Rabu, 10 Oktober 2012

part 5 Love in Jogja


5

N I k e n



            Hampir dua minggu  sudah Maya tinggal  di Jogja, Maya sudah bisa melupakan Ernest secara pelan-pelan. Selain itu pertemanan Maya dengan Niken pun semakin akrab saja. Sifat ceria Maya perlahan  sudah mulai muncul. Namun, satu yang belum berubah. Teman sebangku Maya, Dimas, masih saja terlihat angkuh dan mengacuhkan Maya, seperti menganggap Maya tidak ada.
            “Hai,” Maya menyapa Dimas  yang pagi-pagi sudah stand by duduk di kursinya.
Dimas  yang sedang membaca menoleh kearah Maya sekilas. Lalu kembali membaca.
            “Dim, kamu dah ngerjain PR Geografi?”  Tanya Maya.
            “Kamu belum ngerjaen?” Tanya Dimas balik.
            Maya mengangguk.
            “Dasar pemalas.”
            “Apa?” Tanya Maya kesal.
            “Pemalas,” Dimas  memperjelas ucapannya dengan mengatakan secara pelan-pelan sesuai dengan ejaan yang benar.
“Aku kan cuma nanya, kenapa kamu jadi menyebutku pemalas. Lagian aku juga nggak mau nyontek PRmu.”           
            “Ya udah buruan kerjain. 30 menit lagi masuk.” Dimas  memerintah Maya yang malah terpaku diam memandangnya sengit.
“Tanpa disuruh pun, aku juga mau ngerjain.”
Maya ngedumel sambil menarik kursinya dengan kasar,  sehingga timbul bunyi berderit agak keras. Setelah duduk, Maya mengeluarkan buku Geografi dari dalam tas. Mulai mengerjakan semua soal PR-PR nya.
Tadi  malam,  gara-gara asyik telpon-telponan ma Lulu yang disambung dengan telpon-telponan ma Nika, Maya jadi lupa kalau ada PR Geografi. Sekarang, Maya harus berjibaku dengan waktu untuk mengerjakan PRnya  sebelum pak Heru, guru Geografi   mereka   masuk  kelas.
            ‘”Halo Maya,” sapa seorang cowok yang  tiba-tiba  berdiri di samping  meja Maya.
            Maya menoleh sambil lalu. Di depan Maya berdiri seorang cowok yang tadi menyapanya dengan dikelilingi oleh tiga orang temannya. Gaya mereka nampak sok sekali dan Maya nampak ilfill melihatnya.
“Maya kenalin aku Gatot.”
Cowok yang bernama Gatot  megulurkan tangannya, megajak Maya kenalan.
“Ya,” jawa Maya tanpa menggubris uluran tangan Gatot sambil asyik menulis mengerjakan PRnya.
Walaupun dicuekin Maya, nampaknya Gatot belum mau menyerah.
            “Maya, besok ada acara nggak? Besok nonton film ke  kota yuk ma aku,” ajak Gatot.
            “Aduh, maaf ya Gatot. Besok aku ada acara jadi nggak bisa. Dan maaf lagi ya Gatot, kamu bisa pergi dulu nggak, aku mau ngerjain PR. Aku jadi nggak bisa ngerjain PR kalau kamu terus ganggu aku.”
            Mendengar jawaban Maya, Gatot  jadi salah tingah sendiri. Dia memandang sekeliling kelas, Nampak, anak-anak yang ada di kelas mencoba menahan senyum  melihat Gatot yang ditolak mentah-mentah oleh Maya. Dimas yang duduk di samping Maya pun terlihat menahan senyum mengejek Gatot.
Gatot   yang malu langsung pergi dengan diikuti oleh tiga orang temannya, setelah sebelumnya sempat melayangkan tatapan sengit dan mengancam keseluruh penjuru kelas. Terutama kepada Dimas.  Sementara Maya  masih serius dengan PRnya.
                       
*
Pertemanan Maya dengan Niken semakin dekat. Maya dan Niken sering pergi  kemana-mana berdua. Baik itu ke kantin, ke perpustakaan, atau belajar bareng. Maya dan Niken juga  selalu berangkat dan pulang sekolah  bareng. Rumah Maya dan Niken searah, Niken selalu menghampiri Maya setiap kali  akan berangkat sekolah.
Niken adalah anak seorang camat. Ayah Niken sangat berpengaruh di wilayah kecamatan ini.  Namun, itu semua tidak membuat Niken menjadi gadis yang sombong. Niken periang dan  sangat ramah pada setiap orang, senyum manisnya selalu mengembang di bibirnya. Jilbab yang dikenakannya menambah penampilan Niken menjadi lebih anggun dan cantik. Selain itu Niken juga suka membantu Maya jika Maya kesulitan dalam pelajaran, karena selain cantik, baik hati, Niken ternyata juga pandai. Dia selalu masuk rangking  tiga besar di kelas bersama dengan Dimas. Bagi Maya Niken seperti sosok wanita yang sempurna. Kalau Maya cowok mungkin Maya bisa suka dengan Niken.
            Berbeda sekali  dengan Dimas. Sikap Dimas masih tetap seperti dulu angkuh dan perkataannya sering membuat Maya jengkel. Mereka jarang ngobrol. Dimas orangnya agak tertutup dan suka melakukan kebiasaannya yang membuat Dimas autis sendiri, yaitu menggambar.
 Namun, sikap Dimas pada Maya berbeda dengan sikap Dimas pada Niken. Dimas selalu melayangkan senyum manisnya pada Niken setiap Niken menyapanya. Selain itu mereka juga terlihat akrab jika sedang ngobrol. Terkadang mereka juga terlibat dalam diskusi yang seru.  .
            “Ken, besok minggu maen ke kota yuk. Pengen nonton film neh,” ajak Maya  sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
            “Maaf May, minggu besok aku nggak bisa. Aku ada acara sama  Dimas.” Niken melirik kea rah Dimas.
            Maya sedikit kecewa. Padahal Maya ingin nonton film   Eat, Pray n Love yang dibintangi Julia Robert. Kata orang-orang filmnya bagus , selain itu tempat syutingnya ada yang mengambil lokasi di Bali. Lulu ma Nika sudah menonton film tersebut  di Jakarta dan mereka dengan serunya bercerita melalui telepon, sementara Maya hanya diam mendengarkan, karena tidak tahu sama sekali.
Bahkan Lulu dan Nika sampai menjulukinya miss Jadul, karena sejak Maya  tinggal di rumah eyang di Jogja,  Maya menjadi  jarang nonton, hang out , belanja, dan jalan-jalan. Itu semua adalah hobi Maya, bahkan tak segan-segan Maya menghabiskan banyak uang untuk melakukan hobinya tersebut. Bagi Maya uang bukan hal yang sulit, karena orang tuanya yang hidup berkecukupan bahkan lebih ,  ditambah dengan   Maya  yang anak tunggal.
            “Besok kamu boleh ikut kita kok, May.” Tawar  Niken yang tidak enak menolak ajakan Maya.
            “Emang kalian mau pergi maen kemana?”
            Niken tersenyum.
 “Bukan maen Maya. Tapi  kalau hari Minggu kita ada jadwal mengajar di sekolah gratis.”
            “Sekolah gratis? ” tanya Maya heran.
            “Iya. Sekolah gratis yang  didirikan oleh  sekelompok mahasiswa dari UGM. Disana anak-anak yang tidak bisa sekolah karena kesulitan biaya mulai dari pengemis, pemulung, pengamen dikumpulkan di sekolah gratis untuk diajarkan pelajaran-pelajaran sekolah. Kita disana menjadi volunteer untuk mengajar anak-anak yang kurang beruntung itu, May.”
            Niken menjelaskan panjang lebar tentang sekolah gratis dengan semangat. Sementara, Maya mendengarkannya  dengan tidak berminat.
            “Gimana, May? Kamu mau ikut dengan kita besok minggu?”
            Maya Nampak berpikir sebentar. Sebenarnya Maya malas untuk pergi ke tempat seperti itu.
            “Percuma kamu mengajak dia, Ken. Hobinya   kan shoping, jalan-jalan ma nonton,” cibir Dimas.
            Maya mendelik kearah Dimas, kesal dengan ucapannya barusan.
            Ucapan Dimas membuat kuping Maya panas. Selalu saja perkataan Dimas membuat Maya kesal. Dimas selalu memandang Maya sebagai gadis kota yang sombong lah, suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna, dan masih banyak lagi.
            “OK aku mau ikut.” Ucap Maya akhirnya lebih  karena disulut oleh ucapan Dimas tadi.
            “Asyik, akhirnya kamu mau ikut juga.” Niken nampak senang.
            Maya tersenyum dengan terpaksa sambil menatap tajam kearah Dimas.
           
*

            Maya dan Niken yang sedang berjalan bersama sepeulang sekolah, tiba-tiba dikagetkan oleh suara motor yang membarengi langkah  mereka. Ternyata motor Gatot.
            “May,” panggil Gatot dari atas motornya
            Maya Nampak tidak berselera meladeni Gatot. Dengan cuek Maya terus melanjutkan langkahnya. Niken ikut-ikutan Maya terus berjalan.
            “Aku anterin pulang ya, May,” ajak Gatot sambil mengendarai motornya pelan, mencoba menyamai langkah Maya.
            “Nggak usah Tot. Makasih. Aku jalan aja ma Niken.”
            “Ayolah, May. Daripada kamu jalan mending kamu naek motorku nggak usah capek-capek dan panas-panasan gini,” rayu Gatot lagi belum menyerah.
            Maya menghentikan langkahnya, Gatot pun ikut-ikutan menghentikan laju motornya.
            “Mau ya, May aku anterin pulang.”
            “Gatot aku kan sudah bilang nggak usah. Kalau kamu masih tetap maksa, apa kamu mau aku berteriak biar kamu dikira penculik.”
            Gatot terkejut dengan ucapan Maya.
            “Nggak, May. Jangan, May.” Ucap Gatot sambil kembali menghidupkan mesin motornya. Kemudian motor Gatot melaju dengan kencang  dan menghilang meninggalkan Maya dan Niken.
             Niken dan Maya  tertawa melihat ulah Gatot yang langsung kabur setelah diancam oleh Maya.
            “Kamu berani juga, ya May.”
            “Habisnya aku sebel ma dia, Ken. Kerjaannya gangguin mulu.”
            “Kamu tahu siapa dia?”
            “Gatot kan yang kemana-mana selalu dikelilingi oleh tiga orang pengawalnya yang sok keren.”
            Niken tertawa mendengar  jawaban Maya.
            “Bukan itu maksudku,” ucap Niken di sela tawanya.
            “Gatot itu penguasa di sekolah kita, May. Dia itu anaknya seorang pejabat di kabupaten. Gatot ditakuti dan disegani di sekolah kita. Anak-anak pada takut ma dia soalnya dia nggak segan-segan berkelahi.”
            “Baru jadi anak pejabat di kabupaten aja sudah sombong. Dulu pas aku di Jakarta temen-temanku banyak yang anaknya pejabat Negara ma anggota DPR. Masak kalian takut ma cowok yang kemana-mana selalu diasuh ma tiga temannya, kayak anak kecil aja.”
            Maya dan Niken tertawa terbahak-bahak.
            Mereka pun berpisah ketika Maya sudah sampai di rumah.
            “May, jangan lupa besok ya. Besok aku jemput kamu,” ingat Niken terhadap rencana mereka pergi ke sekolah gratis.
            Maya mengangguk dan Niken pun kembali melanjutkan perjalananya seorang diri.
           


           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar