Kamis, 27 September 2012

Ketika Kita tidak Menemukan Damai di Negeri Sendiri


Kontes Blog VOA
 
Ketika Kita Tidak Menemukan Damai di Negeri Sendiri
Oleh : Marsya S
           
  
Pernahkan Anda membaca buku karangan Susan AbulHawa yang berjudul “Scar of David, Scar Of Palestine” ? Jujur saya menangis membaca buku tersebut. Pasalnya Susan begitu nyata menggambarkan apa  yang terjadi di negeri  tercintanya,  Palestina.
Sangat miris ketika saya harus menyaksikan rakyat Palestina diusir secara paksa oleh Israel  agar keluar dari tanah warisan leluhur mereka.  Susan menggambarkan kisah empat generasi keluarga yang hidup dalam cinta dan duka dengan sangat  apik serta menyentuh.
Perjuangan kakek Yehya yang berani mempertaruhkan nyawanya  demi memetik buah zaitun di kebunnya sendiri yang dirampas oleh tentara. Betapa senangnya sang kakek ketika berhasil memetik buah zaitun yang memang sudah menjadi haknya. Namun,  akibatnya, sang kakek harus meregang nyawa di tangan tentara dengan buah zaitun tergenggam di tangan.
Kemudian,  derita Dalia, menantu kakek Yehya, yang harus menanggung kesedihan akibat terpisah dari anak kesayangannya, Ismael, karena dirampas oleh tentara Israel. Ada Amal, putri Dalia yang harus kehilangan suami tercinta ketika mereka baru mengecap kebahagiaan berumah tangga. Sang suami tewas ketika menjadi relawan mengobati korban luka akibat perang. Dan terakhir, adalah duka Sara yang harus menyaksikann dengan mata kepalanya sendiri ibunya, Dalia, meninggal  ditembak oleh tentara Israel.
 Perpisahan, kehilangan, kematian adalah hal sehari-hari yang pasti dan harus  dihadapi oleh penduduk Palestina. Tidak hanya di Palestina, di negara lain yang sedang terjadi konflik atau perang  semua hal pilu tersebut harus siap mereka hadapi. Negara yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi mereka, seketika berubah menjadi neraka akibat perang atau konflik. Kata ‘aman” sekan menjadi hal yang sangat langka dan mahal harganya, karena mereka harus siap ketika tank-tank merobohkan rumah  mereka. Meraka harus kuat ketika terpisah dari keluarga mereka. Mereka harus tabah ketika  anggota keluarga meraka meninggal karena dibunuh. Dan mereka tidak boleh menangis ketika harus meninggalkan tanah air, warisan leluhur mereka.
Akibatnya, gelombang penduduk yang mencari rasa aman pun terjadi. Mereka rela meninggalkan rumah mereka sendiri, karena rumah mereka sudah tidak lagi memberikan rasa aman untuk mereka.
Seperti yang diberitakan oleh VOA dimana PBB mengungkapkan bahwa jumlah pengungsi yang keluar dari Suriah meningkat dalam artikel “PBB : Jumlah Pengungsi yang Keluardari Suriah Meningkat” tertanggal 27 September 2012. Badan pengungsi PBB mengatakan  700 ribu pengungsi Suriah mungkin akan meninggalkan negaranya yang sedang dilanda konflik sebelum akhir tahun ini.
Tidak hanya Palestina dan Suriah, penduduk Afganistan yang negaranya juga sedang dirundung perang, berbondong-bondong meninggalkan rumah mereka demi mencari rasa aman. Mereka berjuang mencari suaka ke negara lain demi mempertahankan hidup mereka yang berharga di mata mereka tetapi diangap murah oleh pelaku perang. Terkadang, dalam mencari rasa aman, harus mereka lalui dengan berbagai kesulitan. Penangkapan pun terkadang tak terelakkan karena satatus mereka sebagai ‘imigran gelap’.
Seperti yang diberitakan oleh VOA dalam artikel pada tanggal  27 September 2012  “Polisi Menahan 121 Migran Menuju Australia” . Diberitakan bahwa polisi menahan 119 warga Afganistan dan 2 orang warga Iran yang sedang menuju Australia untuk mencari suaka.
Lihatlah bahwa rasa aman dan damai sangat mahal dan langka bagi mereka, saudara-saudara kita yang sedang dirundung duka dan kepedihan berkepanjangan akibat perang. Sekarang bandingkan dengan kita. Kita hidup di negara yang relatif damai. Kita dapat menjalani kehidupan kita dengan  tenang di tanai air kita sendiri bersama-sama dengan orang yang kita cintai dan sayangi. . Kita tidak perlu was-was dengan tank-tank  yang  sewaktu-waktu dapat melibas rumah kita. Kita tidak perlu takut moncong senapan tentara tertuju tepat ke kepala kita. Kita tidak harus menangis melihat mayat bergelimpangan dimana-mana serta merelakan berpisah dengan  keluarga yang kita cintai  dalam kondisi yang memprihatinkan.
Sudah sepatutnya kita mensyukuri kehidupan kita saat ini karena disana ada saudara-saudara kita yang tidak dapat hidup damai di rumah mereka. Mensyukuri hidup akan membuat hidup kita lebih bermakna dan menghindari kita dari rasa putus asa dalam menjalani hidup. Ketika kita merasa menderita, lihat dan tengoklah disana ada yang lebih menderita dari kita.
Oleh karena itu, sebagai warga negara yang baik kita juga  harus turut serta mendorong Indonesia  untuk turut serta menciptakan perdamaian dunia. Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negeri cinta damai dan Indonesia akan selalu berusaha untuk mewujudkan perdamaian dunia sesuai dengan yang tercantum dalam pembukaan  Undang-Undang Dasar 1945.
            Mereka saudara kita  berhak untuk hidup damai. Mereka teman kita,  berhak untuk hidup bahagia di rumah mereka sendiri. Tunjukkan bahwa kita adalah saudara yang peduli dengan saudaranya.
           

1 komentar: