Kamis, 10 Februari 2011

Cerpeeeeen

DOKTER GIGI


“Pokoknya Kikan nggak mau,” teriak Kikan nyaring, memecah keheningan di siang bolong.
            “Terus kamu mau nahan sampai kapan sakit gigimu itu?” tanya mama gemas sendiri. Capai membujuk Kikan yang keras kepalanya bukan main.
            “Nanti juga sembuh sendiri,” jawab Kikan  ngasal.
            “Gigimu itu perlu ditambal, Kan. Bolongnya saja sampai dua gigi.” Mamanya hanya  bisa geleng-geleng kepala, heran dengan kelakuan anak tunggalnya ini.
Walaupun Kikan sekarang sudah menjadi anak kuliahan, masih saja fobia sejak kecil belum  juga hilang. Kikan memang anti sekali dengan yang namanya dokter gigi. Jangankan masuk ruangannya, mendengar nama dokter gigi disebut saja Kikan sudah begidik.
            Kejadian ini berawal saat Kikan masih kecil. Waktu itu Kikan sedang duduk di kelas 1 SD. Gara-gara berkelahi dengan Dimas - musuh bebuyutan Kikan yang  juga  kakak kelasnya  yang duduk di kelas III - ,  Kikan jatuh tersungkur dan gigi depan bagian atas  goyah dan berdarah. Terang saja Kikan yang waktu itu masih kecil langsung menangis histeris. Dimas malah tertawa senang melihat Kikan menangis kesakitan.
            Mama dan papa Kikan bermaksud  membawa Kikan ke dokter gigi untuk dicabut giginya karena goyah. Tentu saja Kikan memberontak, tidak mau dibawa ke dokter gigi karena kata teman-temannya kalau dicabut giginya, sakitnya bukan main.
            Papa dan mama tetap ngotot, mamaksa Kikan ke dokter gigi. Kikan pun kalah. Akhirnya gigi  depan Kikan yang goyah  dicabut juga oleh dokter gigi.
Penderitaan Kikan tidak berakhir sampai di situ. Keesokan paginya ketika Kikan masuk sekolah, teman-temannya  tertawa mengejek gara-gara melihat gigi Kikan ompong di depan  dan mulai sejak itu Kikan resmi  dipanggil “si nenek  ompong”.  Dimaslah yang paling semangat dan paling keras mengejek Kikan.
“Sudah jangan hiraukan teman-teman Kikan. Nanti giginya  bisa  tumbuh lagi kok sayang.” Begitu selalu tenang mama kalau Kikan mengadukan kelakuan teman-temannya yang tidak berhenti mengejeknya.
Sejak saat itu Kikan benci dengan  dokter gigi dan tentu saja  benci dengan  Dimas, karena Dimaslah  yang membuat giginya  harus dicabut dan membuat Kikan selalu jadi bahan ejekan teman-temannya karena giginya ompong di depan.

*
            Sepanjang malam Kikan tidak berhenti mengeluh kesakitan. Giginya yang berlubang  dua di sebelah kanan dan kiri terasa sangat ngilu dan sakitnya menusuk-nusuk tidak karuan. Memejamkan matanya pun Kikan tidak bisa walau sudah dipaksa. Alhasil sepanjang malam Kikan tidak bisa tidur sambil menahan sakit di giginya.
            Bahkan keesokan paginya pun Kikan jadi  tidak berselera untuk makan nasi goreng buatan mamanya yang menjadi makanan favoritnya. Gara-gara sakit gigi,  Kikan jadi benar-benar mati kutu.
            “Kan, temenin mama ke rumah sakit yuk,” ajak mama.
            “Mama sakit apa?” tanya  Kikan, suaranya  seperti mengigau karena sambil menahan sakit gigi.
            “Nggak  tahu neh,  nafas mama semalam agak sesak. Mama pengen periksa. Kamu hari ini nggak ada kuliah kan?”
            “Aduh ma sama papa aja ya. Kikan kan juga lagi sakit gigi. ” Kikan melirik papanya yang sedang sibuk baca koran sambil makan roti selai.
            “Waduh Kan, papa nggak bisa. Papa ada janjian ma klien pagi ini, penting,” tolak papanya .
            “Ayo Kan, mama kan nggak bisa nyetir mobil. Lagian kamu tahu sendiri mama takut kalau naik kendaraan umum,” bujuk mama  lagi.
            “Iya Kan kamu temanilah mamamu ke rumah sakit. Kasihan mamamu sakit.” Papa Kikan ikut mendukung mama.
            “Iya, iya,  nanti Kikan temenin.” Kikan yang terpojok, akhirnya terpaksa menurut  dengan muka sedikit merengut.
            Mamanya tersenyum senang begitu juga dengan  papa.

*
            Sesampainya di rumah sakit. Mama menyuruh Kikan menunggu di ruang tunggu, sementara mama mendaftar. Kikan tidak berhenti  memegang pipinya, menutupi pipinya  yang semakin bengkak. Karena selain malu tidak terlihat oke, rasa ngilu semakin sering menyerang.
            Ruang dokternya di lantai tiga, Kan,” tegur mamanya tiba-tiba yang sudah berdiri di samping Kikan.
            Kikan mengangguk lalu mengikuti langkah mamanya dengan lesu naik ke lantai tiga melalui lift.
            Sesampai di lantai tiga, Kikan setengah kaget ketika melihat papan di depan bertuliskan bagian pemeriksaan gigi.
            “Kok ke sini ma?  Mama kan sesak nafas, periksanya  di bagian penyakit dalam.”
            “Ya memang ke sini kan. Kamu sakit gigi to?”
            “Loh mama kan yang mau berobat, bukan Kikan.” Kikan mulai protes tidak senang  karena dibohongi mamanya.
            “Iya mama memang  berobat,  tapi setelah kamu berobat dulu. Gigimu tuh harus ditambal, Kan. Mama juga  tidak tahan kalo setiap malam mesti  mendengar kamu mengerang kesakitan terus.”
            “Tapi kan mama tau Kikan anti sama yang namanya dokter gigi. Pokoknya Kikan nggak mau. Ayo kita pulang  ma.”
            “Kikan Winatrya.” Belum sempat Kikan berbalik, seorang suster memanggil nama Kikan. Pertanda telah tiba giliran Kikan untuk diperiksa.
            “Iya sus, ini anaknya,” jawab mama Kikan  segera sambil menarik tangan Kikan yang sedikit meronta ke depan suster di pendafataran.
            “Ruang 3 ya mbak.” Perintah  suster itu sambil menyerahkan sebuah kartu ke Kikan.
            Kikan sedikit ragu meraih kartu itu lalu hanya diam berdiri  di tempat.
            “Ruang tiga mbak,” perintah suster itu lagi menjadi sedikit tidak sabar dengan Kikan yang malah berdiri mematung.
            Kikan hanya mengangguk, menoleh ke mamanya. Mamanya dengan isyarat menyuruh Kikan segera masuk ke ruangan dokternya.
“Mama tunggu di luar,” ucap mamanya.
Akhirnya dengan  berat hati, Kikan  melangkahkan kakinya ke ruang tiga. Dalam hatinya Kikan sebal sekali dengan mamanya yang telah menipunya, hingga sekarang dia harus benar-benar ke dokter gigi dan tidak bisa mengelak lagi.
            Kikan membuka pintu  ruangan pelan-pelan. Betapa kagetnya Kikan ketika melihat siapa yang duduk di ruangan memakai jas putih. Wajah yang selama ini dibenci Kikan, orang yang selalu menjadi musuh Kikan baik di sekolah maupun di kompleks rumahnya dulu. Orang yang di dalam  ruangan pun tidak kalah kaget melihat Kikan
            “Dimas,” ucap Kikan lirih.
            “Si nenek ompong, ” sapa Dimas sambil  tersenyum nakal, bercanda.
Kikan merengut kesal mendengar julukan itu kembali disebut. Ingin rasanya Kikan kabur dari ruangan ini. Jika teringat masa lalunya Kikan jadi sebal dengan Dimas. Kakak kelasnya sejak TK sampai SMP ini memang  selalu menjadi musuh utama Kikan. Ada saja hal yang membuat mereka bertengkar. Dari mulai Dimas yang sering ngejahilin Kikan, sampai rebutan baca buku di perpustakaan.
            “Sudah lama ya  kita nggak  bertemu selepas  tamat SMP. Gimana kabarmu?” tanya Dimas lebih ramah. Berbeda sekali  dengan dulu saat  mereka masih  kecil, di mana mereka sering musuhan.
            “Baik. Kamu sekarang sudah jadi dokter gigi?” tanya Kikan mulai melupakan rasa kesalnya perlahan.
            ”Aku masih qoas disini kok, Kan. Kamu kok bisa pindah ke kota ini?” tanya Dimas.
            “Ayahku pindah tugas ke ]sini.”
            Dimas mengangguk lagi.
“Sini aku periksa gigimu dulu.”
            “Nggak dicabut kan, Dim?” tanya Kikan sedikit takut.
            Dimas tertawa.
“Palingan dicabut gigi depannya, Kan,” canda Dimas.
Kikan mendelik kesal.
            “Kalo cuma berlubang, nanti hanya ditambal kok,” ralat dimas buru-buru sebelum Kikan benar-benar marah.
            “Kamu jarang gosok gigi, ya Kan sampai bisa berlubang dua?” canda Dimas ketika memeriksa gigi Kikan.
            “Enak aja. Aku gosok giginya sehari saja nyampe tiga kali. Emang kamu jarang mandi waktu  kecil.” Balas Kikan.
Mereka berdua tertawa.
Sesi pemeriksaan pun berubah menjadi obrolan mengasyikkan dan  ejeken-ejeken kecil mengenang masa lalu mereka. Satu hal yang Kikan sadari saat itu juga,  ternyata di tambal giginya nggak sesakit apa  yang dibayangkan oleh Kikan. Malah menurut Kikan menyenangkan karena Dimas yang menambal giginya. Hehe
            Sementara itu, mama Kikan yang menunggu di luar sedikit heran karena  Kikan lama sekali  tidak keluar-keluar dari ruangan.
            “Ngobrolnya lanjutin besok ya, Kan. Nanti aku telepon kamu. Kasihan pasien di luar menunggu.” Ucap Dimas yang telah sadar sesi pemeriksaannya dengan Kikan terlalu lama karena saking keasyikan ngobrolnya.
            Kikan mengangguk senang dan keluar dari ruangan dengan wajah sumringah dan tersenyum. Aneh, sejak saat ini Kikan jadi tidak benci dengan dokter gigi dan tentunya tidak benci dengan Dimas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar