Minggu, 11 Desember 2011

LOVE IN JOGJA part 2

2

J o g j a
           
            Maya menunggu dengan gelisah di tempat tunggu  bandara Adi Soetjipto, Yogyakarta. Sudah dua jam lebih Maya menunggu jemputan yang sampai detik  ini belum juga  datang. Maya sudah sangat bosan  menunggu.
Sebelum berangkat,  ayahnya berpesan kalau pak Herman, sopir  eyang Maya  yang baru, akan menjemput Maya di bandara. Namun, sampai sekarang pak Herman belum juga menampakkan batang hidungnya.  Kalau tahu gini mending Maya naik taksi saja sampai rumah eyang. Batin Maya kesal. Namun, percuma juga, karena  tidak ada taksi yang mau mengantar sampai  rumah eyangnya yang jauh di pedalaman  Jogja.
            Maya kembali menengok  jam tangannya. Sudah  hampir 2 jam Maya duduk menunggu di bandara. Maya mendengus kesal sambil  membanting kopernya yang berat ke lantai.
            “Ouuu” Maya berteriak kesakitan  karena kopernya mengenai  kakinya sendiri . Maya memaki kesal.
            “Non Maya,?” sapa  seorang  tiba-tiba.
            Maya menoleh. Seorang bapak-bapak   yang berumur kira-kira lima puluh  tahunan sudah berdiri di samping Maya.
            “Iya saya Maya. Kenapa pak?” Maya balik bertanya 
            Bapak itu tersenyum. 
“Saya Herman, Non. Yang mau menjemput non Maya.”
Bapak tersebut memperkenalkan dirinya. Maya mengangguk agak heran karena muka pak Herman bersih dan penampilannya pun rapih meskipun hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblonk bermerk dagadu. Pak Herman kelihatan seperti orang kota,  jauh sekali dari kesan sopir. Namun muka dan tampilan luar kan bisa saja menipu.
            Maya tersadar dari pikirannya. Lalu menunjukkan wajah kesalnya.
“Pak Herman kok lama seh? Bapak tahu sekarang jam berapa? Saya hampir mati kebosanan nungguin bapak.” Maya berceloteh panjang lebar. Pak Herman hanya mengangguk-angguk,  dengan sabar  mendengarkan omelan Maya.
            “Maaf non, tadi ban mobilnya bocor di tengah jalan. Jadi lama buat ganti ban mobil.” Pak Herman memberi penjelasan sambil menunjukkan rasa bersalah.
            “Udah yuk pak buruan,”  ajak Maya tanpa menggubris  penjelasan  dari pak Herman.
Maya mendorong kopernya. Pak Herman ikut membantu mengangkat barang bawaan Maya yang lain. Pak Herman berjalan di depan memandu Maya menuju  mobil kijang tua  eyang yang diparkir di depan.
Sesampainya di depan  mobil,  Maya langsung masuk ke mobil dan menutup pintu dengan keras. Pak Herman hanya menghela nafas panjang lalu memasukkan koper dan barang bawaan Maya satu persatu ke dalam bagasi mobil.
 Sepanjang perjalanan  Maya hanya diam. Maya nampak masih kesal dengan pak Herman. Pak Herman pun jadi  ikut diam, tidak berani mengajak Maya ngobrol. Perjalanan yang tadinya melalui jalan besar kota Jogja kini semakin masuk ke jalan-jalan desa, di kanan kiri jalan hanya terbentang sawah yang padinya mulai menguning, tanda siap untuk dipanen.
Rumah eyang Maya terletak di desa yang lumayan jauh dari kota Jogja. Tepatnya di kapubaten  Bantul salah satu kabupaten di Provinsi Jogjakarta.
Di desanya,  eyang Maya sangat terkenal dan disegani oleh penduduk setempat. Selain bekas ABRI, eyang Maya juga terkenal sebagai juragan tanah karena memiliki sawah yang sangat luas sampai berpuluh-puluh hektar yang tersebar di beberapa desa.
 Eyang Maya hanya mendiami rumahnya yang besar dengan ditemani mbok Siti, pembantu Eyang yang sudah lama mengabdi. Usia mbok Siti pun hampir menyamai usia eyang.  Sementara, nenek Maya sudah lama meninggal sejak Maya masih kecil. Kata ayah Maya, nenek meninggal karena kanker Payudara. Maya sendiri tidak terlalu mengenal  dekat  neneknya.
            Mobil perlahan memasuki halaman rumah eyang. Di depan rumah, eyang sudah menyambut Maya. Walaupun sudah tua, eyang masih terlihat sehat. Badannya masih  tegap dan kuat meskipun rambutnya sudah memutih semua. Mungkin  karena eyang dulu  adalah ABRI dan sering berolah raga, sehingga sampai sekarang masih terlihat gagah perkasa dan suaranya pun  masih lantang.
            Maya bergegas turun dari mobil. Sementara pak Herman menurunkan koper dan barang bawaan Maya dari bagasi.
            “Eyang.” Maya langsung  mencium tangan eyangnya.
            “Cucu Eyang ternyata udah gede.” Sambut eyang Maya sambil menepuk bahu Maya.
            “Ah, eyang kayak Maya dah lama nggak kesini. Lebaran kemarin kan Maya kesini,” Maya menggoda Eyang.
“Wah ternyata eyang dah pikun.”
Eyang tertawa renyah menggoyangkan janggutnya yang lumayan panjang. Suara ketawa eyang Maya yang khas sangat disukai Maya.
Rene nduk mlebu , mesti  sayah  ya?” ajak Eyang.
Maya mengikuti langkah eyangnya, masuk ke dalam rumah, disusul dengan  pak Herman yang  sibuk mengangkat barang-barang Maya.
Gletakno kono wae , Man,” eyang memerintah kepada  pak Herman untuk menaruh barang-barang Maya di samping TV di ruang keluarga. Pak Herman hanya mengangguk, menurut. Setelah menaruh semua barang-barang Maya, pak Herman pamit pergi.
“Sopir baru eyang?” Maya bertanya sambil menatap kepergian pak Herman.
“Wah kok dadi  aneh yo kalau dibilang sopir. Herman itu anaknya teman deket eyang dulu. Dia lagi butuh pekerjaan jadinya eyang suruh dia bantu-bantu  ngurus sawah sama sekali-kali nganter eyang pergi. Maklum eyang sudah tua, kalau pergi jauh capek bawa mobil sendiri.”
Maya hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita eyang.
            “Rene nduk, eyang tunjukkan kamar kamu,” ajak eyang.
            Maya mengikuti langkah eyang.
            “Eyang senang kamu mau tinggal disini nemenin eyang, nduk. Di rumah segede ini  cuma ditinggalin eyang ma Siti. Eyang butuh teman yang lebih muda dan energik. Biar eyang tambah semangat menjalani hidup.”
            Maya hanya tersenyum. Tiba-tiba Maya menjadi teringat mbok  Siti.
“Mbok  Siti kemana eyang?” tanya Maya yang dari tadi tidak melihat mbok  Siti.
            “Lagi ke pasar. Ngerti kowe meh teko , dia langsung belanja.  Katanya  mau masak yang enak.”
Mbok  Siti memang sangat sayang pada Maya, bahkan sudah menganggap Maya seperti  cucunya sendiri. Mbok  Siti  tidak mempunyai anak,  sementara itu suami mbok  Siti meninggal ketika mereka baru  dua bulan menikah karena ditembak oleh tentara Belanda yang waktu itu menjajah Indonesia. Sampai sekarang mbok  Siti tidak mau menikah lagi karena rasa cintanya yang besar pada suaminya. Maya selalu berharap suaminya kelak mempunyai rasa cinta yang besar pada dirinya seperti cinta mbok  Siti pada suaminya .
            Jika Maya datang ke rumah eyang, mbok  Siti selalu masak yang enak-enak. Yang Maya suka dari mbok  Siti, mbok  Siti suka sekali bercerita tentang keluarga eyangnya. Maklum mbok  Siti sudah ikut eyang dari dulu bahkan dari sebelum ayah Maya lahir. 
            Eyang Maya berhenti ketika sudah sampai di pintu sebuah kamar. Eyang membuka pintu kamar tersebut.
            “Dulu ini kamar tidur ayahmu. Lihat eyang sudah menyulapnya menjadi lebih modern, selera anak muda sekarang.”
Eyang  tersenyum puas memandang sekeliling  kamar Maya. Maya memperhatikan kamar barunya.
            Kamar barunya di cat warna hijau muda, warna kesukaan Maya. Ada dua jendela besar yang menghadap  ke kebun rambutan milik eyang. Tepat di tengah ada kamar tidur besar  dengan dua buah  meja kecil di sisi kiri dan kanannya, lemari pakaian ukuran sedang, meja dan kursi belajar dan beberapa lukisan di dinding.  Maya mengangguk sambil tersenyum, nampak puas dengan kamarnya.
            “Eyang harap kamu betah tinggal disini, nduk .”
            Maya hanya mengangguk. Meskipun dalam hati Maya agak berat tinggal di Jogja. Maya  masih belum rela meninggalkan Jakarta.
            “Oh iya Eyang lupa. Eyang sudah mendaftarkan kamu di SMA terbaik di  kecamatan  ini. Besok eyang antar kamu ke sekolah itu,” ucap eyang Maya tiba-tiba bersemangat .
            “Baik eyang,” jawab Maya kurang bersemangat.
“Kayaknya kamu capek. Kamu istirahat dulu ya, nduk. Eyang mau ke rumah pak Lurah sebentar.”
Maya mengangguk. Eyangnya berlalu meninggalkan Maya, sekarang  Maya seorang diri di kamarnya.
            Maya menghela nafas panjang sambil mengamati sekeliling kamarnya. Tiba-tiba Maya menjadi teringat sesuatu.
            Maya langsung  mengambil HP dari  dalam tas kecilnya. Ternyata ada dua sms masuk . Maya tidak sabar untuk segera  membuka pesan yang masuk di HPnya, berharap salah satu sms itu dari Ernest. Walaupun Ernest tidak mengantarkan kepergiannya, tapi paling tidak Ernest masih  berniat baik untuk  sekedar menanyakan kabarnya.
            Namun, Maya langsung kecewa ketika mengetahui pengirim dua sms tersebut adalah mamanya dan Nika yang sama-sama menayakan apakah dirinya sudah sampai di Jogja  dengan selamat.
*
            “Ernest selamat, ya,” Tania mendekati Ernest yang sedang asyik  bersuka cita, merayakan kemenangan “The Arian”  dengan teman-teman bandnya.
            “Makasih ya  Tan.” Balas Ernest tersenyum senang sambil menjabat tangan Tania.
            “Penampilanmu tadi keren, Nest. Kalian pantes mendapatkan kemenangan ini,” ucap Tania  bersemangat.
            Ernest hanya mengangguk sambil tersenyum. Terlihat di wajah Ernest sinar kebahagiaan.
            “Makasih, Tan udah mau datang  melihat  penampilan kita. Aku kira kamu marah padaku gara-gara kejadian kemarin”
            Pikiran Tania dan Ernest sama-sama melayang ke kejadian saat Maya menampar wajah Tania di depan mata Ernest yang dilanjutkan dengan pertengkaran diantara mereka berdua.
            Tania tertawa mengingat kejadian itu.
            “Mana mungkin aku marah padamu gara-gara ini, Nest.” Tania menunjuk luka kecil di sudut bibirnya yang masih terlihat jelas.
            “Aku maklum kok sama Maya yang sangat emosian dan labil, nggak bisa mengendalikan amarah,” tambah Tania sedikit mencibir Maya.
            Ernest  terdiam. Dia menjadi teringat Maya. Maya pasti akan senang jika mendengar kabar kalau The Arian memenangkan festival band pelajar nasional. Selama ini,  Maya yang selalu setia menemani Ernest latihan  untuk menghadapi lomba ini. Selama ini Maya juga yang selalu memberinya semangat dan motivasi untuk tetap optimis meraih impian. Ernest berharap Maya ada disini untuk memberikan ucapan selamat padanya.
            “Wah, ini patut dirayakan, Nest,” Tania  mengalihkan pembicaraan yang sekaligus menyadarkan Ernest dari lamunannya.
            “Abis ini kita mau makan-makan. Kamu boleh ikut kita, Tan,” Ernest menawarkan.
            “Beneran,  Nest?”
            Ernest mengangguk
            Tania langsung mengiyakan ajakan Ernest.
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar