Sabtu, 26 November 2011

Sebuah Refleksi: Menjadi Cerdas dan Kompetitif dengan Waktu Oleh : Marsya Sinarani

Waktu, banyak orang yang kurang begitu menghargai sesuatu yang bernama waktu. Padahal waktu itu teramat mahal harganya dan jika sudah hilang, ya sudah, dia tidak akan kembali lagi. Hilang begitu saja .
            Ada sebuah cerita tentang waktu dan cerita ini mengenai diri saya sendiri.  Peristiwa ini dimulai pada waktu awal saya masuk SMA. Saya adalah orang yang  sedikit ambisius, ingin menjadi ini, ingin menjadi itu, ingin menang lomba ini, ingin menang lomba itu. Keinginan saya ini sebenarnya, dipicu karena saya ‘iri’ dengan keberhasilan beberapa teman saya. Mereka ada yang top di bidang model, ada yang  terkenal karena sering  tulisannya dimuat di beberapa majalah, ada yang menjadi duta wisata, ada yang menjadi putra atau putri daaerah  dan lain sebagainya.
            Dalam hati pokoknya saya harus lebih  dari mereka. Sebenarnya keinginan saya sangat besar dan boleh lah dikatakan menggebu-gebu. Keinginan yang besar itu boleh jadi menjadi modal awal  yang sangat baik bagi  saya untuk mencapai semua itu.
            Namun, apa yang terjadi sampai sekarang  pada saya. Sudahkah saya mencapai sebuah prestai yang membanggakan? Sudahkah saya terkenal atau paling tidak bisa membahagiakan diri saya sendiri?
Jawabannya adalah : sampai sekarang saya masih berada di titik nol alias masih menjadi orang yang biasa saja, tidak ada sesuatu yang bisa dibanggakan oleh saya, tidak ada potensi yang bisa saya lejitkan dan dikembangkan.
            Ini semua karena saya kurang menghargai waktu. Saya orangnya malas untuk melakukan sesuatu dengan cepat, karena selalu berpikir “masih muda ini, masih panjang waktunya”, seperti anak muda sekarang yang hobi menghabiskan waktu dengan senang-sanang tanpa guna. Iya kalau umur kita panjang, kalo takdir berkata lain. Meninggal pada usia muda pun  tidak ada yang bisa dibanggakan.
 Cara pikir seperti itulah  yang membuat saya kadang kalau sudah malas mengerjakan sesutau untuk menggapai cita-cita saya yang menggebu-gebu tadi, ya saya akan berhenti. Bahkan terkadang saya sering lupa dengan target saya itu karena terlalu asyik dengan yang namanya “senang-senang dengan teman”. Ya sudah kalau begini keinginan saya hanya tingal keinginan karena saya selalu menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan kepada saya untuk menggapai prestasi tersebut.
            Hasilnya sampai sekarang, saya cuma bisa melongo dan yah bisa dikata sedikit iri dengan keberhasilan teman- teman  yang  telah berhasil memanfaatkan potensi  pada dirinya. Di usia mereka yang masih muda mereka sudah bisa membanggakan. Sementara saya, usia sudah mau kepala dua tapi belum ada secuil prestasi yang bisa membuat saya tersenyum bangga untuk diri saya sendiri. 
            Lain lagi dengan teman saya yang sampai sekarang sudah mengukir banyak prestasi. Dia pernah pergi ke luar negeri untuk pertukaran pelajar (wah pasti menyenangkan sekali bisa merambah negera lain, sementara saya semnejak kecil hingga sekarang masih saja belum pernah keluar dari lingkungan Indonesia), memenangkan beberapa lomba, dan aktif dalam berbagai kegiatan.
            Mengapa dia bisa seperti itu di usia yang sama dengan saya? Saya dan dia sama-sama diberi waktu 24 jam sehari oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya dan dia juga sama-sama sudah hampir 20 tahun hidup di dunia ini. Mengapa dia bisa lebih berhasil daripada saya? Mengapa saya masih gini gini saja?
            Waktu  saya dengan dia memang sama, tetapi cara saya dan teman saya  ‘menghadapi’ waktu itu yang berbeda. Teman saya sangat menghargai waktu, dalam kamusnya tidak ada waktu yang terbuang secara percuma, apalagi untuk bengong (seperti yang sering saya lakukan kalau bingung tidak ada kerjaan). Sehingga 24 jamnya berjalan dengan bermakna dan memberi hasil. Sementara 24 jam saya ya kadang-kadanglah bermakna jika sifat rajin saya lagi kumat, kalau lagi malas ya saya menjalani 24 jam saya seperti orang koma, cuma diam tanpa hasil.
            Sebenarnya menjadi orang yang berhasil atau nenjadi sesorang yang cerdas dan kompetitif bukan hal yang susah buat kita, jika kita memanfatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Simaklah sepenggal kisah ini.
            Bang Hadi adalah seorang penarik becak yang sudah menekuni profesinya tersebut selama hampir 10 tahun. Dia biasa mangkal di gardu ronda di pojok perempatan desa. Disini memang letaknya strategis karena terletak di pemberhenti bus bus kota.
            Bang Hadi bukan penarik becak satu-satunya yang mangkal disitu, ada lima orang teman Bang Hadi lainnya. Apalagi sekarang ditambah dengan semakin  majunya jaman, saingan mereka bertambah dengan hadirnya tukang ojek baru.
            Karena sepinya penumpang dan banyak saingan, terkadang teman-teman Bang Hadi menunggu penumpang dengan bermain catur, bermain kartu atau tidur sambil menunggu rejeki datang. Berbeda dengan bang Hadi yang salalu memanfaatkan waktu dengan membaca koran atau buku. Yah walaupun koran dan  buku pinjaman dari penjual majalah yang mangkal disitu,  tentunya dengan ancaman tidak boleh lecek. Bang Hadi hanya mampu meminjam, untuk membelinya  rasanya sayang, hasil kejanya untuk mencukupi kebutuhan keuarganya saja masih sangat kurang.
            Namun, bang Hadi tetap rajin membaca, memperoleh beragam informasi dari seluruh dunia. Karena kegemarannya membaca itulah bang Hadi jadi mengetahui  banyak informasi di dalam dan luar negeri. Dia jadi tempat bertanya teman-temannya baik itu tentang PEMILU yang sebentar lagi mau diadakan, tentang bencana-bencana yang terjadi di negeri ini, tentang mental pejabat yang semakin bobrok, dan masih banyak lagi.
            Dari kebiasaan membaca, bang Hadi mulai tertarik untuk menulis. Paling tidak tulisan itu diunakan sebagai sarana untuk menyalurkan suara hatinya mengenai nasibnya dan rakyat kecil lainnya yang tidak kunjung membaik, tentang harga sembko yang semakin melonjak, tentang carut marutnya bangsa ini.
            Setiap hari sambil menunggu penumpang bang Hadi menulis apa saja yang ingin ditulisnya. Hingga sampai sekarang tulisannya sudah bertumpuk-tumpuk banyaknya. Sampai suatu hari ada temannya yang melihat dan membaca tulisan bang Hadi. Dia menyarankan untuk mengirimkan tulisan-tulisan tersebut ke koran atau majalah, agar tidak hanya bang Hadi saja yang membaca, namun semua orang bisa membaca tulisannya.
            Bang Hadi menuruti saran temannya. Dia mengirimkan tulisannya yang hanya ditulis dengan tulisan tangan di sebuah koran lokal. Awalnya ditolak memang. Namun,, bang Hadi tidak menyerah walaupun berkali-kali tulisnnya dikembalikan. Hal ini malah memicu semangatnya untuk tetap berkarya. Bang Hadi tetap semangat menulis di saat menunggu para penumpangnya. Hingga suatu hari, salah satu tulisan bang Hadi dimuat, menyusul tulisan-tulisan bang Hadi lainnya. Hingga honor yang didapat bang Hadi lumayan untuk menambahi keuangan rumah tangganya, dan sebagian disisihkan untuk membeli mesin tik.
            Karena kegigihan bang Hadi dan kecerdasannya dalam memanfaatkan waktu di tengah-tengah menunggu penumpang, bang Hadi bisa membeli mesin tik dari honor berbagai  tulisannya. Sehingga sekarang bang Hadi bisa menulis dengan mesin tik tanpa harus tulis tangan lagi.
            Hingga suatu hari ada pengumuman lomba menulis novel yang diselenggarakan oleh salah atu koran nasional terkenal. Bang Hadi tertarik ingin mengikutinya, bukan  semata-mata karena hadiah yang ditawarkan sangat menggiurkan. Namun, karena jiwa menulisnya serasa terpanggil untuk  menulis.
            Sepeti biasa, di sela-sela menunggu penumpang bang Hadi menulis novel untuk diikutkan pada lomba tersebut. Dia memilih mengangkat kisah tentang kehidupan tukang becak yang jauh dari kesejahteraan, namun mereka tetap semangat dalam menghadapi nasib yang serba kekeurangan tersebut.
            Tak dinyana,novel bang Hadi terpilih menjadi juara ke 2 dan akan diterbitkan oleh koran tersebut. Bang Hadi menerima hadiah yang lumayan besar dan dijanjikan akan menerima royalty dari keuntungan penjualan novelnya. Sekarang profesi bang Hadi telah bertambah menjadi penulis, kesjahteraan hidupnya makin meningkat.
Namun, bang Hadi belum mau meninggalkan profesinya sebagai penarik becak. Karena diatas becaklah tulisan-tulisan bang Hadi tercipta. Sehingga sekarang bang Hadi menjadi  tukang becak yang berprofei sebagai penulis.
            Apa yang bisa kita petik dari kisah di atas?
Ya. Jawaban dari keberhasilan yang telah bang Hadi peroleh adalah karena bang Hadi pandai  memanfatkan waktu.
Lalu sekarang bagaimana dengan Anda. Masihkah Anda menjadi orang yang sering  menyia-nyiakan  waktu Anda? Segeralah manfaatkan waktu Anda jika Anda tidak ingin menjadi orang yang biasa biasa saja. Cobalah memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang menarik bagi Anda dan tentunya berguna dan bermanfaat. Seperti kata AA Gym : Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini juga!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar