Rabu, 27 Juni 2012

#part 4


4
Pak Herman


            Di rumah eyangnya yang sangat besar,  Maya sering merasa kesepian. Eyang Maya sering pergi dengan pak Herman. Entah pergi rapat di balai desa, menemui kolega atau mengecek sawah yang beberapa terletak di lain desa.
Di rumah eyangnya, Maya sering  hanya berdua  dengan mbok Siti.  Ketika bersama mbok Siti, Mbok  Siti  selalu bercerita  tentang eyang Maya, tentang eyang putri Maya yang sudah lama meninggal dan tentang desa ini. Hal yang selalu mbok  Siti lakukan jika Maya dan keluarga berkunjung ke rumah eyang  ketika lebaran.
Ayah neng    Maya  iku  putrane eyang sing paling nakal .” mbok  Siti mulai bercerita.
“Oya, mbok,” Maya mulai tertarik untuk mendengarkan cerita mbok  Siti.
“Dulu ayah neng  Maya  itu sering bolos sekolah gara-gara pergi nonton topeng monyet di pasar. Akibatnya ya itu, ayah neng  sering dipukulin eyang kakung  pakai sapu lidi. Kalau dah begitu nagisnya kenceng  banget.”
Maya tertawa mengetahui kenakalan ayahnya. Wah berarti sikap bandel Maya selama ini  ternyata menurun dari ayahnya.  Berarti ayah Maya turut andil dalam menciptakan  kebandelan dan sikap pembangkang  Maya, batin Maya nakal.
“Terusin, mbok.” Dengan semangat Maya meminta mbok  Siti melanjutkan ceritanya.
“Kalau abis dipukulin biasanya ayah neng  langsung masuk ke kamar eyang putri. Menangis dipangkuan eyang putri . Lalu tertidur dikelonin eyang putri.”
Maya tertawa lagi, membayangkan kelakuan  ayahnya ketika masih kecil.
Ternyata ayah Maya cengeng juga. Diam-diam Maya tersenyum puas bisa mengetahui belang ayahnya waktu kecil.
“Pak Herman sudah lama disini, mbok?” tanya Maya setelah mbok Siti selesai  bercerita panjang lebar tentang ayahnya.
“Wah kalau pak Herman, baru nyambut gawe  disini, Sekitar setengah tahunan Neng. Kata eyang kakung. Pak Herman itu dari Jakarta. Karena udah ndak kerja ya akhirnya disuruh eyang kerja disini.”
Maya mengangguk. Pantesan penampilan  pak Herman tidak terlihat  seperti orang desa.
 “Kasihan pak Herman, Neng,” lanjut mbok Siti lagi.
“Kasihan kenapa, mbok?” Maya mulai tertarik.
“Katanya dia di PHK dari kerjaanya. Waktu pulang ke desa ini pak Heman tidak bawa apa-apa. Dia cuma membawa anaknya.”
“Pak Herman punya anak mbok?” tanya Maya penasaran.
“Seinget mbok pak Herman pernah cerita kalau dia punya anak yang ikut dibawa kesini, anaknya itu usianya kira-kira sama dengan neng Maya.”
Maya ingin bertanya lebih banyak lagi. Tapi, mbok  Siti ternyata lupa kalau harus memasak buat nanti sore, sebelum eyang Maya dan pak Herman pulang.
“Maaf ya neng, simbok tinggal sebentar. Mesti masak kagem eyang,” pamit mbok  Siti.
Maya mengangguk sedikit kecewa, padahal dia ingin bercerita lebih banyak lagi dengan mbok Siti.
Akhirnya, Maya sendiri lagi. Jika sedang sendiri Maya jadi melamun. Entah kenapa Maya tiba-tiba menjadi teringat Ernest. Sudah seminggu  Maya di Jogja dan Ernest benar-benar membuktikan ucapannya, Ernest sama sekali tidak menghubungi Maya. Nomor Ernest pun tidak aktif.
Jika Maya bertanya pada Lulu atau Nika tentang kabar Ernest, mereka pasti akan menjawab Ernest baik-baik saja lalu mengalihkan percakapan ke hal lain. Maya pernah menitip salam buat Ernest dan meminta Lulu dan Nika mencari tahu nomor Ernest yang baru. Tapi, nampaknya dua orang sahabatnya itu tidak pernah menyampaikan salamnya dan tidak pernah mencari tahu nomor Ernest yang baru.
“Maya, ngapain juga kamu mencari tahu nomor Ernest yang baru. Kamu mau sakit hati lagi. Udah, May mending kamu lupain Ernest mulai sekarang,” nasehat Nika. Lulu pun sama aja, selalu mengatakan lupakan Ernest, Ernest itu tidak baik buat kamu.
Kini Maya mulai bertekad untuk benar-benar melupakan Ernest meski susah.
*

            “Stop, stop,”  teriak mas  Yudi menghentikan permainan  musik  anak-anak The Arian. Anak-anak The Arian saling berpandangan tidak mengerti kenapa mas Yudi lagi-lagi menyuruh berhenti.
            “Kamu kenapa seh, Nest. Dari tadi kamu salah terus vokalnya.” Mas Yudi menatap Ernest tajam.
            Ernest diam saja. Sudah lebih dari 3 kali permainan mereka dihentikan oleh Mas Yudi dan semuanya gara-gara Ernest yang vokalnya selalu salah.
            “Kalau begini terus, bagaimana kita mau masuk dapur rekaman. Kita mau rekaman, Nest bukan mengisi acara promnight.” Suara mas Yudi jadi meninggi.
            “Maaf , mas.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut  Ernest.
            “Lu sakit, Nest?” Tanya mas Yudi sambil  memelankan nada suaranya, mencoba bersabar menghadapi Ernest.
            “Nggak , mas.”
            “Kalau ngak sakit, kenapa kamu selalu salah. Kamu kelihatan tidak serius latihan, Nest. Cobalah untuk professional.”
            Ernest mengangguk lagi.
            “Semuanya, kita istirahat dulu setengah jam. Sambil menunggu Ernest bisa konsen lagi. Ingat semuanya kita sedang bersiap masuk dapur rekaman, jadi mas harap kalian bisa latihan dengan serius.”  Nasehat Mas Yudi sebelum berlalu dari ruang studio masih dengan wajah kesalnya.
            “Lu  kenapa seh    Nest  latihannya nggak konsen gini” tanya Seno, gitaris The Arian sedikit jengkel.
            “Nggak tahu ne Sen.”
            “Kamu lagi mikirin sesutau?” tanya Boy, sang drummer.
            Ernest menggeleng.
            “Halah lu tuh nggak usah bohong ma kita, Nest. Kita tahu pasti lu lagi mikirin sesuatu kan.” Raja, si basis ikut-ikutan.
            “Maya, Nest?” Tanya Agung, keyboard The Arian.
            Ernest terdiam lama.
            “Bukannya lu sekarang sudah ada Tania,” ucap Agung sambil memandang ke luar kaca, disana terlihat Tania sedang duduk menunggui mereka latihan.
            Ernest hanya menggeleng lemah.
            “Gue ma Tania itu cuma sebatas temen, nggak lebih.”
            “Terus gossip di sekolah yang selama ini beredar. Pertengkaran Tania ma Maya itu apa, Nest?”
            “Itu cuma salah paham, Gung.” Nada suara Ernest mulai meninggi. Suasana mendadak tegang. Ernest terlihat  tidak suka dengan ucapan Agung barusan.
            Boy mengelus pundak Ernest, mencoba menenangkan Ernest. Sementara Agung terlihat menyesal dengan kata-katanya tadi.
            Tania yang melihat kejadian tersebut dari kaca merasa heran. Kenapa mereka berhenti latihan, mas Yudi  juga terlihat pergi meninggalkan studio, sementara suasana  di dalam studio sedikit tegang. Tania langsung berinisiatif untuk masuk ke studio.
            “Kok latihannya berhenti?” tanya Tania heran.
            Semua langsung memandang Tania.
            “Nggak papa Tan, cuma kita  lagi istirahat bentar,” jawab Raja.
            “Kamu nggak papa, Nest?” Tanya Tania sambil memandang Ernest dengan heran karena  melihat muka Ernest yang bad mood.
            Ernest hanya menggeleng lemah.
            Untung saja, mas Yudi segera masuk ke dalam ruangan studio lagi.
            “Kamu dah siap, Nest?” Tanya mas Yudi.
            “Udah, mas.”
            “Mas harap kali ini tidak ada kesalahan lagi.”
            Ernest mengangguk mantap, mengerti.

*
            “Assalamualaikum, non,” salam pak Herman  yang baru datang pada  Maya yang sedang membaca sendiri   di teras rumah.
            “Walaikumsalam, pak Herman.” Maya tersenyum kea rah pak Herman.
            “Gimana, non dah betah di  Jogja?” Tanya pak Herman ramah.
            “Lumayan pak.”
            “Pasti beda ya, non  ma kota. Disini adanya cuma sawah ma kandang sapi. Nggak banyak hiburannya.”
            Maya tertawa, pak Herman lucu juga.
            “Tapi disini udaranya sejuk, pak. Beda ma Jakarta yang banyak polusinya, padet, macet dimana-mana.”
            Pak Herman tertawa.
            “Kalau non mau, bapak bisa anter jalan-jalan ke kota jogja. Nggak jauh paling cuma satu  jam lebih. Disana ada mall, bioskop, malioboro, atau mau lihat keraton Jogjakarta. Siapa tahu non Maya butuh hiburan,” tawar pak Herman.
            “Wah boleh pak.”
Maya jadi tertarik dengan ajakan pak Herman. Jujur Maya juga dah lumayan bosen. Ingin sesekali hiburan dan belanja. Apalagi belanja dan nonton adalah hobi Maya. Dulu, di Jakarta paling nggak seminggu bisa sampai tiga kali Maya, Lulu, dan Nika jalan-jalan ke mall atau nonton.
            “Waktunya non atur saja. Saya siap mengantar non.”
            “Ok, pak.”
            Pak Herman lalu pamit masuk.
            “Pak,” panggil Maya yang menghentikkan langkah pak Herman.
            “Oya pak jangan panggil saya non ya, kedengarannya nggak enak. Panggil Maya saja, pak.”
            Pak Herman tersenyum.
            “Baik non, eh nak Maya.”
            “Nak Maya juga boleh pak.”
            Maya dan pak Herman sama-sama tertawa. Suasana kali ini  berbeda sekali dengan saat ketika mereka berdua bertemu di bandara.
*














Tidak ada komentar:

Posting Komentar