Senin, 11 Juni 2012

Love in Jogja part 3


3
Sekolah Baru


            Jam menunjukkan pukul 1 malam dan  Ernest baru pulang. Semalaman dia berpesta dengan teman-temannya merayakan kemenangan bandnya dalam festival pelajar Nasional.
HP Ernest bergetar. Tangan Ernest merogoh saku celananya, mengambil HPnya. Satu pesan masuk, Ernest membuka pesan tersebut. 
            “Ernest, aku udah nyampe Jogja. Aku tahu kamu tidak mengantarkanku ke bandara karena festival  band itu. Gimana nest dengan festivalnya?”
            Bunyi sms yang ternyata dari Maya. Ernest ingin langsung membalas sms Maya, namun, kejadian kemarin malam kembali  membayang  di kepala Ernest.
            “Om minta dengan sangat,  kamu jauhi Maya, Nest.” Nasehat ayah Maya serius melalui telepon.
            “Tapi om,” suara Ernest tertahan.
            “Om meminta Maya pindah ke Jogja itu untuk kebaikan kalian. Jadi om minta jangan ganggu atau hubungi  Maya lagi, Nest. Ini peringatan terakhir om dan om tidak pernah main-main.”
            Suara sambungan telepon itu langsung terputus dan Ernest hanya bisa termenung, diam. Nampaknya ayah Maya sangat serius dengan ucapannya.
            Ernest tersadar dari lamunannya. Dengan cepat   tangannya langsung mengetik tuts-tuts di tombol HPnya, membalas sms dari Maya. Setelah itu Ernest mencopot kartu SIMnya dari HP dan membuangnya ke tempat sampah. Ernest mengambil kartu baru dari atas meja belajarnya dan segera memasang kartu SIM baru ke HPnya.
            Sementara di tempat lain, Maya terkejut dengan sms balasan dari Ernest.
            “Maya sebelumnya makasih banyak  untuk dukungan, perhatian yang selama ini telah kamu berikan. The Arian menang dalam festival ini, May. Tapi, Maya kayaknya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Maaf sekali May. Kamu jangan pernah menghubungi aku lagi ya. Ini semua untuk kebaikan kita, May. Baik-baik di Jogja ya, May.”
            Air mata Maya mengalir ketika selesai membaca sms dari Ernest. Maya tidak menyangka sama sekali akan mendapat balasan seperti itu. Malam ini,  Ernest telah memutuskan hubungan mereka dan yang lebih menyakitkan lagi, Maya tidak boleh menghubungi Ernest sama sekali. Maya sedih dan bingung kenapa Ernest tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.
            Maya memencet nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. Namun, yang didengarnya hanya suara  operator yang mengatakan bahwa telepon yang dituju sedang tidak aktif. Berkali-kali Maya mencoba menghubungi nomor Ernest, Maya ingin minta penjelasan dari Ernest. Namun sia-sia, nomor Ernest tidak aktif.
            Maya lalu menekan nomor lain, nomor Lulu. Maya tidak peduli Lulu akan ngambek diteleponnya tengah malam seperti ini. Saat ini, Maya benar-benar  sedang butuh tempat untuk mencurahkan rasa sedih dan sakitnya.
Telepon di seberang diangkat dengan nada  suara malas. Dengan isakan dan air matanya, Maya langsung  menceritakan semua yang terjadi barusan padanya. Lulu yang awalnya malas dan mengantuk mendadak menjadi serius dan  setia mendengarkan sahabatnya bercerita.
            “May, aku tahu ini pasti berat buat kamu, tapi sepertinya ini memang yang terbaik buat kamu, May.”
            “Tapi, Lu…”
            “Ernest sendiri yang meminta untuk pisah. Gimana lagi, May? Apa kamu mau mengemis-ngemis minta balikan?”
            Maya menggeleng.
            “Tapi aku masih sayang Ernest, Lu,” suara Maya tertahan.
            “Ini semua pasti gara-gara Tania. Semua yang aku katakan selama ini bener kan, May. Kalau Ernest diam-diam mendekati Tania. Buktinya setelah kamu pergi Ernest dengan mudahnya bilang putus. Pasti sebentar lagi dia jadian dengan Tania. Dari dulu aku udah bilang ma kamu Ernest tidak baik buat kamu.”
            Maya terdiam. Apakah benar Ernest sudah tidak sayang lagi padanya  dan lebih memilih Tania. Jika semua yang dikatakan Lulu benar, diam-diam,  Maya mulai membenci Ernest.
            “Aku yakin, May. Ini yang terbaik buat kalian. Ernest bukan yang terbaik buat kamu. Aku yakin kamu pasti dapat melupakan Ernest perlahan.”
            Maya mengangguk, berusaha untuk kuat.
Mulai saat ini Maya harus bisa berdiri tanpa Ernest. Ernest yang telah mengkhianati cintanya dan Ernest yang telah melukai hatinya. Maya akan membuktikan bahwa dirinya akan baik-baik saja  tanpa Ernest.
*
             
Keesokan Paginya….
            Dengan malas dan muka sedikit sembab karena peristiwa tadi malam, Maya memasuki sekolah barunya. Dengan ditemani eyang, Maya menghadap kepala sekolah. Setelah mengobrol dan basa-basi sebentar dengan kepala sekolah, Maya dikenalkan dengan pak Heru., wali kelasnya yang akan mengantar Maya ke kelas barunya.
Setelah bel masuk berbunyi, Maya bersama pak Heru bergegas menuju ke kelas barunya, kelas XI.2, sementara eyangnya pamit pulang.
Ruang kelas baru Maya tidak terlalu luas tapi  muridnya banyak. Satu kelas terisi kira-kira 40 orang. Padahal dulu di kelas Maya hanya ada 20 orang. Selain itu, di dalam  kelas juga sangat panas karena tidak ber AC. Untuk mengajar, guru  masih menggunakan papan tulis hitam  dan kapur.
Ketika pertama kali Maya masuk kelas, pandangan seluruh kelas langsung tertuju padanya. Anak-anak  di kelas ramai berbisik seperti dengungan lebah, membicarakan Maya. Penampilan Maya yang khas anak gaul Jakarta dan wajah Maya yang cantik tentu membuat seisi kelas kagum, terutama anak-anak cowok.
            “Namaku Maya Agustin Darmawan. Panggil saja Maya. Aku pindahan  dari Jakarta,” Maya memperkenalkan dirinya di depan kelas. Sementara semua mata tertuju pada Maya.
            “Ada yang mau bertanya?” ucap pak Heru.
            Seorang cowok di pojok mengacungkan tangan. Penampilan cowok tersebut seperti cowok urakan. Rambut sedikit gondrong,  muka hitam, pakaiannya  pun sedikit lusuh.
Pak Heru mengangguk, tanda mengijinkannya untuk bertanya.
             “ Ya, Johan.”
            “Maya, sudah punya cowok belum?” Tanya Johan yang langsung disambut sorakan ‘huuuuuu’ seisi kelas. Johan,  hanya senyam-senyum.
            Maya di depan menjadi salah tingkah. Maya menatap Johan dengan pandangan jengkel, karena telah membuatnya jadi bahan olokan sekelas. Namun, pertanyaan Johan tiba-tiba membuat Maya teringat Ernest. Cepat-cepat Maya mengusir bayangan Ernest dalam otaknya. Dalam hati Maya sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Ernest seperti Ernest yang melupakan dirinya.
            Untung Pak Heru  segera mengakhiri perkenalan Maya. Sehingga Maya tidak perlu lama-lama jadi pajangan dan tontonan di depan kelas.
            “Maya, sekarang kamu duduk disana.”
            Pak Heru menunjuk bangku kosong nomor dua dari depan di sebelah kanan sendiri. Di samping bangku kosong tersebut duduk seorang  cowok yang dari tadi terlihat sedang asyik sendiri mengambar di kertas, kurang tertarik dengan acara perkenalan Maya. Cowok tersebut   hanya sesekali menatap Maya dan tersenyum sinis  melihat tingkah teman-temannya.
 Sejak pertama kali masuk dan perkenalan di depan kelas, jujur Maya sedikit  menganggumi ketampanan cowok itu. Diantara cowok-cowok di kelas, wajah cowok itu yang paling menonjol. Wajahnya manis, namun sedikit angkuh menurut Maya.
            Maya melangkahkan kakinya  menuju  kursinya.
            “Hai” sapa Maya pada cowok itu, sebelum duduk.
            Cowok itu cuma tersenyum pelit dan  memandang Maya sekilas. Lalu kembali asyik memainkan pensilnya di atas kertas.
 Maya menghela nafas kesal. Merasa diacuhkan.
Maya menyeret kursinya lalu  menghempaskan dirinya di kursi dengan sedikit keras. Melirik cowok disampingnya lagi.
            “Oya namamu siapa? Kita belum kenalan.” Maya menjulurkan tangannya. Mencoba untuk ramah.
            “Dimas.” Jawabnya pendek  tanpa menoleh kearah Maya dan mengabaikan uluran tangan Maya.
            Maya memandang kesal kearah Dimas. Kesal dengan keangkuhannya dan kesal dengan ketidakacuhan Dimas pada Maya.
*
            Bel istirahat berbunyi. Maya menghela nafas lega, begitu juga dengan Dimas . Maya merasa Dimas   juga merasakan hal yang sama dengannya, bahwa mereka sama-sama bosan dengan pelajaran Geografi yang diajarkan oleh Pak Heru, wali kelas mereka.
Selama 2 jam, pak Heru sibuk menjelaskan tentang Negara-negara di Afrika. Dari mulai lokasi, ibu kota, mata pencaharian penduduk, bentuk pemerintahan, dan lain-lain. Sementara itu,  siswa dipaksa memperhatikan dengan seksama sambil  menahan kantuk.
Pak Heru tidak segan-segan  menegur dengan keras jika ada siswa yang ketahuan ngobrol  atau bersiap-siap menerima lemparan kapur   jika ketahuan tidur di kelas. 
            Kelas menjadi  ramai setelah pak Heru pergi. Anak-anak mulai ramai meninggalkan kelas. Beberapa ada yang melemparkan senyum kea rah  Maya dengan ramah, Maya membalas senyuman mereka, mencoba untuk ramah di lingkungan barunya.
Maya menoleh ke samping. Tampak Dimas  sedang asyik mulai mencoret-coret di kertas, mulai menggambar lagi. Tidak mengindahkan Maya.
            “Eh, kantin mana ya?” Tanya Maya mencoba ngajak ngobrol Dimas.
            “Maya, mau ke kantin?” Tanya suara cewek yang tiba-tiba  menghampirinya. Disamping Maya telah berdiri seorang cewek  berjilbab yang tersenyum manis kearahnya. Wajahnya yang manis  sungguh serasi dipadu dengan jilbabnya yang menjadikannya lebih anggun. Di kelas ini rata-rata ceweknya memang memakai jilbab.
 “Eh, iya.” Maya mengangguk, agak canggung.
            “Bareng aku aja yuk, May. Aku juga mau ke kantin.” Cewek itu menawarkan diri.
“Ehmm, boleh,”  jawab Maya. 
Kebetulan, batin Maya. Perut Maya sudah lapar dari tadi . Daripada dia disini yang terus dianggurin sama Dimas.
            “Oya, May. Kenalin aku Niken. .” Cewek itu memperkenalkan dirinya, baru tersadar jika belum memperkenalkan diri.
            Maya mengangguk sambil tersenyum. Lalu menjabat tangan Niken.
Niken melirik kearah Dimas  yang sedang asyik menggambar.
“Mau ikut ke kantin, Dim,” ajak Niken.
“Nggak, makasih Ken.” Tolak Dimas  sambil tersenyum.
            Manis sekali senyum Dimas pada Niken, batin Maya dalam hati. Perlakuan Dimas terhadap Niken sungguh berbeda terhadapnya. Jangankan tersenyum, diajak ngobrol pun, Dimas hanya menjawab sepotong-potong.
            “Dasar cowok,” batin Maya dalam hati sedikit kesal dengan diskriminasi yang dilakukan oleh Dimas.
Di kantin Niken dan Maya mengambil tempat duduk yang agak di pojok. Saat istirahat seperti ini kantin memang sangat ramai. Anak-anak berebut mengambil makanan, berburu dengan waktu sebelum bel masuk berbunyi.
            Beberapa anak ada yang curi-curi pandang kearah Maya, merasa melihat makhluk  yang baru  diantara mereka. Kehadiran Maya semakin menarik perhatian anak-anak yang ada di  kantin.
            “Kamu kenapa pindah kesini, May?” tanya Niken berusaha  memulai percakapan.
            Maya tertegun sebentar. Pertanyaan Niken mengingatkannya kembali pada perkelahiannya dengan Tania yang berujung pada keputusan ayahnya agar Maya pindah ke Jogja.
            “Pengen ganti suasana aja, Ken. Bosen dengan suasana di Jakarta. Macet, sumpek, banyak polusi.” Maya berbohong.
“Semoga kamu betah sekolah disini, May,” harap Niken sambil tersenyum manis sekali. Lagi-lagi Maya menganggumi kemanisan wajah gadis di depannya ini . Niken memang manis, kalau saja penampilannya tidak ndeso seperti ini mungkin Maya akan kalah saing  dengan Niken.
           
*
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar