Selasa, 16 Oktober 2012

part 11-15


11
D r e a m

Minggu  berikutnya Maya kembali ke sekolah gratis, setelah dibujuk oleh Niken dengan perjanjian Maya tidak akan mengajar kelas VI lagi. Selain itu, Niken juga sudah melaporkan soal kejadian kelas VI tersebut kepada mas Bayu dan kata Niken mas Bayu berjanji akan memberi nasehat kepada anak-anak kelas VI.
“Maya kemarin aku sudah memanggil Rahmi dan teman-temannya. Awalnya mereka tidak mau bercerita tetapi akhirnya mereka mau mengaku dan katanya mereka  mau meminta maaf secara langsung kepadamu.” Terang mas Bayu.
“Maaf mas, aku jadi nggak enak. Bawa-bawa mas Bayu dalam masalah ini.”
“Nggak papa, May. Ini juga jadi tanggung jawabku  juga. Aku  yang merasa nggak enak ma kamu gara-gara peristiwa itu. Maafin aku ya, May”
“Eh, nggak papa kok, mas.”
“Hari ini kamu masuk kelas VI lagi nggak papa kan, May?”
“Ngajar kelas VI lagi mas?” Tanya Maya kaget
“Iya, Maya. Poltak ternyata ambil data buat skripsinya belum kelar, ada beberapa hambatan. Jadi Poltak ijin 1 bulan nggak bisa ngajar. Aku yakin anak-anak kelas VI  tidak akan berperilaku seperti kemarin lagi, May. Aku sudah  mengingatkan  mereka dan jika mereka mengulang perbuatannya lagi, mereka berjanji  mau menerima konsekuensinya. Nanti mereka juga  mau meminta maaf secara langsung ke kamu, May,” terang mas Bayu panjang lebar yang intinya tetap menyuruh Maya untuk mengajar kelas VI.
“Nggak bisa ya mas, kalau aku ma mas Bayu tukeran kelas?” tawar Maya.
“Masalahnya hari ini aku sudah jaji ma anak-anak di kelasku untuk  mengajari membuat maket sederhana. Kecuali kalau kamu bisa mengajari mereka membuat maket aku nggak masalah  kalau kita harus tukeran kelas, gimana, May?”
Tentu saja Maya sama sekali tidak mempunyai  keahlian untuk membuat maket. Akhirnya mau tidak mau, lagi, dengan terpaksa, Maya menerima tawaran  untuk mengajar kelas VI. Maya berharap semoga apa yang diucapkan mas Bayu itu benar, bahwa anak-anak kelas VI tidak akan mengulangi perilaku kemarin  dan mereka akan meminta maaf kepada Maya serta berubah   menjadi anak-anak  yang penurut.
Dengan ragu Maya melangkahkan kakinya memasuki saung kelas VI. Dilihatnya lima  anak nakal tersebut   sudah duduk manis di lantai.
            “Pagi,” salam Maya pada mereka.
            Masih seperi hari kemarin, mereka hanya diam saja, tidak menjawab salam Maya.
            “Kamu ngaduin kita ke mas Bayu?” tanya  seorang anak yang Maya yakin bernama Rahmi karena dia satu-satunya anak perempuan disini.
            Maya hanya diam.
            “Kami tidak mau diajar oleh kamu,” ucap Rahmi lagi yang langsung diiyakan oleh keempat temannya.
            Maya tersentak dengan ucapan Rahmi. Walaupun  tadi mas Bayu sudah meyakinkan Maya bahwa anak-anak akan berubah menjadi penurut, nyatanya mereka masih  sama seperti kemarin, pembangkang. Bahkan mereka sama sekali tidak meminta maaf kepada Maya atas  kejadian kemarin.
            “Dasar pengadu,” ucap salah satu anak cowok berambut kriting.
            Maya menghela nafas, mencoba bersabar. Kelasnya akan kembali seperti kemarin lagi. Anak-anak masih terlihat tidak suka dengan kehadiran Maya. Mereka juga masih  menganggap Maya tidak bisa mengajar hanya karena Maya berasal dari kota dengan penampilannya yang gaul.
            “Oke kalau kalian masih tidak mau diajar oleh kakak, kita ngak usah belajar saja hari ini. Sekarang kalian boleh pulang,” ucap Maya sambil mempersilahkan anak-anak meninggalkan saung.
            Mereka berlima hanya diam,  tidak beranjak dari duduknya.
            “Kenapa kalian masih diam?” Tanya Maya.
            “Kami tidak mau pulang,” teriak Rahmi yang langsung diiringi anggukan empat  orang temannya yang sepertinya sangat patuh dengan Rahmi.
Sekarang Maya tahu mereka tidak mau pulang karena takut ketahuan mas Bayu yang akan memberi hukuman kepada mereka kalau mereka  mengulangi perbuatan yang tidak menyenangkan ini.
            “Yaudah kalau kalian tidak mau pulang, kalian harus belajar disini dan nurut ma kakak. Kecuali kalau kalian mau kakak adukan ke mas Bayu.”
Maya mulai mengeluarkan ancamannya. Nampaknya cukup berhasil. Anak-anak nampak saling berpandangan dengan wajah sedikit ragu.
Maya tersenyum menang, sekarang dia sudah menemukan jurus jitu untuk membuat anak-anak itu nurut padanya yaitu mengancam  mengadukan kelakuaan mereka pada mas Bayu. Nampaknya anak-anak kelas VI takut dan segan dengan mas Bayu.
Anak-anak tidak ada yang protes lagi dan mereka sekarang sudah terlihat tenang, siap untuk mulai belajar.
            “Karena kemarin kalian belum memperkenalkan diri pada kakak. Sekarang kalian perkenalkan diri kalian masing-masing. Mulai dari kamu,” Maya menunjuk anak laki-laki  berambut keriting.
            “Udin” Kemudian  secara berurutan mereka memperkenalkan diri.
            “Bejo”
            “Ismail”
            “Sholeh,”
            “Rahmi.”
Rahmi menutup perkenalan mereka.
            “Baik sekarang kita akan belajar bahasa Indonesia.” Ucap Maya sambil membuka buku bahasa Indonesia yang tadi dikasih oleh  mas Bayu sebelum Maya mengajar.
“Setiap orang pasti mempunyai impian. Kalian pernah mendengar  lagu I Have a dreamnya Westlife?” Tanya Maya pada mereka.
            Semua anak  hanya diam, entah tidak tahu atau malas menjawab
            “Ok nggak papa kalau kalian nggak tahu. Lagu tersebut bercerita tentang sebuah impian. Setiap orang pasti mempunyai impian atau keinginan. Kalian juga kan?”
Anak-anak masih diam. Maya menghela nafas dan kembali melanjutkan.
“Ok. Sekarang kakak pengen tahu apa impian atau keinginan kalian yang sangat kalian harapkan dan ingin mewujudkannya. Ismail apa impian kamu?” tunjuk Maya pada Ismail.
            Ismail Nampak ragu untuk menjawab.
            “Apa Ismail?” Tanya Maya lagi.
“Punya banyak uang,” jawab Ismail singkat dan ketus.
“Bagus. Tidak ada salahnya kita mempunyai impian punya banyak uang. Impian tersebut akan memacu kita agar kita selalu bekerja keras. Rahmi apa impian kamu?” Sekarang Maya menunjuk Rahmi.
            “Aku ingin kakak tidak mengajar kita lagi.”
            Semua anak langsung tertawa. Maya mencoba bersabar, menahan rasa kesalnya.
            “Rahmi ganti yang lain,” perintah Maya.
            Rahmi hanya diam.
            “Rahmi kakak bilang ganti yang lain,” perintah Maya lagi.
            “Aku ingin kelas ini cepat selesai dan pulang,” teriak Rahmi sambil memandang Maya sengit.
            Maya mengalah.
            “OK, sekarang kakak minta kalian buat sebuah cerita tentang impian kalian dan apa saja yang akan kalian lakukan untuk meraih mimpi itu.”
            Semua anak langsung mengeluh dan terkesan malas mengerjakan perintah Maya.
            “Ayo dikerjakan tugasnya atau nanti kakak bilang ke mas Bayu kalau kalian tidak mau mengerjakan tugas,” ancam Maya lagi.
            Mereka pun dengan malas mulai membuka buku dan menulis. Sementara Maya tersenyum senang karena sejenak bisa bebas mengajar. Enak juga kalau  ngajarnya kayak gini, jelasin dikit, suruh anak-anak ngerjaen tugas yang banyak, terus pulang. Maya tersenyum-senyum nakal.
*
           
