Jumat, 03 Agustus 2012

Salah Satu Naskah Lomba GAGAL MENANG :D


 
Merindukan Sosok Baharuddin Lopa
Oleh : Marsya Sinarani


Bukan rahasia lagi kalau anggota DPR di Indonesia  dicitrakan dengan hal-hal yang  negatif.  Anggota DPR di Indonesia  saat ini identik dengan orang-orang  yang gila kekuasaan, gila hormat, gila harta, gila jabatan, dan tidak peduli dengan rakyatnya.
            Pencitraan negatif tersebut bukannya tanpa sebab. Pencitraan negatif  muncul  karena dipicu oleh sikap dan tingkah polah anggota dewan terhormat yang terkadang jauh dari norma dan melanggar hukum.
Mari kita mendata kasus korupsi yang melibatkan anggota dewan, dimulai dari  kasus suap alih fungsi hutan lindung dan pengadaan surat SKRT Departemen Kehutanan yang melibatkan 50 orang anggota komisi IV DPR sampai  dengan  kasus suap cek pelawat pemilihan Dewan Gebernur Senior BI yang menyeret puluhan nama anggota DPR menjadi tersangka dan tentunya masih banyak kasus korupsi lainnya.
Belum lagi kasus korupsi yang membelit anggota DPR tuntas, para anggota dewan kembali terkena kasus lain. Masih ingat kasus Arifinto anggota dewan yang kedapatan menonton video porno saat  rapat? Atau yang baru saja terjadi yaitu kasus video porno dimana pemerannya diduga adalah anggota DPR berinisial KMN.
DPR adalah lembaga legislatif yang merupakan salah satu pilar demokrasi  di Indonesia, dimana tugasnya antara lain adalah mengontrol jalannya pemerintahan. Jika satu pilar goncang maka bisa dipastikan Indonesia tidak akan bisa berdiri dengan tegak. Lalu yang menjadi pertanyaan, bereskah kerja DPR jika orang-orang di dalamnya adalah manusia-manusia yang berperilaku seperti di atas?
            Nabi Muhammad SAW bersabda “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya.” Bagaimana bentuk penyia-nyiannya? Beliau bersabda “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (HR Bukhari dan Muslim)
            Sebelum negara ini hancur, ada baiknya rakyat Indonesia  mulai berpikir untuk mengganti  anggota DPR yang tidak berkualitas  dengan sosok anggota DPR idaman masa depan.
Anda masih mengingat Almarhum Baharuddin Lopa? sosok jaksa Agung yang dikenal dengan kederhanaan dan kejujurannya. Kepergian beliau untuk selamanya telah membuat jutaan rakyat Indonesia meneteskan air matanya. Mungkin ada baiknya anggota DPR belajar dari sifat-sifat Lopa.
1.        Kompeten
Apakah anggota DPR kita berkompeten? Mengingat pemilihan anggota DPR dilakukan atas kehendak partai, maka bisa saja yang terpilih adalah yang dekat dengan penguasa partai, namun belum tentu yang berkompeten.
Menjadi seorang jaksa agung tentunya diperlukan orang-orang kompeten agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, dan Baharuddin Lopa sudah membuktikannya.  Lopa kompeten untuk mengusut kasus korupsi sampai tuntas di jamannya.
2.        Berakhlak / Agamis
Baharuddin Lopa pernah berkata kepada Tempo, bahwa pendiriannya tercipta karena beliau  berpegang teguh kepada ajaran agamanya, yaitu Islam. Salah satunya dari sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, “Sekalipun anakku Fatimah, kalau ia mencuri, kupotong tangannya.”. Dengan berpegang teguh pada agama, maka perilaku kita pun akan lebih berakhlak dan jauh dari perbuatan tercela.
3.        Peduli
Baharuddin Lopa pernah memberikan hadian enam gelas yang dibelinya sendiri di supermarket  kepada wartawan Kompas, Abun Sunda yang baru saja mengalami kecurian. Pemberian sederhana itu merupakan bentuk kepedulian Lopa kepada orang-orang disekelilingnya. Apa jadinya jika anggota DPR yang notabene wakil rakyat malah tidak peduli dengan nasib rakyatnya?
4.    Menjaga Amanah
Baharuddin Lopa selalu menjaga amanah yang dipercayakan kepadanya dan tidak mau menyalahgunakan. Lopa melarang istrinya ke pasar menggunakan mobil dinas. Bahkan anaknya tidak diperbolehkan menebeng mobil dinasnya ketika akan berangkat ke sekolah. Coba Anda bandingkan dengan kondisi saat ini  dimana mobil  berplat merah banyak terlihat  di jalan pada  hari sabtu, minggu atau diparkir di tempat wisata. Sungguh begitu mudahnya pejabat negara saat ini menyalahgunakan fasilitas negara.
5.    Bertanggung jawab
Baharuddin Lopa merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap tugasnya sebagai seorang Jaksa. Buktinya Lopa berani menselkan Bob Hasan, si raja hutan dan Tony Gozal, orang terkuat di Sulawesi Selatan. Seandainya semua anggota DPR bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya, tentu pilar legislatif menjadi semakin kuat.
6.    Integritas/Jujur
Suatu ketika Baharuddin Lopa meninjau kejaksaan negeri. Selesai melakukan peninjauan, beliau meminta sopir untuk mampir ke pom bensin. Sopir Lopa mengatakan bahwa bensin sudah diisi penuh yang uangnya diberi oleh Kajari melalui bawahannya. Mendengar hal tersebut, Lopa langsung memanggil Kajari dan dimintanya untuk menyedot bensin dari tangki mobil dinas beliau sambil mengatakan bahwa perjalanan dinas sudah dibiayai dengan uang negara termasuk untuk membeli bensin.
Sungguh jujurnya, Lopa. Membayangkan jika anggota DPR masa kini adalah orang-orang jujur seperti Lopa tentu kasus korupsi proyek wisma atlet dan kasus lainnya tidak akan pernah kita dengar.
7.    Konsistensi
Perilaku Lopa tentunya bukan tanpa konsitensi. Lopa selalu konsisten bertindak jujur dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Jika tidak maka dalam usia akhirnya mungkin Lopa tidak akan dikenal sebagai  jaksa agung yang jujur. Konsisten dalam menjaga sifat baik diperlukan agar tidak mudah tergerus dengan godaan di sekitar.
8.    Sederhana
Ketika anggota DPR masa kini banyak yang memamerkan kekayaannya dengan menaiki mobil mewah dan memiliki rumah yang bernilai milyaran rupiah. Baharuddin Lopa sangat jauh dari kata mewah. Walaupun saat itu, beliau sudah menjabat sebagai Direktur Jendral Lembaga Pemasyarakatan. Beliau harus menabung sen demi sen gajinya untuk membangun rumahnya yang masih sederhana. Ada kisah menarik yang diceritakan Abraham Samad mengenai Lopa, Abraham Samad pernah melihat Lopa membuka salah satu celengannya, ternyata uangnya belum cukup untuk membeli balok kayu dan batu, terpaksa pembangunan rumahnya ditunda.
Ketika seseorang terobsesi dengan kemewahan duniawi  maka berbagai cara akan dilakukannya untuk dapat menikmati kemewahan tersebut  dan korupsi pun menjadi halal. Belajar hidup sederhana adalah salah satu cara untuk belajar bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
9.        Pantang menyerah dan Ulet
Baharuddin Lopa dikenal ulet dan pantang menyerah dalam bekerja. Beliau bekerja  bagai pelari sprinter, mengusut kasus untuk menegakkan hukum, seperti yang diceritakan oleh ajudannya.  Enang Supriyadi Syamsi. Maka tak jarang Lopa sering pulang larut malam. Indahnya seandainya anggota DPR juga bersikap sama, ulet dan pantang menyerah, bukannya tertidur saat rapat atau mangkir dari rapat.
10.    Berani menghadapi resiko
Menjadi orang  jujur bukan berarti hidup  Lopa selalu lancar, tak jarang Lopa mendapatkan hambatan disekitarnya. Ketika sedang mengusut kasus Tony Gozal, pengusaha asal Sulawesi Selatan. Lopa berani mengambil resiko untuk terus maju, meskipun banyak tekanan yang datang tidak digubrisnya. Sampai akhirnya Tony divonis bersalah dan Lopa harus menerima resiko terpental dimutasi menjadi staf ahli menteri kehakiman.Namun, Lopa tidak pernah menyesal.
11.    Visioner
Dalam bekerja Lopa selalu memandang  tujuannya jauh  ke depan yaitu menegakkan hukum dengan sedail-adilnya. Maka Lopa bun bekerja keras mengusut kasus, ulet, jujur untuk mewujudkan visinya tersebut. Anggota DPR pun perlu menciptakan visi jauh ke depan yang tentunya mengarah kepada kebaikan dan kemajuan. Bukannya malah  kemunduran seperti saat ini.
12.    Mengharamkan upeti
Jusuf Kalla pernah menceritakan tentang Lopa yang tidak doyan upeti dan tidak suka memeras. Suatu kali Lopa ingin membeli mobil kepada Jusuf Kalla yang saat itu merupakan pengusaha pemegang agen tunggal Toyota di kawasan Indonesia Timur. Mobil mewah Toyota Crown ditawarkan oleh Jusuf Kalla karena saat itu Lopa menjabat sebagai Dirjen Lapas.
Namun, ketika Lopa mengetahui harganya yang berkisar 100 juta, Lopa langsung menolak karena terlalu mahal baginya. Akhirya Jusuf menyodorkan Corona yang harganya senilai 30 juta, namun Jusuf tidak menyebutkan harganya karena ia berniat memberikan mobil tersebut kepada Lopa. Namun, Lopa tegas menolak, bahkan ketika Jusuf mendiskon mobil tersebut sampai harganya senilai 5 juta. Lopa meminta mobil tersebut dijual dengan harga dan diskon yang umum diberikan untuk pembeli lainnya.
Lalu bagimana denga anggota DPR kita yang kebanyakan meminta upeti jika ingin segala urusannya dimudahkan?

     Walupun Almarhun telah berpulang ke Rahmatullah, namun perilaku beliau tidak akan terlupakan. Seandainya anggota DPR berperilaku seperti beliau, Anda bisa membayangkan sendiri akibatnya.Semoga, Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar