Rabu, 31 Oktober 2012

Finish


16
T e r u n g k a p


            Pulang sekolah seperti biasa Tania langsung mengunjungi Ernest  dan teman-temannya di studio music tempat mereka biasa latihan. Tania tidak menggubris surat kaleng yang ditujukan padanya untuk menjauhi Ernest. Tania masih saja rajin menemani Ernest berlatih.
            “Halo, Tan,” sapa anak-anak The Arian  ketika melihat Tania datang.
            “Ernest mana?” Tanya Tania heran tidak melihat Ernest diantara mereka.
            “Wah kangen ya, Tan?” goda Raja.
            “Baru saja nggak ketemu satu hari udah kelimpungan nyari,” timpal Boy.
            Yang lainnya langsung menggoda Tania.
            “Aku serius neh,” sergah Tania sambil menunjukkan muka pura-pura serius.
            “Dia katanya datang telat. Sekarang dia lagi menghadap  bu Mira.” Terang Seno.
            Tania hanya mengangguk. Palingan Ernest ada ulangan susulan. Ernest memang hobi ulangan susulan karena jarang masuk.
            “Itu apa?” Tanya Tania ketika melihat Agung sedang memegang sebuah kotak.
            “Biasa, Tan. Dari penggemar misterisusnya  Ernest.”
            Tania hanya mengangguk sambil memikirkan sesuatu.

*

            Hp Ernest bergetar.
            Dengan sembunyi-sembunyi, menghindari tatapan bu Mira  yang sedang mengajar di depan kelas, Ernest mengambil HPnya dari dalam saku celananya. Sms dari nomor baru masuk ke HPnya. Ernest buru-buru membuka dan mebacanya.
            “Nest kamu pasti penasaran dengan aku. Sekarang aku akan menunjukkan siapa aku sebenarnya. Aku tunggu kamu di kantin sekolah sehabis pulang sekolah. Penganggum rahasiamu”
            Ernest tertegun membaca  sms tersebut. Orang yang selama ini mengirimi berbagai macam hadiah, sekarang akan menunjukkan siapa dirinya. Tentu saja Ernest bingung bercampur penasaran. Dia selalu  ingin mengetahui siapa orang yang selalu memberikannya hadiah, namun Ernest bingung harus bicara apa jika bertemu dengan dia. Mungkinkah penganggum rahasianya tersebut benar-benar sangat  menyukai Ernest. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Ernest.
            Ernest lalu membalas sms tersebut.
            “OK, aku akan datang.” balas Ernest.
           
*
            Sepulang sekolah Ernest bergegas menuju ke kantin sekolah yang sudah sepi, sama sekali tidak ada orang, hanya ada dirinya. Sementara kios-kios makanan sudah pada tutup.
 Ernest mengambil tempat duduk di sudut kantin. Dengan sabar dia menunggu pengagum rahasianya tersebut yang entah ada angin apa tiba-tiba minta bertemu dengan dirinya.
            “Ernest,” sapa seseorag dari belakang yang ternyata Lulu. Lulu kaget melihat Ernest duduk di kantin.
            “Lulu.” Ernest pun tak kalah kagetnya   melihat Lulu yang baru datang.
            Apakah Lulu pengangum rahasianya, batin Ernest. Namun, itu sama sekali tidak mungkin, selama ini Lulu terlihat tidak suka dengan  Ernest dan Lulu adalah orang pertama yang tidak setuju dengan hubungan dirinya dan Maya.
            “Ngapain kamu disini Lu?” Tanya Ernest.
            “Ehmmmm, aku nunggu orang,” jawab Lulu.
            “Orang yang kamu tunggu aku, Lu?” Tanya Ernest hati-hati.
            Lulu kaget mendengar ucapan Ernest. Lalu tersenyum sinis kea rah Ernest.
            “Kamu kok Ge-Er banget seh Nest jadi orang. Jangan kamu pikir aku juga salah satu pengagummu. Tidak akan pernah, Nest.”
            “Bukan begitu maksudku, Lu. Tapi coba kamu baca sms ini.”
Ernest menunjukkan sms yang diterimanya dari pengagum rahasianya tadi siang kepada Lulu.
            Lulu  tertegun membaca sms tersebut.
            “Aku ada janjian dengan dia di kantin dan tepat jam sekarang. Tapi tiba-tiba kamu yang datang. Sementara di kantin ini hanya kita berdua, Lu.”
            “Siapa yang ngirim  sms tersebut? Itu bukan aku. Kamu dibohongi, Nest.”
            “Dibohongi? Bagaimaa kamu tahu kalau aku dibohongi?” Tanya Ernest sedikit curiga.
            Lulu tertegun sendiri dengan kata-katanya. Namun, buru-buru Lulu mengambil HPnya dari tasnya.
            “Kamu baca sms ini, Nest.”
            Gantian Lulu yang memperlihatkan sms di HPnya kepada Ernest.
            “Seseorang memintaku ketemuan di kantin. Kamu juga, ada orang yang meminta ketemuan di kantin. Namun, sampai sekarang orang tersebut tidak juga datang. Berarti kita telah dibohongi, Nest. Dan asal kamu tahu aku bukan pengagum rahasiamu.”
            Ernest mengangguk-angguk sambil berpikir. Benar juga yang dikatakan oleh Lulu ada seseorang yang sedang mengerjai Ernest dan Lulu.
            “Lalu siapa orang itu, Lu.”
            “Aku nest,” tiba-tiba sebuah suara muncul besamaan dengan munculnya Tania dari balik kios  penjual bakso.
            “Tania,” ucap Ernest dan Lulu berbarengan.
            “Jadi kamu yang selama ini….” Ucap Ernest antara percaya tidak percaya.
            “Bukan Nest, tapi Lulu adalah pengangum rahasiamu itu,” ucap Tania sambil memandang Lulu tajam.
            “Kamu ngomong apa, Tan. Aku pengangum rahasia Ernest? Tidak mungkin aku jadi pengagum rahasia Ernest apalagi sampai mengiriminya coklat, kue dan surat.” Lulu buru-buru membela dirinya.
            “Siapa yang bilang ke kamu kalau Ernest selalu dikirimi kue, coklat, dan surat,” ucap Tania sambil tersenyum sinis kea rah Lulu.
            Tiba-tiba Lulu terdiam, sadar dengan kesalahannya dalam bicara. Peluh mengalir deras dari wajah Lulu.
            “Aku tahu dari temannya Ernest,” jawab Lulu.
            “Temannya Ernest yang mana?” Tania kembali menyudutkan Lulu.
            “Terus darimana kamu tahu kalau aku pengangum rahasianya Ernest, Tan.  Kamu jangan sembarangan nuduh, kamu tidak punya bukti yang kuat. Jangan-jangan kamu dibalik semua ini.” Lulu ganti menyudutkan Tania.
            “Aku punya ini, Lu.”
            Tania mengeluarkan beberapa lembar suarat  dari dalam saku baju seragamnya.
            “Ini adalah surat kaleng yang dikirim seseorang kepadaku dan ini aku ambil di kotak roti yang dikirim untuk Ernest. Tulisan di semua surat ini ditulis dengan tulisan tangan yang sama,” terang  Tania.
            “Lalu kamu menuduhku kalau aku yang menulis semua surat itu. Kamu tidak punya cukup bukti, Tan,” Lulu mencibir.
            Sementara dari tadi Ernest hanya diam, bingung dengan situasi yang sedang terjadi di hadapannya sekarang.
            “Ketika aku melihat surat tersebut, tiba-tiba aku merasa familiar dengan tulisannya. Setelah kuingat-ingat ternyata tulisan di kotak kue itu dan surat ancaman buatku  sama persis dengan tulisanmu, Lu. Aku tahu itu karena aku pernah  meminjam catatanmu, bahkan buku catatan bahasa Indonesiamu yang aku gunakan untuk mencocokan tulisan itu sekarang masih di aku.”
            Lulu terdiam, bingung mau berkata apa.
            “Terus kemarin tanpa sengaja kita bertabrakan, kamu menjatuhkan kotak kecil waktu itu. Ternyata kotak tersebut kamu kasihkan untuk Ernest karena lagi-lagi aku yang menerima kotak itu,” ucap Tania  sambil menunjukkan kotak kecil di tanggannya.
            Lulu masih diam, hanya terdengar tarikan nafas Lulu yang dalam dan berat.
            “Benar, Lu yang Tania ucapkan barusan?” Tanya Ernest sambil memandang Lulu tajam.
            Lulu menunduk.
            “Aku  yang merencanakan semua ini. Aku yang sms kamu dan yang sms Ernest. Ini semua aku lakukan biar semuanya menjadi jelas dan Ernest bisa tahu siapa orang  yang selama ini secara sembunyi-sembunyi mengiriminya hadiah,” terang Tania.
            “Lu, jawab apakah yang semua dikatakan oleh Tania itu benar?” Tanya Ernest lagi tidak terlalu menggubris pengakuan Tania tentang kebohongan yang telah dibuatnya.
            “Iya, Nest itu aku,” ucap Lulu kemudian.
            Ernest Nampak kaget tidak percaya.
            “Kamu? bagaimana kamu bisa? Padahal kamu selama ini benci banget ma aku?” tanya Ernest masih setengah tidak percaya.
            “Itu karena aku suka kamu, Nest,” ucap Lulu lemah.
            “Aku suka kamu sejak kita menjadi teman dekat di SMP dulu. Namun, setelah kita masuk SMA  yang sama kamu  bertemu dengan  Maya. Kamu melupakanku begitu saja, itu membuat aku sakit dan yang lebih membuat aku sakit, Nest, kamu jadian dengan Maya.”
            Tenggorokan Lulu tercekat, Ernest kaget dengan pengakuan Lulu barusan.
            “Kamu manfaatin aku untuk mendapatkan Maya, Nest. Kamu tidak tahu betapa sakit hatinya aku menjadi mak comblang kalian, melihat kalian berdua tertawa senang, padahal aku menangis. Makanya aku tidak pernah suka dengan hubungan kalian dan aku selalu berusaha untuk memisahkan kalian.”
            “Aku yang membuat gossip kedekatan kamu dengan Tania karena aku tahu kalau Tania suka kamu. Makanya aku berusaha mendekatkan kamu dengan Tania biar kalian benar-benar terlihat sedang berselingkuh sampai akhirnya terjadi peristiwa perkelahian Maya dengan Tania, itu pun aku yang membuat skenarionya.”
            “Lulu, kamu?” Tania setengah kaget dengan pengakuan Lulu. Sementara Ernest hanya diam, beragam perasaan tidak menentu berkecamuk di dalam dadanya.
            “Aku juga yang mempegaruhi ayah Maya untuk menjauhkan Maya dari kamu, Nest. Aku yang menyarankan Maya dipindah ke Jogja. Aku yang melakukan semua ini Nest.”
            ‘Plakkkk’
            Satu tamparan keras Ernest mendarat di pipi Lulu.
            “Kamu setega itu, Lu ma Maya. Aku temanmu sejak SMP dan Maya itu sahabat kamu, kenapa kamu lakukan itu pada Maya dan aku?”
            “Kamu lebih tega, Nest. Kamu membuat hatiku hancur lebur. Kamu tahu, Nest betapa menderitanya aku selama ini,” ucap Lulu tak kalah sengit.
 “Setelah Maya pergi, aku berjanji akan mendapatkan cintaku kembali, Nest. Mendapatkan kamu karena aku tahu aku tidak mungkin bisa melupakanmu. Makanya aku selalu mengirimimu hadiah agar suatu saat kamu bisa belajar mencintaiku juga.”
            Lulu memandang Ernest dengan penuh arti.
            “Maaf Lu, aku tidak bisa. Mendengar ini semua aku jadi semakin il fill ma kamu.” Ucap Ernest penuh kebencian.
            Ernest lalu pergi meninggalkan Lulu dan Tania.
*

           









17

PASAR MALAM



            Amplop berwarna merah terjatuh dari dalam buku Dimas ketika Dimas sedang mengeluarkan buku-bukunya dari dalam laci mejanya.
            Dimas tertegun, kemudian mengambil amplop yang jatuh di lantai tersebut.
            Dimas membuka amplop tersebut, ternyata di dalamnya ada surat yang diketik dengan komputer. Dimas kemudian  membaca surat tersebut.
*
            “Nika,” panggil Ernest pada Nika  yang sedang berjalan seorang diri.
            Nika menghentikan langkahnya. Ernest bergegas menghampiri Nika.
            “Ada apa, Nest?”
            “Kamu  sibuk nggak, Nik? Bisa ngobrol sebentar.”
            “Boleh.”
            “Kita ngobrol di kantin ya,” ajak Ernest.
            Nika hanya mengangguk lalu mereka berdua berjalan menuju ke kantin.
            “Ada apa, Nest?” Tanya Nika setelah mereka duduk di kantin dan memesan minum.
            “Ehmm, aku mau minta tolong ma kamu, Nik.”
            “Minta tolong apa?”
            “Ini tentang Maya.”
            Nika mengerutkan dahinya.
            “Masih ada urusan apa kamu sama Maya, Nest? Bukannya kamu telah memilih berpisah dengan Maya,” ucap Nika mulai sinis.
 Sejak Maya bercerita kalau Ernest memutuskan hubungan mereka dan menyuruh Maya untuk tidak menghubungi Ernest lagi, Nika yang dulu lumayan dekat dan akrab dengan Ernest menjadi menjaga jarak. Nika tidak suka dengan Ernest yang telah menyakiti sahabatnya, Maya.
            Tanpa berpikir panjang lagi, Ernest langsung menjelaskan maksud tujuannya. Ernest juga menceritakan tentang Lulu dan kejadian di kantin kemarin. Nika tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar semua cerita Ernest.
            “Tidak mungkin Lulu melakukan itu, Nest. “ Nika masih belum sepenuhnya percaya dengan cerita Ernest.
            “Terserah kamu Nik  mau percaya atau tidak. Kamu bisa tanyakan ini semua kepada Lulu.”
            Nika terdiam, bingung mau ngomong apa.
            “Gimana Nik, kamu  mau bantu aku kan?” Ernest memohon.
            “Aku akan mencoba bantu kamu, Nest,” jawab Nika yang langsung disambut senyum sumringah oleh Ernest.
            “Makasih ya, Nik.”
            Nika hanya mengangguk.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang  yang memperhatikan percakapan mereka  dari tadi dengan  tidak senang.
*


            Niken berjalan diantara kerumunan orang-orang di pasar malam yang sangat ramai. Sudah hampir satu jam Niken menunggu Maya, namun Maya belum juga muncul. Niken jadi takut kalau Maya nyasar dan terjadi apa-apa dengannya. Selain itu,  Niken  juga merasa  tidak enak sendirian di tempat ramai seperti ini. Tak jarang Niken digoda oleh pemuda-pemuda desa yang sering nongkrong di pasar malam.
            “Niken,” panggil sebuah suara.
Niken berusaha mencari arah suara yang memanggilnya di tengah keramaian pasar malam. Niken terkejut ketika melihat siapa orang yang tadi memanggilnya dan orang tersebut kini telah berdiri di depan Niken.
“Dimas kamu ngapain disini?” Tanya Niken.
            “Lho bukannya kita janjian ketemu disini?”
            “Kita? Janjian? Perasaan aku nggak pernah janjian sama kamu.”
Niken nampak  bingung dan mencoba mengingat-ingat. Dimas pun ikut-ikutan bingung.
            “Ini dari kamu kan, Ken.”
            Dimas menyodorkan sepucuk surat yang kemarin ditemukan di dalam bukunya.
            Tangan Niken bergetar menerima surat tersebut dan kemudian membacanya.
            Dimas heran melihat perubahan muka Niken yang kaget dan setengah tidak percaya.
            “Ini bukan dari aku, Dim,” ucap Niken pelan, tenggorokannya bergetar.
            Dia menyerahkan kembali  surat tersebut kepada Dimas kemudian berlari pergi meninggalkan Dimas. Sekarang Dimas yang binggung, hanya berdiri termenung.
*
            Keesokan paginya, Niken tidak masuk sekolah. Tadi malam, Maya mencoba menelepon Niken dan sms Niken berkali-kalai, Namun HP Niken tidak pernah aktif dan semua sms Maya pending.  Maya bermaksud  meminta maaf pada Niken  karena dia tiba-tiba tidak bisa datang ke pasar malam karena ada urusan.
            Dimas pun sama sepanjang hari ini hanya diam dan mukanya nampak murung. Dalam hati Maya bertanya-tanya apa yang terjadi semalam. Maya ingin sekali bertanya kepada Dimas, Namun, nampakanya Dimas sedang dalam mood yang buruk.
            “May, aku mau bicara,” ucap Dimas ketika bel pulang berbunyi.
Maya mengangguk. Maya dan Dimas duduk di bangku masing-masing dalam diam, menunggu  kelas kosong
Tak berapa lama, semua  sudah meninggalkan kelas kecuali Maya dan Dimas. Dimas melemparkan  sepucuk amplop ke meja Maya. Maya kaget melihat amplop tersebut.
“Ini  dari kamu, kan?” Tanya Dimas dingin sambil menatap Maya tajam..
Maya yang masih kaget  hanya bisa mengangguk.
Maya yang telah merencanakan semuanya tadi malam. Dia yang membuat surat cinta dari Niken untuk Dimas. Maya juga yang meletakkannya di laci meja Dimas. Maya juga berpura-pura bertemu Niken di pasar malam, padahal Maya hanya ingin menjebak Niken agar bisa bertemu dengan Dimas di pasar malam.
“Kamu nglakuin ini buat apa, May?” Tanya Dimas dingin.
“Buat kalian,” jawab Maya pelan.
“Buat kalian? Kamu tau apa yang terjadi pada Niken gara-gara ini?” Tanya Dimas dengan  nada suara yang meninggi.
Apa gara-gara ini Niken hari ini tidak masuk sekolah  dan HPnya tidak aktif. Berbagai tanda Tanya memenuhi otak Maya. Melihat Dimas yang marah-marah dan Niken yang tidak masuk sekolah, Maya bisa menebak pasti  kejadian malam kemarin di pasar malam  tidak seindah yang dibayangkannya ketika dia merancang untuk melakukan ini. Tiba-tiba Maya menjadi merasa menyesal dengan perbuatannya dan merasa sangat bersalah pada Niken.
 “Dimas maaf aku nggak nyangka kalau kejadiannya bakal seperti ini. Aku nglakuin ini karena aku sayang ma Niken.”
“Maksudmu?”
“ Aku hanya ingin membantu Niken mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya pada kamu, Dim. Niken sayang kamu, Dim,” terang Maya.
“Tapi tidak seharusnya kamu nglakuin ini, May. Niken beda dengan kamu. Niken masih menjunjung tinggi kebiasaan disini. Dia bukan malu mengungkapkan perasaanya kepadaku. Niken  tahu kapan waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati  dan tidak seharusnya cewek yang mengutarakan isi hatinya.”
“Kalau tidak seharusnya cewek yang mengungkapkan isi hatinya. Kenapa kamu juga diam, Dim? Kenapa kamu tidak mengungkapkan isi hatimu kepada Niken?” Tanya Maya balik menyalahkan.
Dimas terdiam.
“Kamu membiarkan Niken menunggu, Dim. Kenapa?”
“Karena aku sayang Niken hanya sebagai adikku. Aku tidak mencintai Niken.”
Maya tertegun mendengar pengakuan Dimas. Entah kenapa Maya tiba-tiba merasa lega mendengar  pengakuan Dimas. Namun disisi lain hatinya, Maya merasa kasihan dengan Niken jika sampai dia mendengar ucapan Dimas ini. Niken pasti akan sakit.
“Kenapa kamu tidak bisa menyayangi  Niken seperti seorang laki-laki menyanyangi perempuan?”
“Kamu tidak perlu tahu kenapa, May. Dan yang perlu kamu ingat kamu jangan lagi mencampuri kehidupanku. Kamu sudah cukup membuatku menderita.” Ucap Dimas sambil berlalu pergi meninggalkan Maya.

*
            Sepulang sekolah, Maya nekad pergi ke rumah Niken. Maya ingin mengaku salah sekaligus minta maaf pada Niken. Maya tidak menyangka sama sekali kalau rencananya akan berakibat seperi ini.
Maya diterima oleh ibu Niken.
            “Eh ada nak Maya. Ayo masuk, nak,” ajak ibu Niken ramah.
            Maya mengikuti langkah ibu Niken masuk ke ruang tamu kemudian duduk di sofa.
            “Niken sakit, ya bu?” Tanya Maya.
            “Tadi pagi sih katanya agak pusing. Tapi, sekarang kayaknya sudah agak baikan. Ibu panggilkan Niken, ya.”
            Maya mengangguk.
            “Terima kasih bu.”
            Ibu Niken berlalu masuk ke dalam.
            Tiba-tiba Maya menjadi gugup dan takut bertemu Niken. Maya takut Niken marah padanya. Namun, Maya sudah siap jika Niken memang marah, Maya akan menerimanya karena memang ini semua salahnya.  Maya menarik nafas dalam-dalam ketika mendengar bunyi langkah kaki.
            Gadis cantik bejilbab ungu keluar dari pintu dan tersenyum manis kepada Maya.
            “Halo, May,” sapa Niken.
            “Niken kamu nggak papa? Kamu sakit apa?” Tanya Maya sambil memandang Niken dengan muka khawatir.
            “Nggak papa May, Cuma agak pusing. Makasih ya May dah datang kemari.”
            Maya heran dengan Niken yang sama sekali  tidak marah padanya. Malah sikap Niken masih seperti biasanya, seakan tidak terjadi apa-apa.
            “Kamu tidak marah sama aku, Ken?” Tanya Maya tiba-tiba.
            “Marah? Marah kenapa May?”
            “Karena surat itu,” ucap Maya lirih.
            “Itu aku yang buat, Ken,” aku Maya.
            Niken tertawa melihat ketakutan dan penyesalan yang tida bisa disembunyikan dari muka Maya.
            “Kamu pasti mengira aku tidak masuk karena surat itu lalu aku marah sama kamu.”
Maya mengangguk. Niken tersenyum
“Mana mungkin, May aku marah sama kamu. Aku tahu kok kamu melakukan ini demi aku cuma mungkin caranya saja yang salah.” Ucap Niken sangat bijaksana. Maya menjadi kagum dengan sahabatnya ini.
“Maaf ya, Ken,” mohon Maya lagi.
“Iya aku maafin kamu. Jangan diulangi lagi ya, May.”
Maya mengangguk mantap samba tersenyum sumringah.
“Kamu sekarang sudah tahu kan, May jawabannya. Jadi kamu tidak usah lagi memojokkan aku dengan Dimas, ya.”
            “Kamu dah tahu perasaan Dimas, Ken?”
            “Ya, aku udah tahu kok, May. Kita memang dekat, Dimas juga sering ngasih perhatian ke aku. Tapi, semua itu sebatas hubungan kakak dan adik, May.” Niken menelan ludahnya.
“Dimas yang  sering bilang ke aku  kalau aku mirip adiknya yang sudah lama meninggal. Makanya aku tahu kalau Dimas tidak mungkin menyanyangi aku layaknya laki-laki menyayangi perempuan.”
            “Dimas punya adik dan udah meninggal, Ken?” Tanya Maya kaget.
            Niken mengangguk.
            “Lalu bagaimana dengan kamu, Ken?” Tanya Maya.
            “Aku? Aku baik-baik saja, May. Tenang May aku tidak akan mati karena cinta,” seloroh Niken sambil tertawa.
            Maya mencubit Niken kemudian  memeluk Niken.
            “Maaf ya, Ken. Aku benar-benar mita maaf.”
            “Aku maafin kok, May.” Ucap Niken sambil menitikkan air matanya tanpa sepengetahuan Maya.
*
           

           







           
















18
Kesadaran Tania

“OK Semuanya, Mas rasa latihan kalian sudah cukup.  Ini latihan terakhir kita. Lusa kita akan berangkat ke Jogja jadi mas harap kalian siapkan fisik kalian, istirahat yang cukup dan jaga kesehatan,” terang mas Yudi.
            “OK mas,” jawab anak-anak kompak.
            Setelah memberikan sedikit pengumuman dan pengarahan Mas Yudi lalu meninggalkan studio,  tinggal Ernest dan anggota The Arian lainnya  yang masih  ada di dalam studio.
            “Wah udah nggak sabar pergi ke Jogja neh ketemu ma Sheila on Seven.” seru Boy membayangkan.
            “Ada yang nggak lebih sabar lagi neh,” goda Agung sambil melirik Ernest.
            Ernest hanya tersenyum.
            “Wah masih saja mikirin yang lama, Nest. Bukannya disini udah ada yang baru,” timpal Raja.
Tiba-tiba Ernest jadi teringat Tania. Sudah beberapa hari ini Tania tidak datang ke studio music. Selain itu, Ernest juga jadi jarang melihat Tania di sekolah.
            “Tania kemana, ya? Kalian lihat Tania?” Tanya Ernest.
            “Wah langsung keinget yang baru, neh,” goda Boy.
            “Serius neh gue nanyanya. Gue dah lama nggak liat dia soalnya.”
            “Sakit kali, Nest dia,” timpal Seno.
            “Sakit?”
            “Udah beberapa hari ini Tania nggak masuk sekolah,” terang Seno lagi yang sekelas ma Tania.
            Ernest termenung. Apakah Tania sakit? Ernest bertanya-tanya dalam hati.
            Sepulang dari Studio musik,  Ernest tidak langsung pulang ke rumah melainkan  menuju ke rumah Tania.  Ernest ingin memastikan kondisi Tania.
Ernest diterima oleh mamanya Tania.
            “Tania ada, tante?”
            “Ada di kamarnya. Bentar ya Ernest tante panggilin.”
            Ernest mengangguk. Tidak lama kemudian Tania muncul.
            “Kamu tumben kesini, Nest?”
            “Kata Seno kamu sakit ya, Tan? Aku Cuma pengen ngechek keadaanmu.”
            “Kamu khawatir ma aku ya Nest?” goda Tania smabil tersenyum.
            Ernest jadi salah tingkah.
            “Maksudnya sebagai teman yang baik aku kan wajib nengokin kamu kalau kamu sakit.” Ernest buru-buru meralat dan memperjelas ucapannya.
            Tania tersenyum melihat Ernest yang menjadi kikuk.
            “Tenang aja, Nest aku tahu kok. Dari dulu sampai sekarang kamu cuma nganggep aku sebagai teman kan, Nest.”
            Tania dan Ernest sama-sama terdiam.
            “Sejak kejadian di kantin itu dan ketika aku tanpa sengaja denger percakapan kamu dengan Nika  di kantin aku mulai menyadari semuanya, Nest.”
            “Percakapanku dengan Nika?” Tanya Ernest bingung.
            “Maaf Nest sebelumnya karena aku telah mencuri denger pembicaraanmu dengan Nika di kantin.”
            Ernest hanya menangguk.
            “Aku tahu kamu masih sayang ma Maya kan, Nest dan masih ingin kembali dengan Maya.”
            Ernest terdiam.
            “Kalian berpisah hanya karena kedaaan. Karena ayah Maya melarang hubungan kalian. Meskipun sebenarnya kalian masih saling suka.”
            Dalam hati Ernest mengiyakan kalau sebenarnya dia masih sayang Maya. Mungkin Ernest juga yang salah karena dia tidak bisa meyakinkan ayah Maya kalau Ernest bisa menjadi pacar yang baik buat Maya.
            “Aku memilih mundur, Nest,” ucap Tania tiba-tiba sambil tersenyum.
            “Maksudnya, Tan?”
            “Sepertinya aku harus mulai belajar melupakanmu.” Suara Tania menggantung.
            “Tania, maaf aku tidak bermasud..”
            “Kamu nggak salah, Nest. Aku yang seharusnya bisa menerima kenyataan dan belajar dari semua ini. Aku belajar harus mengiklaskan sesuatu yang bukan untuk kumiliki  dan aku belajar kalau ternyata memang belum  waktunya buatku untuk pacaran.”
“Belum saatnya?” Tanya Ernest bingung.
“Iya. Gara-gara terus mikirin kamu nilaiku jadi jeblok, Nest.”
            “Loh kok nyalahin aku. Nilaimu jeblok itu karena kamu sendiri yang memang malas belajar.” Ernest pura-pura tidak mau disalahkan.
            Mereka berdua tertawa bersama.
            “Tapi, Kita tetap menjadi teman kan, Tan?” Tanya Ernest tiba-tiba
            Tania mengangguk mantap.
*

Sekolah Gratis
            Maya memasuki saungnya dengan kurang bersemangat. Masalah surat cinta kemarin ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan Maya. Niken memang sudah memaafkan Maya dan sikap Niken pun sudah seperti biasa lagi.
 Namun, berbeda dengan Dimas. Di kelas Dimas sama sekali tidak pernah menyapa Maya. Maya merasa Dimas lebih dingin dibandingkan dengan kejadian buku gambar dulu. Entah kenapa Maya menjadi serasa kehilangan Dimas.
            “Selamat pagi,” ucap Maya lesu pada anak-anak yang sudah duduk di dalam saung.
            “Selamat pagi,” jawab anak-anak bersemangat.
            Maya memperhatikan sekeliling saung, dia baru menyadari kalau kelas hari ini minus Rahmi.
            “Rahmi kemana, Jo?” Tanya Maya pada Bejo.
            Bejo hanya menggelang.
            “Yang lainnya tahu Rahmi kemana?”
            Semua anak pun menggeleng.
Maya menghela nafasnya dalam. Mungkin Rahmi lebih memilih untuk tidak berangkat daripada bertemu denganku, batin Maya menjadi teringat dengan impian Rahmi yang menginginkan Maya pergi dari sekolah gratis.
            “Ok kalau gitu. Sekarang kita mulai belajarnyanya ya. Kita hari ini belajar matematika.”
            Semua anak langsung patuh  mengeluarkan bukunya tanpa  perlu dikomando lagi.
*
                       
            Dimas hari ini tidak masuk sekolah. Maya yang penasaran kenapa Dimas tidak masuk sekolah ketika istirahat langsung menghampiri Toni, teman dekat Dimas.
            “Ton, kamu tahu kenapa Dimas nggak masuk?” Tanya Maya langsung.
            Toni menggeleng.
            “Aku kira kamu malah yang tahu, May. Kan kamu teman sebangkunya.”
            Maya hanya menggleng lemah kemudian pergi meninggalkan Toni.
           
            Hari berikutnya Maya berharap Dimas masuk. Namun, ternyata hari berikutnya pun Dimas tidak masuk sekolah.
            “Dimas nggak masuk kenapa ya, Ken?” Tanya Maya pada Niken.
            “Aku nggak tahu, May. Dimas nggak bilang apa-apa ke aku.”
            “Jangan-jangan Dimas sakit, Ken,” tebak Maya.
            “Semoga aja nggak, May. Mungkin Dimas ada urusan kali jadi nggak masuk.”
            Maya diam, berharap semoga saja kemungkinan kedua yang benar. Entah kenapa Maya merasa bersalah dengan Dimas. Sejak kejadian surat cinta itu, Dimas benar-benar menjadi dingin, sedingin es. Sama sekali tidak pernah berbicara pada Maya. Apalagi dulu Dimas sempat mengatakan kalau Maya telah membuat hidup Dimas sengsara. Maya jadi merasa dia yang menyababkan Dimas tidak masuk sekolah.
            “Maya, udah bel. Masuk yuk, “ ajak Niken membuyarkan lamunan Maya.
            Maya mengangguk dengan lesu kemudian bergegas megikuti langkah Niken masuk ke kelas.
*



















19
Rahasia Dimas


“Eyang, Maya boleh nanya sesuatu?” Tanya Maya kepada eyangnya  yang sedang membaca Koran di ruang tamu.
            “Mau nanya opo tho nduk?”
            Eyang Maya meletakkan korannya.
            “Pak Herman.”
            Muka eyang Maya berkerut.
            “Pak Herman itu sebenarnya siapa seh, eyang?” Tanya Maya langsung to the point.
            Eyangnya tertawa mendengar pertanyaan Maya.
            “Pak Herman itu ya pak Herman yang suka nganterin eyang pergi, suka bantu-bantu eyang.”
            “Ah eyang bercanda. Maksud Maya, pak Herman itu berasal darimana? Keluarganya siapa? Gitu.”
            Eyang Maya terdiam, menarik nafasnya dalam-dalam. Sepertinya Maya kali ini serius bertanya.
            “Kenapa kamu pengen tahu tentang pak Herman?” Tanya eyang sambil menatap Maya dengan serius.
            Maya terdiam, bingung mencari jawaban yang tepat.
            “Karena Maya penasaran, eyang. Banyak hal yang tidak terduga mengenai pak Herman. Maya ingin lebih mengetahui siapa pak Herman,” jawab Maya.
            Eyang Maya mengangguk-angguk.
“Baik eyang akan cerita yang eyang tahu  tentang Herman. Herman itu baru setengah tahun pindah kesini. Di dulu bersama keluarganya adalah pengusaha sukses di Jakarta.” Eyang Maya diam sebentar, menelan ludahnya. Maya masih mendengarkan dengan seksama.
            “Namun, usahaya bangkrut karena ditipu temannya sendiri. Bahkan Herman jadi mempunyai banyak hutang. Hartanya habis untuk membayar hutang-hutang. Karena tidak mempunyai uang lagi makanya Herman terpaksa pindah ke desa ini dan tinggal di rumah orang tua istrinya yang kosong.”
            “Terus istri dan anak perempuan  pak Herman dimana eyang?” Tanya Maya.
            “Darimana kamu tahu pak Herman punya anak perempuan, ndu?”
            “Maya tahu dari cerita Niken, eyang.”
            Eyang Maya nampak menarik nafas sebentar, terlihat berat untuk mengatakan sesuatu pada Maya. Namun, Maya dengan setia dan serius menunggu eyangnya bercerita.
            “Istri Herman meninggal karena serangan jantung. Dia tidak kuat menerima kenyataan usaha suaminya bangkrut. Sementara adik Dimas meninggal karena bunuh diri,” ucap eyang Maya pelan.
            “Bunuh diri? Kenapa eyang?”
            “Sama seperti istrinya. Anak perempuan Herman tidak kuat menanggung beban. Usaha ayahnya bangkrut, mereka menjadi miskin, harus pindah sekolah dan tidak tahan dengan olok-olokan teman-temannya.”
            Maya tercekat mendengar  semua cerita eyangnya tentang Dimas. Ternyata kehidupan Dimas sangat menyedihkan. Maya tidak menyangka Dimas menanggung beban seberat ini, tiba-tiba ada perasaan bersalah, kagum dan simpati yang timbul di hati Maya.
*
Maya melangkahkan kakinya dengan ragu memasuki halaman sebuah rumah yang tidak asing baginya. Dengan mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Maya memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Lama tidak terdengar jawaban, Maya mencoba mengetuk pintu rumah  itu lagi, sampai kemudian terdengar langkah kaki.
            Maya menarik nafas dalam-dalam. Pintu dibuka. Muncul wajah pak Herman yang langsung tersenyum mendapati Maya di depan pintu.
            “Eh, nak Maya. Ayo mari nak masuk.”
            “Terima kasih pak.”
            Maya mengikuti langkah pak Herman memasuki ruang tamu. Kemudian duduk di kursi tamu setelah dipersilahkan pak Herman.
            “Ada apa, nak Maya datang kesini?”
            “Keadaan bapak gimana pak? Udah sehat?” Tanya Maya basa-basi  tanpa menjawab pertanyaan pak Herman.
            “Alhamdulilah bapak sudah lumayan sehat. Maaf ya nak bapak jadi jarang ke rumah eyang nak Maya.”
            “Eh, nggak papa, pak. Bapak sebaiknya memang istirahat di rumah dulu. Untuk memulihkan kondisi bapak.”
            “Nak Maya datang kesini Cuma mau mengetahui keadaan bapak atau ada yang lain?” Tanya pak Herman yang sudah bisa membaca tingkah Maya sambil tersenyum.
            Maya jadi salah tingkah.
            “Sebenarnya saya kesini pengen tahu keadaan Dimas, pak?” ucap Maya malu-malu akhirnya.
“Apakah Dimas sakit, Pak? Kenapa beberapa hari ini Dimas tidak masuk?” Tanya Maya.
            Pak Herman terdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu.
            “Apakah Dimas punya musuh di sekolah, nak?” Tanya pak Herman tiba-tiba.
            Maya menggeleng, sedikit tidak mengerti dengan pertanyaan pak Herman.
            “Memangnya ada apa dengan Dimas, pak?” Tanya Maya lagi, penasaran.
            “Dua hari yang lalu Dimas pulang ke rumah dengan badan penuh luka dan muka lebam. Nampaknya Dimas habis dikeroyok orang.”
            Maya kaget dengan cerita pak Herman.
            “Dimas dikeroyok pak? Dikeroyok siapa, pak?” Tanya Maya.
            Pak Herman menggeleng.
            “Dimas nggak mau ngaku, nak. Bapak juga tidak bisa memaksa Dimas untuk member itahu bapak.”
            “Terus sekarang keadaan Dimas gimana, pak?”
            “Alhamdulilah sudah agak baikan. Sekarang malah Dimasnya lagi pergi ke  rumah Toni. Katanya ada urusan dengan Toni,” terang pak Herman.
            Maya hanya mengangguk. Pikiran Maya dipenuhi dengan beragam tanda tanya.
           
*
            “OK, Nika makasih, ya,” ucap Ernest setelah menerima selembar kertas yang tertulis alamat Maya di Jogja. Ernest meminta tolong kepada Nika untuk mencari tahu alamat rumah eyang Maya di Jogja.
            “No HP Maya masih sama kayak dulu kok, Nest,” tambah Nika.
            “Aku masih menyimpannya, Nik. Aku nggak mau memberi tahu dia dulu. Aku pengen membuat kejutan buat dia.”
            “Oya, Nest nanti salam ya buat Maya. Bilang aku nggak bisa ke Jogja karena aku mau  ke rumah eyangku di Palembang.”
            “OK sip. Minta doanya ya Nik. Moga semua rencanaku bisa berhasil.”
            “Ok.  Pasti aku doain lancar, Nest.”
            “Nik,” panggil sebuah suara yang membuat Nika dan Ernest menoleh. Ternyata Lulu sudah berdiri di samping mereka.
            Muka Nika mendadak berubah menjadi sinis, terlihat tidak suka dengan kedatangan Lulu.
            “Boleh duduk bareng kalian?” Tanya Lulu pelan dengan muka memohon. Nika hanya diam, sementara Ernest mengangguk, mengijinkan Lulu mengambil tempat duduk di sampingnya.
            “Ngapain seh, Nest.” Protes Nika tidak suka Ernest mengijinkan Lulu duduk bersama mereka.
            “Nika kamu marah?” Tanya Lulu hati-hati.
            “Aku Cuma nggak nyangka aja Lu punya sahabat yang ternyata nusuk sahabatnya sendiri dari belakang,” ucap Nika sengit.
            Lulu tersengat dengan ucapan Nika.
            “Aku nyesel, Nik.”
            “Kamu nggak tahu,Lu. Gimana sedihnya Maya ketika dia harus pindah meninggalkan sekolah ini berpisah dengan kita dan kamu nggak tahu Lu betapa sedihnya Maya ketika dia harus putus dengan Ernest.”
            “Aku tahu, Nik. Maya sudah menceritakan semuanya kepadaku.”
            “Lalu kenapa kamu lakuin ini?” Nada suara Nika meninggi. Lulu terdiam. Suasana menjadi hening.
            “Kamu tahu nggak Nik kalau aku juga menderita. Setiap Maya bercerita kalau dia nggak betah di Jogja, dia kangen kita, dia ingin kembali seperti dulu, hatiku juga sakit. Tapi apakah aku tidak berhak untuk mendapatkan cintaku? Apakah aku tidak berhak untuk hidup bahagia?”
            Giliran Ernest yang tersengat dengan kata-kata Lulu. Tapi, dia mencoba menahan dirinya. Sekarang adalah waktunya Lulu dengan Nika untuk menyelesaikan masalah diantara mereka berdua.
            “Tapi bukan begini caranya, Lu.”
            “Aku tahu, Nik  aku salah. Aku nyesel banget,” ucap Lulu pelan yang tiba-tiba menjadi terisak. Suasana menjadi hening hanya terdengar isakan Lulu.
            Emosi Nika sudah mulai turun. Nika mengeluarkan tisu dari  dalam tasnya lalu menyodorkan kepada Lulu. Lulu mengambil tisu tersebut  dan mengusapkannya  ke pipinya yang basah oleh air mata.
            “Makasih, Nik,” ucap Lulu.
            “Aku minta maaf pada kalian karena gara-gara aku persahabatan kalian jadi seperti ini,” ucap Ernest tiba-tiba.
            “Nggak Nest, Kamu nggak salah. Aku yang salah,” sergah Lulu.
            “Aku tahu aku kayak anak kecil, aku egois, aku hanya bisa mementingkan diriku sendiri. Sekarang aku tahu aku melakukan semua ini karena aku iri dengan Maya. Iri dengan Maya yang cantik, popular, dan bisa mendapatkan apa yang tidak aku bisa dapatkan. Namun, sekarang aku sadar ternyata semua kelakuanku mebuatku kehilangan yang paling berharga buat aku yaitu sahabat. Orang yang paling dekat dengan aku, orang yang selalu ada buat aku dan selalu membantuku. Aku ngerasa kehilangan Maya dan kehilangan kamu, Nik.”
            Nika tidak bisa  lagi membendung air matanya, stu titik air mata jatuh di pipinya.
“Please,,maafin aku ya, Nik. Aku nggak mau kehilangan sahabat sebaik kamu.”
Nika  langsung memeluk Lulu dan terisak.
            “Aku kecewa ma kamu,Lu,” ucap Maya di sela isaknya.
            “Aku tahu, Nik. Aku  minta maaf.”
            “Kamu seharusnya minta maaf pada Maya, bukan aku.”
            “Ya. Aku akan minta maaf pada Maya, Nik. Itu pasti akan aku lakukan, jika perlu aku akan bersujud di kaki Maya agar Maya mau memaafkanku dan kita akan kembali bertiga seperti dulu.”
            Suasana berubah menjadi begitu emosional.   Setelah semuanya tenang. Lulu melepaskan pelukan Nika.
            “Nest, lusa aku ikut ke Jogja ya. Aku ingin menjelaskan semuanya kepada Maya sekaligus minta maaf pada Maya,” mohon Lulu.
            Ernest hanya diam.
            “Please, Nest. Aku ingin semua masalah menjadi jelas. Aku tidak akan bisa hidup tenang jika aku nggak menceritakan semua ini dan meminta maaf langsung kepada Maya.”
            Akhirnya Ernest mengangguk. Sekarang hati Lulu sedikit lega.
           
*
            “Toni, sorry ganggu. Boleh ngomong bentar,” pinta Maya pada Toni yang sedang membaca di perpustakaan.
            “Ada apa, May?’ Tanya Toni heran.
            Maya langsung mengambil tempat duduk di samping Toni.
            “Ini tentang Dimas, Ton,” ucap Maya pelan.
            Toni terdiam.
            “Kamu tahu kan, Ton kenapa Dimas nggak masuk?” Tanya Maya sambil manatap Toni tajam.
            “Aku nggak tahu, May,” elak Toni sambil menghindari tatapan tajam Maya.
            “Kamu nggak usah pura-pura, Ton. Kamu tahu kan kalau Dimas kemarin dikeroyok orang.”
            Toni kaget.
“Kamu tahu darimana, May?”
            “Berarti kamu tahu semua kan, Ton? Lalu kenapa kemarin kamu bohong padaku bilang tidak tahu kenapa Dimas nggak masuk.” desak Maya.
            Toni terdiam. Maya menunggu penjelasan Toni.
“Dimas yang menyuruhku untuk tutup mulut mengenai masalah ini.”
            “Jadi benar Dimas dikeroyok orang, Ton? Siapa yang melakukan ini?”
            Toni Nampak berpikir sebentar, seperti enggan untuk memberi tahu Maya.
“Ayo Ton bilang sama aku. Aku janji nggak akan ngasih tau Dimas kalau kau memberitahaku siapa orang yang telah mengeroyok dia,” bujuk Maya
Toni akhirnya menyebut satu nama.
*
           

























20
D E L L A

            Melihat Maya sedang makan di kantin bersama Niken, Gatot dengan dikawal oleh tiga bodyguardnya yang selalu setia mengawal kemanapun Gatot pergi, langsung menghampiri Maya.
“May, boleh duduk sini,” tawar Gatot.
            Maya hanya mengangguk, mempersilahkan. Niken tersenyum ke arah Gatot.
            “Maya aku punya sesuatu buat kamu.”
Gatot menyodorkan selembar tiket kehadapan   Maya. Namun,  Maya tidak menggubrisnya.
            “Maya aku mau ngajak kamu nonton konser Sheila on7 besok malam. Kamu mau kan, May?” mohon Gatot.
            Maya memandang wajah Gatot dengan kesal.
            “Maaf, Tot, besok malam aku ada acara.” Maya menyingkirkan tiket tersebut, mengembalikan ke Gatot.
            “Please, May. Kali ini saja, mumpung Sheila on7 manggung di Jogja, May. Mau ya, May,” mohon Gatot lagi belum menyerah.
            Maya hanya diam, tidak menjawab. Niken pun hanya bisa jadi  penonton, tidak berani berkata apa-apa. Gatot memberi isyarat kepada Niken untuk membujuk Maya agar mau menerima ajakannya. Namun, Niken mengangkat bahunya, tidak bisa membantu Gatot.
            Gatot akhirnya menyerah, dengan muka lesu diambilnya kembali tiket tersebut dan pergi meninggalkan Maya. Tiga orang bodyguardnya langsung mengikuti Gatot.
            “Gatot tunggu,” panggil Maya tiba-tiba.
            Dipanggil Maya, Gatot langsung berbalik arah dengan semangat empat lima,  berharap Maya mengubah pikirannya.
            “Ada apa, Maya? Kamu mau menerima ajakanku?”
            “Aku tetap menolak ajakanmu, Tot. Aku cuma mau menyampaikan berita kalau kamu dengan tiga orang pengawal setiamu  itu  dipanggil bapak kepala  sekolah sekarang ke kantornya.”
            Gatot heran, begitu juga dengan tiga orang temannya. Mereka saling berpandangan, bertanya-tanya.
            “Kamu serius, May. Ada apa bapak kepala sekolah memanggil kita?” Tanya Gatot.
            Maya mengangkat bahunya. Niken memandang Maya penuh tanda tanya.
*
            Suasana di halaman sekolah yang biasa digunakan untuk upacara bendera tidak seperti biasanya. Beberapa anak terlihat bergerombol sedang menonton sesuatu. Sepertinya ada sesuatu yang menarik disana. Niken dan Maya yang sedang berjalan mau pulang  menjadi penasaran.
            “May, kesana yuk,” ajak Niken. Maya nurut saja tangannya ditarik  oleh Niken.
            Sesampainya disana, Niken terkejut ketika melihat di halaman sekolah, Gatot bersama tiga orang  pengawal setianya  sedang sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh lumayan subur di halaman sekolah. Sementara didada mereka tertempel kertas karton lumayan gede bertulis “Aku tidak akan mengeroyok orang lagi.”
             Gatot dan tiga pengawal  setianya tidak bisa berbuat apa-apa ketika teman-temannya berkerumum menertawakan dan mengejek mereka. Ingin rasanya mereka membentak dan  mengusir teman-temannya yang malah nonton dan mengejek. Jika saja bapak  kepala sekolah tidak mengawasi mereka.
            Maya tersenyum puas  melihat pemandangan di depannya. Gatot terkejut ketika melihat Maya ada diantara kerumunan teman-teman yang menonton. Gatot jadi merasa malu karena di tonton Maya ketika dirinya sedang dihukum seperti ini
            “Mereka kenapa seh, May.” Tanya Niken penasaran.
            “Ceritanya panjang, Ken.”
            Belum sempat Maya mulai bercerita tiba-tiba Dimas sudah berdiri di samping Maya.
            “Kamu yang nglaporin mereka ke kepala sekolah?” Tanya Dimas langsung.
            Maya hanya mengangguk.
            “Mereka pantas menerima hukuman tersebut untuk mempertanggungjawakan perbuatan mereka pada kamu, Dim.”
            “Bukannya aku sudah pernah bilang ke kamu kalau kamu nggak usah ikut campur dalam kehidupanku. Aku bisa urus diriku sendiri tanpa minta bantuanmu,” ucap Dimas dingin.
“Kamu bilang ini bukan urusanku? Ini juga urusanku, Dim. Gara-gara Gatot cemburu melihat kita, dia mengeroyok kamu,” jawab Maya tak kalah sengit.
Dimas hanya diam, lalu pergi meninggalkan Maya. Maya hanya bisa berdiri terpaku tanpa teasa setitik air mata jatuh di pipi Maya.
*

            “Dimas,” panggil Niken mengagetkan Dimas yang sedang duduk sendirian di tepi sungai. Dimas sedang asyik melukis.
            “Darimana kamu tahu aku disini?” Tanya Dimas heran.
            “Ayahmu yang memberitahu. Kata ayahmu kamu sering menghabiskan waktu disini.  Aku boleh duduk, Dim?” Niken menunjuk sebelah Dimas. Dimas mengangguk, lalu menyilahkan Niken duduk.
            “Tempatnya bagus ya, Dim.”
            “Aku suka nglukis disini, Ken. Tempatnya tenang, aku bisa dapat banyak inspirasi.”
            Niken mengangguk-ngangguk.
            “Kamu ada perlu ma aku, Ken?”
            Niken Nampak berpikir sebentar.
            “Ehm, Dimas aku boleh nanya sesuatu ke kamu?”
            Dimas mengangguk.
            “Kamu kenapa seh, Dim benci banget sama Maya?” Tanya Niken.
            Dimas sedikit terkejut dengan pertanyaan  Niken barusan.
            “Dia  yang nyuruh kamu nanyain ini ke aku?” tanya Dimas sinis.
            Niken menggeleng.
            “Aku yang punya inisiatif sendiri, Dim. Maya adalah sahabatku, sementara  kamu sudah seperti kakak bagiku. Tapi kalian terlihat saling membenci. Aku tidak suka melihat kalian seperti ini”
            “Dia terlalu banyak ikut campur kehidupaku.”
            “Ikut campur? Maya itu peduli ma kamu, Dim.”
            Dimas terdiam.
            “Mengenai kejadian kemarin, Dim. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Maya karena dia telah melaporkan Gatot ke kepala sekolah. Selama ini tidak ada yang berani melaporkan Gatot ke kepala sekolah kecuali Maya. Termasuk kamu sendiri  yang telah dikeroyok Gatot ma bodyguard-bodyguardnya itu juga tidak berani melapor, kan?”
            Dimas masih diam.
            “Pokoknya aku tidak suka dia, karena…” kata-kata Dimas terhenti.
            “Karena?” Tanya Niken sambil memandang Dimas.
            “Karena Maya selalu mengingatkan aku pada masa laluku,” ucap Dimas akhirnya sambil  menelan ludahnya.
            “Masa lalumu, Dim?” Niken memandang Dimas dengan serius. Dimas masih diam. Namun, Niken dengan sabar menunggu Dimas untuk bercerita.
            “Dulu, sebelum aku pindah kesini aku tinggal di Jakarta, Ken. Ayahku dulu pengusaha kaya. Hidup kami berkecukupan bahkan melimpah. Aku punya mobil, punya banyak teman, sekolah di sekolah bagus, jadi kapten tim basket. Pokoknya hidupku dulu sempurna,” cerita Dimas akhirnya sambil menerawang.
            Niken kaget  dengan cerita Dimas karena Dimas belum pernah menceritakan keluarga dan kehidupannya dahulu, kecuali cerita tentang Dimas yang punya adik yang meninggal karena sakit. Namun, Niken hanya diam memberi kesepatan kepada Dimas untuk bercerita lebih banyak lagi.
            “Hidupku bertambah sempurna ketika aku jadian dengan Della, cewek tercantik di sekolah.”
Dimas menelan ludahnya.
“Banyak sekali cowok yang naksir Della, selain cantik Della juga pintar, model, dan kaya, karena papanya adalah  pengusaha. Kami adalah pasangan yang sempurna di sekolah. Aku sangat menyayangi Della.”
            “Namun, suatu hari ayahku ditipu oleh  orang kepercayaanya sendiri. Harta ayah dilarikan oleh teman ayahku. Gara-gara itu,  Ayah bangkrut dan menanggung banyak hutang akibat ulah temannya. Kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat. Rumah, mobil, dan seluruh harta kami disita. Kamu lihat sendiri sekarang keadaanku dan ayahku. Selain kehilangan semuanya aku juga kehilangan mama dan adikku.” Suara Dimas tertahan.
“Mama dan adikmu kenapa, Dim?” Tanya Niken.
“Mamaku kena serangan jantung ketika mendengar kabar kebangkrutan ayahku. Sementara adikku bunuh diri setelah mamaku meninggal. Adikku tidak bisa menerima kenyataan ini.”
Niken memegang pundak Dimas mencoba memberi kekuatan dan semangat untuk Dimas. Suasana hening sejenak. Niken dan Dimas  tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
“Lalu Della?” Tanya Niken kemudian.
            “Kita putus. Della mutusin aku gitu aja ketika tahu aku bukan Dimas yang dulu. Aku menjadi tahu kalau  ternyata Della hanya mencintai ketampanan, ketenaran dan  terutama status sosialku. Waktu itu aku sakit banget dan merasa sangat kehilangan, Ken. Ingin rasanya aku mengikuti jejak adikku untuk bunuh diri. Namun, karena ayah aku mengurungkan semua niatanku. Aku tidak ingin membiarkan ayahku hidup sendiri. Beliau sangat kuat menghadapi ini semua. Sampai akhirnya kami pindah kesini.”
            Dimas terdiam, mencoba menahan gejolak di dalam hatinya.
            “Dim aku salut ma kamu. Aku nggak nyangka kisahmu akan serumit ini, Dim.” Niken menguatkan Dimas.
            “Tentang Maya kenapa aku membenci dia, itu karena Maya selalu mengingatkanku kepada Della. Semua ciri-ciri Della ada pada Maya. Cantik, ceria, terkenal, dan kaya.”
            “Jadi kamu benci Maya karena kamu benci Della?”
            “Mungkin,” jawab Dimas menggantung.
            “Dim, aku tahu kamu sangat menderita karena Della. Tapi ini tidak adil bagi Maya. Della bukan Maya dan Maya bukan Della. Aku yakin Maya tidak seperti Della. Maya itu baik tidak memandang orang hanya dari status. Buktinya dia mau berteman denganku yang anak desa dan mau mengajar  di sekolah gratis. Itu semua membuktikan kalau Maya berbeda dengan Della meskipun mereka sama-sama anak kota, cantik, kaya, dan populer.”
            Dimas hanya diam, hanyut dalam pikirannya.

*
           



























21
P e r t e m u a n

The Arian akhirnya manggung di Jogja sebagai pembuka konser promo album  Sheila on7. Konser Sheila on7 berlangsung dengan sangat meriah dan penontonnya pun sangat banyak.
            “Selamat, selamat penampilan kalian hebat, mas bangga pada kalian,” ucap mas Yudi sambil menjabat  personel The arian satu persatu setelah konser selesai.
            “Wah gila gue deg-degan banget. Penontonnya banyak banget, “ seru Agung.
            “Gue juga belum pernah tampil di panggung dengan penonton yang sangat banyak,” Seno menimpali.
“Demam panggung gue,” seru Raja.
Mas Yudi hanya tertawa.
            “Tapi mas bangga pada kalian. Kalian hebat!” mas Yudi mengacungkan jempolnya. Anak-anak The Arian merasa sangat puas dan senang mendapat pujian dari manager mereka ini.
            Tiba-tiba ke dalam ruangan mereka masuk semua personel Sheila on 7. Personel Sheila on 7 langsung menyalami mereka satu persatu untuk mengucapkan terima kasih dan pujian karena penampilan The Arian sangat  bagus. Kontan saja semua personel The Arian merasa senang dan mendapat kehormatan.
            Apalagi setelah selesai konser  mereka diajak oleh Sheila on 7 berkeliling Jogja sekaligus menikmati kuliner khas Jogja. Tentu saja hal ini merupkan suatu keberuntungan yang berlipat-lipat untuk The arian.
            Malamnya setelah acara jalan-jalan dengan Sheila on7 selesai. Ernest lngsung menemui mas Yudi untuk meminta ijin tidak bisa ikut pulang dengan rombongan besok pagi. Ernest hanya mengatakan bahwa dia masih ada urusan di Jogja.
            “Kalau kamu masih mau beberapa hari di Jogja mas nggak masalah, Nest. Asal kamu bisa jaga diri saja,” nasehat mas Yudi.
            Ernest tersenyum senang.
            “Makasih, mas.”
*
                        Maya bergegas membuka pintu ketika didengar suara ketukan pintu dari depan. Betapa terkejutnya Maya ketika melihat siapa yang tadi mengetuk pintu.
            “Lulu,” teriak Maya kaget sambil langsung memeluk Lulu.
            Lulu menyambut pelukan Maya dengan hangat.
            “Kamu ke jogja nggak bilang-bilang. Kangen banget aku, Lu ma kamu,” ucap Maya sambil memeluk Lulu erat. Lulu cuma geleng-geleng melihat Maya.
            “Aku juga, May kangen ma kamu.” Ucap Lulu.
            “Kamu nggak bilang-bilang kalau  mau ke Jogja,” ucap Maya pura-pura kesal sambil melepaskan pelukannya.
            “Kan biar surprise, May.”
            “Kamu ini memang ratu surprise.” Maya pura-pura mencibir.
            Mereka berdua tertawa.
            “Kamu sendirian, Lu? Nika mana?” Tanya Maya sambil menyuruh Lulu masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
            “Kamu kan tahu sendiri May, kalau liburan semester  Nika berlibur ke rumah  eyangnya di Palembang.”
            “Yah, padahal aku kangen banget ma dia.” Maya Nampak kecewa.
            “Tapi aku punya kejutan buat kamu, May.”
            “Kejutan? Kejutan apa lagi, Lu?” Tanya Maya heran.
            “Pokoknya kamu pasti akan senang.”
            “Awas  aja kalau kamu ngasih  kejutan yang macam-macam dan nggak jelas,” ancam Maya.
            Lulu menggeleng.
            “Ayo ikut aku keluar, kejutannya ada di luar.”
            Lulu menarik tangan Maya mengajaknya ke luar, Maya menurut saja.
            Betapa terkejutnya Maya ketika melihat apa kejutan Lulu. Di depannya sekarang telah berdiri Ernest yang tersenyum kearah Maya.
            “Halo, May gimana kabarnya?” sapa Ernest.
            Maya terdiam. Mulutnya kaku. Dia memandang Lulu dengan sebal karena surprisenya benar-benar membuatnya terkejut.
            “Baik.  Kamu?” Tanya Maya kaku kepada Ernest akhirnya.
            Namun, entah kenapa begitu melihat Ernest Maya sama sekali tidak merasa sangat senang atau ada perasaan aneh di hatinya. Maya hanya merasa kaget dan selebihnya hanya perasaan teman yang sudah lama tidak bertemu dengan teman.
            “Kalian merencanakan ini,” ucap Maya sambil menatap Lulu tajam.
            “May, aku ingin minta maaf  sama kamu,” ucap Ernest tanpa menggubris pertanyaan Maya.
            “Minta maaf untuk apa, Nest?” Maya masih merasa sakit hati dengan Ernest yang memutusnya tiba-tiba dan sama sekali memutuskan kontak dengannya.
            “Minta maf karena aku telah memutuskan hubungan kita begitu saja, May.”
            “Oh, itu aku udah maafin kamu, Nest dan aku juga sekarang sudah bisa menerima kenyataan kalau kita sudah putus kok,” jawab Maya.
            “Tapi,May Maksud kedatanganku kesini juga karena aku ingin mengajakmu balikan lagi,” ucap Ernest dengan suara ragu.
            Maya tercengang dengan kata-kata Ernest.
            “Balikan?”
            “Maya aku mohon kamu trima  Ernest kembali Karena disini akulah orang yang paling pantas untuk kalian salahkan,” ucap Lulu tiba-tiba.
            “Maksudmu apa Lu?” Tanya Maya tidak  mengerti.
            “May, aku sungguh-sungguh menyesal. Aku minta maaf pada kamu,” ucap Lulu sambil memegang tangan Maya, memohon.
            Maya masih tidak mengerti.
            “May, aku adalah penyebab hubunganmu dengan Ernest menjadi seperti ini dan aku juga  yang membuat kamu dipindah ke Jogja. Aku penyebab semua ini, May.” Lulu menjadi histeris.
            “Lu, maksudmu apa?”
            “May, aku akan cerita semua tapi kamu janji apapun yang aku ceritakan kamu mau maafin aku ya, May dan kita akan tetap bersahabat,” ucap Lulu sungguh-sungguh.
            Maya mengangguk.
            “Pasti aku maafin kamu, Lu. Kamu sahabat terbaikku.” Ucap maya tulus.
            Lalu Lulu mulai menceritakan dari awal sampai akhir seperti yang dia ceritakan kepada Ernest. Sepanjang Lulu bercerita, Maya tidak bisa menyembunyikan kekagetannya dan kekecewaannya dengan Lulu. Maya tidak menyangka Lulu, sahabatnya  merencanakan semua ini.
            “Sekarang terserah kamu, May. Kamu maafin aku atau nggak. Tapi Aku sungguh-sungguh menyesal dengan semua ini. Aku benar-benar minta maaf, May.”
“Aku nggak nyangka Lu kamu melakukan semua ini. Aku temenmu, Lu. Sahabatmu. Aku kecewa ma kamu Lu,” ucap Maya.
Lulu hanya bisa pasrah jika Maya tidak memafkannya dan menjadi membencinya. Namun, Lulu sudah lega karena dia sudah menceritakan semua kepada Maya. Rasa bersalah Lulu menjadi sedikit  terkurangi.
“Tapi bagaimanapun kamu tetap temenku, Lu. Kamu dan Nika adalah sahabatku. Dimana kita selalu bersama menghabiskan masa-masa indah, saling membantu, saling mendukung. Dan aku tidak mungkin melupakan semua itu begitu saja gara-gara satu masalah ini.”
“Jadi, May?” Tanya Lulu.
            “Aku memaafkanmu, Lu.”
            Lulu langsung memeluk Maya erat.
            “Makasih May. Aku sangat beruntung punya sahabat kayak kamu. Dan aku janji aku akan menjaga persahabatan kita ini sampai akhir hayat,” ucap Lulu sungguh-sungguh. Maya mengangguk sambil tersenyum.
            “Lalu bagaimana dengan Ernest, May?” Tanya Lulu sambil melepaskan pelukannya.
            “Aku harap kamu juga memaafkan Ernest, May karena Ernest nggak salah,” lanjut Lulu.
            Maya menatap Ernest lalu diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
            “Aku mohon, May kita bisa kembali seperti dulu,” ucap Ernest berharap.
            “Ernest aku memafkanmu. Tapi, aku rasa kita tidak bisa kembali seperti dulu,” ucap Maya pelan.
            “Maksudmu, May.”
            “Kita masih bisa berteman, Nest.”
            “Tapi, May aku sudah minta maaf dan kamu juga sudah denger semua cerita Lulu.” Ernest terlihat tidak bisa menerima keputusan Maya.
            “Iya, Nest. Tapi, aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.” ucap Maya.
            “Kenapa, May?” Tanya Ernest lesu.
            “Karena, karena,” Maya terbata.
            Ernest menunggu.
            “Karena ada orang lain yang sudah menggantikan tempat itu,” ucap Maya terbata. Entah kenapa kata-kata tersebut muncul begitu saja dari mulut Maya. Bayangan wajah Dimas muncul begitu saja di kepala Maya.
            Ernest dan Lulu kaget. Hati Ernest yang paling hancur.
            “Maaf Nest,” ucap Maya pelan.
            “Nggak papa, May. Kita masih bisa berteman kan,” ucap Etnest meski berat.
            ‘Tapi kita masih bias berteman kan, May?” ucap Ernest.
            Maya tersenyum.
            “Pasti, Nest. Aku akan menjadi teman yang terbaik buat kamu,” janji Maya sungguh-sungguh.
            Ernest tersenyum senang. Meskipun misinya gagal. Namun, Ernest sudah tenang karena sudah mengutarakan perasaannya. Sekarang Ernest akan belajar melupakan Maya, meski agak berat.
*


























22
Permintaan Maaf


Di sekolah Gratis.
            Maya heran karena sudah beberapa hari ini  Rahmi tidak datang ke sekolah gratis.
            “Kalian tahu kenapa Rahmi tidak masuk?” Tanya Maya.
            “Saya denger-denger Rahmi  lagi sakit kak,” lapor Ismail
            “Sakit? Sakit apa?” Tanya Maya.
            Semuanya kompak menggeleng.
            “Kalau gitu  sepulang sekolah kita menjenguk Rahmi bersama ya.”
            Semua terdiam saling berpandangan.
            “Kalian tahu rumahnya Rahmi kan?”
            “Saya tahu, kak,” ucap Bejo pelan.
            “Nanti anterin kakak ke rumah Rahmi  ya, Jo,” pinta Maya yang disambut anggukan oleh Bejo.
            Sepulang sekolah, Maya pamit pada Niken dan mas Bayu mau menjenguk Rahmi  bersama dengan anak-anak. Sebenarnya mas Bayu dan Niken mau ikut tapi masing-masing dari mereka ada acara.
            Rumah Rahmi  ternyata sangat jauh dari sekolah gratis. Setelah mereka melewati jalan utama desa, mereka memasuki jalan setapak yang becek karena tadi malam hujan. Di kanan kiri jalan sangat jarang rumah sebagian besar masih berupa pekarangan yang banyak ditanami pohon bambu.
Akhirnya mereka sampai di  rumah Rahmi yang terletak di pinggir sawah. Rumah Siti sangat kecil terbuat dari bilik bambu. Halamannya yang luas ditanami dengan pohon pisang  dan tanaman cabai.
            Tanpa dikomando Bejo langsung mengetuk pintu.
            Terdengar suara  langkah kaki menghampiri pintu.
            Seorang ibu yang berumur sekitar lima puluh  tahuanan membukakan pintu.
            “Bejo, Ismail, Sholeh, Udin ngapain kalian kesini?” Tanya ibu tersebut yang adalah ibu Rahmi.
            Ibu Rahmi lalu memandang Maya dengan heran.
            “Saya Maya, ibu. Yang ngajar Rahmi di sekolah gratis.”
Maya memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya. Ibu tersebut langsung menyambut uluran tangan Maya dan menjabatnya dengan ramah.
            “Oalah neng Maya guru Rahmi tho. Mari masuk neng, masuk anak-anak,” ajak ibu Rahmi pada mereka. Maya, diikuti Bejo, Ismail, Sholeh, dan Udin masuk ke dalam rumah.
            Keadaan di dalam rumah pun sama dengan luarnya, sangat sederhana. Ruang tamunya hanya beralaskan tanah tanpa lantai dari ubin atau keramik. Di uang tamu hanya ada meja dan 4 buah kursi kayu yang nampaknya sudah tua. Terpaksa Bejo duduknya harus berbagi dengan Ismail.
            “Rahmi sakit bu?” Tanya Maya.
            “Iya neng, sudah beberapa hari ini demam. Kadang demamnya naik turun.”
            “Keadaan Rahmi sekarang gimana, bu?” Tanya Maya.
            “Tadi pagi Alhamdulilah sudah turun demamnya, neng  dan sudah mau  makan. Sekarang Rahmi  sedang  istirahat di kamarnya.. Mari ibu tunjukkan kamarnya,” ajak ibu Rahmi.
            Maya mngangguk, lalu bersama anak-anak mengikuti langkah ibu Rahmi menuju ke kamar. Ibu Rahmi mendekati Rahmi yang sedang terlelap tidur. Muka Rahmi Nampak pucat.
            Ibu Rahmi memegang dahi Rahmi.
            “Masya Allah kepalanya panas sekali,” ucap Ibu Rahmi mulai cemas.
            Maya ikut memegang dahi Rahmi. Dahi Rahmi panas sekali. Demam Rahmi meninggi.
            “Rahmi harus segera dibawa ke rumah sakit, bu,” ucap Maya sambil memikirkan cara membawa Rahmi ke rumah sakit. Ibu Rahmi hanya mengangguk dan terlihat sangat  cemas.
            Tiba-tiba Maya  kepikiran menelepon pak Herman untuk menjemputnya. Maya bergegas mengambil HPnya di tas dan menelepon pak Herman.
            Untung saja pak Herman sedang tidak  mengantar eyangnya, jadinya pak Herman langsung menyanggupi untuk menjemput Maya di rumah Rahmi setelah tadi dijelaskan denah rumah Rahmi  oleh Bejo.
            Maya dengan  cemas menunggu kedatangan pak Herman sambil membantu mengompres kepala Rahmi  untuk menurunkan demamnya yang sangat tinggi.
            Suara mobil terdengar dari halaman rumah Rahmi. Maya bergegas keluar rumah. Ternyata benar mobil kijang eyangnya sudah terparkir di halaman depan rumah Rahmi. Maya bergegas menghampiri mobil kijang tersebut.
            Namun, betapa terkejutnya Maya karena yang di dalam mobil bukan pak Herman melainkan Dimas.
            “Dimas?”
            Maya terpaku kaget
            “Rahmi dimana?” tanya Dimas tanpa menggubris  keterkejutan Maya.
            Maya langsung sadar.
            “Di dalam rumah. Ayo ikut aku.”
            Maya  dengan dikuti Dimas langsung menuju ke  dalam rumah. Dimas dengan cekatan langsung mengangkat  tubuh mungil Rahmi dan membawanya ke dalam mobil.
*
            Maya dan Dimas menunggu Rahmi di samping tempat tidur Rahmi. Sementara anak-anak yang lain sudah Maya suruh pulang karena sudah malam. Ibu Rahmi masih mengobrol dengan dokter mengenai kondisi Rahmi. Dari tadi Rahmi masih terlelap tidur setelah diberikan pertolongan.
            “Makasih, Dim.” Ucap Maya.
            Dimas hanya mengangguk. Mereka berdua terdiam. Hening.
            “Maaf, May,” ucap Dimas lirih.
            Maya memandang Dimas heran.
            “Maaf untuk?”
            “Kemarin aku marah-marah sama kamu gara-gara Gatot.”
            Maya menarik nafas.
            “Sudahlah, Dim.”
            “Aku seharusnya berterima kasih ke kamu, May. Bukan marah-marah,” ucap Dimas lagi.
            “Lupakan, Dim. Aku sudah memaafkanmu. Lagian aku juga salah, gara-gara aku kamu jadi dipukulin Gatot ma bodyguardnya itu. Gatot kira kita ada hubungan istimewa padahal kita kayak Tom dan Gery.”
            Maya tertawa, Dimas pun jadi ikut tertawa. Suasana menjadi sedikit cair.
            Tiba-tiba  HP Maya berbunyi. Maya melihat layar HPnya, tertera ayah calling.
“Bentar ya, Dim,” Maya ijin keluar untuk  mengangkat telepon.
Sekarang Dimas sudah lega. Ternyata Maya tidak seperti yang dia kira, benar kata Niken, Maya berbeda dengan Della.
*
           


23
Perpisahan


            Hari ini Maya sengaja bersama Bejo, Sholeh, Ismail dan  Udin menengok Rahmi di rumah sakit. Sebelumnya, Maya dan anak-anak pergi dulu  ke pasar untuk membeli buah jeruk  untuk  Rahmi.
            Di ruangan Rahmi hanya ada Dimas yang dari tadi malam disini. Sementara Maya tadi malang pulang dengan diantar Dimas.
            “Ibu Rahmi kemana, Dim?” Tanya Maya.
            “Pulang sebentar ke rumahnya, May. Oya Maya aku tinggal ke luar bentar dulu, ya,” pamit Dimas sambil berlalu. Maya mengangguk.
            Maya segera menghampiri tempat tidur Rahmi yang sudah dikerubungi oleh anak-anak. Rahmi sedang  duduk bersandar di tempat tidurnya.
            “Gimana keadaanmu, Rahmi?” Tanya Maya.
            “Alhamdulilah sudah agak mendingan. Makasih banyak, kak Maya.” ucap Rahmi terbata.
            Maya hanya tersenyum sambil mengelus tangan Rahmi.
            “Kak, maafin aku ya,” ucap Rahmi lagi.
            “Maaf untuk apa Rahmi?”
            “Aku selama ini jahat ma kak Maya. Padahal kak Maya sangat baik. Aku tidak tahu jika tidak ada kak Maya waktu itu mungkin aku tidak tertolong” ucap Rahmi
            “Bersyukurlah ma Allah Rahmi, karena Allah masih sayang ma Rahmi. Buktinya Allah masih menolong Rahmi.”
            “Iya kak. Tapi kakak mau maafin aku kan kak?”
            Maya mengangguk mantap. Rahmi tersenyum senang.
            “Aku pengen cepet sembuh biar aku bisa masuk sekolah gratis lagi dan diajar ma kakak.”
            Maya terdiam sejenak mendengar kata-kata Rahmi barusan.
            “Sepertinya kakak tidak bisa mengajar di Sekolah Gratis lagi,” ucap Maya pelan.
            Rahmi dan anak-anak lainnya terkejut.
            “Kenapa kak? Kakak masih marah sama Rahmi karena Rahmi selama ini tidak menjadi anak yang penurut?” Tanya Rahmi dengan wajah khawatir.
            Maya menggeleng.
            “Lalu kenapa kakak tidak mau mengajar di sekolah Gratis lagi. Aku janji kak akan jadi murid yang patuh,” mohon Rahmi.
            “Iya kak benar, tetaplah mengajar kita,” timpal Sholeh. Yang lainnya ikut membujuk.
            Maya terdiam, tidak tega melihat anak-anak memohon padanya.
            “Kakak juga masih tetap ingin mengajar kalian tapi Lusa kakak harus pulang ke Jakarta. Ayah kakak menyuruh kakak pulang. Jadi kakak sekalian pamitan ma kalian.”
            Semuanya terdiam. Nampak raut wajah sedih menghiasi muka masing-masing anak.
            “Kakak akan pindah ke Jakarta?” Tanya Ismail.
            Maya mengangguk.
            “Ismail, tetap serius belajar ya, kamu pintar. Kakak yakin jika kamu rajin belajar, berusaha dan jangan lupa berdoa kamu bisa menjadi orang sukses dan bisa punya banyak uang,” nasehat Maya. Ismail hanya mengangguk mantap. Maya gantian menatap Udin.
            “Udin, setelah kakak sampai Jakarta nanti kakak kirimin kamu buku bahasa Inggris. Kamu bisa belajar dari buku itu. Jika kamu rajin dan telaten kakak yakin kamu akan lancar bicara bahasa Inggris biar bisa jawab kalo ditanya ma bule.”
            “Makasih kak,” ucap Udin tulus.
            “Udin dan Ismail maaf kakak belum bisa mewujudkan impian kalian, tapi kakak yakin kalian bisa mencapai impian kalian itu. Kakak akan selalu berdoa untuk kalian.”
            Udin dan Ismail mengangguk mantap.
            “Makasih, kak,” ucap Udin dan Ismail berbarengan.
            “Tapi hari ini kakak bahagia karena kakak bisa mewujudkan impian Rahmi, kakak tidak mengajar lagi di sekolah gratis,” ucap Maya bercanda yang langsung disambut gelak tawa anak-anak dan tetesan air mata haru terutama dari Rahmi. Maya langsung memeluk Rahmi dengan erat.
            “Tetap semangat belajar ya, Rahmi.”
            Rahmi mengangguk mantap.
            “Makasih, kak.”
            “Kita masih bisa  tetap berteman. Kalian bisa hubungi kakak lewat telepon, kirim surat atau sekali-kali kalian main ke rumah kakak di Jakarta,” hibur Maya.
            Sementara tanpa Maya sadari, ada seseorang yang juga ikut sedih mendengar berita kepindahan Maya ini. Orang tersebut mendengar semua percakapan di  dalam  dari balik pintu yang terbuka.
*
            Maya diantar oleh eyang, Niken dan pak herman ke bandara Adi sutjipto.
            “Jangan lupa saling kabar-kabar ya, Ken,” ucap Maya.
            Niken mengangguk.
            “Pasti, May. Aku akan kangen kamu.”
            Niken memeluk Maya erat.
            “Hati-hati ya, nduk,” nasehat eyangnya.
            “Makasih ya eyang dah mau menampung Maya disini.”
            Eyang Maya hanya tertawa.
            “Eyang senang selama kamu tinggal di Jogja, nduk. Eyang jadi ada temannya. Jangan lupa  ya nduk sering maen ke rumah eyang. Mengunjungi eyangmu yang sudah tua ini.”
            Maya mengangguk mantap.
            “Pak Herman makasih ya dan maaf jika Maya ada salah.”
            “Sama-sama neng. Hati-hati ya, neng.”
Sebelum Maya masuk untuk check in penumpang, Maya kembali, menoleh  ke belakang. Maya masih mengharapkan kehadiran seseorang yang akan mengantarkan kepergiannya atau hanya sekedar mengucapkan selamat jalan.
Namun, harapan Maya sia-sia. Dimas tidak muncul.








           












24
P e r t e m u a n


Enam Tahun Kemudian….
            Maya masih asyik memandang lukisan di depannya. Matanya  asyik  mengamat-amati lukisan tersebut. Maya merasa sangat familiar dengan lukisan di depannya.  Disana terlukis  seorang anak laki-laki berusia  8 tahunan yang sedang menggendong anak  perempuan sebayanya. Anak perempuan yang  digendongannya terlihat sedang menangis dan lututnya terluka. Namun, sepertinya anak perempuan tersebut merasa sangat nyaman dalam gendongan anak laki-laki tersebut.
            “Maya,” panggil seorang perempuan  di belakang Maya.
            Maya menoleh. Sekarang didepannya telah  berdiri seorang perempuan  cantik dengan rambut sebahunya  yang dibiarkan tergerai. Perempuan tersebut  mengenakan blouse berwarna orange  dan rok pendek berumbai warna putih, membuatnya terlihat semakin menarik.
            “Nika,” Maya setengah berteriak.
Lalu mereka saling berpelukan, melepas kerinduan.
            “Aku kira kamu nggak datang ke pameranku  ini, May.” ucap Nika.
            “Masak aku nggak datang ke acara yang diselenggarakan sahabatku sendiri.”
            Mereka melepas pelukan dan saling memandangi satu sama lain dengan rasa kagum.
            “Kuliah S2 mu di Amrik gimana, May,” tanya Nika .
            “Lagi libur, Nik. Makanya sekarang aku bisa datang kesini.”
            “Dah dapat orang Amrik belum, May.” Nika  menggoda. Maya hanya tersenyum.
            “Aku masih berminat pada orang pribumi kok Nik.”
            Mereka berdua tertawa bersama.
            “Kamu hebat Nik sudah punya galeri sendiri bahkan sampai buat pameran lukisan segala,” puji Maya, matanya tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap sahabatnya ini.
            “Biasa aja, May.” Nika merendah.
“Aku buat pameran ini joinan ma temen kuliahku dulu  di ISI. Ini salah satu hasil  lukisan temenku.”
            Nika  menunjuk lukisan di depan mereka yang tadi sempat dikagumi oleh Maya.
            Maya memalingkan wajahnya kembali ke lukisan tersebut.
            “Temenmu hebat, Nik,” puji Maya.
            “Selain pinter nglukis, temenku juga cakep lho May masih jomblo pula,” mata Nika melirik nakal
            Maya tersenyum jengah. Nika  masih seperti yang dulu. Tidak pernah berhenti dan menyerah untuk mencarikan cowok buatnya.
            “Dimas,” panggil Nika  tiba-tiba sambil melambai ke seorang laki-laki yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
            Telinga Maya tersengat mendengar nama itu disebut. Nama yang selama ini selalu mengisi hatinya.  Jantungnya tiba –tiba berdegup kencang tidak karuan, darahnya seakan mengalir dengan sangat deras.  Bayangan Dimas tiba-tiba hadir kembali dalam pikirannya. Maya berusaha untuk mengusirnya. Nama Dimas kan tidak cuma satu, batin Maya mencoba  menenangkan diri.
            Laki-laki yang dipanggil Nika  menoleh  lalu  mendekat kea rah mereka. Maya tidak berani untuk memandang, dia  pura-pura asyik  mengamati lukisan di depannya. Namun, pikirannya fokus pada bunyi langkah sepatu yang semakin mendekat kea rah mereka.
            “Maya kenalin ini parnertku di pameran ini,” ucap Nika.
            Maya membalikkan badannya. Laki-laki itu pun tidak kalah terkejut ketika melihat Maya. Namun, dia masih bisa menguasai diri. Dimas melempar senyum kea rah Maya. Maya hanya diam saja tidak bisa berkata apa-apa. Dimas cowok yang sampai sekarang masih tersimpan di hatinya kini benar-benar nyata ada di hadapan Maya.
            Dimas sekarang telah berubah, kelihatan semakin dewasa dan tampan. Namun, tatapan matanya masih sama seperti dulu, tajam.
            “Halo Maya, senang bertemu denganmu lagi.” Dimas mengulurkan tangannya.
            Maya hanya teresnyum lalu menyambut uluran  tangan Dimas. Dimas menggenggam tangan Maya dengan erat, Maya merasakan kehangatan yang telah lama hilang  tiba-tiba merasuki tubuhnya kembali, kehangatan yang sangat dirindukan Maya.
            “Kalian sudah saling kenal?” tanya Nika  kaget.
            Maya dan Dimas mengangguk berbarengan.
            “Yah, kalau itu gue nggak usah susah-susah lagi nyomblangin kalian. Kayaknya kalian cocok, ” canda Nika  sambil tertawa.
            Dimas dan Maya sama-sama tersenyum.
*
            “Kapan balik lagi ke Amrik, May?” tanya Dimas lirih ketika mereka berdua memilih untuk keluar ruangan pameran untuk mengobrol.
            “Lusa, Dim.” Jawab Maya pendek.
            “Kuliahmu kapan selesai?”
            “Ehm, mungkin satu tahun lagi, Dim. Kamu gimana kabarnya? ”
            “Kabarku baik.”
            “Udah punya pacar, Dim.”
            “Aku masih single, May.”
            Ntah kenapa Maya Nampak senang dengan jawaban Dimas.
            “Kamu?” Tanya Dimas balik.
            “Seperti yang kamu lihat. Aku juga masih sendiri.”
            Pandangan mereka bertemu dan mereka sama-sama tertawa.
           
*
            Seorang anak perempuan menangis seorang diri di taman sambil memegangi lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah.
            Anak laki-laki yang sedang berjalan menghampirinya.
            “Kamu kenapa menangis?” tanya anak laki-laki itu.
            “Aku    terjatuh lututku berdarah.” Tangis anak perempuan itu meledak.
            “Pasti sakit ya. Ayo aku antar pulang,” ajak anak laki-laki.
            “Aku ggak bisa jalan.”
            “Aku gendong, ya.”
            Anak perempuan itu mengangguk.
            “Kamu berat juga ya,” canda anak laki-laki sambil berjalan menggendong anak perempuan itu.
            Anak perempuan itu tertawa dalam tangisnya.
            “Oya namamu siapa?”  tanya anak laki-laki itu lagi.
            “Maya. Kamu?”
            “Dimas.”
            Anak laki-laki itu  kemudian bernyanyi untuk menghibur anak perempuan yang sedang digendongnya.
*












Tidak ada komentar:

Posting Komentar