            Malamnya karena tidak ada kerjaan,  Maya iseng membaca tugas anak-anak kelas VI yang diperintahkannya tadi siang. Maya meraih selembar kertas di tumpukan paling atas sendiri. Di kertas tersebut  tertulis nama Ismail. Maya mulai membaca tulisan Ismail yang memakai huruf latin dan agak susah dibaca.
Aku pengen punya banyak uang. Kalau punya banyak uang aku bisa sekolah,  beli rumah bagus, punya mobil keren, dan aku nggak perlu ikut bapak mulung lagi, bapak juga  nggak perlu mulung lagi. Aku suka iri melihat anak-anak seusiaku make baju bagus, bisa makan di tempat enak dan ada juga yang naek mobil. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin sekolah di SD beneran. Makanya, aku pengen sekali punya banyak uang. Aku akan  rajin mulung setiap hari biar bisa punya banyak uang.”
            Hati Maya tersentuh membaca tulisan Ismail. Tiba-tiba Maya merasa sangat bersyukur kepada Allah SWT  karena dirinya dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan bahkan lebih. Maya bisa sekolah di sekolah terbaik, punya mobil sendiri di Jakarta dan hampir semua keinginannya selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Sementara Ismail harus berjuang keras untuk mendapatkan uang, bahkan hanya untuk sekedar makan.
 Maya kembali mengambil kertas kedua, tertulis nama Rahmi di atas kertas. Maya membaca tulisan Rahmi dengan harus menerutkan kening karena tulisannya agak susah dibaca.
Sejak melihat kakak dari kota itu aku tidak suka dengan dia  apalagi ditambah dengan dia  yang mengadukan kami ke mas Bayu. Kami jadi dinasehatin panjang lebar oleh mas Bayu  dan mas Bayu juga menyuruh kami meminta maaf kepada dia. Tapi jangan harap kami mau meminta maaf. Seharusnya dia  yang minta maaf kepada kami. Kami hanya ingin diajar ma kak Poltak bukan kakak dari kota yang sombong itu. Jadi aku  berharap semoga  dia  nggak ngajar kita lagi.”
            Membaca tulisan Rahmi terbit rasa kesal di  hati Maya. Selama ini Rahmi memang yang terlihat paling  tidak suka dengan kehadiran Maya. Rahmi juga yang selama ini terlihat paling menentang kehadiran Maya. Sebenarnya Maya juga tidak ingin mengajar mereka kalau tidak karena terpaksa. Selama ini mas Bayu dan Niken yang rajin membujuk Maya agar mau mengajar di sekolah gratis.
            Dengan perasaan masih kesal, Maya mengambil kertas yang ketiga, yang ternyata adalah tulisan si Udin. Maya langsung membacanya.
“Pas aku ngamen di daerah Malioboro. Aku ketemu ma bule. Bule itu menghampiriku, lalu mengajakku ngobrol dengan bahasa Inggris. Aku kebingungan karena nggak bisa bahasa Inggris. Walaupun aku sudah geleng-geleng kepala, bule tersebut tetap aja nyerocos panjang lebar. Aku makin pusing. Lama-lama bule itu capai juga sambil berlalu pergi. Aku pengen bisa ngomong bahasa Inggris dengan lancar  biar besok kalau ketemu bule lagi aku bisa ngomong lancar.”
Maya tertawa membaca tulisan Udin. Perasaan kesal Maya karena tulisan Rahmi tadi sedikit terobati. Maya kemudian membaca  dua  kertas terakhir yang ditulis oleh Bejo dan Soleh. Bejo menulis
Aku pengen sekali bisa makan hamburger. Kayaknya enak banget, tapi pasti harganya mahal. Setiap kali ngamen, aku selalu ngliat orang-orang dengan enaknya menyantap hamburger di tempat makan di pinggir jalan. Tempat makan itu  dinding-dindingnya dari kaca jadi aku bisa nglihat orang-orang di dalam sana. Aku pernah mau masuk sana, padahal aku sudah bawa uang banyak dari hasil ngamen. Eh, di depan pintu  aku sudah dicegah ma satpamnya, dilarang masuk katanya pengemis dilarang masuk. Padahal aku sudah  bilang mau beli hamburger. Tapi satpam itu tetap saja tidak percaya padaku. Mungkin karena pakaianku jelek dan bolong-bolong, mukaku juga dekil. Aku pengen makan hamburger, makanya besok aku pengen  mencoba  kesana lagi dengan baju yang bagus yang baru aku pinjam dari teman.
Dan terakhir adalah dari Soleh.
 “Aku pengen ke malioboro. Kata orang malioboro itu salah satu tempat wisata utama di Jogja sangat ramai dan dikunjungi banyak wisataan. Aku ingin sekali kesana. Tapi setiap hari aku bekerja sebagai buruh tani membantu bapak. Selain itu sekarang bapak juga sakit-sakitan. Aku sudah menabung agar bisa pergi ke malioboro, tapi sepertinya bapak lebih membutuhkan uang itu buat beli obat. Sekarang aku sudah tidak punya uang lagi, karena uangku habis untuk membeli obat bapak. Tapi aku masih tetap ingin pergi ke malioboro. Semoga besok keinginanku bisa terkabul, amien”
            Airmata Maya tiba-tiba menetes membaca tulisan anak-anak didiknya di Sekolah Gratis. Maya kembali mengucap rasa syukur. Maya jadi merasa kecil. Maya selama ini hanya bisa menghabiskan uang ayahnya dan suka menentang ayah dan mamanya. Maya belum pernah berbuat hal yang baik atau dapat membahagiakan orang. Tiba-tiba muncul sebuah ide dalam pikiran Maya.

           
           


           

           
           


           












12
Rencana Maya

            Maya menghampiri eyangnya  yang sedang asyik menonton TV di ruang keluarga dengan langkah pelan-pelan.
“Eyangggggg.” Maya mengagetkan eyangnya dari belakang.
Eyangnya yang kaget, langsung menoleh ke belakang. Geleng-geleng melihat tingkah Maya.
“Untung eyangmu ini  nggak jantungen nduk.”
“Habisnya eyang serius bangat ngliat TVnya.”
“Ini eyang, Maya buatkan kopi tubruk, banyak kopi dan sedikit gula. Kesukaan eyang.”
Maya meletakkan kopi bikinannya di meja tepat dihadapan eyangnya.
Eyangnya hanya diam menatap Maya sambil tersenyum menyelidik.
“Ayo dong eyang dicicipi kopi buatan Maya.”
“Iya..iya ini eyang cicipin kopi buatan cucu eyang.” Eyang maya mengambil  cangkir kopinya dan menyeruputnya.
Ono opo tho ndu?” Tanya eyang Maya setelah meletakkan cangkir kopinya.
Eyang Maya sudah bisa membaca tingkah Maya. Biasanya kalau Maya sudah bersikap manis seperti ini apalagi pakai membuatkan kopi segala, pasti ada maunya.
 “Yah ketauan deh.” Maya senyam senyum.
“Sebenarnya gini  eyang. Eyang besok minggu ada acara nggak? Kalau Maya pinjem mobil eyang  bisa nggak? Untuk sehari itu aja eyang,” rayu  Maya sedikit ragu  dan takut kalau eyang tidak mengijinkan Maya meminjam mobilnya.
“Pinjem mobil buat apa, nduk?” Tanya eyang Maya sambil memandang Maya serius.
Eyang Maya memang selalu meminta penjelasan jika Maya meminta sesuatu, sama seperti ayah Maya. Jika penjelasan Maya rasional dan dinilai penting, maka eyang Maya akan mengabulkan permintaan Maya dengan senang hati. Namun, jika penjelasan Maya kurang bisa meyakinkan eyang, atau eyang merasa apa yang diminta Maya tidak  penting, maka eyang pun tidak segan-segan untuk bilang tidak, walaupun Maya adalah cucunya sendiri yang paling disayang eyang.
Maya lalu memaparkan penjelasannya yang telah dipersiapkannya kemarin malam. Maya ingin kali ini permintaan Maya bisa terkabul. Sementara eyang Maya nampak memperhatikan dengan seksama.
“Sebenarnya besok minggu eyang ada acara,” jelas eyang yang langsung membuat muka Maya sedikit kecewa, padahal Maya sudah merasa alasannya pasti akan bisa meluluhkan hati eyang agar Maya bisa meminjam mobilnya.
“Tapi karena eyang rasa alasanmu itu sangat,  sangat penting, maka eyang rela membatalkan acara eyang. Mobil eyang  bisa kamu pinjem seharian.”
Maya terlonjak senang, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Terus acaranya eyang gimana?”
“Acara eyang biar eyang batalkan saja demi cucu eyang.”
“Beneran eyang? Wah makasih ya  eyang,” Maya merangkul eyangnya.
“Kalau perlu nanti eyang suruh pak Herman untuk mengantar kalian seharian.”
“Wah beneran eyang. Wah makasih ya eyang. Eyang emang eyang paling baik seduniaaaaaaaaaaaa.”
Eyang Maya tertawa mendapat pujian dari cucunya.
Setelah mendapat persetujuan dari eyangnya  untuk meminjam mobil ditambah bonus pak Herman. Maya bergegas mengambil HP, langkah selanjutnya adalah menelepon Niken dan juga mas Bayu. Maya tersenyum dalam hati. Semoga rencananya kali ini berhasil.
*
                Seperti biasanya, hari ini Tania menunggui Ernest latihan di studio musik. Sejak ada berita bahwa The Arian  didaulat menjadi band pembuka  promo album  Sheila on 7, The Arian jadi semakin intensif latihan. Hampir setiap hari sepulang dari sekolah, personel The Arian langsung menuju studio musik untuk berlatih. Bahkan di hari minggu pun mereka masih latihan. Rencana manggungnya pun semakin dekat, kurang tiga minggu dari sekarang.
            Tania nampaknya serius melihat Ernest dan teman-temannya berlatih. Sesekali Tania memberikan senyumnya dari jauh, bermaksud menyemangati Ernest. Apa yang dilakukan Tania, sama dengan apa yang dilakukan Maya dahulu. Maya rajin menunggu Ernest dan teman-temannya berlatih di studio. Namun, itu dulu sebelum Ernest memutuskan untuk berpisah dengan Maya dan sebelum Maya pergi ke Jogja. Sekarang posisi Maya sudah tergantikan oleh Tania.
Pak Parno, petugas bersih-bersih di studio  tiba-tiba masuk ke ruangan  sambil  membawa sebungkus kotak besar berwarna merah. Tania yang melihat pak Parno langsung memanggil pak Parno.
            “Itu apa pak?” Tanya Tania setelah pak Parno berdiri di depannya.
            “Ini  buat mas Ernest, mba.”
            “Dari siapa pak?” Tanya Tania heran.
            “Nggak tahu mba. Tadi pagi pas saya baru datang kesini, saya  menemukan ini  di depan pintu studio. Nggak ada nama pengirimnya mba. cuma selembar kertas bertulis  buat Ernest,” terang pak Parno.
            Dalam hati Tania  berpikir pasti ini dari pengagum rahasia Ernest yang selama ini selalu mengirimi Ernest hadiah.
            “Pak kotak itu biar kasih saya saja ya pak. Nanti saya yang kasih ke Ernest. Ernestnya lagi  latihan,” pinta Tania.
            Pak Parno hanya mengangguk. Tanpa curiga sedikit pun, pak Parno menyerahkan kardus kotak merah tersebut kepada Tania.
            “Makasih, ya mba.” Ucap pak Parno sambil berlalu pergi dari ruang studio setelah sebelumnya Tania memberikan sedikit tip buat pak Parno..
            Begitu pak Parno pergi, Tania  langsung membuka kotak kardus  tersebut, ternyata isinya adalah kue tart coklat. Selain kue tart coklat Maya juga menemukan selembar surat disana. Maya mengambilnya dan kemudian membacanya.

            Halo Ernest
            Makasih ya selama ini kamu selalu  mau menerima  kiriman dan hadiah dariku. Itu semua aku tulus berikan kepadamu Ernest. Kamu mungkin penasaran denganku atau kamu mungkin kesal karena aku tidak mau menampakkan diri di depanmu, tapi aku kira semua itu belum saatnya Ernest. Suatu saat pasti kamu akan tahu aku. Orang yang selalu menjadi pengangum rahasiamu. Kamu mungkin tidak tahu kalau selama ini aku menyimpan rasa sayang yang amat besar untukmu Ernest dan rasa sayang itu akan selalu tumbuh subur di hatiku. Aku berharap jika kita bertemu suatu saat kamu sudah memiliki rasa sayang yang sama denganku.
            Tapi sebelumnya Ernest, aku sarankan kepadamu sebaiknya kamu jauhi Tania, karena Tania itu bukan perempuan baik-baik. Dia hanya memanfaatkan kamu Ernest. Dia tidak tulus mencintai kamu, karena di dunia ini yang tulus mencintaimu hanya satu orang yaitu : AKU.

Emosi Tania bergejolak ketika membaca surat tersebut. Nyata-nyata pengagum rahasia Ernest dengan berani meminta Ernest untuk meninggalkannya. Bahkan cewek tersebut menjelek-jelekkan dirinya. Diam-diam Tania melipat kembali kertas tersebut dan memasukkan ke dalam saku bajunya. Tania melangkah ke ujung ruangan, kardus kotak kue  tersebut dibuangnya ke dalam tempat sampah. Tania tersenyum puas.
*
            Sehabis latihan personel the Arian langsung berkumpul mendengar pengarahan dari mas Yudi.
            “Ernest nada vokalmu  masih terdengar  redah.  Tinggikan sedikit nada suaramu dan perjelas  pelafalan katanya, biar nggak kayak orang menggumam.”
            Ernest mengangguk-angguk, mendengarkan  nasehat mas Yudi dengan seksama. Setelah Ernest giliran anak-anak The Arian lain yang dievaluasi oleh mas Yudi satu persatu. Mereka memperhatikan semua wejangan yang diberikan oleh mas Yudi dengan serius.
            “Ok Guys latihan kita cukup untuk hari ini.  Kalian sudah lebih baik lagi sekarang.” Mas Yudi mengakhiri sesi evaluasinya. Anak-anak The Arian menghela nafas lega.
“Oh ya aku lupa sesuatu,” ucap mas Yudi yang membuat anak-anak The Arian kembali memusatkan perhatiannya kepada mas Yudi.
“ Aku sudah dapat kabar kalian akan membuka konser promo album  Sheila on 7 dikota mana.”
            “Dimana, mas?” Tanya Boy nggak sabar.
            “Tak jauh dari Jakarta. Kalian akan manggung di Jogja.” Terang mas Yudi dengan penuh semangat.
            “Wah Jogja,” anak-anak The Arian kontan tersenyum senang.
            “Jogja…Jogja,” teriak mereka satu sama lain, kecuali Ernest  yang termangu ketika  mendengar nama Jogja disebut.
            Tiba-tiba Jogja mengingatkannya pada sebuah nama, Maya.  Meski Ernest sekarang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Maya. Bahkan Ernest  sama sekali sudah lost contact dengan Maya.
 Ernest sudah  hampir bisa melupakan Maya  karena kesibukan dan jarak yang memisahkan, meskipun Ernest mengakui hal itu sulit baginya. Tiba-tiba memori kenangan  Ernest dengan Maya kembali dibangkitkan. Hati  Ernest kembali bergejolak mengingat Maya. Bagaimana kabar Maya saat ini? batin Ernest dalam hati.
            “Jadi mas harap kalian harus berlatih dengan sungguh-sungguh karena waktu  kalian tinggal sekitar dua minggu lagi.”
 Suara mas Yudi membuyarkan  lamunan Ernest.
            “Siap, mas,” semua kompak menjawab.
13
Rumah Dimas
           
            “Wah kamu hebat  Maya,” seru Niken kagum kepada Maya  setelah Maya menceritakan  kembali rencananya  kepada Niken  di kantin.
            “Terus kamu udah dapat ijin dari mas Bayu?” Tanya Niken.
            “Udah. Aku kemarin udah menelepon mas Bayu.”
Niken mengangguk-angguk.
“Sekarang tinggal memberi  tahu pak Herman. Sudah beberapa hari ini pak Herrman nggak datang ke rumah eyang.  Kata mbok Siti pak Herman  lagi sakit.  Aku takut pak Herman besok minggu nggak bisa nganter kita. Makanya aku mau ke rumah pak Herman sekalian ngilhat keadaannya sepulang sekolah ini.”
 “Perlu aku temani nggak May?” Tanya Niken.
“Nggak usah, Ken. Katanya kamu mau  ke rumah budemu sepulang sekolah ntar. Biar aku sendiri saja nggak papa.  Aku udah  dikasih denah rumah pak Herman  ma eyang, rumahnya lumayan gampang dicari.”
 “Kamu yakin nggak nyasar?” Niken nampaknya sedikit ragu  membiarkan  sahabatnya berjalan sendiri menyusuri desa.
“Tenang aja, Ken. Maya pasti bisa mengatasi.”
“Ok kalau gitu. Semoga berhasil, ya, May.” Niken memberi  semangat.
“Makasih, Ken.”
*

            Sepulang sekolah, Maya langsung  melangkahkan kakinya  menuju rumah pak Herman dengan berpedoman pada  denah yang diberikan oleh eyangnya.
Ternyata rumahnya pak Herman lumayan susah dicari. Untung Maya bisa nanya-nanya ke orang  yang ditemuinya di jalan. Namun, banyak diantara orang-orang yang ditanyai Maya,  tidak tahu rumah pak Herman. Maya maklum  karena pak Herman baru sekitar enam bulanan pindah ke desa ini, mungkin masih banyak orang yang tidak mengenal pak Herman. 
Setelah beberapa kali menanyakan ke orang dan sempat nyasar akhirnya Maya  menemukan rumah pak Herman. Maya bernafas lega.
Rumah pak Herman memang agak masuk. Rumah pak Herman sangat sederhana, dindingnya setengah terbuat  dari batu bata yang tidak dicat sementara setengahnya lagi hanya dari bilik bambu. Halaman rumah pak Herman sangat luas dan ditanami dengan berbagai macam tanaman, seperti pohon mangga, pohon rambutan dan aneka tanaman hias lainnya, sangat menyejukkan.
            Maya melangkahkan kakinya menuju teras rumah, lalu  mengetuk pintu.
            Lama tidak ada jawaban.
            Maya mencoba mengetuk pintu lagi, tidak juga ada jawaban.
            Maya hampir menyerah lalu berbalik, ingin pulang.
“Nyari siapa?” Tanya seseorang yang membuka pintu.
Mendengar pintu dibuka, Maya yang sudah mau pergi  langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. Alangkah  terkejutnya Maya ketika melihat orang yang membukakan pintu, orang tersebut pun tak kalah terkejut ketika melihat Maya.
“Dimas,” ucap Maya kaget.
“Ngapain kamu kesini?” Tanya Dimas  dingin.
“Ini rumahnyanya pak Herman kan?” Tanya Maya antara bertanya pada dirinya sendiri dan bertanya pada Dimas.
Mungkin Maya yang salah  rumah.  Bukannya ke rumah pak Herman malah nyasar ke rumah Dimas.
“Masuklah,” ajak Dimas tanpa menggubris pertanyaan Maya.
Maya yang bingung mengikuti langkah Dimas begitu saja memasuki rumah.
Maya terpesona ketika melihat ruang tamu  rumah Dimas. Ruang tamu  penuh berisi lukisan-lukisan yang Maya yakin semua lukisan tersebut adalah lukisan Dimas. Lukisan-lukisan tersebut  ada yang dipasang di dinding dan ada juga yang hanya disenderkan begitu saja di bawah dinding. Nampak beberapa lukisan belum jadi.
Maya sempat terkagum-kagum dengan lukisan Dimas yang bagus-bagus. Dimas pun hanya diam mempersilakan Maya untuk melihat lukisan-lukisannya sejenak. Namun, Maya segera sadar.
“Dimas, maaf kayaknya aku salah rumah,” ucap Maya.
“Ayahku ada. Tapi lagi tidur,” potong Dimas.
“Ayah?” Tanya Maya.
“Kamu mencari ayahku kan?” Tanya Dimas.
“Pak Herman ayahmu?” Tanya Maya antara kaget dan tidak percaya.
Dimas hanya diam tidak menjawab. Sampai ada   suara langkah kaki yang mendekati mereka.
 “Ada tamu,Dim?” 
Maya menoleh pada suara tersebut yang ternyata pak Herman
“Pak Herman,” ucap Maya lirih.
“Oh, ada nak Maya.”
Pak Herman agak terkejut dengan kedatangan Maya di  rumahnya.
“Aku tinggal kedalam ya,” pamit  Dimas sambil  berlalu meninggalkan Maya dan pak Herman di ruang tamu.
“Ada apa nak Maya datang kesini?” Tanya pak Herman sambil menyilahkan Maya duduk.
            “Kenapa  pak Herman nggak pernah cerita kalau Dimas itu anak bapak?” Tanya Maya tanpa menjawab pertanyaan pak Herman.
            “Nak Maya kenal dengan Dimas?”
            “Kita teman sekelas pak bahkan aku ma Dimas duduk sebangku,” terang Maya.
            “Bapak juga tidak tahu kalau ternyata Dimas sekelas ma nak Maya bahkan duduk sebangku lagi,” ucap pak Herman sambil ketawa.
            “Oya nak Maya datang kesini ada keperluan apa?” Tanya pak Herman kemudian.
            “Kata mbok Siti ma eyang pak Herman lagi sakit, ya?”
            “Bapak cuma kecapekan saja. Biasa penyakit orang tua.”
            “Bapak udah periksa ke dokter?”
            “Nanti juga sembuh sendiri nak Maya.”
            “Tapi walau bagaimanapun perlu juga untuk diperiksain ke dokter, pak.”
            “Nak Maya ini mirip sama Dimas ya, sama-sama cerewet kalau soal kesehatan bapak,” seloroh  pak Herman sambil senyam-senyum, Maya jadi salah tingkah sendiri.
            “Oya nak Maya belum cerita, tumben kesini apa ada sesuatu yang penting nak?”
            “Sebenarnya saya kesini mau minta tolong ke bapak.”
            “Minta tolong apa nak? Kalau bapak bisa bantu pasti nanti  bapak akan bantu?”
            “Besok minggu saya mau minta tolong bapak untuk menyetir mobil eyang, saya mau  ada acara pak.”
            “Kemana nak?”
            “Saya pengen jalan-jalan ke kota pak. Bagaimana bapak bisa?”
            “InsyaAllah bisa nak Maya. Bapak siap mengantarkan nak Maya.”
            “Makasih banyak ya pak.” Senyum Maya mengembang saking senengnya, karena satu persatu rencananya berhasil.

*

            Bel pulang berbunyi. Tania dan teman-teman sekelasnya bergegas mengemasi barang-barang mereka. Ketika Tania mengambil bukunya dari dalam laci meja, tiba-tiba ada selembar kertas yang jatuh tepat di kakinya. Tania buru-buru mengambilnya dan membacanya.
           
            Buat Tania
Tan, aku minta kamu jauhi Ernest karena Ernest itu tidak pantas bagi kamu. Kalau kamu tidak menuruti kata-kataku aku akan beberkan semua rahasia tentang kamu di sekolah ini. Aku tahu rahasia-rahasia mengejutkan tentang kamu Tan. Tentang keluargamu dan tentang masa lalumu.

            Dengan kesal Tania meremas-remas kertas yang ada di tangannya. Ada orang yang berani mengancam dirinya. Tania mencoba untuk tidak  ambil pusing dengan surat kaleng tersebut. Namun, tetap saja Tania kepikiran dengan ancaman dalam surat tersebut. Orang ini tahu banya tentang Tania bahkan rahasia masa lalunya.
            Tania yakin orang yang mengiriminya surat kaleng tersebut pasti orang yang selama ini mengirimi  Ernest hadiah-hadiah. Tania berjanji pada dirinya sendiri akan mencari tahu siapa orang ini.
*


           







14

Malioboro



Maya tampak gelisah mondar-mandir di teras rumah eyangnya. Sudah lebih dari jam tujuh tapi pek Herman dan mobil kijang eyang belum juga muncul. Maya bolak-balik melirik jam tangannya. Ada perasaan khawatir di hati Maya jika pak Herman ternyata tidak bisa mengantarkan mereka karena masih belum sembuh dari sakitnya.
 Maya mendadak tersenyum lega  ketika melihat mobil kijang eyang memasuki halaman rumah dengan pelan. Maya bergegas menghampiri mobil kijang tersebut.
Betapa terkejutnya Maya ketika kaca mobil dibuka ternyata orang yang duduk di belakang setir mobil  bukan pak Herman melainkan Dimas.
            “Dimas kamu?” Tanya Maya heran bercampur kaget melihat Dimas ada di belakang kemudi.
            “Ayahku nggak bisa nganter karena kurang enak badan. Jadi aku yang nggantiin.”
Dimas menjelaskan singkat,  sebelum Maya bertanya lebih lanjut.
            Maya masih termenung, antara bingung dan kaget.
            “Ayo jadi berangkat nggak?” Tanya Dimas tidak  sabar melihat Maya yang  masih berdiri mematung.
            “Iya, jadi.”
Maya bergegas  membuka pintu samping  mobil dan duduk di samping Dimas.
            “Makasih, Dim. Kamu udah  mau nggantiin pak Herman nganterin aku,” ucap Maya tulus.
            “Ini bukan demi kamu kok tapi demi anak-anak Sekolah Gratis.”
            Maya memandang Dimas dengan kesal. Masih saja makhluk di sampingnya bersikap dingin kepadanya.  Namun, Dimas tidak menggubris Maya yang nampak kesal. Mobil pun mulai meluncur, meninggalkan halaman  rumah eyang.

*
            Maya dan Dimas  sampai di sekolah Gratis. Di halaman sudah berkumpul murid kelas VI, mas Bayu dan Niken.
            Maya langsung menghambur keluar mobil dan melangkah dengan cepat menghampiri mereka. Sementara Dimas mengikuti Maya dari belakang.
            “Maaf banget ya, mas aku telat.” Maya meminta maaf pada mas Bayu.
            “Nggak papa May. Baru telat setengah jam, belum satu jam,” goda mas Bayu,
Maya hanya tersenyum.
            “Dimas kamu?” Tanya Niken bingung ketika melihat Dimas juga turun dari mobil Kijang bersama Maya.
            Maya akhirnya menjelaskan kalau pak Herman nggak bisa mengantar Maya  karena masih sakit jadi Dimas yang akan menggantikan pak Herman.
            “Jadi saya minta ijin hari ini tidak mengajar, mas,” ijin Dimas.
            “Nggak papa Dim, nanti aku bisa handle dua kelas kok, biar kelasmu aku yang pegang,” terang mas Bayu mengijinkan Dimas.
            Dimas mengangguk. Maya tersenyum senang karena mas Bayu mengijinkan Dimas mengantar mereka.
            “Adik-adik  hari ini kita nggak usah belajar di saung karena hari ini kita jalan-jalan ke malioboro,” terang Maya bersemangat.
            “Wah Malioboro, kak?” ucap  Sholeh refleks,  terlihat kegembiraan menghiasi wajah Sholeh. Anak-anak yang lain pun nampaknya senang mendengar kabar gembira dari Maya, kecuali Rahmi yang ekspresinya biasa saja.
            Maya mendekati Sholeh.
            “Iya Sholeh hari ini kita ke malioboro.”
            “Beneran kak?” Sholeh masih belum percaya.
            Maya mengangguk mantap.
            “Makasih, kak,” ucap Sholeh tulus.
            “Ayo anak-anak kita sekarang ke mobil,” ajak mas Bayu.
            Anak-anak pun segera mengikuti Dimas dan mas Bayu  menuju mobil kijang. Sholeh yang terlihat paling bersemangat.
            “Kamu tahu nggak, Ken. Ternyata Dimas itu anaknya pak Herman.” Terang Maya langsung kepada Niken ketika mereka tinggal  hanya berdua.
            “Yang benar, May. Pak Herman yang dirumah eyangmu itu kan.”
            Maya mengangguk.
            “Aku awalnya juga kaget, Ken. Ketika aku ke rumah pak Herman aku bertemu Dimas. Aku nggak nyangka ternyata Dimas anaknya pak Herman.”
            “Aku juga nggak tahu banget tentang Dimas, May. Soalnya Dimas termasuk  baru disini. Dia baru sekitar setengah tahunan  tinggal di desa ini,” terang Niken.
            Maya mangangguk-angguk.
            “Niken, aku pinjam Dimas dulu ya,” ijin Maya  sebelum pergi meninggalkan Niken.
            “Kok ijin ke aku, May?” Tanya Niken heran.
            “Udah , Ken nggak usah pura-pura. Tenang aja pokoknya aku nggak bakalan ngapa-ngapain Dimas. Nanti aku balikin Dimas, utuh,  seperti semula,” goda Maya sambil buru-buru lari karena Niken bersiap melancarkan cubitannya.
            Niken hanya tersenyum melihat tingkah Maya.
*

            Sepanjang perjalanan, Maya yang paling bersemangat. Dia meminta anak-anak untuk bernyanyi bersama mengisi kekosongan.
            “Nyanyi lagunya Kangen Band aja,” pinta Ismail.
            “Kalau lagunya Kangen Band kakak nggak hapal. Kalau lagunya Justin Biebier gimana?”
            “Yah, kalau itu kita yang nggak tahu kak.” Anak-anak kompak mengeluh kecuali Rahmi yang dari tadi diam saja.
            “Gimana kalau nyanyi lagunya Smash aja yang kepalaku cenat-cenut itu,” tawar Sholeh.
            “Boleh,,boleh,” anak-anak yang lain setuju.
            Maya pun akhirnya mengangguk. Mereka menyanyikan lagu Smash bersama-sama  kecuali Rahmi dan Dimas. Rahmi daritadi hanya diam dan nampak tidak antusias dengan perjalanan ini. Dimas juga hanya diam, serius menyetir,  tidak mau ikut-ikutan tingkah Maya yang mirip anak kecil.
            Dimas hanya geleng-geleng melihat tingkah Maya. Namun, Dimas bisa melihat  aura kegembiraan yang memancar dari wajah Maya. Maya begitu ceria dan hidup.  Tanpa disadari Maya, beberapa kali Dimas melirik ke Maya yang duduk di sampingnya.
            Akhirnya mobil mereka sampai juga di  malioboro. Maya langsung turun disusul anak-anak yang lain. Maya memandang dengan terkagum-kagum, maklum sama seperti Sholeh, Maya juga baru pertama kali menginjakkan kakinya di  malioboro. Sholeh pun dengan sangat antusias langsung turun  dari mobil dan terkagum-kagum dengan suasana di malioboro.
            Sepanjang jalan malioboro berjejer-jejer pedagang-pedagang yang menjajakan aneka barang. Seperti batik, sepatu, gelang, kalung dompet, kaus dagadu dan souvenir lainnya. Selain itu ada juga pedagang makanan seperti gudeg, bakpia, dan jajanan lainnya. Maya yang suka belanja tentu saja langsung bersemangat ketika melihat suasana di malioboro.
            “OK adik-adik sekarang ayo kita jalan-jalan dan belanja sepuasnya,” ajak Maya.
            Semuanya pada bengong.  Mereka awalnya tampak senang melihat malioboro. Namun, ketika maya mengucapkan  kata belanja, mereka langsung murung. Maklum mereka sama sekali tidak membawa uang ketika mau ke malioboro. Meski mereka  membawa uang, tentu saja bagi mereka sayang  jika digunakan untuk belanja-belanja, untuk makan saja mereka masih susah, apalagi dihabiskan untuk belanja-belanja.
 Maya segera bisa membaca pikiran anak-anak.
            “Udah nggak usah bingung. Semuanya aku yang bayarin. Pokoknya kalian bebas pilih apa saja disini. Anggap saja ini hadiah buat kalian yang sudah mau menjadi muridku,” ucap Maya sambil tersenyum.
            “Beneran kak?” Tanya Bejo tidak percaya.
            Maya mengangguk mantap.
            “Wah makasih, kak,” ucap Bejo dibarengi anak-anak lainnya dengan tulus. Kecuali Rahmi yang dari awal nampak apatis dan tidak bersemangat diajak ke malioboro dibanding anak-anak lainnya.
            “OK sekarang mari kita serbu,” teriak Maya.
            Lagi-lagi, Dimas hanya geleng-geleng melihat ulah Maya yang seperti anak kecil. Namun, dalam hati Dimas memuji Maya.  Memuji ide Maya untuk  jalan-jalan ke Malioboro dan kebaikan hati Maya mengajak anak-anak jalan-jalan ke malioboro serta menraktir mereka blanja sepuasnya.
            Alhasil sepanjang malioboro, Maya  kalap berbelanja, anak-anak juga nampaknya senang-senang saja. Mereka mengikuti kemana pun Maya pergi. Sesekali mereka menjelaskan kepada Maya tentang hal-hal yang Maya tidak tahu. Seperti Maya yang sangat kagum dengan batik-batik yang dijual dengan sangat murah dan makanan bakpia yang menurut Maya sangat enak.
            “Kalau disini harus pinter nawar kak. Soalnya harga yang ditawarkan sangat tinggi dibanding harga sebenarnya. Bahkan hampir setengah harga kita bisa dapat.”
            Maya mengangguk-ngangguk  saja diterangkan.
            “Kakak pengen nyobain gudeg, makanan khas Jogja.”
            “Gudeg itu dibuat dari buah nangka. Rasanya manis karena memang orang Jogja suka manis.”
            Maya mendengarkan semua penjelasan  mereka dengan seksama.
            Sementara Dimas dari tadi  hanya jadi seperti body guard yang mengikuti kemana pun maya dan anak-anak berjalan. Bahkan Dimas pun akhirnya harus membawa barang belanjaan mereka yang lumayan banyak.
            “Aku nggak nyangka ada tempat bagus seperti ini. Wah ini bagus banget gelangnya, teriak Maya.”
            Dimas hanya geleng-geleng kepala.
            “Dasar ratu blanja,” ucap Dimas. Maya bisa mendengarkannya.  Namun,  Maya tidak menggubris Dimas. Saat ini,  Maya lebih tertarik untuk melihat-lihat barang-barang yang digelar daripada meladeni Dimas.
            Setelah berjam-jama berjalan-jalan di sepanjang jalan malioboro dan juga masuk ke pasar Beringharjo yang terletak di Malioboro, Mereka  akhirnya istirahat di pinggir jalan Malioboro.
            “Itu  namanya titik nol kilometer kak,” terang Bejo tanpa dikomando sambil menunjuk perempatan yang tidak jauh dari mereka duduk. Di sampingnya terdapat kantor BNI dan juga kantor pos.
            “Kok dinamain nol kilometer?” Tanya Maya.
            “Karena jalan-jalan di Jogja mulai diukur dari titik ini,” terang Udin.
            Maya hanya mengangguk-angguk.
            “Kalau malam tepat jam dua belas biasanya disini banyak  anak muda yang foto-foto,” lanjut Udin lagi.
            “Wah ngomong-ngomong foto, kakak jadi inget kalau bawa kamera. Ayo kita foto-foto.”
            Maya mengeluarkan kamera digital  dari dalam tasnya.
            “Wah mau kak, ayo foto,” teriak anak-anak yang lain. Sekarang mereka berebut  untuk berpose dan minta di foto, Maya kewalahan.
            Hanya Rahmi yang masih duduk diam.
“Rahmi ayok ikut foto-foto,” ajak Dimas.
Rahmi menggeleng.
“Ayo,” bujuk Dimas lagi sambil menarik tangan Rahmi.
Rahmi manut saja ditarik oleh Dimas. Lalu bergabung ikut foto-foto bersama anak-anak. Meski diantara anak-anak yang lain Rahmi terlihat terpaksa dan ketika difoto gayanya kaku dan tanpa senyum.
“Ayo kak foto,” ajak Ismail  pada Dimas yang dari tadi hanya melihat mereka.
Dimas menggelang.
“Kalian saja.”
            Namun, Ismail langsung menarik tangan Dimas, mengajaknya berfoto. Akhirnya mau tidak mau Dimas pun asyik berfoto bersama mereka. Gantian kadang Dimas yang memotret, kadang Maya yang memotret .
            “Sekarang kak Maya dan kak Dimas yang foto berdua,” teriak Sholeh.
            “Setuju,” Ismail ikut-ikutan
            “Setuju,,setuju,” teriak anak-anak yang lain ramai, kecuali Rahmi.
            Maya dan Dimas saling berpandangan jadi salah tingkah sendiri. Ada rasa enggan diantara mereka berdua.
            “Ayo, kak,” Sholeh mengandeng tangan Maya dan mengajaknya mendekati Dimas. Entah kenapa Maya tidak kuasa menolak. Sholeh lalu mendekatkan Maya kea rah Dimas. Dimas dan Maya saling berpandangan.
            “Kalian saja yang foto-foto,” tolak Dimas.
            “Iya benar,” Maya mendukung Dimas.
            Tiba-tiba mereka berdua menjadi kompak.
            Namun, anak-anak nampaknya kali ini tidak mengindahkan omongan mereka. Sholeh malah menarik tangan Maya dan Dimas agar mereka lebih dekat lagi. Denga canggung Maya dan Dimas berdiri saling berdekatan
            Udin langsung mengambil  kamera yang ada di tangan Dimas.
            “Tetap seperti itu kak,” teriak Udin memberi aba-aba.
            Maya dan Dimas pun berdiri dengan kaku dalam jarak yang sangat dekat.
            “Senyum kak,” teriak Ismail member  aba-aba.
            Maya dan Dimas pun terpaksa senyum akhirnya dengan kaku dan canggung.
            Dan Udin pun langsung menfoto mereka.
            “Klikk”
*
            “Habis ini kita kemana kak?” Tanya Ismail ketika mereka semua sudah berada di dalam mobil sehabis mereka puas jalan-jalan ke malioboro. Mereka nampak capek.
            “Bagaimana kalau kita makan hamburger?” ucap Maya sambil melirik Bejo.
            “Hamburger,” ucap Bejo Nampak excited.
            “Iya.”
            “Wah mau kak,” teriak anak-anak yang lainnya.
            Bejo terdiam, tidak menyangka kalau impiannya makan hamburger akhirnya bisa terkabul saat ini.
            “Gimana Bejo?” Tanya Maya.
            “Mau mau kak,” jawab Bejo sambil tersenyum lebar.
            Entah kenapa hari ini Maya merasakan kesenangan yang tidak terlukiskan ketika melihat senyum Sholeh  ketika melihat Malioboro dan melihat senyum Bejo ketika mendengar nama hamburger disebut. Kesenangan yang Maya rasakan berbeda dengan kesenangan yang dia dapatkan ketika dia pergi nonton atau berbelanja dengan Lulu atau Nika
            Disampingnya Dimas memandang Maya dengan penuh arti. Hari ini dia melihat sisi lain dari Maya yang berbeda dan  menyentuh hatinya.
*
            “Makasih ya, Dim,” ucap Maya tulus ketika Dimas mengantarkan Maya pulang sehabis  mengantarkan anak-anak  di Sekolah Gratis.
            Dimas hanya mengangguk.
            “Aku hari ini seneng banget.”
            Wajah Maya bersinar-sinar meskipun wajahnya terlihat capak karena seharian muter-muter sepanjang malioboro.
            “Ini semua….”
            “Demi anak-anak kan Dim,” potong Maya.
            Dimas  terdiam. Mereka berdua tertawa.
            “Udah sampai, May,” terang Dimas ketika mobil mereka berhenti tepat di halaman rumah eyang.
            Maya bergegas turun dari mobil.
            “Selamat malam, May. Jangan lupa istirahat, ya,” ucap Dimas sambil tersenyum kea rah Maya.
            Maya terdiam, sedikit kaget dengan kalimat yang keluar dari mulut Dimas barusan.
            “Oh, iya Dim, makasih. Kamu juga ya, Dim jangan lupa istirahat.”
            Dimas mengangguk lalu menghidupkan mesin mobil kijang eyang Maya dan bergegas berlalu dari halaman rumah eyang Maya.
            Maya masih berdiri terpaku sampai mobil kijang eyang tidak terlihat lagi. Entah kenapa Maya tiba-tiba tersenyum. Senyum yang datang bersamaan dengan perasaan hatinya yang sedikit aneh ketika membayangkan Dimas.
*
           

           
15
Surat Kaleng


            Tania kembali mendapatkan surat kaleng. Bahkan kali ini surat kaleng tersebut disertai dengan terror. Awalnya hanya Kecoak yang dimasukkan dalam kotak. Sekarang Tania mendapatkan tikus hidup yang tiba-tiba keluar dari kotak yang dikirim bersama surat kaleng tersebut.
            “Tikus,” Tania menjerit keras sambil melonjak kaget.
            Teman-temannya yang berada di sekitar bangku Tania pun ikut-ikutan kaget. Mereka ikut-ikutan menjerit dan melompat menghindari tikus yang sekarang bebas berkeliaran.
            “Ada tikus.”
            “Wah tikusssss”
            “Ada apa ini ribut-ribut?” Tanya bu Desi sambil menatap galak seluruh penjuru kelas.
            “Ada tikus, bu,” lapor Tania masih dengan wajah ketakutan.
            “Mana tikusnya?” Tanya bu Desi yang juga  terlihat sedikit takut.
            “Itu bu,” teriak Lulu sambil melompat ke kursinya karena tikusnya berlari menuju ke arahnya.
            “Edo, cepat kamu tangkap tikus itu,” perintah bu Desi pada Edo, si ketua kelas.
            Edo pun bergegas menjalankan  perintah bu Desi. Dengan sigap Edo menangkap tikus kecil putih tersebut lalu membawanya keluar. Suasana kelas pun sudah sedikit lega.
            “Siapa yang membawa tikus itu?” Tanya bu Desi dengan wajah sedikit kesal karena anak-anak membuat keributan di tengah beliau sedang serius mengajar.
            Semua anak langsung menoleh ke Tania.
            “Tadi tikus itu keluar dari laci mejanya Tania, bu,” lapor seorang siswa perempuan.
            Tania hanya diam, tidak bisa membela diri.
            “Tania nanti saat  istirahat, kamu temui ibu di kantor ya.”
            Tania hanya mengangguk dan dalam hati menyumpahi orang yang selalu mengirimnya surat kaleng.
           
*

            Maya sedang  memindah foto- foto di   malioboro kemarin dari kamera ke dalam laptopnya. Setelah semua foto terpindah, Maya mengamatinya satu persatu. Maya tersenyum sendiri  melihat foto anak-anak yang lucu-lucu gayanya. Terutama Ismail yang paling heboh sendiri gayanya, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Rahmi yang gayanya kaku dan tanpa ekspresi.
            Maya tertegun ketika sampai pada foto dirinya dengan Dimas. Tiga buah foto adalah foto Maya hanya  dengan Dimas dalam jarak yang sangat dekat. Lama Maya memandang foto tersebut. Baru kali ini Maya dan Dimas berada dalam jarak yang sangat dekat.  Padahal setiap hari Maya dan Dimas bagai kucing dengan anjing. Jarang bertegur sapa dan sekalinya ngomong selalu berdepat dan ejek-ejekan.
            Maya tersenyum  sendiri dan lama memandang foto tersebut. Ingatan Maya melayang kembali ke perjalanan mereka di Malioboro. Membayangkan itu Maya jadi senyam senyum sendiri.
            Ketika Maya sedang asyik membayangkan dia dengan Dimas, wajah Niken tiba-tiba muncul.  Tiba-tiba Maya merasa takut kalau mulai timbul rasa simpati kepada Dimas. Maya  takut rasa simpati itu lama-lama akan menjadi rasa suka.
            Padahal Maya tahu benar, Niken  selama ini memendam rasa suka kepada Dimas. Tanpa  Niken ngomong ke Maya, Maya sudah tahu kalau  rasa suka Niken terhadap Dimas begitu besar. Dari mulai senyuman Niken, sikap Niken yang nampak malu-malu ketika dipuji oleh Dimas, dan perhatian Niken. Semua itu sudah cukup menjelaskan. Namun Niken nampaknya agak segan untuk mengungkapkannya. Pertama, Niken tipe gadis desa yang pemalu dan meyakini bahwa pacaran adanya setelah nikah. Kedua, Niken memang tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya.
            Tiba-tiba Maya menjadi terpikir untuk menjalankan sebuah rencana. Maya tersenyum-senyum sendiri membayangkan rencana barunya tersebut.
*

            Tania berjalan dengan cepat menuju sekolahnya. Hari ini Tania memang sengaja datang pagi-pagi sekali karena belum mengerjakan PR Ekonomi. Bu Mira, guru Ekonomi mereka tidak segan-segan mengeluarkan siswa yang tidak mengerjakan PR dari kelas. Itu saja tidak cukup, masih ada hukuman tambahan lainnya yaitu mengerjakan PR tambahan yang banyaknya tidak ketulungan. Karena tidak mau bernasib sial, Tania sengaja datang lebih awal untuk mencotek PR temannya.
            “bruggg”
Karena saking buru-burunya tanpa sengaja Tania menabrak seseorang di depan pintu kelasnya.
“Eh Lulu, maaf,” ucap Tania ketika melihat Lulu yang tadi ditabarknya jatuh dengan posisi duduk di lantai.
Tania menjulurkan tangannya, mencoba membantu Lulu berdiri.
“Lain kali kalo jalan lihat-lihat dong, Tan.” Gumam Lulu sambil membersihkan roknya yang kotor terkena debu lantai.
            “Maaf,Lu. Aku lagi buru-buru tadi.”
            “Itu apa, Lu,” tunjuk Tania ke sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas kado dan diikat dengan pita, cantik sekali. Kotak tersebut ternyata lepas dari genggaman Lulu ketika bertabrakan dengan Tania barusan.
            Lulu dengan tergesa-gesa  langsung memungut kotak tersebut dari lantai.
            “Ehmm, bukan apa-apa,” ucap Lulu.
            Tania menjadi penasaran.
            “Udah ya, Tan aku pergi dulu.” Pamit Lulu sambil segera berlari meninggalkan Tania yang masih bengong di depan pintu.
*
“Halo Dimas,” sapa Maya pada Dimas yang pagi-pagi sudah datang
            Dimas yang sedang asyik menggambar menatap Maya sekilas tanpa senyum dan tidak  membalas sapaan Maya. Lalu kembali asyik dengan gambarnya.
            Maya tertegun. Ternyata Dimas masih seperti dulu, dingin padanya. Apakah Maya terlalu Ge-Er sampai mengira Dimas telah berubah hanya karena perjalanan ke malioboro yang hanya satu hari itu dan ucapan Dimas yang mengingatkan Maya agar jangan lupa untuk istirahat.
            Maya menjatuhkan dirinya ke kursinya. Dengan malas Maya mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Maya melirik kearah Dimas. Dimas masih  asyik dengan gambarnya. Maya menghela nafasnya. Rasa sebel Maya kepada Dimas muncul kembali.

*
            “Neh, Ken buat kamu.” Maya menyerahkan gelang dari batu kali kepada Niken. Oleh-oleh dari jalan-jalan ke Malioboro kemarin.
            “Wah bagus banget, May. Makasih, ya.”
            “Syukurlah kalau kamu suka, Ken.”
            Niken memandang takjub gelang tersebut, lalu memakainya.
            “Niken malam minggu kamu ada acara nggak?” Tanya Maya.
            Niken nampak berpikir sebentar, mengingat-ingat.
            “Kayaknya seh nggak ada, May. Kenapa?”
“Wah bagus kalau gitu.” Maya tersenyum sumringah.
            “Besok malam minggu temenin aku ke pasar malam ya, Ken. Aku kan belum pernah kesana. Aku pengen kesana, kamu mau kan?” rayu Maya.
            Di tempat mereka sekarang memang sedang ramai pasar malam. Pasar malam adalah pasar yang buka pada waktu malam hari. Di pasar malam banyak terdapat  penjual baju, sepatu, barang-barang rumah tangga dan aneka makanan seperti martabak manis, martabak telur, dan arum manis. Selain itu yang khas dari pasar malam adalah terdapat aneka wahana permainan, ada ombak banyu, kincir angin, kuda-kudaan, dunia bola, dan roda gila.
            “Oh, kalau itu gampang, May. Besok aku temenin kamu lihat-lihat pasar malam. Besok aku yang menjemput  kamu di rumah ya.”
            “Eh, nggak usah , Ken. Kita ketemuan di pasar malamnya aja, Ken.”
            “Kamu yakin mau ketemuan di pasar malam saja?” Niken ragu kalau Maya hapal jalan ke pasar Malam. Kemarin ke rumah pak Herman saja Maya nyasar-nyasar seperti yang diceritakan Maya padanya.
            “Iya nggak papa kita ketemuan disana soalnya aku ada urusan bentar. Aku disuruh eyang mengantarkan sesuatu ke rumah temannya. Jadi besok kita ketemu di pasar malam aja ya, Ken.”
            “Kamu hapal jalan ke pasar malam kan, May?” Tanya Niken lagi.
            “Tahu, dong. Tenang aja aku nggak bakalan nyasar kayak kemarin.”
            Maya meyakinkan Niken. Niken akhirnya mengangguk sambil tersenyum, setuju dengan usul Maya.
*






Tidak ada komentar:

Posting Komentar