Minggu, 04 September 2011

Pengalamanku menulis part 2


Selamat Datang Mood dan Mari Menulis


            Ada orang yang beranggapan kalau menulis itu membutuhkan mood. Benarkah?
Saya sudah merasakan bagaimana susahnya menulis jika saya sedang tidak ada mood untuk menulis. Niatan untuk menulis selalu ada. Tapi kekuatan yang menggerakkan kea rah sana nol sama sekali. Yang ada cuma angan-angan saja untuk menghasilkan sebuah tulisan. Sementara otak tidak tergerak untuk berpikir dan tangan  pun tidak  bergerak untuk membuat goresan-goresan cantik.  Alasan tidak ada mood  ini juga lah  yang sering digunakan sebagai pembenar untuk mereka-mereka termasuk saya  yang  mendadak ‘mandeg’ menulis.
            Lalu jika begitu benarkah menulis membutuhkan mood. Saya ketika sedang tidak ada mood untuk menulis, sampai kapanpun otak dan tangan saya tidak tergerak untuk berkarya. Karena tidak ada kekuatan yang mendorong saya untuk menulis. 
Sampai disni, bisa saja benar, bahwa menulis ‘jelas’ membutuhkan mood yang merupakan  ‘penggerak’ untuk tangan dan pikiran kita.
 Namun yang menjadi pertanyaan sekarang Jika mood itu tidak muncul-muncul  jua, kapan kita bisa menulis? Jangan harap sampai tua kita bisa menghasilkan sebuah karya. Kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan? Menunggu begitu saja mood datang atau kita sendiri yang mengusahakan datangnya mood itu
            Jika mood ternyata bisa dipaksa datang lalu kenapa kita hanya berpangku tangan untuk menunggu datangnya mood yang bagai durian runtuh bagi penulis.  Mengapa kita tidak mencoba merayu datangnya mood dengan berbagai cara yang  sederhana dan mudah dilakukan.
a.      Jangan Biarkan Kita Terbuai alam Malas yang Berkepanjangan.
Orang malas itu biasa, bisa karena jenuh atau pikiran sedang buntu. Tapi kalau malas dipelihara terus menerus, itu namanya penyakit. Orang malas di sekitar kita sangat mudah di temukan. Ada yang malas bekerja, malas belajar, dan malas menulis. Jika kamu  termasuk golongan orang yang punya bakat mnulis dan ingin  menulis,  tapi malas untuk menulis, nah. Maka segeralah rubah kebiasaan malas kamu saat ini juga.
Merubah sifat malas menulis, bisa dimulai dari aktivitas yang ringan seperti membaca buku. Membaca buku bukan aktifitas yang berat bukan, kita hanya duduk sambil membaca  Pertama yang perlu diperhatikan, bacalah  buku yang menarik dan menyenangkan  untuk kamu. Buat yang suka novel bisa membaca novel, buat yang suka sastra bisa membaca sastra. Buat yang suka sejarah, sah-sah saja baca buku sejarah.  Biarkan kita tenggelam dalam keasyikan membaca. Dengan membaca pikiran kita akan menjadi luas, kita pun akan semakin terinspirasi oleh beberapa hal bersumber dari buku bacaan yang kita baca.
Walaupun kita belum mulai menulis, tapi percayalah dari awal hanya membaca akan menggerakkan keinginan kita untuk menulis. Ini dialami sendiri oleh saya. Saya yang sedang malas menulis, daripada hanya menonton TV apalagi hanya bengong akhirnya saya membaca buku, satu buku habis baca lagi. Jika sudah begini  pikiran  kita akan penuh dengan berbagai macam  informasi bahkan tidak mungkin akan timbul  ide-ide hasil dari membaca. Kalau sudah begini, tentunya  kita ingin “menuangkan” kepenuhan otak kita lewat media menulis bukan? Nah.
b.      Tulis apa saja.
Orang mungkin berpikir menulis itu seperti menulis artikel, essai, berita, puisi,  novel atau cerpen. Namun ketika kita sama sekali tidak ada ide untuk menulis cerpen apalagi novel tentu yang ada kebuntuan, ujungujungnya  jadi malas menulis.
Cobalah untuk berpikir out of the box. Tulislah apa saja yang ingin kamu tulis, tidak harus berpatok pada apakah yang kamu tulis itu novel, puisi, cerpen, esai, puisi, atau cerita humor. Tulislah kejadian apa saja yang dialamai kamu hari ini, tulislah bagaimana perasaanmu hari ini dan tulislah beberapa kejadian-kejadian menarik yang terekam oleh otakmu. Tulis saja, mengalir apa adanya, jangan perhatikan dulu  keindahan bahasa, EYD, apalagi memperhatikan jenis huruf, margin kanan dan margin atas. Pokoknya tulis semuanya apa yang ingin ditulis, biarkan mengalir sesuai dengan apa yang ingin Anda keluarkan.  Dengan begini maka  akan  timbul rasa ‘lega’ otak dan pikiran kita karena sudah menuangkan ide dengan lancar.
Lalu kalau sudah begini mau dikemanakan tulisan saya? Begitu mungkin yang muncul di pikiran kamu setelah selesai menuliskan semua apa yang ingin kamu tulis.
Pertama, bacalah kembali  hasil yang telah kamu tulis tadi. Dari situ akan muncul ide-ide yang bisa dikembangkan untuk sebuah cerpen atau bahkan novel.
 Manfaat lainnya, kegiatan menulis seperti ini  akan melatih kita untuk lancar dalam menyalurkan ide dan sekaligus juga wahana  belajar menulis.
c.       Temukan Tempat yang Nyaman bagi Kamu.
Kalau yang ini tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Intinya adalah menulislah di tempat yang kira-kira kamu betah berlama-lama disana. Jika kamu merasa nyaman menulis di kamar dengan pintu terkunci dan suara music yak eras, maka lakukanlah. Jika kamu tipe orang yang suka tempat yang sepi untuk menulis karena dengan begitu ide-ide mudah datang, ya menulislah di tempat yang sepi.
Intinya carilah tempat yang senyaman mungkin bagi kamu untuk menulis. Jika perlu sediakan juga snack atau minuman agar terhindar dari bosan. Tapi usahakan snack dan minumannya yang sehat. Tidak mau kan selain menghasilkan tulisan kita juga menghasilkan perut gendut gara-gara kebanyakan ngemil?


            Kalau sudah begini  saya sekarang berani mengatakan bahwa  hanya orang manja yang hanya menunggu datangnya mood untuk menulis tanpa ada usaha untuk menjemput mood. Iya kalau mood itu datang. Kalau  tidak datang juga. Silahkan saja tunggu sampai tua.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar