Jumat, 02 Desember 2011

LOVE IN JOGJA part 1

1

P I n d a h

            Suasana di ruang keluarga benar-benar kaku. Maya, ayahnya dan mamanya  sama-sama diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Pindah ke rumah Eyang di Jogja , yah?” Maya bertanya lirih  pada ayahnya.
            Ayah dan mama Maya  mengangguk berberengan.
            “Apa gara-gara tadi siang Ayah dipanggil  kepala sekolah. Terus Maya dikeluarin dari sekolah?” duga Maya
            Ayah Maya menggeleng.
            “Terus?” tanya Maya dengan tidak sabar.
            “Kepala sekolahmu sudah sangat baik, May. Beliau masih memberi kesempatan kepadamu untuk tetep sekolah disana. Meskipun kamu sudah bikin onar dan buat malu ayah dan mama kamu .”
                “Kamu bikin malu mama dan ayah, May. Bisa-bisanya berkelahi hanya untuk rebutan cowok.” Mama Maya menyela sambil  menggeleng heran.
            “Ma, Ernest itu cowok Maya. Jadi wajar kan Ma kalau Maya melabrak Tania yang  berani menggoda Ernest di depan Maya.” Maya membela dirinya sambil berapi-api. Maya masih kesal dengan Tania.
Mama Maya merebahkan badannya ke sofa, sesak dadanya mendengar pembelaan anaknya.
             “Sejak kamu pacaran dengan  Ernest,  kelakuanmu jadi nggak pernah bener, May. Keluyuran malam-malam.  Nilaimu jadi  jelek. Sering bolos sekolah. Malah sekarang ayah dipanggil kepala sekolah gara-gara kamu berkelahi. Ayah  kecewa ma kamu, May!”
            “Maya hanya sekali ini berkelahi dengan teman, yah.” Maya berusaha membela diri.
            “Sama saja itu buat malu ayah ma mamamu.” Suara ayah Maya meninggi.
            Maya mendadak diam. Maya tahu jika ayahnya sedang benar-benar marah padanya. Suasana di ruang keluarga menjadi semakin tegang.
            “Ayah kasih kamu waktu  dua hari untuk mempersiapkan kepindahanmu. Ayah dan mamamu sudah memikirkan masak-masak keputusan ini.” Ayah Maya berkata tegas diiringi anggukan mantap dari mamanya.
            “Terus sekolah Maya, yah?” Maya mencoba mencari alasan.                      
            “Ayah sudah memilihkan kamu sekolah disana. Jadi kamu tidak usah khawatir. Semuanya sudah ayah dan mama persiapkan dengan sebaik-baiknya.”
            Maya tergagap, tidak bisa berkata apa-apa dan masih belum  bisa menerima kepindahannya yang tiba-tiba ini. Namun Maya juga tidak bisa membantah ayahnya.  Perkataan ayahnya  sudah seperti hukum, tidak bisa diubah-ubah lagi dan harus dilaksanakan. Berarti keputusan Maya untuk  pindah ke  rumah eyangnya di Jogja  sudah final.
            Akhirnya, Maya hanya bisa terisak.
*
            Maya menumpahkan kekesalan dan kesedihannya di kamarnya. Semua barang-barangnya di banting ke lantai. Dari mulai buku, bantal, selimut, pensil, pulpen, gunting, boneka, semuanya berserakan di lantai.
            “Maya nggak mau pindah…..!” teriak Maya berkali-kali, protes dengan keputusan ayahnya.
Maya sengaja mengeraskan suaranya agar  Ayah dan Mamanya  mendengar.
            Mama Maya yang mendengar amukan Maya, lama-lama  khawatir  dengan keadaan Maya. Mama Maya mau  beranjak dari tempat duduknya. Namun, ayah Maya buru-buru mencegahnya.
            “Nggak usah, Ma. Nanti juga berhenti sendiri. Jangan terlalu memanjakan dia. Biar dia belajar dari kesalahannya.”
            Mama Maya mengangguk, menuruti kata-kata suaminya.
            Di kamar Maya sudah mulai hening. Suara-suara benda jatuh dan teriakan Maya sudah tidak terdengar lagi. Sepertinya Maya sudah capek dengan ulahnya sendiri dan mungkin sekarang sudah tertidur dengan matanya yang sembab.
*
            Mata Maya masih sembab ketika dia masuk sekolah pada keesokan harinya. Ini semua gara-gara  dia menangis semalaman. Lulu yang  mengetahui kedatangan Maya segera menghampirinya.
            “May, kamu kenapa? Abis nangis?” tanya Lulu yang heran melihat mata Maya yang  sembab.
            “Kelilipan tadi,” jawab Maya seenaknya.
            “Kelilipan batu sungai, ya May. Sampai bengkak segede  gitu.” Goda Lulu yang mengetahui sahabatnya berbohong.
            “Nggak lucu, Lu.”
Maya nampaknya sedang tidak  ingin bercanda. Lulu terpaksa menghentikan ketawanya dan memasang tampang serius.
“Terus kamu kenapa, May? Kamu habis nangis?”
            Belum sempat Maya menjawab, tiba-tiba pandangan mereka langsung beralih ke pintu kelas. Mereka sama-sama memperhatikan Tania yang sedang berjalan memasuki ruangan kelas. Maya melihat pipi Tania masih merah, akibat tamparan Maya kemarin dan di sudut bibir Tania  ada bekas luka kecil. Ada perasaan  puas yang muncul  di hati Maya, karena telah  memberi  pelajaran pada Tania yang kemarin kepergok sedang berduaan dengan Ernest.
            Tania memandang Maya dengan  sengit dan langsung melegoskan kepalanya kearah lain. Maya tersenyum mengejek.
            “Kemarin gimana? Kamu dihukum apa ma bu Wati?” Tanya Lulu penasaran. Setelah Tania berlalu dan duduk di kursinya yang terletak di pojok belakang, jauh dari mereka berdua.
            “Cuma dinasehatin aja kok. Tapi sialnya bu Wati malah manggil ayahku ke sekolah.”
            “Terus reaksi ayahmu gimana? Ayahmu marah ma kamu?”
            Maya hanya diam saja. Pikirannya melayang ke kejadian tadi malam. Ayahnya bukan hanya marah besar, bahkan sampai menyuruhnya pindah sekolah di Jogja.
            “Kamu seh May terlalu emosi.” Lulu menyalahkan Maya.
            “Nggak emosi giman Lu. Aku liat sendiri  Tania sedang berdua dengan Ernest. Ya aku kasih pelajaran lah. Biar dia kapok.”
Maya sengaja mengeraskan suaranya sambil melirik ke arah Tania yang sedang duduk di pojok belakang . Mereka sempat beradu pandang  dengan sengit.  Namun,  Tania buru-buru membenamkan kepalanya ke buku, pura-pura sedang membaca. Sementara telinga Tania tetap terpasang tajam, mencoba menguping pembicaraan Maya dan Lulu.
            “Kamu yakin bukan Ernest yang menggoda Tania?” Tanya Lulu lagi lebih hati-hati.
            “Maksudmu, Lu?” Maya Nampak tidak senang dengan ucapan Lulu barusan.
            “Ernest tuh playboy, May. Cuma kamu  aja yang selama ini menutup mata. Aku sering melihat Ernest merayu dan mendekati  cewek-cewek di sekolah ini. Apalagi Tania itu cantik, popular, kapten cheers  sekolah kita lagi.” Lulu nyerocos di depan Maya.
            “Kamu ngomong apa seh , Lu. Dari dulu kamu kayaknya benci banget ma Ernest dan  nggak suka lihat aku  jadian ma Ernest.” Maya mulai emosi.
            “Emang aku  nggak suka, May. Jujur , Ernest tuh bawa pengaruh buruk buat kamu, May.”
            Maya berdiri dari kursinya, kesal dengan ucapan Lulu. Lalu  beranjak pergi keluar kelas.
            “Mau kemana, May?” Tanya Lulu mencegah langkah Maya.
            “Ke kantin. Sarapan,” jawab Maya ketus.
Maya bergegas pergi dari hadapan Lulu.
Di pojok, Tania tersenyum pada Lulu. Berterima kasih atas pembelaan Lulu. Namun,  Lulu mendelikkan mata tidak senang kearah Tania. Tania melengoskan kepalanya dengan kesal.
            Di kantin, Maya duduk sendirian. Nasi goreng di depannya hanya diaduk-aduk nggak karuan, sama sekali tidak dimakan. Perut Maya memang lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan, tapi Maya sama sekali  tidak berselera untuk makan. Ibu kantin memandang Maya dengan heran.
            “Udah bel neng. Nggak masuk?” tanya ibu kantin mencoba mengingatkan Maya.
Sudah sekitar setengah jam yang lalu bel masuk berbunyi, namun Maya nampaknya masih belum mau beranjak dari kantin. Maya sebenarnya sudah mendengar  bel masuk  dari tadi. Lulu pun berkali-kali sms Maya  jika pak Eko, guru Ekonomi sudah masuk kelas. Namun, Maya tidak berselera untuk ikut pelajaran, sama dengan dia tidak berselera untuk makan.
             “ Malas bu.” Jawab Maya seenaknya.
            Ibu kantin menggeleng-gelengkan kepalanya.
 “Dasar anak jaman sekarang. Punya kesempatan buat sekolah malah malas. Sementara banyak anak lain yang tidak bisa sekolah di luar sana.” Ibu kantin nggerundel  sendiri.
            Maya yang mendengar ucapan ibu kantin, hanya diam aja. Malas untuk menanggapinya.
Maya bergegas beranjak dari tempat duduknya.
            “Mau  masuk kelas,  neng? ” Tanya ibu kantin lagi.
            “Bolos bu,” jawab Maya ketus.
            Ibu kantin hanya bisa  mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala menatap kepergian Maya.
*
            Siangnya, sepulang sekolah Maya berniat menemui Ernest di studio tempat Ernest dan teman-teman bandnya yang tergabung dalam band The Arian biasa latihan.  Maya sudah menduga kalau hari ini Ernest dan teman-temannya pasti ada di studio, karena mereka sedang sibuk untuk mempersiapkan kompetisi festival band pelajar Nasional yang diadakan lusa, tepat dengan hari keberangkatan  Maya ke Jogja.
            “Maya,” Ernest kaget melihat kedatangan Maya.
Teman-teman Ernest yang lain langsung menghentikan permainan musiknya.
“Halo May,” sapa anak-anak yang lain berbarengan.
Maya membalas sapaan mereka hanya dengan senyum. Anak-anak lain heran dengan sikap Maya yang tidak seperti biasanya yang selalu ceria.
            “Bentar ya semua. Gue keluar dulu.” Ernest pamit keluar sambil menarik tangan Maya.
            “Ada apa, May?” Tanya Ernest setelah mereka berdua  duduk di ruang tamu studio musik.
            “Aku mau ngomong sesuatu, Nest. Penting.”
            “Kamu masih marah dengan kejadian kemarin, May?  Aku kan dah jelasin semua  ke kamu kalau ini semua hanya salah paham, May. Aku dan Tania nggak ada apa-apa.” Ernest memberikan pembelaan, menyangka Maya masih marah padanya. 
“Bukan itu, Nest.”
“Lalu apa, May?” tanya Ernest penasaran.
Maya diam sebentar, Nampak memikirkan kalimat yang tepat untuk diucapkan.
“Nest, besok lusa aku mau ke Jogja,” ucap Maya pelan.
“Ke jogja? Ngapain May? Besok lusa kan aku mau tampil. Kamu nggak mau nonton aku?”
“Maaf Nest, aku nggak bisa liat penampilan kalian. Karena mulai besok lusa,  aku pindah ke Jogja, Nest,” terang Maya pelan.
“Pindah?” Ernest kaget dengan pengakuan Maya dan setengah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
            “Pindah, May? Kamu dikeluarkan dari sekolah gara-gara kejadian kemarin?” Tanya Ernest masih dengan kekagetannya.
            Maya menggeleng.
            “Terus kenapa kamu mesti pindah ke Jogja?” Ernest terus memburu Maya dengan pertanyaan.
            “Ayahku yang meminta aku pindah.”
“Kenapa kamu tidak menolaknya, May?”
“Aku juga tidak  ingin pindah, Nest. Tapi, aku tidak bisa melawan semua keputusan ayahku. Keputusan ayah adalah hukum yang harus dilaksanakan, Nest.”
            Emosi di dalam hati Maya membuat Maya menitikkan air matanya. Ernest terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.
           
*
“Baik-baik dirumah eyang  ya, May.” Ucap Mama Maya sambil memeluk Maya erat.
            “Baik, ma,” jawab Maya lesu.
“Setiap sebulan sekali mama dan ayah akan jenguk kamu di Jogja,” ucap mama Maya lagi,  seakan tidak kuat berpisah terlalu lama dengan anak semata wayangnya ini.
Maya hanya mengangguk.
            “Eyangmu itu sangat disiplin , May. Jadi ayah harap kamu jangan hidup seenaknya disana. Hidup dirumah akan berbeda dengan hidup di rumah eyangmu, May,” nasehat ayah Maya.
            ‘”Iya, yah. Maya tahu kok,” jawab Maya ketus.
Maya nampaknya masih belum bisa menerima keputusan ayahnya yang sepihak ini. Maya kesal dengan ayahnya karena Ayah Maya tidak pernah mau mendengar keinginan Maya termasuk dalam menentukan kehidupannya sendiri.
            “Kamu masih marah , May?” Ayah Maya nampak bisa membaca pikiran anaknya.
            Maya menggeleng, berbohong.
            “Nanti kamu juga akan menyadari sendiri  bahwa ini semua demi kebaikanmu May.”
            Ayah Maya mencoba  membenarkan keputusannya. Maya hanya diam, sudah bosan dengan kalimat ayahnya ini. Ini semua bukan untuk kebaikan Maya tapi hanya untuk kebaikan ayah, protes Maya dalam hati.
Maya sebenarnya tahu kalau  ayahnya menyuruhnya pindah ke Jogja agar Maya bisa jauh dari Ernest yang kata ayahnya telah membawa banyak  pengaruh buruk pada Maya. Kepindahan Maya ke Jogja otomatis akan membuat   hubungan Maya dengan Ernest semakin jauh dan akan berakhir dengan sendirinya. Maya juga tidak tahu, kenapa ayahnya  sangat anti dengan Ernest.
“Hati-hati ya, May,” ucap Lulu dan Nika berbarengan sambil memeluk Maya bergantian. Kedua sahabat dekat Maya ini ikut mengantar kepergian Maya ke bandara.
            “Aku  akan   merindukan kalian.” Ucap Maya yang lagi-lagi tidak bisa menahan air matanya.
            “Kita juga, May, “ ucap Nika yang juga tidak tahan untuk tidak menangis
            “Jangan lupa kabar-kabar kita, ya May.” Lulu mengingatkan.
            Maya mengangguk.
Sebelum Maya masuk untuk check in penumpang, Maya kembali, menoleh  ke belakang. Maya masih berharap Ernest akan muncul disana, mengantarkan kepergiannya ke Jogja.
Namun, harapan Maya sia-sia Ernest tidak juga muncul. Ternyata Ernest lebih mementingkan festival bandnya  daripada mengantar kepergian Maya. Hati Maya kembali hancur.
*
            “Kenapa, Nest?” Tanya mas Yudi manager band  “The Arian” sambil menepuk bahu Ernest yang terlihat sedang melamun.
            “Nggak papa mas,” jawab Ernest, berbohong.
Namun sebenarnya,  hati Ernest sedang diliputi kebimbangan. Hati Ernest sedang bertarung antara keinginannya  pergi  ke bandara untuk mengantar kepergian Maya atau tetap disini menunggu bandnya tampil.
Jika dia ke bandara, maka dia harus rela tidak tampil dalam festival  band pelajar nasional yang sudah lama diidam-idamkannya ini dan sekaligus menghancurkan impian teman-teman bandnya. Ini adalah festival band pelajar yang  besar. Jika The Arians bisa memenangkan kompetensi ini, maka jalan mereka untuk menjadi band terkenal akan terbuka lebar.  Namun, jika Ernest tidak ke bandara dia akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengantar kepergian Maya.
            “Mas, percaya kamu bisa memberikan yang terbaik buat band kita. Ini festival yang telah kita impi-impikan. Berikan yang terbaik buat band kita ya Nest.” Mas Yudi menepuk-nepuk pundak Ernest berusaha memberi  semangat pada Ernest.
            Ernest hanya mengangguk sambil tersenyum.
Dari balik panggung, Ernest mengintip ke  kursi penonton. Biasanya, Maya selalu ada di barisan  paling depan jika sedang melihat Ernest dan bandnya manggung, Namun sekarang Maya tidak ada di kursi terdepan. Ernest merasa seakan-akan ada yang hilang.
Namun, di tempat duduk terdepan, Ernest melihat seorang  gadis   yang sedang  tersenyum padanya. Gadis tersebut melambai-lambaikan tangannya  kearah Ernest, mencoba memberi semangat pada Ernest. Ernest membalas senyuman dan lambaian gadis tersebut dengan  jengah.
            Di barisan paling depan,  Tania melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum kearah Ernest.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar