam Maya mulai mengagumi Dimas.
Gambar pertama Dimas  adalah gambar  seorang nenek yang menggendong jamu. Lalu ada gambar tentang topeng, gambar tentang perempuan-permpuan desa dan gambar tentang perempuan muda yang sedang menuntun anak kecil. Maya begitu asyik mengamati gambar Dimas sampai-sampai dia tidak sadar kalau Dimas sudah berdiri di sampingnya.
“Lagi ngapain kamu?” tanya Dimas dingin. 
Maya kaget  bukan main ketika sadar  kalau  Dimas ternyata sudah datang dan melihat Maya  sedang membuka-buka buku gambarnya. Maya  langsung menutup buku gambar Dimas.
“Eh, eh, eh, aku cuma liat-liat aja, Dim,” jawab Maya agak gelagapan.
Dimas langsung merebut buku gambarnya  dari tangan Maya dengan kasar.
“Aku nggak suka kamu ngutak-utik barang-barangku. Apalagi tanpa ijin.” Dimas memperingatkan dengan tegas sambil memandang Maya dengan tajam.
“Maaf Dim. Aku hanya, hanya  penasaran dengan gambar-gambar yang telah kamu buat.” Ucap Maya sedikit gemetar.
Dimas tidak menggubris permintaan maaf  Maya. Dimas menyeret kursinya dengan kasar dan kembali menyimpan buku gambarnya dalam laci mejanya. Maya menjadi salah tingkah.
Dan perang dingin antara Maya dengan Dimas pun semakin bertambah  dingin.

*

            “Ernest ada titipan  buat lu nih,” lapor Seno yang baru tiba di studio sambil menyerahkan sebatang coklat yang dibungkus dengan kertas kado  berwarna silver dengan diikat  pita putih.
            “Dari siapa, Sen?” Tanya Ernest heran sambil  menerima coklat tersebut dari tangan Seno.
            “Nggak tahu tadi aku nrimanya dari pak Parno. Katanya waktu bersih-bersih studio pak Parno nemuin itu di depan pintu. Di atasnya ada kertas bertulis buat Ernest.”
            “Dari penggemar lu kali, Nest,” duga Boy.
            “Cie,,sekarang Ernest sudah punya penggemar.” Goda yang lain.
            “Bukannya dari dulu Ernest dah jadi idola sekolah. Semua cewek pasti klepek-klepek di hadapan Ernest.”
            “Dari mulai Maya, Sinta, Ratna, Ayu, Intan, Puspita, dan sekarang  Tania, kapten chers sekolah. Gila nggak tuh?”
            “Sialan kalian,” maki Ernest pura-pura marah dengan ledekan-ledekan teman-temannya.
            Sementara, dalam hatinya Ernest bertanya-tanya siapa pengirim coklat tersebut. Ernest memang sudah sering mendapat kiriman hadiah dari penggemar-penggemarnya. Namun, mereka biasanya selalu mencantumkan namanya, tidak seperti sekarang yang tanpa nama.
           
*
           
            Maya berjalan dengan langkah gontai menelusuri jalan desa seorang diri. Hari  ini ada jadwal ke sekolah gratis, tapi Maya merasa sangat malas untuk pergi kesana. Alasan pertama, karena Niken hari ini tidak datang ke sekolah gratis, karena masih masa pemulihan sakitnya. Alasan kedua yang merupakan alasan  yang paling kuat adalah Maya harus bertemu dan mengajar bersama  Dimas yang masih marah padanya, gara-gara kejadian buku  gambar kemarin. Walaupun Maya sudah minta maaf,  namun nampaknya Dimas masih segan untuk memaafkannya Maya.
            Namun karena Maya sudah terlanjur janji dengan mas Bayu, maka Maya mau nggak mau harus datang ke sekolah Gratis walau dengan berat hati. Kedatangan Maya langsung disambut oleh mas Bayu dan Dimas yang sudah lebih dulu ada disana.
“May, hari ini kamu ngajar kelas VI ya, May. Nggak papa kan?”
“Saya mas? ngajar sendiri?”
“Teman mas, Poltak,  yang ngajar kelas VI nggak bisa datang hari ini katanya mau ambil data skripsi di Jakarta. Nggak papa kan May kalau kamu mengajar kelas VI seorang diri? ” tanya mas Bayu.
            Maya Nampak berpikir sebentar. Sepertinya akan lebih baik jika  Maya mengajar kelas VI daripada Maya harus mengajar dengan Dimas yang sikapnya  masih dingin gara-gara kejadian buku gambar kemarin.
“Ehmm, baiklah mas.” Ucap Maya akhirnya.
            “Mas yakin kamu bisa kok.” Mas Bayu member smeangat kepada Maya.
Maya mengangguk sambil tersenyum menyemangati dirinya sendiri. Kemarin Maya sudah mengajar dan dapat diterima oleh anak-anak kelas IV. Sekarang pun Maya yakin dia pasti bisa menghandle anak kelas VI.
            Di saung kelas VI  hanya terisi oleh lima orang  anak. Empat  anak laki-laki dan satu anak perempuan. Semuanya langsung memandang Maya ketika melihat Maya masuk ke saung.
            “Halo,” sapa Maya pada mereka, mencoba untuk bersikap ramah.
            Tapi kelima anak disaung hanya diam, tidak menjawab sapaan Maya sama sekali.
            “Hai kenalin aku guru baru kalian. Namaku Maya, kalian bisa panggil aku kak Maya.” Ucap Maya mencoba memberi nada semangat pada suaranya.
            Kelima  anak tersebut masih diam, tanpa ekspresi. Mereka memandang Maya dengan pandangan seperti tidak suka. Maya jadi salah tingkah sendiri karena baru kali ini dia mendapat pengalaman seperti ini.
            “Kita nggak mau belajar kalau nggak sama kak Poltak.” Seru satu-satunya anak perempuan disitu tiba-tiba  sambil memandang tidak suka kearah Maya.
            “Lho kenapa?” Tanya Maya.
            “Emang kamu bisa mengajar kita?” anak laki-laki  berkulit hitam dan kurus menimpali. Sambil memandang  Maya dari ujung kepala sampai ujung kaki, terkesan meremehkan Maya.
Maya yang daritadi mencoba sabar jadi tersulut emosinya.
Paling-paling mbak ini bisane cuma  dandan,” timpal yang lain  yang langsung disambut tawa mengejek  oleh teman-temannya.
            Maya berusaha sekuat mungkin menahan emosinya, jika bukan anak-anak pasti Maya sudah membentak mereka. Dulu saja Maya berani menampar dan adu mulut dengan  Tania gara-gara kepergok sedang berdua dengan Ernest.
            “Sekarang kalian keluarkan buku tulis kalian, kita akan belajar bahasa Inggris.” Perintah Maya pada mereka, mencoba tidak menggubris ejekan mereka.
            Namun, tidak ada satu pun anak yang mengeluarkan bukunya. Malah mereka memandang Maya dengan pandangan aneh seperti melihat alien.
            “Kalian nggak denger ya, kakak  bilang keluarkan buku kalian.” Maya mulai tidak sabar menghadapi mereka.
            Tapi, anak-anak  masih diam seperti patung. Maya jadi bingung apa yang mesti dilakukannya. Apa harus mengadukan kelakuan anak-anak nakal  ini pada mas Bayu? Tapi, Maya tidak mau dinilai  oleh mas Bayu tidak  bisa mengatasi  masalah dan mudah menyerah begitu saja. Lagian mas Bayu juga pasti sedang sibuk mengajar kelas lain.
Tiba-tiba Maya menjadi  terpikir Dimas. Ketika mengajar bersama Dimas, Maya melihat Dimas sangat pintar dalam  menghandle kelas dan mengatasi anak-anak yang nakal. Namun, pikiran untuk meminta tolong Dimas  buru-buru dihapus Maya. Mana mungkin Dimas yang sedang marah  padanya mau membantu dia.
Seandainya Niken masuk, Maya tentu  akan langsung minta bantuan Niken. Sayangnya, sekarang tidak ada satupun orang yang bisa dimintain tolong oleh Maya.
            Akhirnya, tanpa menggubris mereka Maya mulai menulis beberapa kata  dalam bahasa Inggris di papan tulis.
            Setelah selesai menulis, Maya menatap mereka satu persatu.
            “Coba kamu baca tulisan di papan tulis ini.” Maya menunjuk anak kecil yang berambut kriting.
            Anak tersebut hanya diam.
            “Ayo dibaca tulisan di papan tulis ini,” perintah Maya lagi. Namun, anak tersebut tidak juga membuka mulutnya.
            Maya akhirnya menyerah. Lalu dia menunjuk ke anak yang lain, tapi sama saja mereka tidak menggubris Maya. Dari kelima anak disini tidak ada satu pun yang mau menuruti perintah Maya untuk membaca kalimat di papan tulis itu.
            “Kalian semua bisu ya, kenapa tidak ada yang mau ngomong.” Seru Maya akhirnya, saking mangkelnya dengan anak-anak di kelas ini. Dari tadi Maya sudah berusaha untuk sabar. Namun, lama-lama kesabarannya habis juga dalam menghadapi anak-anak badung dan keras kepala ini.
            “Kita nngak mau diajar kamu.” Anak perempuan  itu kembali mempertegas omongannya.
            Maya terdiam. Bingung harus berbuat apa. Nafasnya naik turun saking kesalnya dengan murid-murid barunya ini.
            “Oke, ini kelas kalian jadi terserah kalian mau menginginkan apa. Jika kalian tidak mau diajar oleh aku itu juga terserah kalian.”
Kelima anak tersebut  langsung berdiri, lalu pergi meninggalkan saung dan meninggalkan Maya seorang diri.


























8

Es tung-tung



            Hari ini Niken sudah masuk sekolah kembali, Maya merasa  senang karena, dia tidak sendirian lagi di kelas, apalagi Dimas masih bersikap dingin padanya.
            “Kamu sakit apa sih, Ken. Lama nggak masuk. Ditengok nggak mau.”
            “Cuma demam biasa kok, May. Aku nggak mau ngrepotin kamu.”
            Niken melirik Dimas yang sudah duduk di sebelah Maya.
“Dimas makasih kemarin kuenya, ya,” ucap Niken pada Dimas.
Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum kearah Niken.
Maya menatap Dimas dan Niken bergantian, curiga. Namun, belum sempat Maya menginterogasi Niken, pak Heru sudah datang duluan.
Pelajaran Geografi kali ini masih berkutat  seputar Negara-negara di Afrika. Pak Heru asyik menerangkan di depan kelas. Maya yang mulai jenuh, melirik kearah Dimas. Dimas bukanya memperhatikan, malah asyik corat-coret di buku gambarnya. Dimas Nampak asyik dengan dunianya sendiri. Lama Maya memperhatikan Dimas. Dimas yang merasa diperhatikan oleh Maya menoleh kearah Maya. Maya kaget, pandangan mereka sempat bertemu. Lalu Maya dengan cepat mengalihkan pandangannya ke depan kelas. Sementara Dimas kembali asyik menekuni buku gambarnya.
“Baik anak-anak kita sudah selesai mempelajari lima benua  beserta sebagian Negara-negaranya. Sekarang bapak mau memberi kalian tugas.”
“Yah…” bunyi koor mengeluh langsung terdengar di seantero penjuru kelas.
“Pak, sekali-kali jangan ada PR dong, pak,” seru Johan paling keras sendiri.
“Iya pak, betul, betul,” anak-anak yang lain ikut menimpali.
“Kenapa kalian langsung mengeluh seperti ini? Apa jadinya generasi kita kelak kalau kalian dikasih tugas saja tidak mau. Tugas ini kan gunanya untuk menguji pemahaman kalian tentang materi yang telah bapak ajarkan. Kalian paham nggak dengan materi  yang sudah bapak ajarkan. Kalau tidak ada tugas bagaimana bapak bisa menilai sejauh mana pemahaman kalian terhadap materi ini,” nasehat pak Heru panjang lebar.
“Kami sudah sangat paham dengan materi yang bapak ajarkan kok pak,” seru sebuah suara dengan sangat mantap.
            “Baik kalau kalian sudah paham bapak tidak akan memberi kalian tugas. Tapi kita akan langsung Ujian sekarang juga.”
            “Jangan pak, jangan.”
            “Wah, jangan pak.”
            “Kita belum paham kok, pak.”
            Seru anak-anak langsung sambil memelototi ramai-ramai anak yang bilang sudah paham tadi.
            “Baik kalau kalian tidak mau ujian, kalian harus mau bapak kasih tugas.”
“Tugasnya jangan sulit-sulit ya, pak” tawar  Johan.
“Tenang ini tugasnya nggak sulit kok. Nanti kalian akan bekerja dalam kelompok.”
“Kelompoknya berapa-berapa, pak?” Tanya sebuah suara lantang yang entah siapa.
            “Satu kelompok terdiri dari dua orang siswa.”
“Kok cuma dua pak, terlalu sedikit. Kenapa nggak enam-enam atau sepuluh-sepuluh sekalian pak.”
“Kalian kira bapak tidak tahu kalau orangnya kebanyakan pasti ada diantara kalian yang nantinya tidak  bekerja, hanya titip nama saja.”
Yang merasa sering nitip nama dan jarang bekerja hanya senyam-senyum.
“Kelompoknya berdasarkan apa, pak?” Tanya Toni.
“Kelompoknya berdasarkan tempat duduk saja.” Terang pak Heru yang langsung disambut suara riuh rendah siswa.
            Maya kaget dan langsung menatap Dimas yang nampaknya tidak terpengaruh sama sekali dengan penjelasan pak Heru di depan kelas. Maya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia satu kelompok dengan Dimas dan hanya mereka berdua.
            “Kalau berdua namanya bukan kelompok pak. Tapi berpasangan.”
Masih saja terdengar protes dari anak-anak.
 “Sudah-sudah pokoknya ini sudah menjadi keputusan bersama. Kelompoknya terdiri dari dua orang yang duduk sebangku.”
Maya langsung lesu.
“Tugas kalian adalah menggambar peta salah satu Negara di dunia, lalu peta tersebut kalian kasih keterangan, seperti ibu kota, kota-kota besar, sungai-sungai, gunung-gunung. Dan jangan lupa kalin juga wajib  mencari  semua keterangan tentang Negara tersebut. Baik hasil tambangnya, pertaniannya, bentuk negaranya ataupun bentuk pemerintahannya. Pokoknya kalian harus memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya menganai Negara yang kalian gambar tersebut.  Sampai disini kalian mengerti?”
“Mengerti pak,” jawab anak-anak kompak.
“Tugasnya dikumpul kapan pak?” Tanya suara lagi
“Tiga hari lagi ada pelajaran saya. Dikumpul pas itu.”
Lagi-lagi, semua langsung koor mengeluh.
“Cepet banget seh pak.”
“Seminggu lagi aja pak.”
“Dua minggu pak.”
“Sudah, sudah nggak ada tawar menawar lagi. Pokoknya tugas dikumpul besok Kamis pas pelajaran saya. Siapa yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu tidak akan mendapatkan nilai sama sekali.”
Semua siswa mau tidak mau menerima keputusan pak Heru tersebut, walaupun dalam hati masih ngedumel. Setelah pak Heru selesai menjelaskan detail tugasnya, pak Heru berlalu meninggalkan kelas. Suasana kelas menjadi ramai masih dengan suara keluhan dan kejengkelan mereka pada pak Heru.
            “Dimas kita sekelompok,” lapor Maya akhirnya dengan terpaksa karena dari tadi Dimas hanya diam saja. Kalau bukan karena tugas ini Maya segan menyapa Dimas duluan. Apalagi Dimas masih nampak marah padanya.
            Dimas hanya mengangguk tanpa memandang Maya.
            “Terus kita mau mengerjakan tugas kita  kapan Dim? Dimana? Tugasnya dikumpul hari Kamis.”
            “Nanti sepulang sekolah, dirumahmu.” Jawab Dimas singkat.
            Maya hanya mengangguk dan menghela nafasnya, panjang. Nanti, sepulang sekolah dia dan Dimas akan mengerjakan tugas bersama.
*
            Bel pulang berbunyi. Anak-anak sekelas dengan ribut mengemasi buku-bukunya lalu bergegas meningglkan kelas.
            “Dimas kita jadi ngerjaen tugas?” Tanya Maya lagi  ketika bel pulang  berbunyi.
            Dimas mengangguk
“Kita langsung ke rumahmu saja,” jawab Dimas singkat.
            Maya mengangguk, sambil bergegas memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Niken menghampiri mereka.
            “Maya hari ini kamu pulang sendiri nggak papa? Aku ma Sinta mau ngerjain tugas Geografi  dulu.”
            “Iya nggak papa Ken. Aku pulang bareng Dimas,” terang Maya sambil  melirik kearah Dimas.
            “Oh, syukurlah kalau gitu. Ati-ati ya, May, Dim. Aku pergi dulu ya, May. Mari Dim.” Pamit Niken pada mereka berdua.
            Sepanjang perjalanan pulang  dari sekolah ke rumah eyang  Maya, mereka berdua hanya diam saja. Dimas berjalan di depan sementara di belakang Dimas  satu langkah Maya mengikuti jalan Dimas yang menurut Maya sangat cepat.
            “Dimas?” panggil Maya.
            Namun, Dimas masih tetap meneruskan jalannya, tidak menggubris panggilan Maya.
            “Dimas,” panggil Maya lagi sambil berlari kecil mengejar langkah Dimas.
            “Dim, berhenti bentar, ya. Nunggu pedagang es tung-tung lewat. Aku haus pengen es tung-tung.” Rayu Maya seperti anak kecil sedang merayu ibunya.
            Maya memang suka banget dengan jenis  es satu ini. Es tung-tung adalah sejenis es krim dengan cone. Ada warna putih yang rasa vanilla, warna coklat dan warna pink rasa strawberry. Es tung-tung adalah jajanan anak SD yang harganya pun lumayan murah hanya  seribu  perak. Biasanya Maya dan Niken kalau pulang sekolah  selalu menunggu penjual es tung-tung lewat. Lalu mereka makan es tung-tung  sambil jalan.
            “Kita langsung jalan saja.” Jawab Dimas sambil  tetap melangkahkan kakinya tidak memperdulikan permintaan Maya
            “Tapi aku haus, Dim.”
            Maya mengejar langkah Dimas yang terus berjalan cepat.
            Dimas tidak mempedulikan bujukan Maya. Maya pun dengan kesal mengikuti langkah Dimas sambil tidak berhenti menyumpahi Dimas dalam hati.
*
            Mbok Siti menghidangkan pisang goreng, kue bolu dan  es sirup  kepada Maya dan Dimas yang sedang serius  mengerjakan tugas kelompok berdua di teras rumah.
            “Makasih ya mbok,” ucap Maya dan Dimas berbarengan.
            “Selamat mengerjakan tugas ya neng Maya, nak Dimas,” ucap Mbok Siti sambil tersenyum kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.
            Maya sesekali  memperhatikan Dimas yang sedang asyik menggambar peta Negara Afrika Selatan, Negara yang dipilih oleh mereka dalam tugas ini setelah melalui perdebatan panjang. Maya ingin memilih Negara Amerika Serikat karena dulu Maya pernah tinggal disana. Sementara Dimas bersikeras memilih negara Afrika Selatan.
            “Amerika lebih terkenal dari Afrika Selatan.”
            “Memangnya kita memilih Negara berdasarkan terkenalnya atau tidak?”
            “Tapi informasi tentang Amerika Serikat lebih banyak dan mudah didapat daripada Afrika Selatan.”
            “Kamu kan ada modem ma laptop. Kamu bisa nyari informasinya lewat google. Dasar pemalas.”
            “Pokoknya aku mau Amerika Serikat.”
            “Kamu mau menggambar peta Amerika Serikat?”
            Maya menggeleng, karena memang dia tidak bisa menggambar dan sejak dulu benci pelajaran menggambar. Nilai pelajaran kesenian Maya selalu jelek.
            “Aku juga tidak mau menggambar Amerika Serikat.”
            “Ya sudah kita pilih Afrika Selatan saja,” ucap Maya akhirnya. Mau tidak mau, lagi-lagi Maya harus mengalah.
            “Tung…tung…tung…”
tiba-tiba Maya mendengar bunyi gong kecil yang dipukul tanda ada penjual  es tung-tung lewat.
Benar saja, tak berapa lama dengan mengendarai sepeda, penjual es tung-tung lewat di depan rumah eyang. Maya langsung melonjak dari kursinya, membuat Dimas kaget. Hampir saja kaki Maya menginjak kertas gambar peta Dimas, Namun Dimas buru-buru menyingkirkannya.
            “Pak berhenti pak,” teriak Maya menyetop penjual es tung-tung sambil berlari-lari kecil. Dimas hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah Maya.
            Mendengar teriakan Maya, penjual es tung-tung tersebut berhenti. Tidak berapa lama, Maya kembali dengan membawa dua cone es tung-tung rasa coklat  di tangan kanan dan kirinya.
            “Dimas buat kamu,” Maya menyodorkan es krim di tangan kirinya pada Dimas.
            Namun, Dimas menolak.
            “Nggak ah kayak anak kecil makan kayak gituan.”
            “Udah terima aja, nggak usah malu-malu. Aku dah mbeliin juga. Ini enak lho.”
            Maya belum menyerah tetap menyodorkan es tung-tung tersebut kepada Dimas, Namun Dimas tetap tak bergeming.
            “Dimas ini pegang,”  tawar Maya lagi.
            “Udah aku bilang nggak.”
            Dimas mendorong tangan Maya. Akibatnya  es tung-tung di tangan Maya jatuh dan tepat di gambar peta yang hampir selesai digambar Dimas.
            Maya dan Dimas sama-sama terkejut.
            “Dimas maaf.” Ucap Maya merasa bersalah.
Hasil kerja Dimas jadi hancur gara-gara es krimnya meleleh dan membuat kertas gambar Dimas menjadi kotor.
            “Kan aku tadi dah bilang kalau  aku nggak mau. Kamu tetap memaksa. Akhirnya jadi gini. Udah hampir 3 jam aku menggambar hancur gara-gara es tung-tung mu itu.” Dimas menatap Maya tajam.
            “Maaf Dimas, aku kan nggak sengaja. Lagian tadi kamu yang mendorong tanganku.” Maya membela dirinya,  gantian  menyalahkan Dimas.
            Suasana mendadak  menjadi tegang dan tidak mengenakkan.
            “Terus sekarang kita mesti gimana, Dim?” Tanya Maya.
            “Gimana lagi. Aku mesti mengambarnya ulang. Memang kamu bisa menggambar peta ini?” Tanya Dimas dingin.
            Maya hanya diam.
            “Maaf ya, Dim,” ucap Maya lagi.
            “Selama aku menggambar kamu jangan dekat-dekat atau ganggu aku. Nanti gambarku bisa-bisa rusak lagi.” Dimas memberi peringatan kepada Maya sebelum mulai mengambar.
            Maya hanya menganguk.
Dimas lalu  membereskan es tung-tung yang menumpahi gambar petanya dan mulai menggambar lagi.
*
            Gara-gara kejadian tumpahnya es tung-tung tadi, Dimas terpaksa jadi nglembur menggambar di  rumah Maya. Dari mereka yang tadi di teras rumah kini berpindah ke ruang TV karena hari sudah mulai malam. Setelah sholat maghrib dan makan malam, Dimas dan Maya kembali melanjutkan mengerjakan tugas mereka. Sementara mbok Siti menemani mereka sambil menonton TV. Eyang baru saja menelepon mengabari kalau tidak  pulang menginap di rumah teman lamanya di luar kota bersama pak Herman.
            Dimas menghela nafas lega, setelah pekerjaannya selesai. Dimas memandang hasil menggambar petanya dengan puas. Lebih bagus daripada gambar pertama tadi. Namun, Dimas merasa sangat capek karena harus mengambar dua kali.
            “May,” panggil Dimas.
Namun, ternyata Maya sudah terlelap tidur dalam posisi  tertelungkup di depan laptopya. Dimas melihat  jam di dinding sudah hampir jam 10 malam. Dimas menghampiri Maya dilihatnya hasil pekerjaan Maya yang sudah diprint dari tadi. Dalam hati Dimas memuji Maya yang teryata hasil pekerjaannya bagus juga.
            “Mbok,” panggil Dimas pelan pada mbok Siti yang masih asyik menonton TV.
            “Ya nak Dimas. Ada apa?”
            “Saya mau pamit pulang , mbok. Maya sudah tidur nggak enak mau bangunin. Nanti titip ini buat Maya ya mbok.”
            Dimas menyerahkan gulungan  gambar petanya kepada mbok Siti.
            Mbok Siti mengangguk sambil menerima gulungan kertas tersebut.
“Nak Dimas sebentar, simbok boleh minta tolong,” cegah mbok Siti sebelum Dimas berlalu.
Dimas menghentikan langkahnya.
“Minta tolong apa mbok?”
“Tolong angkatin neng Maya ke kamarnya, ya nak. Simbok  nggak tega kalau ngebangunin neng Maya, kayaknya neng Maya capek banget. Kalau neng Maya dibiarin tidur disini, kasihan banyak nyamuk dan dingin.”
Dimas termenung sebentar karena harus mengangkat Maya ke dalam kamarnya.
“Tolong mbok ya nak Dimas.”
Akhirnya Dimas mengangguk sedikit terpaksa karena permintaan mbok Siti.
Dimas lalu menghampiri Maya yang masih terlelap tidur. Diraihnya tubuh Maya lalu diangkatnya dengan dua tangannya. Ternyata Maya berat juga. Dimas agak kesusahan mengangkatnya. Dalam hati Dimas mengeluh keberatan.
“Kamarnya Maya dimana, mbok?” Tanya Dimas.
“Di sebelah sana, nak,” jelas mbok Siti sambil memandu  Dimas menuju  kamar Maya. Dimas mengikuti langkah mbok Siti.
“Terima kasih ya nak Dimas,” ucap mbok Siti setelah Dimas meletakkan Maya di tempat tidurnya.
“Sama-sama mbok.”
“Mbok seneng nglihat kalian berdua  nampak dekat. Akhirnya neng Maya punya teman juga.”
Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum lalu bergegas pamit pulang sebelum malam semakin larut.


9

Pengagum Rahasia




Ternyata pengagum rahasia Ernest tidak hanya sekali saja  memberi kejutan kepada Ernest. Hampir setiap hari Ernest mendapat kiriman hadiah yang ditaruh di depan pintu studio dan ditemukan pertama kali oleh pak Parno, cleaning service studio. Dari mulai coklat, cake mini, sampai kue tart. Semuanya sama tanpa nama pengirim dan hanya diselipi dengan kartu ucapan. Ucapan yang diberikan kepada Ernest pun bermacam-macam. Dari mulai “Semangat latihan Ernest”, “Semangat untuk Hari ini” “Have a nice day”  “Ganbatte” dan  “Selamat pagi, Nest”.
            Ernest sampai bosan menerima semua hadiah tersebut dan tak jarang Ernest membagi-bagikan makanan pemberian tersebut kepada teman-temannya. Semakin hari Ernest  semakin penasaran dengan orang yang rajin mengiriminya hadiah.
Atau mungkin Tania yang melakukannya?
Pikiran Ernest tiba-tiba melayang  ke Tania. Selama ini orang yang selalu memberi perhatian lebih  kepadanya hanya Tania. Semenjak Maya pindah ke Jogja dan Ernest memutuskan kontak dengan Maya, Tania semakin gencar melakukan pedekate padanya. Dari mulai sering nelpon, sms, bahkan sampa setia menunggui Ernest latihan di studio.
            Ernest ingin mengkonfirmasikan ini semua kepada Tania. Siapa tahu memang benar Tania yang selama ini selalu mengiriminya hadiah-hadiah tersebut dengan alasan untuk memberi  kejutan kepadanya.
            Agung  yang baru masuk studio heran ketika  melihat Ernest memegang kue tart di tangannya.
            “Dapat lagi, Nest?” Tanya Agung  sambil menepuk bahu Ernest.
            Ernest mengangguk.
            “Wah penggemar rahasiamu benar-benar gila, Nest. Masak tiap hari ngirimin coklat, kue. Enak dong  jadi kamu.”
            “Lu mau,” Ernest menawari.
            “Kalau dikasih seh gue mau banget, Nest. Gue belum makan siang.”
            “Neh buat lu semua.”
            Ernest menyodorkan kotak kue tart tersebut kepada Agung. Dengan antusias Agung langsung mengambilnya.
            “Wah makasih ya, Nest. Sering-sering aja lu dapat kirimin, kan kita yang enak.”
            Ernest hanya tersenyum kecut, sementara hatinya masih menyimpan berbagai tanda tanya.
*

            Ketika istirahat, Ernest mendatangi kelas Tania yang hanya berjarak dua ruangan kelas  dari kelasnya. Ernest bermaksud  menanyakan ke Tania mengenai hadiah-hadiah serta  kartu ucapan yang akhir-akhir ini sering diterimanya. Ernest ingin segera menyelesaikan masalah yang akhir-akhir sering menyita pikirannya tersebut.
Namun, ketika Ernest mencari Tania di kelasnya,  Tania tidak kelihatan batang hidungnya.
            “Cari siapa, Nest?” Tanya Lulu yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
            “Hai, Lu,” sapa Ernest sedikit kaget dengan kehadiran Lulu yang tiba-tiba.
            “Aku mencari Tania. Kamu lihat dia?” Tanya Ernest.
            Lulu hanya menggeleng.
            “Nyari dia buat apa?” Tanya Lulu  ingin tahu.
            “Nggak papa, Lu. Cuma mau bilang terima kasih aja. Yaudah deh Lu aku mau nyari Tania ke tempat lain ya,” pamit Ernest sambil segera pergi dari kelas meninggalkan Lulu.
            Lulu hanya mengeleng.
            “Dasar playboy,” batin Lulu kesal.
*
            Bel pulang berbunyi. Maya bergegas mengemasi buku-bukunya. Belum selesai Maya memasukkan semua bukunya. Niken sudah berdiri di depannya.
            “Maya besok kita berangkat bareng ya.”
            “Berangkat bareng keman, Ken?” Tanya Maya sambil mengingat-ingat apakah dirinya ada janji dengan Niken.
            “Besok kan jadwal kita mengajar ke sekolah gratis, Maya,” ingat Niken.
            Maya baru menyadari kalau ternyata besok sudah hari minggu artinya adalah jadwal mereka untuk mengajar di sekolah gratis. Namun, Maya tiba-tiba berubah menjadi tidak bersemangat ketika mengingat kejadian kemarin minggu. Dimana semua anak-anak kelas VI menolak diajarnya. Bahkan mereka meninggalkan Maya seorang diri di saung.
            “Aduh, Ken. Aku lupa aku besok nggak bisa. Aku ada janji ma eyangku mau pergi ke tempat saudara eyang.” Maya berbohong mencoba mencari-cari alasan agar besok  dia tidak pergi ke sekolah gratis.
            “Yah, berarti besok kamu nggak bisa datang ke sekolah Gratis, May?” Niken Nampak kecewa.
            “Maaf, ya Ken. Padahal aku pengen banget pergi ke sekolah Gratis, tapi gimana lagi aku sudah terlanjur janji ma eyang.”  Lagi-lagi Maya pura-pura menunjukkan muka menyesalnya.
            “Aku nggak ada teman berangkatnya dong.”
            “Kalau mau bsok kita bisa berangkat bareng, Ken,” tawar Dimas tiba-tiba.
            Muka Niken memerah dan terlihat sedikit salah tingkah.
            “Gimana?” Tanya Dimas lagi.
            Niken hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Maya pun semakin bisa melihat bahwa diantara mereka ada apa-apa.

*

“Bukan aku, Nest,” sanggah Tania ketika Ernest menanyakannya perihal hadiah dan kartu ucapan yang akhir-akhir ini sering diterimanya.
            “Lalu siapa?” Tanya Enest lebih bertanya pada dirinya sendiri.
            Tania menjawabnya hanya dengan gelengan kepala, tidak tahu.
 Namun dalam hatinya, Tania menyimpan tanda Tanya besar  terhadap pengagum rahasia Ernest tersebut. Ternyata selain dirinya,  ada juga orang yang diam-diam berusaha menarik perhatian Ernest. Namun, orang tersebut hanya bisa main sembunyi, tidak  mau menampakkan dirinya di Depan Ernest.
            “Benar-benar pengecut,” batin Tania dalam hati sambil berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari tahu siapa pengangum rahasia Ernest tersebut.
*
            Minggu ini, Maya hanya  malas-malasan di rumah. Biasanya dia pergi  ke sekolah Gratis bareng Niken. Tapi Maya lagi malas untuk mengajar apalagi jika teringat kejadian kemarin yang menimpanya di kelas VI. Terpaksa Maya berbohong pada Niken kalau dirinya ada acara, agar dirinya bisa terbebas dari mengajar di sekolah Gratis.
            “Tumben nak Maya nggak pergi?” sapa pak Herman yang sedang mencuci mobil  di depan ketika melihat Maya keluar rumah.
            “Lagi pengen di rumah, pak. Pak Herman juga tumben nggak pergi?”
            “Lagi pengen di rumah juga, nak.”
            “Pak Herman ikut-ikut saja.”
            Mereka berdua tertawa
            “Pak Herman bukan asli penduduk sini, ya?” Tanya Maya tiba-tiba.
            “Saya asli sini nak Maya, orang tua saya juga asli sini. Cuma dulu saya merantau ke Jakarta lumayan lama. Terus balik kesini.”
            “Kenapa balik kesini pak?” Tanya Maya lagi.
            Pak Herman berhenti sebentar, menelan ludahnya. Pertanyaan Maya membangkitkan masa lalunya di Jakarta yang cukup menyedihkan. Sebenarnya pak Herman ingin melupakan semua kenangan pahitnya di Jakarta, namun pertanyaan Maya kembali membuka luka lamanya dulu.
            “Bapak di PHK, nak. Jadinya bapak pulang kampung,” terang pak Herman berbohong.
            Maya mengangguk-angguk.
            “Kata mbok Siti bapak punya anak?” Tanya Maya lagi masih asyik menginterogasi pak Herman.
            “Iya, nak bapak punya anak”
            “Kok anaknya nggak pernah bapak bawa kesini.”
            “Anak bapak udah gede, nak. Udah sibuk ma kegiatannya sendiri.”
            “Anak bapak sekolah?” Tanya Maya.
            “Iya sekolah di SMA.”
            “Pak Herman,” panggil suara dari dalam yang ternyata mbok Siti.
            “Ada apa mbok?” Tanya pak Herman.
            Didawuhi  eyang kakung.”
            “Oh, nggih mbok.”
            Pak Herman mencuci tangan dan kakinya yang terkena sabun, lalu bergegas masuk ke dalam.
            “Bapak tinggal dulu, nak,” ucap pak Herman ramah pada Maya.
            Maya hanya mengangguk sambil tersenyum.
           


10
Berita Gembira

                May, kamu kemarin minggu kemana?” Niken menginterogasi Maya ketika mereka berdua sedang makan di kantin pada jam istirahat.
            “Kan kemarin aku sudah bilang kalau minggu aku pergi ke rumah saudara eyang,” jawab Maya masih dengan kebohongannya.
            “Kata mbok Siti kamu kemarin minggu hanya di rumah. Aku kemarin ketemu mbok Siti di jalan.”
            “Nggak kok, aku kemarin minggu  pergi sama eyang.”
Maya mencoba membela dirinya yang kaget karena Niken mengatahui kalau  kemarin minggu Maya  hanya dirumah.
            Niken tersenyum kea rah Maya.
            “Aku udah tahu, May. Kamu kemarin minggu cuma pura-pura ada acara kan. Udah May, kamu jujur aja sama aku.”
            Dengan malu-malu, Maya  akhirnya mengangguk, mengakui kebohongannya.
“Kamu udah nggak mau mengajar di sekolah Gratis lagi, May?” Tanya Niken nampak kecewa.
“Bukan begitu, Ken. Aku mau tetap mengajar di sekolah Gratis. Asal aku jangan mengajar kelas VI,” ucap Maya lirih.
“Kenapa, May?”
 Lalu tanpa dikomando, Maya menceritakan semua kejadian yang dialaminya pada minggu lalu ketika dia mengajar kelas VI. Bagaimana anak-anak kelas VI memperlakukan dirinya, tanpa menghormati Maya sama sekali.
            “Pasti si Rahmi yang buat ulah.”
            “Oh jadi nama anak perempuan itu Rahmi?” Tanya Maya, mukanya tiba-tiba berubah jadi kesal setiap mengingat kejadian tersebut.
            “Rahmi itu seperti pimpinan mereka, May. Anak kelas VI memang terkenal dengan kenakalannya dan hanya mas Poltak dan mas Bayu saja yang bisa mengatasi mereka.”
            “Terus kenapa mas Bayu ngasih tugas ngajar kelas VI ke aku kalau tahu mereka nakal-nakal?”
            “Pasti mas Bayu punya alasan tersendiri, May,” terang Niken membela mas Bayu.
            “Tapi aku harap kejadian kemarin nggak bikin kamu kapok mengajar di sekolah Gratis lagi, ya May,” harap Niken.
            Maya hanya diam.
            “Kamu besok mau kan datang ke sekolah  Gratis lagi?” tanya Niken.
            Maya Nampak berpikir sebentar.
            “Boleh. Asal aku nggak ngajar kelas VI lagi.” Maya memberi syarat.
            “Ok. Kalau begitu  besok aku coba bilang ke mas Bayu ya dan sekalian aku mau menceritakan soal ini ke mas Bayu.”
            Maya mengangguk, setuju.
            “Udah bel, May. Yuk buruan,” ajak Niken yang bergegas menghabiskan loteknya. Maya pun buru-buru meminum habis es tehnya.
*
            Pagi-pagi sekali Tania sudah datang ke studio musik  tempat Ernest dan teman-temannya biasa latihan. Tania ingin mengungkap siapa pengangum rahasia Ernest yang selama ini rajin mengirim Ernest hadiah. Ernest pernah cerita kalau hadiah-hadiah tersebut biasanya sudah ada sebelum studio musik buka. Jadi, mungkin orang tersebut pagi-pagi sekali sudah menyambangi studio musik  yang terletak tidak jauh dari sekolah Tania dan Ernest.
Secara sembunyi-sembunyi Tania mengintai keadaan studio musik dari balik toko buku yang terletak  bersebelahan. Lama Tania menunggu, namun belum juga ada tanda-tanda pengangum rahasia Ernest akan  muncul, keadaan studio musik  pun  masih sepi, karena studio musiknya baru akan buka jam sembilan pagi.
Jam tangan Tania menunjuk pukul 06.45. Dengan kecewa Tania akhirnya mengakhiri pengintaiannya dan  bergegas menuju ke sekolah yang terletak tidak begitu jauh dari studio musik. Tania  kecewa karena dirinya belum  bisa mengungkap siapa pengangum rahasia Ernest.
Namun, Tania tidak ingin menyerah begitu saja. Seperti biasa sebelum masuk sekolah Tania selalu mengamati keadaan studi musik. Namun, berkali-kali Tania harus menelan kekecewaan karena usahanya  untuk  mengungkap  pengangum rahasia Ernest selalu gagal.
*

            “Anak-anak aku ada kabar gembira buat kalian,” umum mas Yudi di hadapan anak-anak The Arian dengan muka yang penuh semangat.
            Anak-anak The Arian saling berpandangan, heran dengan mas Yudi  yang terlihat begitu antusias dan bahagia.
            “Aku baru saja di kontak ma Arya, temen lama mas. Dia sekarang menjadi salah satu panitia promo album barunya Sheila on seven.” Mas Yudi menelan ludahnya sebentar.
“Kabar gembiranya, kita didaulat sebagai band pembuka promo album  Sheila on seven  di beberapa kota.”
            Kontan anak-anak the Arian langsung gembira bercampur kaget mendengar berita tersebut.
            “Wah yang bener mas?” Tanya Raja masih tidak percaya.
            “Ini kenyataan Raja.”
“Wah syukurlah.”
“Alhamdulilah.”
“Nggak nyangka gue.”
“Ini bener-bener berita besar.”
Ungkapan syukur dan kegembiraan langsung mengalir satu persatu dari mulut personel The Arian.
“Kalian hanya punya waktu satu bulan untuk mempersiapkan penampilan kalian. Untung saja konsernya berlansung pas liburan jadi tidak menganggu sekolah kalian.”
“Konsernya di kota mana aja, mas?” Tanya Seno.
“Konsernya akan  diadain di enam  kota besar di Indonesia. Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, Semarang dan Medan. Tapi, kita hanya kejatah sebagai band pembuka di satu kota saja. Namun, mas belum tahu di kota mana kita akan main. Arya  akan segera menghubungi kita jika udah ada kepastian kotanya.” Terang mas Yudi.
“Di kota manapun nggak masalah mas, yang penting bisa sepanggung bareng Sheila on 7. Gila itu impian gue sepanggung sama band sekelas Sheila on Seven.” Boy sudah ngebayangin duluan.
Anak-anak langsung beramai-ramai menjoglo kepala Boy.  Boy menggerutu, kesal. Namun, kegembiraan berita tersebut mengalahkan kekesalan Boy. Personel The Arian hari ini begitu gembira mendengar kabar bahagia  tersebut.
Benar saja gara-gara berita tersebut, anak-anak The Arian jadi kembali rajin latihan. Sepulang sekolah mereka langsung menuju studio musik untuk latihan. Mereka ingin memperlihatkan  penampilan terbaiknya karena mereka akan sepanggung dengan band besar, Sheila on Seven.
Ernest pun sudah semakin lupa dengan pengangum rahasianya yang sudah mulai jarang mengiriminya hadiah.
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar