Mereka Bukan Sapi Perah
Oleh : Marsya Sinarani


1 mei atau yang lebih dikenal dengan Mei Day adalah hari buruh sedunia yang selalu diperingati setiap tahunnya oleh para pekerja di seluruh dunia. Ada suatu momen atau tradisi rutin yang terjadi pada saat  tanggal tersebut tiba, yaitu demo para buruh yang terjadi dimana-mana. Demo yang setiap tahunnya pasti  terjadi merupakan sebuah  simbol kekecewaan para  kaum pekerja terhadap nasibnya.
Tidak berbeda jauh dengan para pekerja di seluruh dunia, di Indonesia hari buruh juga selalu diwarnai dengan aksi protes terhadap ketidakadilan yang selama ini mereka terima. Ketidakadilan disini sangat kompleks, baik itu yang menyangkut ketidakadilan dalam sistem kerja, sistem, upah maupun sistem kontrak. Kesejahteraan buruh yang belum tercapai merupakan  faktor penyumbang kekecewaan yang besar akan nasib mereka.
Bukan suatu rahasia lagi bahwa selama ini terjadi ketidaksepahaman dan ketidaksatuan pendapat antara kaum buruh dengan perusahaan yang didalamnya terdapat para pengusaha, pemilik, dan penanam modal. Ketidaksepahaman tersebut disebabkan karena masing-masing pihak mempunyai kepentingan yang berbeda yang sulit untuk dicari titik temunya.
Buruh atau pekerja ingin agar kesejahteraannya diperhatikan, mendapatkan upah yang layak, dan jaminan keselamatan dalam bekerja. Namun,sayangnya semua itu mengharuskan perusahaan menganggarkan biaya yang tidak sedikit  untuk mewujudkannya dan mungkin saja anggaran tersebut dapat memotong laba perusahaan. Akibatnya tidak semua perusahaan mau dan mampu untuk merealisasikannya.
Contohnya saja jamsostek atau yang lebih dikenal dengan asuransi kesehatan bagi para pekerja. Jamsostek merupakan sebuah bentuk jaminan perawatan kesehatan bagi para pekerja.. Semestinya semua pekerja didaftarkan dalam jamsostek agar keselamatan dan kesejahteraan para pekerja dapat terjamin.
Namun, sebuah fakta miris berkata lain. Ternyata hanya 9 juta pekerja di seluruh Indonesia yang terdaftar sebagai peserta  jamsostek dari 30 juta  pekerja di sektor formal. Bayangkan hanya 30 % pekerja saja yang mendapatkan jaminan kesehatan di seluruh Indoesia. Dari sini sudah terlihat betapa buruknya kesejahteraan pekerja di Indonesia. Nasib menyedihkan seperti  ini terutama dialami oleh para pekerja kelas bawah yang hanya sebagai buruh di pabrik-pabrik dan nasib pekerja kontrak.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pengusaha juga mempunyai suatu kepentingan terhadap perusahannya. Pengusaha menginginkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya bagi perusahaannya. Keuntungan tersebut demi kemajuaan usahanya dan tentunya untuk mengisi kantong-kantong pribadi para pengusaha.
Untuk mendapatkan keuntungan tersebut perusahaan memeras tenaga dan pikiran para  pekerjanya. Sehingga pekerja disini terkesan  hanya  dijadikan sebagai alat  sumber penghasil dan pencetak  uang  bagi perusahaan.
Namun, sayangnya keuntungan banyak yang diperoleh perusahaan tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan untuk  para pekerja. Nampaknya, perusahaan terlalu pelit  atau sayang mengeluarkan uangnya untuk peningkatan kesejahteraan para pekerjanya, salah satunya dengan mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta jamsostek.
Memang untuk semua itu diperlukan suatu anggaran yang tidak sedikit. Sedangkan buruh di tempat meeka bekerja sangat banyak bahkan bisa mencapai ribuan orang. Bisa dibayangkan akan sangat banyak uang yang perusahaan keluarkan untuk semua itu.
Padahal seperti yang kita ketahui para  pekerja sangat rawan untuk mendapatkan kecelakaan dalam bekerja. Apalagi di Indonesia, kebanyakan perusahaan mempunyai sistem ergonomi dan keselamatan kerja yang buruk. Hal tersebut sangat berpotensial  menyebabkan kecelakaan kerja bagi para pekerja.
Disitulah letak pentinganya  jamsostek bagi para pekerja. Sehingga jika pekerja mengalami kecelakaan dalam kerja, ada jaminan pelayanan kesehatan baginya, dan juga pekerja tidak terlalu dibebankan dengan masalah biaya yang ditanggung oleh jamsostek. Namun, pada  kenyataanya  belum semua pekerja bisa mencicipi jamsostek.
Akankah untuk selamanya  para  pekerja hanya akan  dijadikan sapi perah bagi perusahaan? Sudah saatnya para pengusaha memikirkan kesejahteraan para pekerjanya, karena dari merekalah mereka bisa menikmati keuntungan perusahaan.
(dimuat di Forum Mahasiswa,,tanggalnya lupa, bulan Mei 2009 )