Sabtu, 26 November 2011

Cerpen Islami

P E N A N T I A N
Oleh    : Marsya Sinarani


            Nduk  itu ada undangan nikah dari Nurul.”
            Annisa memandang tertegun  secarik undangan yang tergeletak begitu saja di meja ruang tamu. Sementara ibunya sedang asyik menjahit, merampungkan pesanan para pelanggannya.
            “Nurul tadi yang kesini  bu?” Tanya Nisa sambil mengambil undangan tersebut.
            Ibunya hanya mengangguk.
            Nisa buru-buru membuka undangan tersebut.
Nurul adalah sahabat dekat Nisa sejak mereka masih kecil.  Rumah mereka  hanya terpisah lima rumah. Sejak di bangku TK,  mereka selalu bermain bersama. Sekolah pun di tempat yang sama dari TK  sampai  SMA. Ketika di perguruan tinggi mereka mengambil universitas dan jurusan yang berbeda. Nurul  mengambil jurusan  Pendidikan Agama Islam di Universitas di Yogyakarta sementara Nisa  mengambil Jurusan PGSD di Solo.
Nisa sama sekali tidak menyangka kalau Nurul akan secepat ini menikah. Memang belum lama ini Nurul sering  curhat dengannya kalau ada seorang ikhwan yang mengajaknya melakukan taaruf.  
Berkali-kali Nurul menyatakan keraguannya kepada Nisa. Berkali-kali pula Nisa memberi dorongan serta dukungan  kepada Nurul.
“Nurul bukannya cita-cita kamu untuk menikah muda?”
Di seberang diam.
“Lalu apa yang membuat kamu ragu Nurul? Kamu sudah lulus dan tinggal menunggu wisuda..”
Nurul masih diam. Nisa menunggu.
“Kamu juga ingin nikah muda kan Nis?” ucap Nurul tiba-tiba yang membuat hati Nisa membeku.
Nurul masih mengingat harapan dan cita-cita Nisa yang pernah mereka obrolkan dulu. Nisa akui memang dirinya mendambakan menikah muda dengan seorang pria yang sholeh, menyayanginya karena Allah SWT dan menjadi Imam yang baik dalam rumah tangganya.
Namun, semakin Nisa berharap Nisa merasa cita-citanya tersebut makin menjauh. Sekarang usia Nisa sudah menginjak 23 tahun. Nisa pun sudah tamat kuliah sekarang sedang magang  di SD di daerahnya. Jangankan tanda-anda akan menikah, sampai saat ini  tidak ada satu pun pemuda yang mendekatinya.
“Nisa kamu itu cantik, baik, Sholehah. Pasti nanti kamu akan cepat dapat jodoh yang baik,” begitu selalu Nurul menguatkan hati Nisa, setiap Nisa mengutarakan kekhawatirannya yang belum juga dapat jodoh.
Nisa mengakui kecantikannya dan sedikit berbangga karenanya. Dari SMP sampai SMA karena kecantikan Nisa,  banyak teman-teman cowoknya yang ngefans dan berusaha mendekati Nisa. Namun, Nisa merasa tidak cocok dan tidak suka dengan semua cowok yang mendekatinya. Karena menurut Nisa dengan sombongnya berpikir  mereka semua tidak layak dan tidak level untuk menjadi cowoknya.
Tak jarang dengan ketus Nisa menolak mereka mentah-mentah, dari menyobek surat yang dikirim untuknya, membuang hadiah  yang ditemukannya di laci ke  tempat sampah sampai menolak dengan kasar  cowok yang mengajaknya makan bareng.
Namun, itu dulu. Semenjak  Nisa kuliah,  dia  mulai  berubah. Sekarang Nisa sudah menjadi akhwat yang mengenakan jilbab. Jilbab yang dikenakan Nisa pun lumayan lebar. Perubahan inilah yang membuat Nisa ingin menikah secepatnya. Menjalankan sunah Rasulullah.
“Aku iri Nis ma kamu. Jika dipikir  secara logika pasti kamu yang akan nikah duluan,” ucap Nurul pada saat mereka curhat sama-sama mengutarakan keinginan mereka untuk menikah muda.
Nisa tersenyum, menyimpan rasa bangga  dalam hatinya. Nisa berpikir pasti dia akan menikah dulu dibandingkan dengan Nurul yang wajahnya biasa saja, pemalu dan tidak pandai bergaul.
Tanpa mereka sadari ternyata keinginan mereka untuk menikah muda menjadi semacam persaingan tidak tertulis diantara mereka. Terutama bagi Nisa yang ingin sekali bisa menikah dulu dibanding Nurul.
Nisa tersadar dari lamunannya ketika suara diseberang memanggilnya.
“Kok diam Nis. Aku salah ngomong ya,” Nurul terdengar merasa bersalah.
Nisa menggeleng.
“Eh, emhh nggak papa kok Nurul. Kamu masih ingat saja obrolan kita dulu. Itu kan dulu Nurul. Sekarng kita sudah matang sudah tahu kapan saatnya kita siap untuk menikah.” Jawab Nisa. Walaupun dalam hatinya, Nisa merasa sakit.
Nurul hanya menangguk, hatinya yang tadi gundah sekarang menjadi  lebih tenang.
“Jadi kamu mendukung aku untuk taaruf kan Nis?” Tanya Nurul tiba-tiba.
“Tentu saja Nurul, kamu sahabatku. Apapun yang baik untuk kamu, aku akan mendukungmu seratus persen,” ucap  Nisa mantap.
*
            “Ibu nggak nyangka Nurul akan secepat ini menikah,” suara ibu Nisa mengagetkan Nisa.
            Nisa hanya bisa mengangguk. Ternyata jawaban dari taaruf itu adalah Undangan pernikahan yang sekarang berada di tangan Nisa.
            “Kamu kapan Nis, nyusul sahabatmu itu?” Tanya ibu Nisa tiba-tiba yang membuat hati Nisa menjadi  semakin tertohok.
            Belum habis kesedihan Nisa menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini, dengan  terang-terangan ibu Nisa menuntutnya unuk segera menikah walaupun dengan bahasa yang lembut, sudah cukup menancapkan luka di hati Nisa.
            Nisa hanya diam, tanpa terasa sebutir air mata jatuh di pipi Nisa.
            Kapan? Kapan aku akan membina rumah tangga sementara seorang pria pun tidak pernah mendekatiku apalagi mengajak aku melakukan taaruf. Teriak hati Nisa.
Tiba-tiba Nisa merasa dunia menjadi tidak adil untuknya. Apa yang kurang dari dirinya. Padahal setiap selesai shalat Nisa selalu berdoa, meminta kepada Allah untuk diberikan jodoh yang terbaik untuknya. Namun, sampai saat ini tidak ada tanda-tanda doanya akan terkabul.
            Tiba-tiba Nisa menjadi orang yang paling malang di dunia. Apakah Allah tidak ridho dengan do’anya apakah ini karma bagi Nisa yang dulu selalu berkata kasar kepada cowok-cowok yang mendekatinya sewaktu SMP dan SMA.
            Banyak pikiran Nisa yang berkecamuk di otaknya. Membuat dada Nisa menjadi semakin sesak. Tiba-tiba Nisa teringat perkataan guru ngajinya kemarin ketika Nisa curhat tentang keiginannya menikah yang tidak  kunjung terjadi.
            “Nis, Allah itu sesuai dengan persangkaan hambanya.”
            Nisa buru-buru mengucap istigfar sebanyak-banyaknya, dan membuang segala pikiran buruknya tentang Allah.
            Nisa buru-buru mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat Dhuhur dan meminta maaf pada Allah serta tidak  lupa berdoa meminta kepada Allah tentang yang selama ini selalu diminta oleh Nisa dalam doa khusuknya.
*

            Nurul nampak cantik sekali mengenakan baju pengantin muslimah berwarna hijau muda bersanding dengan mempelai pria yang juga tampan. Mereka memang layak menjadi  raja dan ratu sehari. Nisa menyalami Nurul dan memeluk sahabatnya itu dengan hangat.
            “Selamat ya Nurul. Aku ikut berbahagia.”
            Nurul memeluk Nisa dengan erat.
            “Makasih ya Nisa. Kamu pasti nanti akan merasakan hal ini juga,” ucap Nurul mantap.
            “Amin,” ucap Nisa sambil menguatkan hatinya.
            Nisa memberikan ucapan selamat kepada  suami baru Nurul.
Nurul menceritakan kepadanya kalau seorang pria yang mengajaknya taaruf adalah anak kenalan orang tuanya yang sudah bekerja menjadi PNS di Departemen Agama. Sungguh beruntung sekali nasib Nurul.
*
Dua bulan  kemudian
            Kesibukan Nisa mengajar, lambat laun mengobati luka hatinya akan keinginannya untuk menikah muda. Walaupun Nisa terkadang masih mengingatnya,  tapi tidak sesakit  dulu. Karena sekarang Nisa sudah memasrahkan semuanya kepada Allah SWT dan Nisa juga telah menanamkan prasangka baik dalam hatinya bahwa kelak pasti Allah SWT akan memberikan jodoh yang terbaik buatnya. Jika tidak sekarang atau dalam waktu dekat ini, pasti nanti Allah akan mempertemukannya dengan jodohnya itu.
            HP Nisa bergetar. Untung Nisa sedang tidak mengajar. Nisa langsung keluar dari kantor untuk menerima telpon tersebut.
            “Assalamualaikum Nisa,” sapa suara di seberang.
            “Walaikumsalam. Ini siapa ya?” Tanya Nisa.
            “Ini Nurul, Nis. Masak lupa dengan suaraku.”
            “Ya ampun pengantin baru tho. Bagaimana dengan kehidupan baru kalian?” Tanya Nisa antusias.
            Nurul hanya tersenyum.
            “Alhamdulilah menyenangkan. Mas Rizal orangnya sangat penyanyang. Tiap hari serasa bulan madu.” ucap Nurul malu-malu.
            Nisa menggoda Nurul.
            “Oya Nisa ada berita penting yang mesti aku sampaikan padamu,” ucap Nurul yang tiba-tiba berubah menjadi serius.
            “Berita apa Nurul?”
            Nurul diam, sepertinya sedang menata kalimat yang akan diutarakannya kepada Nisa.
            “Kalau ada seseoang yang mengajakmu taaruf apakah kamu mau?” Tanya Nurul  to the point yang langsung membuat jantung Nisa mau copot.
            “Maksudmu Nurul?”
            “Mas Rio temannya mas Rizal di Depag  ingin mengajakmu taaruf.”
            “Mas Rio siapa?” Tanya Nisa semkain tidak mengerti.
            “Mas Rio melihat kamu di pernikahanku dulu. Mas Rio tertarik pada kamu lalu dia banyak bertanya kepadaku tentang kamu. Aku pun banyak bertanya tentang mas Rio terhadap Mas Rizal. Ternyata mas Rio orangnya sholeh, baik, mapan , bertanggung jwaba dan aku yakin dia baik untuk kamu. Makanya aku ma mas Rizal  mau menjadi perantara bagi kalian untuk melakukan taaruf. Gimana Nisa?” Tanya Nurul diseberang dengan  bersemangat.
            Nisa masih diam, masih tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Nisa tidak menyangka jawaban Allah  terhadap doanya akan datang secepat ini, dikala Nisa tidak terlalu memikirkannya. Sekarang Allah telah memberikannya sebuah  kesempatan yang indah, apakah Nisa pantas untuk menyia-nyikannya?
“Gimana Nisa. Kok diam?” Tanya Nurul tidak sabar.
“Iya  Nurul, aku mau,” jawab Nisa mantap.
Biarlah Nisa mecoba dulu. Selanjutnya urusan nanti jadi apa tidaknya,  Nisa pasrahkan kepada Allah SWT, Maha yang mengetahui yang terbaik bagi hamba-hambanya.

2 komentar:

  1. Ceritanya bagus kak, menarik...
    kunjungi blog saya yaa, dengan tulisan yang berjudul "Media Sosial" Catatan Rahasia69
    Butuh kritik dan sarannya kak...
    Terimakasih :-)

    BalasHapus