Kamis, 13 September 2012

Kontes Ngeblog VOA



STOP PELECEHAN AGAMA !
Oleh : Marsya Sinarani


             Peristiwa tewasnya duta besar Amerika Serikat  beserta  3 orang stafnya akibat  kemarahan dari sekelompok pemrotes  Libya  kembali mengusik kedamaian dunia. Duta besar Amerika Serikat dan tiga orang stafnya tewas terbunuh akibat ditembak dengan roket oleh sekelompok pengunjuk rasa bersenjata yang mengutuk keras  film “The Innocence of Muslims” karya sutradara Sam Bacile. Film tersebut dianggap telah menghina dan melecehkan Nabi Muhammad SAW. 
Sebagai umat Islam, saya tentu tersinggung dan tidak terima jika Nabi Muhammad SAW selaku panutan dan  junjungan saya serta umat Islam di seluruh dunia dilecehkan. Umat Islam di seluruh dunia sangat mencintai nabi Muhammad SAW. Bayangkan jika ibu Anda, orang yang  Anda cintai dan hormati dihina orang lain, tentu emosi Anda akan terpancing , seperti yang pernah dilakukan oleh  Zinedine Zidane yang menyeruduk kepala Marco Materazzi di pertandingan final piala dunia 2006 karena Matterazi telah menghina ibu dan saudara perempuan Zidane.  
            Namun, meskipun begitu bukan berarti  saya membenarkan tindakan yang dilakukan oleh para demostran di Libya. Mereka mencintai nabi Muhammad SAW, namun cara mereka tidak menunjukkan cara yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW.  Nabi Muhammad yang dihina oleh seorang pengemis Yahudi yang buta, tidak membalasnya dengan hinaan. Sebaliknya  nabi Muhammad membalasnya dengan kebaikan dengan rutin memberi makanan untuk pengemis Yahudi buta tersebut.
            Munculnya film yang melecehkan Nabi Muhammad SAW menunjukkan  bahwa masih ada sekelompok orang yang memusuhi dan membenci agama tertentu. Kebencian yang dibarengi dengan perilaku yang provokatif  dapat menyulut permusuhan dan pertentangan antar umat beragama yang lebih luas lagi dan  akibatnya kedamaian dunia pun menjadi terusik.
            Masih hangat di ingatan kita tentang peristiwa pembakaran Al Quran dan pengencingan mayat gerilyawan di Afganisthan yang dilakukan oleh tentara dan marinir Amerika Serikat. Peristiwa ini menyebabkan kerusuhan dan pembunuhan yang meluas. Kemudian konflik antar umat beragama di Serbia, Bosnia-Hezergovina  yang menewaskan banyak orang dan masih banyak lainnya yang tentunya akan membuat kita miris jika dipaparkan satu persatu.
            Kita semua tahu bahwa tidak ada satu pun agama di muka bumi ini yang mengajarkan untuk saling bermusuhan apalagi berperang. Semua Agama  mengajarkan cinta damai.
Kedamaian yang menjadi impian semua pihak mengingatkan saya pada  kehidupan di Andaluisa, Spanyol beberapa abad yang lalu. Masyarakat Cordoba yang beragama Islam, Kristen, dan Yahudi dapat  hidup berdampingan dengan damai, saling mengisi dan berkembang. Walaupun mereka berbeda dalam hal keyakinan tetapi mereka tidak mempermasalahkan perbedaan tersebut.
Kehidupan damai dalam toleransi  juga dapat kita lihat di tanah air kita sendiri. Di kawasan Tanjung Priok, Jakarta, Masjid Al-Muqarrabbin dan Gereja Mahanaim berdiri berdampingan  bahkan saling berbagi dinding. Selama hidup berdampingan kedua umat saling menunjukkan sikap toleransinya. Toleransi yang mereka tunjukkan antara lain. jika di Gereja sedang dilakukan peribadatan maka jemaat boleh memarkir mobilnya dihalaman Masjid. Sebaliknya pada bulan puasa, pihak Gereja membagikan makanan untuk berbuka.
            Kedamaian yang indah tersebut dapat tercipa jika semua umat beragama dapat  memahami dan mengamalkan ajaran agamanya dengan baik. Karena seperti yang kita tahu bahwa pemahaman terhadap agama yang baik akan menampilkan perilaku terpuji karena agama selalu mengajarkan pada hal kebaikan.
            Lalu bagaimana cara menyikapi  pelecehan terhadap agama tertentu yang malah menyebabkan permusuhan yang semakin meluas?
Diperlukan peran dari pihak terkait  untuk menindak tegas segala bentuk pelecehan agama. Setiap negara di dunia harus mempunyai hukum ataupun Undang-Undang terkait dengan pelecehan agama dan menindak dengan tegas setiap pelaku pelecehan.  Bahkan perlu dibuat hukum internasional  yang dapat menuntut dan menghukum seseorang yang telah terbukti melakukan pelecehan terhadap suatu agama tertentu, karena melecehkan agama orang lain sama saja melakukan  pelanggaran Hak Asasi Manusia  (HAM). Dunia bersuara keras tentang perlunya penegakan HAM, dunia juga seharusnya bersuara keras untuk menghapuskan segala bentuk pelecehan agama.
Selama ini, aturan terhadap pelecehan agama sangat longgar. Longgarnya aturan dan hukum membuat seseorang dengan leluasa melancarkan aksinya untuk  menghina agama lain. Sam Bacile, sutradara film yang melecehkan nabi Muhammad SAW bahkan mengatakan dengan angkuhnya bahwa ia sengaja membuat film tersebut untuk membuat provokasi politik untuk mengutuk agama dan  menganggap  bahwa “Islam adalah sebuah kanker”.
Sam Bacile patut bertanggung jawab atas semua yang terjadi karena ulahnya ini. Sam Bacile harus  diproses secara hukum untuk menerima ganjaran hukuman yang sepandan dengan perbuatannya. Sam Bacile  telah membuat  film yang mengandung SARA, sehingga memicu kemarahan dan kerusuhan di berbagai negara. Yang perlu kita sikapi secara bijak adalah Sam Bacile hanya seorang individu yang salah dalam memahami agamanya, bukan seorang yang mewakili agama tertentu.
            Sudah tidak diragukan lagi bahwa umat Islam di seluruh dunia sangat mencintai nabi Muhammad SAW. Maka sudah sepatutnya umat Islam pun meneladani setiap perilaku nabi Muhammad SAW, termasuk ketika menyikapi pelecehan yang ditujukan pada Islam. Nabi Muhammad SAW telah mengajari cara menyikapinya seperti yang dicontohkannya pada kisah pengemis Yahudi yang buta tadi. Sehingga umat Islam perlu  menyikapi kejadian ini  dengan bijak tanpa pertumpahan darah.
Oleh karena itu, setiap umat beragama perlu memahami  ajaran agama masing-masing dengan baik  dan membuka wawasan lebih luas agar lebih bijak dalam bersikap dan bertindak sehingga  kedamaian antar umat beragama pun  dapat terwujud.
           














Tidak ada komentar:

Posting Komentar