Selasa, 19 Oktober 2010

Novelkuuuuuu :)

BAB I

Suasana di ruang keluarga benar-benar kaku. Maya, ayahnya dan ibunya sama-sama diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Pindah ke rumah Eyang, yah?” Maya bertanya lirih pada ayahnya.
Ayah dan mama Maya mengangguk berberengan.
“Apa gara-gara tadi siang Ayah dipanggil kepala sekolah. Terus Maya dikeluarin dari sekolah?” duga Maya
Ayah Maya menggeleng.
“Terus?” tanya Maya tidak sabar.
“Kepala sekolahmu sudah sangat baik, May. Beliau masih memberi kesempatan kepadamu untuk tetep sekolah disana. Meskipun kamu sudah sering bikin onar dan buat malu ayah dan mama kamu.”
“Kamu bikin malu mama, May. Bisa-bisanya berkelahi hanya untuk rebutan cowok.” Mama Maya menyela sambil menggeleng dan mengelus dadanya.
“Ma, Ernest itu cowok Maya. Jadi wajar kan Ma kalau Maya melabrak Tania yang berani menggoda Ernest di depan Maya.” Maya membela dirinya sambil berapi-api. Maya masih kesal dengan Tania.
Mama Maya merebahkan badannya ke sofa, sesak dadanya mendengar pembelaan anaknya.
“Sejak kamu pacaran dengan Ernest, kelakuanmu jadi nggak pernah bener, May. Keluyuran malam-malam. Nilaimu jadi jelek. Sering bolos sekolah. Ayah jadi sering dipanggil kepala sekolah. Malah sekarang kamu berkelahi sama temenmu sendiri. Ayah kecewa ma kamu, May!”
“Maya hanya sekali ini berkelahi dengan teman, yah.” Maya berusaha membela diri.
“Sama saja itu buat malu ayah ma mamamu.” Suara ayah Maya meninggi.
Maya mendadak diam. Maya tahu jika ayahnya sedang benar-benar marah padanya. Ayah Maya jarang berkata keras padanya. Ayah Maya orangnya sangat penyabar dan lembut. Namun, kali ini, Maya baru pertama kali dibentak oleh ayahnya.
“Ayah kasih kamu waktu dua hari untuk mempersiapkan kepindahanmu. Ayah dan mamamu sudah memikirkan masak-masak keputusan ini.” Ayah Maya berkata tegas diiringi anggukan mantap dari mamanya.
“Terus sekolah Maya , yah?” Maya mencoba mencari alasan.
“Ayah sudah memilihkan kamu sekolah disana. Jadi kamu tidak usah khawatir. Semuanya sudah ayah dan mama persiapkan dengan sebaik-baiknya.”
Maya tergagap, tidak bisa berkata apa-apa dan masih belum bisa menerima kepindahannya yang tiba-tiba ini. Namun Maya juga tidak bisa membantah ayahnya. Ayah Maya jika sudah mengambil keputusan tidak bisa diubah-ubah lagi. Berarti keputusan Maya pindah di rumah kakeknya sudah bulat.
Maya hanya bisa terisak.
*
Maya menumpahkan kekesalan dan kesedihannya di kamarnya. Semua barang-barangnya di banting ke lantai. Dari mulai buku, bantal, selimut, pensil, pulpen, gunting, boneka semuanya berserakan di lantai.
“Maya nggak mau pindah…..” teriak Maya berkali-kali. Maya sengaja mengeraskan suaranya agar Ayah dan Mamanya yang sedang duduk di ruang keluarga bisa mendengar.
Sementara itu , ayah dan mama Maya yang mendengar amukan Maya hanya diam saja. Mama Maya yang lama-lama khawatir dengan keadaan Maya beranjak dari tempat duduknya. Namun, ayah Maya buru-buru mencegahnya.
“Nggak usah, Ma. Nanti juga berhenti sendiri. Jangan terlalu memanjakan dia. Biar dia belajar dari kesalahannya.”
Mama Maya mengangguk, menuruti kata-kata suaminya.
Di kamar Maya sudah mulai hening. Suara-suara benda jatuh dan teriakan Maya sudah tidak terdengar lagi. Sepertinya Maya sudah capek dengan ulahnya sendiri dan mungkin sekarang sudah tertidur dengan matanya yang sembab.
*
Mata Maya masih sembab ketika dia masuk sekolah pada keesokan harinya. Ini semua gara-gara dia menangis semalaman. Lulu yang mengetahui kedatangan Maya segera menghampirinya.
“May, kamu kenapa? Abis nangis?” Tanya Lulu yang heran melihat mata Maya yang sembab.
“Kelilipan tadi,” jawab Maya seenaknya.
“Kelilipan batu sungai, ya May. Sampai bengkak segede gitu.” Goda Lulu yang mengetahui sahabatnya berbohong.
“Nggak lucu, Lu.”
Maya nampaknya sedang tidak ingin bercanda. Lulu terpaksa menghentikan ketawanya dan memasang tampang serius.
“Terus kamu kenapa, May? Kamu habis nangis?”
Belum sempat Maya menjawab, tiba-tiba pandangan mereka langsung beralih ke pintu kelas. Mereka sama-sama memperhatikan Tania yang sedang berjalan memasuki ruangan kelas. Maya melihat pipi Tania masih merah, akibat tamparan Maya kemarin dan di sudut bibir Tania ada bekas luka kecil. Ada perasaan puas yang muncul di hati Maya, karena telah berhasil memberi pelajaran pada Tania yang kemarin kepergok sedang menggoda Ernest.
Tania memandang Maya dengan sengit dan langsung melegoskan kepalanya kea rah lain. Maya tersenyum mengejek.
“Kemarin gimana? Kamu dihukum apa ma bu Wati?” Tanya Lulu penasaran. Setelah Tania berlalu dan duduk di kursinya yang terletak di pojok, jauh dari mereka berdua.
“Cuma dinasehatin aja kok. Bu Wati dah bosen ngasih hukuman kali. Tapi sialnya bu Wati malah manggil ayahku ke sekolah.”
“Terus reaksi ayahmu gimana? Ayahmu marah ma kamu?”
Maya hanya diam saja.
“Kamu seh May terlalu emosi.” Lulu menyalahkan Maya.
“Nggak emosi giman Lu. Aku liat sendiri se Tania sedang menggoda Ernest. Ya aku kasih pelajaran lah. Biar dia kapok.” Maya sengaja mengeraskan suaranya sambil melirik ke arah Tania yang sedang duduk di pojok. Mereka sempat beradu pandang dengan sengit. Namun, Tania buru-buru membenamkan kepalanya ke buku, pura-pura sedang membaca. Sementara telinga Tania tetap terpasang tajam, mencoba menguping pembicaraan Maya dan Lulu.
“Kamu yakin bukan Ernest yang menggoda Tania?” Tanya Lulu lagi lebih hati-hati.
“Maksudmu, Lu?” Maya Nampak tidak senang dengan ucapan Lulu barusan.
“Ernest tuh playboy, May. Cuma kamu yang selama ini menutup mata aja. Aku sering melihat dia menggoda cewek-cewek di sekolah ini. Apalagi Tania itu cantik. Kapten cheers sekolah kita lagi.” Lulu nyerocos di depan Maya.
“Kamu ngomong apa seh , Lu. Dari dulu kamu kayak nggak suka aku jadian ma Ernest.” Maya mulai emosi.
“Emang aku nggak suka, May. Jujur , Ernest tuh bawa pengaruh buruk buat kamu, May.”
Maya berdiri dari kursinya, kesal dengan ucapan Lulu. Lalu beranjak pergi keluar kelas.
“Mau kemana, May?” Tanya Lulu mencegah langkah Maya.
“Ke kantin. Sarapan,” jawab Maya ketus.
Maya bergegas pergi dari hadapan Lulu. Di pojok Tania tersenyum pada Lulu. Berterima kasih atas pembelaan Lulu. Namun, Lulu mendelikkan mata tidak senang kea rah Tania. Tania kembali melengos dengan kesal, pura-pura membaca.
Di kantin, Maya duduk sendirian. Nasi goreng di depannya hanya diaduk-aduk nggak karuan. Perut Maya emang lapar, tapi Maya sama sekali tidak berselera untuk makan. Ibu kantin memandang Maya dengan heran.
“Udah bel neng. Nggak masuk?” tanya ibu kantin mencoba mengingatkan Maya. Sudah sekitar setengah jam yang lalu bel masuk berbunyi.
“ Malas bu.” Jawab Maya seenaknya.
Maya sebenarnya sudah mendengar bel masuk dari tadi. Lulu pun berkali-kali sms dia jika pak Eko, guru Ekonomi sudah masuk kelas. Namun, Maya tidak berselera untuk ikut pelajaran.
Ibu kantin menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Dasar anak jaman sekarang. Punya kesempatan buat sekolah malah malas. Sementara banyak anak lain yang tidak bisa sekolah di luar sana.” Ibu kantin ngedumel sendiri.
Maya yang mendengar ucapan ibu kantin, hanya diam aja. Malas untuk menanggapinya.
Maya bergegas beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana, neng? Masuk kelas?” Tanya ibu kantin lagi.
“Bolos bu,” jawab Maya ketus.
Ibu kantin kaget. Hanya bisa mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala menatap kepergian Maya.
Maya melangkahkan kakinya bukan untuk masuk ke kelas, tetapi malah menuju ke tempat Ernest dan teman-teman bandnya biasa latihan. Maya melongok ke dalam studio. Tapi pada jam-jam pelajaran gini, sangat kecil kemungkinan menemukan Ernest di studio. Palingan Ernest sekarang sedang di kelasnya, mengikuti pelajaran . Namun , Maya mendengar ada suara-suara orang sedang latihan di dalam studio. Maya bergegas masuk.
“Maya,” Ernest kaget melihat Maya sudah berdiri di depanya. Teman-teman Ernest yang lain langsung menghentikan permainan musiknya. Mereka mengangguk berbarengan kea rah Maya sambil tersenyum. Maya balas tersenyum dengan ogah-ogahan.
“Bentar ya semua. Gue keluar dulu.” Ernest pamit keluar. Temen-temen Ernest mengangguk, mengerti.
Ernest menarik tangan Maya , mengajaknya keluar.
“Kamu nggak masuk kelas, May?” Tanya Ernest heran.
“Kamu sendiri?” Maya balik bertanya.
“Aku ijin nggak ikut pelajaran buat latihan band. Dua hari lagi kita kan ikut lomba festival band di Bandung. Kamu jadi ikut nemenin aku kan May?” Tanya Ernest.
Maya hanya diam. Dua hari lagi Ernest tampil di festival band yang selama ini menjadi impiannya dan dua hari lagi Maya harus meninggalkan Jakarta dan meninggalkan Ernest tentunya.
“Kamu kenapa, May?” Tanya Ernest khawatir melihat muka Maya yang tiba-tiba lesu .
“Kamu masih marah dengan kejadian kemarin, May? Aku kan dah jelasin ke kamu kalau Tania yang mulai duluan.” Ernest memberikan pembelaan, menyangka Maya masih marah dengannya. Namun, Maya masih saja tetap diam. Ernest jadi salah tingkah.
“Nest, kalau pacaran jarak jauh enak nggak?” Tanya Maya tiba-tiba.
“Maksudnya, May?” Tanya Ernest jadi bingung.
“Jawab aja!”
“Kalau aku lebih milih pacaran kayak kita. Satu sekolah. Bisa ketemu tiap hari.”
“Kalau kita pacaran jarak jauh gimana?” Tanya Maya lagi.
Ernest Nampak ragu untuk menjawab.
“Jawab aja, Nest.” Bujuk Maya.
“Kamu aneh, May.kenyataannya kan kita sekarang nggak pacaran jarak jauh. Kita masih satu sekolah. Rumah kita juga satu kompeks. Kita masih bisa sering ketemu.”
Ernest lama-lama tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan Maya. Suasana jadi hening. Maya dan Ernest sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Dua hari lagi aku pindah ke rumah eyangku di Jogja, Nest.” Maya berkata lirih, memecah kebekuan diantara mereka.
“ Kamu bercanda, May?” Ernest kaget mendengar ucapan Maya.
Maya menggeleng.
“Aku serius , Nest.”
“Apa kamu dikeluarkan dari sekolah gara-gara peristiwa kemarin?”
Maya menggeleng
“Terus kenapa kamu mesti pindah ke Jogja? Kamu malu pada semua orang di sekolah ini gara-gara perkelahianmu dengan Tania?”
“Bukan itu,” Nada suara Maya agak meninggi.
“Lalu kenapa May?”
“Ayahku yang meminta aku pindah. Kamu tahu kan kalau aku tidak bisa melawan keinginan ayahku, Nest”
Ernest terdiam,tidak bisa berkata apa-apa.
“Aku cuma butuh jawaban kamu Nest. Kamu sanggup nggak kalau kita pacaran jarak jauh?” Maya bertanya lirih.
Hening lagi lumayan lama. Ernest masih belum sepenuhnya pecaya denga ucapan Maya.
“Aku masih belum bisa jawab, May. Kamu hanya bercanda kan , May?”
Maya beranjak dari kursinya dan bergegas pergi dengan kesal.
“May, mau kemana?” cegah Ernest.
“Masuk kelas.” Jawab Maya ketus
Maya berlari keluar dari studio. Ernest hanya tertegun.
Dalam hati Maya memaki keraguan dan keegoisan Ernest. Seharusnya disaat seperti ini Ernest menguatkan dan menyemangatinya. Bukan malah menyangsikan ucapannya dan menuntutnya agar jangan pindah. Siapa sih yang mau pindah? Kalau boleh memilih Maya juga tidak ingin pindah ke rumah eyangnya di Jogja. Namun, sayangnya keputusan ayahnya sudah seperti hukum yang harus dijalankan.
*
“Baik-baik dirumah eyang ya, May.” Ucap Mama Maya sambil memeluk Maya.
Maya mengangguk.
Mama Maya memeluk Maya dengan erat, seakan berat melepas kepergian anaknya.
“Setiap sebulan sekali mama dan ayah akan jenguk kamu di Jogja,” ucap mama Maya lagi.
“Eyangmu itu sangat disiplin , May. Jadi ayah harap kamu jangan hidup seenaknya disana. Hidup dirumah akan berbeda dengan hidup di rumah eyangmu , May,” nasehat ayah Maya.
‘”Iya, yah. Maya tahu kok,” jawab Maya ketus.
Maya nampaknya masih belum bisa menerima keputusan ayahnya yang sepihak ini. Maya kesal dengan ayahnya karena Ayah Maya tidak pernah mau mendengar keinginan Maya termasuk dalam menentukan kehidupannya.
“Kamu masih marah , May?” Ayah Maya nampak bisa membaca pikiran anaknya.
Maya menggeleng, berbohong.
“Nanti kamu juga akan menyadari sendiri bahwa ini semua demi kebaikanmu May.”
Ayah Maya mencoba membenarkan keputusannya. Maya hanya diam, sudah bosan dengan kalimat ayahnya ini.
“May,” ada yang memanggil Maya dari jauh. Maya menoleh. Ternyata, Lulu dan Nika sedang berlari-lari menuju kea rah Maya. Maya kaget melihat Lulu dan Nika tiba-tiba datang ke bandara. Padahal Maya tidak memberi tahu mereka.
“May, kamu jahat nggak bilang bilang ke kita kalau mau pindah.” Ucap Lulu marah ketika sampai di depan Maya setelah sebelumnya memberi salam kepada ayah dan mama Maya.
Di samping Lulu, Nika mengangguk mengiyakan.
“Kita kan sahabat, May. Masak kamu merahasiakan kepindahanmu ke kita” Nika menambahkan.
“Kalian tahu darimana kalau aku mau pindah?” Tanya Maya heran
“Ernest,” jawab Nika jujur.
Lulu mendelik kea rah Nika, tidak suka Nika berkata jujur. Nika hanya tersenyum kea rah Lulu, menyesal.
Maya tersenyum getir. Kemarin malam Ernest meneleponnya masih berharap berita yang disampaikan Maya tadi pagi tidak benar.
“Lalu gimana dengan aku, May. Dengan hubungan kita?” Tanya Ernest tadi malam masih dengan keegoisannya.
“Aku bingung , Nest.”
“Kamu harus ngasih kejelasan dong, May. Aku tidak mau digantung gini.” Ernest malah memojokkan Maya.
Ernest benar-benar telah berubah menjadi makhluk egois yang sangat mengesalkan bagi Maya. Disaat Maya butuh perhatian dan semangat karena kepindahannya. Ernest malah makin menambah beban Maya dengan minta kejelasan akan hubungan mereka. Maya sendiri juga bingung dan tidak tahu harus ngambil keputusan seperti apa.
“Lah terus maumu apa?” Tanya Maya.
“Aku nggak bisa , May kalau menjalani hubungan jarak jauh.” Suara Ernest diseberang kelihatan berat.
Hening sejenak.
“Ya udah kalau gitu, kita putus aja.” Maya yang kesal langsung berkata tanpa berpikir panjang.
Maya terlihat menyesali ucapannya barusan. Namun, kalimat tersebut sudah terlanjur meluncur dari bibir Maya dan tidak bisa ditarik kembali.
Diseberang hanya diam. Maya juga ikut-ikutan diam, tidak mampu berkata apa-apa.
“Gue belum bisa jawab sekarang, May. Kasih gue waktu yah,” ucap Ernest tiba-tiba lirih.
Sambungan tiba-tiba terputus. Maya menangis. Menyesali semua ucapannya. Mulai malam itu status hubungan Maya dengan Ernest telah berubah. Walaupun Ernest belum bisa menjawabnya, tapi Maya sudah terlanjur mengatakan putus. Maya merasa hubungannya dengan Ernest sudah tidak bisa dipertahankan lagi.
“May, kamu melamun,” Nika dan Lulu menyadarkan Maya berbarengan.
Maya yang tersadar langsung menggeleng sambil tersenyum.
“Aku akan merindukan kalian.” Maya memeluk Lulu dan Nika berbarengan
“Kita juga, May, “ ucap Lulu dan Maya berbarengan.
Tiba-tiba tersiar berita bahwa penumpang pesawat diharap masuk, karena pesawat akan segera take off .
Maya melepaskan pelukan Nika dan Lulu.
“Jangan lupa kabar-kabar kita, ya May.” Lulu mengingatkan.
“Jangan lupa SMS, chatting,FB, twitter.” Nika menambahkan.
“OK”
Mama memeluk Maya kembali untuk yang terakhir kalinya.
“Hati-hati ya May,” ucap ayah dan mamanya berbarengan. Mama Maya sempat menitikkan air mata.
Maya melambai kea ah ayah, mama, Lulu dan Nika. Sebelum Maya masuk, Maya kembali melihat ke belakang. Maya masih berharap Ernest akan muncul disana, mengucapkan salam perpisahan.
Namun, harapan Maya sia-sia Ernest tidak juga muncul. Ternyata Ernest lebih mementingkan festival band daripada mengantar kepergian Maya. Hati Maya kembali hancur.
*
Ernest kembali melihat jam tangannya sambil mondar-mandir di belakang panggung.
“Kenap, Nest?” Tanya Yudi manager band “The Arian”, band Ernest. Dari tadi Yudi melihat Ernest nampak gelisah.
“Oh,,Nggak papa mas. cuma agak grogi aja mas.” Ernest berbohong.
Namun sebenarnya dalam hati Ernest sedang bimbang. Hati Ernest sedang bertarung antara keinginannya pergi ke bandara untuk mengantar kepergian Maya atau tetap disini menunggu bandnya tampil. Jika dia ke bandara, maka dia harus rela tidak tampil dalam festival band yang sudah lama diidam-idamkannya ini sekaligus menghancurkan impian teman-teman bandnya. Ini adalah festival band besar. Jika The Arians bisa memenangkan kompetensi ini, maka jalan mereka untuk menjadi band terkenal akan terbuka lebar. Namun, jika Ernest tidak ke bandara dia akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengantar kepergian Maya, orang yang dicintainya.
“Mas, percaya kamu bisa memberikan yang terbaik buat band kita. Ini festival yang telah kita impi-impikan. Berikan yang terbaik buat band kita ya Nest.” Mas Yudi menepuk-nepuk pundak Ernest.
Ernest hanya mengangguk sambil tersenyum.
Dari balik panggung, Ernest mengintip ke kursi penonton. Biasanya, Maya selalu ada di barisan paling depan jika sedang melihat Ernest manggung, Namun sekarang Maya tidak ada di kursi terdepan. Ernest merasa seakan-akan ada yang hilang dan tidak ada yang dapat memberinya motivasi dan semangat untuk tampil maksimal.
Namun, tiba-tiba di tempat duduk terdepan, Ernest melihat wajah gadis yang sedang tersenyum padanya. Gadis tersebut melambai-lambai kea rah Ernest, mencoba member semangat pada Ernest. Ernest membalas senyuman dan lambaian gadis tersebut dengan jengah.
Di barisan paling depan, Tania melambai-lambai kea rah Ernest.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar