Kamis, 27 Januari 2011

Motivasi dan Inspirasi dalam Kehidupan Sehari-hari




AKU PUN  BISA !


Aku masih mengingat hari itu. Dimana saat itu aku seperti kehilangan  semangat dalam hidup ,bosan dengan rutinitas harian, termasuk rutinitas kuliahku, bahkan tak jarang aku membolos.  Sampai akhirnya aku bertemu dengan  seorang temanku ketika  di SMA dulu . Keluh kesahku hanya dia tanggapi dengan senyum dan secuil cerita yang sangat luar biasa darinya. Dia pun memulai cerita itu.
*
Aku  hanya memandang iri teman-temanku yang sedang  ribut membicarakan brosur beberapa universitas. Satu sama lain saling berargumen, tidak mau kalah.
            “Kalo aku pengen kuliah di Jogja. Lebih deket dan katanya biaya hidupnya sangat murah.”
            “Aku pengen ngambil Psikologi UI.”
            “Aku pengen kedokteran UGM.”
            Ya. Semua teman-temanku  sekarang sedang sibuk mempersiapkan masa depan mereka. Ujian yang tinggal beberapa bulan lagi, sebagai pertanda bahwa kami akan mengakhiri masa putih abu-abu ini dan juga pertanda kami harus siap melangkah ke masa depan kami masing-masing. Mau jadi apa kamu setelah lulus ?
            Sementara teman-temanku  asyik berkhayal  tentang masa kuliah yang katanya sangat berbeda dengan saat-saat di SMA. Aku malah sama sekali tidak terpikir hal tersebut. Sepertinya aku harus menahan diri untuk tidak iri dengan teman-temanku dan bersiap menyongsong masa depanku sendiri.
            Sebagai anak seorang penjual  batagor keliling, sangat mustahil bagiku untuk mengecap bangku kuliah, bangku yang sangat menggiurkan bagiku. Aku pun selalu berusaha mengubur dalam-dalam keinginanku untuk kuliah. Namun, keinginan tersebut selalu tergali dan terus tergali setiap aku mendengar celotehan temenku tentang kuliah, setiap aku melihat betapa bingungnya temenku menentukan pilihan jurusan.
            “Dengan kuliah, wawasan kita akan semakin luas ,” dengung sebuah suara yang menyentil pikiranku.
            “Aku bisa  menambah wawasan dengan membaca buku.” bantahku
            “Jika kita sudah jadi sarjana  kita akan dapat mudah mencari kerja,” dengung sebuah suara lagi.
            “Buktinya sekarang banyak sarjana nganggur,” aku tidak mau kalah.
            “Kamu akan dapat jabatan yang tinggi dan jadi orang kaya jika minimal bergelar sarjana. Jika hanya tamat SMA palingan kamu juga  jadi buruh.” Suara itu menekanku lagi lebih keras.
            “Bob Sadino yang lulusan SD saja bisa  jadi orang kaya raya.” Bantahku lagi yang juga tak kalah keras.
            Dan pergolakan batin ini selalu menghantuiku sampai akhirnya aku lulus SMA.
Setelah lulus SMA , sementara teman-temanku pergi merantau untuk kuliah,  aku pun bekerja sebagai penjaga  toko . Ya, memang  inilah jalan hidupku sebagai anak dari orang tua yang kurang mampu, bagiku bisa  kuliah adalah mimpi. Dan aku pun harus puas dengan pekerjaanku   sebagai penjaga toko  dengan ijazahku yang hanya SMA.
Tapi entah kenapa, impian untuk tetap kuliah itu masih ada. Sampai pada suatu saat aku mendapati sebuah kalimat yang langsung menggugah hatiku dan menguatkan keinginanku untuk kuliah.
“manusia hidup dengan mimpi dan hidupnya akan menjadi lebih berwarna jika diisi dengan usaha keras untuk mewujudkan mimpinya itu”
AKU INGIN KULIAH. Itu adalah mimpiku , kata itu menjadi bercokol kuat di otakku dan seperti berteriak-teriak minta diwujudkan. Aku pun merasa tertantang untuk meraih mimpiku itu. Aku mulai memutar otakku, berpikir keras. Aku mulai rajin bekerja, penghasilanku aku sisihkan sedikit demi sedikit. Selain menjadi penjaga toko aku juga menyambi kerja mengajar di SD di daerahku yang kekurangan guru , walaupun hanya sebagai GTT dan dengan gaji yang sangat sedikit. Namun, aku bersyukur karena aku mendapat tambahan uang untuk aku tabung.
            Entah, karena kebetulan atau apa aku melihat selebaran brosur sebuah universitas swasta di daerahku. Di dalam brosur itu tertulis beasiswa bagi 5 pendaftar dengan nilai tertinggi di tes ujian masuk. Tentu saja aku tidak  menyia-nyikan kesempatan ini. Jalan menuju impianku sudah dibuka oleh Tuhan.  Aku lalu mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang universitas tersebut dan juga  tentang pendaftaran mahasiswa baru disana. Aku mulai giat belajar , tentunya aku belajar  di sela-sela aku mengajar pada pagi hari  dan menjaga toko pada siang sampai sore hari . Selain itu tentunya tidak lupa aku rajin berdoa dan meminta restu orang tuaku.
            Akhirnya aku  mendapatkan beasiswa tersebut karena hasil tes ujian masukku bertenger di posisi 5 yang merupakan posisi juru kunci untuk meraih beasiswa tersebut.  Walaupun beasiswa itu tidak penuh, karena aku  masih harus membayar uang kuliah yang sudah dipotong dengan beasiswa tersebut. Namun,  aku sangat bersyukur. Impianku itu akhirnya terwujud. Aku pun mulai kuliah perdanaku dan tetap menjalankan pekerjaanku sebagai guru GTT di sebuah SD karena aku masuk kuliah sore. Aku meninggalkan pekerjaanku sebagai penjaga toko  yang kini sudah digantikan aktivitas baruku yaitu kuliah. Kini aku membiayai kuliahku dengan gajiku sebagi GTT dan aku pun mulai  rajin menulis cerpen atau essay untuk dikirim ke media massa.
Kini aku   menyadari bahwa kenyataan aku bisa duduk di bangku kuliah sekarang bukan karena keberuntungan, namun ini semua adalah buah dari kerja keras  dan semangat pantang menyerahku. Karena aku tahu Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk mereka yang memiliki usaha terbaik juga.
Sekarang aku sudah akan lulus dari bangku kuliahku dan kini aku sudah mulai bersiap untuk menata karirku ke depan. Aku harus mempersiapkan semua dengan matang dan tidak lupa dengan usaha dan juga doa. Aku tidak  mau terlena dengan kebanggaanku bias  kuliah dan menjadi sarjana. Karena ternyata masih ada jalan panjang untuk mencapai kesuksesan.       Dan ternyata kesuksesan kita dibentuk oleh kemauan, kerja keras dan sikap pantang menyerah kita. Bukan hanya terbatas pada kuliah atau tidaknya kita.
*
“Kamu sangat beruntung bias kuliah tanpa harus dipusingkan dengan bagaimana membayar biaya kuliah.” Begitu kata temanku mengakhiri ceritanya yang membuatku sedikit tercenung.
Sekarang aku merasa menjadi orang naïf dan bodoh sedunia. Aku hanya tinggal belajar tanpa perlu memikirkan uang yang tentunya selalu dipenuhi oleh orang tuaku, kenapa masih ada rasa malas  bahkan bolos kuliah. Sekarang aku tidak ingin melewatkan begitu saja kesempatanku untuk kuliah. Kini aku mulai bersemangat untuk kuliah dan tentunya menyongsong karir impianku setelah lulus. Tentunya dengan usaha, kerja keras, semangat pantang menyerah, dan doa.

* terinspirasi dari beberapa  kisah nyata  dari  mahasiswa- mahasiswa yang kuliah dengan modal beasiswa dan biaya sendiri dari bekerja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar