Kamis, 21 Oktober 2010

Lanjutan Novelkuuuuuuu, bab 2 ^^

BAB II

Maya menunggu dengan gelisah di tempat tunggu bandara Adi Soetjipto. Sudah dua jam lebih Maya menunggu jemputan yang sampai detik ini juga belum datang. Maya sudah sangat bosan menunggu. Badannya capek, ingin istirahat dan perutnya juga mulai merasakan kelaparan.
Sebelum berangkat, ayahnya berpesan kalau pak Herman, sopir eyang Maya yang baru akan menjemput Maya di bandara. Namun, sampai sekarang pak Herman belum juga menampakkan batang hidungnya. Kalau tau gini mending Maya naik taksi aja sampai rumah eyang. Batin Maya kesal. Namun, percuma juga, karena tidak ada taksi yang mau mengantar sampai rumah eyangnya yang jauh di pedalaman kota Jogja.
Maya kembali menengok jam tangannya. Sudah hampir 3 jam Maya duduk menunggu di bandara. Maya mendengus kesal sambil membanting kopernya yang berat ke lantai.
“Ouuu” Maya berteriak kesakitan karena kopernya mengenai kakinya sendiri . Maya memaki kesal.
“Non Maya,?” sapa seorang tiba-tiba.
Maya menoleh. Seorang lelaki yang berumur kira-kira lima puluh tahunan sudah berdiri di samping Maya.
“Iya saya Maya. Kenapa pak?” Maya balik bertanya
Bapak itu tersenyum.
“Saya Herman, Non. Sopir eyang non Maya.” Bapak tersebut memeperkenalkan dirinya. Maya mengangguk agak heran karena muka pak Herman bersih dan penampilannya pun rapih meskipun hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblonk bermerk dagadu. Pak Herman kelihatan seperti orang kota, jauh sekali dari kesan sopir. Namun muka dan tampilan luar kan bisa saja menipu.
Maya tersadar dari pikirannya. Lalu menunjukkan wajah kesalnya.
“Pak Herman kok lama seh? Bapak tahu sekarang jam berapa? Saya hampir mati kebosanan nungguin bapak.” Maya berceloteh panjang lebar. Pak Herman hanya mengangguk-angguk bersabar mendengarkan omelan Maya.
“Maaf non, tadi ban mobilnya bocor di tengah jalan. Jadi lama buat ganti ban mobil, non.” Pak Herman memberi penjelasan sambil menunjukkan rasa bersalah.
Maya hanya mengangguk jengah.
“Udah yuk pak buruan., mana mobilnya. Aku pengen cepet-cepet istirahat neh.”
Maya mengangkat kopernya. Pak Herman ikut membantu mengangkat barang bawaan Maya yang lain. Pak Herman berjalan di depan memandu Maya ke mobil tua eyang yang diparkir di depan. Sesampainya di depan mobil Maya langsung masuk ke mobil dan menutup pintu dengan keras. Pak Herman hanya menghela nafas panjang lalu memasukkan koper dan barang bawaan Maya satu persatu ke dalam bagasi mobil.
Sepanjang perjalanan Maya hanya diam. Maya nampak masih kesal dengan pak Herman. Pak Herman pun jadi ikut diam, tidak berani mengajak ngobrol Maya. Perjalanan yang tadinya melalui jalan kota Yogyakarta kini semakin masuk ke dalam desa. Rumah eyang Maya memang terletak di desa yang lumayan jauh dari kota Yogyakarta. Tepatnya di daerah Bantul.
Di desanya, eyang Maya sangat dikenal dan disegani oleh penduduk setempat. Selain bekas ABRI, eyang Maya juga terkenal sebagai juragan tanah karena memiliki sawah yang sangat luas sampai berhektar-hektar luasnya.
Eyang Maya sekarang mendiami rumahnya yang sangat besar dan berhalaman luas itu dengan ditemani Bi siti, pembantu Eyang yang sudah lama mengabdi pada eyang. Usia bi Siti pun hampir menyamai usia eyang. Sementara, nenek Maya sudah lama meninggal sejak Maya masih kecil. Kata ayah Maya, nenek meninggal karena kanker Payudara. Maya sendiri tidak terlalu mengenal dekat neneknya.
Mobil perlahan memasuki halaman rumah eyang. Di depan rumah, eyang Maya sudah menyambut Maya. Walaupun sudah tua eyang Maya masih terlihat sehat. Badannya masih tegap dan kuat meskipun rambutnya sudah memutih semua. Mungkin karena eyang Maya dulu adalah ABRI dan sering olehraga, sehingga sampai sekarang masih terlihat gagah perkasa dan suaranya pun masih lantang.
Maya bergegas turun dari mobil. Sementara pak Herman menurunkan koper dan barang bawaan Maya dari bagasi.
Maya langsung memeluk eyangnya. Eyangnya menyambut pelukan Maya sambil tertawa terkekeh-kekeh. Tawanya yang khas dan renyah sangat disukai Maya.
“Cucu Eyang ternyata udah gede.”
“Ah, eyang kayak Maya dah lama nggak kesini. Lebaran kemarin kan Maya barusan kesini,” Maya menggoda Eyang.
Eyang kembali tertawa renyah.
“Ayo masuk, May. Pasti kamu capai ya?”
Eyang Maya mengajak Maya masuk ke dalam. Sementara pak Herman sibuk mengangkat barang-barang Maya.
“Taruh situ aja, Man,” eyang memerintah kepada pak Herman untuk menaruh barang-barang Maya di samping TV di ruang keluarga. Pak Herman hanya mengangguk, menurut. Setelah meneruh semua barang-barang Maya, pak Herman pamit pergi.
“Sopir baru eyang?” Maya bertanya sambil menatap kepergian pak Herman.
“Wah kok aneh ya kalau dibilang sopir. Herman itu anaknya teman eyang dulu. Dia lagi butuh pekerjaan jadinya eyang suruh dia bantu-bantu ngurus sawah sama sekali-kali ngenter eyang pergi. Maklum eyang sudah tua, kalau pergi jauh capek nyopir sendiri.”
Maya hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita eyang.
“Ayo eyang tunjukkan kamar kamu,” ajak eyang Maya.
Maya mengikuti eyang dari belakang.
“Eyang senang kamu mau tinggal disini nemenin eyang, May. Di rumah segede ini cuma ditinggalin eyang ma Siti. Eyang butuh teman yang lebih muda dan energik. Biar eyang tambah semangat menjalani hidup.”
Maya hanya tertawa. Eyangnya ada-ada saja.
Tiba-tiba Maya menjadi teringat bi Siti.
“Bi Siti mana, yang” tanya Maya yang dari tadi tidak melihat bi Siti.
“Lagi ke pasar. Tahu kamu mau datang, dia langsung belanja. Katanya dia mau masak yang special buat kamu.”
Maya hanya tersenyum. Bi Siti sangat sayang pada Maya, bahkan sudah menganggap Maya seperti cucunya sendiri. Bi Siti tidak mempunyai anak sementara itu suami bi Siti meninggal ketika mereka baru dua bulan menikah karena ditembak oleh tentara Belanda yang waktu itu menjajah Indonesia. Sampai sekarang bi Siti tidak mau menikah lagi karena rasa cintanya yang besar pada suaminya.
Jika Maya datang ke rumah eyang, bi Siti selalu masak yang enak-enak. Yang Maya suka dari bi Siti, Bi Siti suka sekali bercerita tentang keluarga eyangnya. Maklum bi SIti sudah ikut eyang dari lama.
Mereka berhenti ketika sudah sampai di pintu sebuah kamar. Eyang membuka pintu kamar tersebut.
“Dulu ini kamar tidur ayahmu. Lihat eyang sudah menyulapnya menjadi lebih modern, selera anak muda sekarang.”
Eyang Maya tersenyum puas memandang sekeliling kamar Maya.
Maya memperhatikan kamar barunya.
Kamar barunya di cat warna pink muda. Ada dua jendela besar yang menghadap ke kebun rambutan milik eyang. Tepat di tengah ada kamar tidur kecil dengan dua buah meja kecil di sisi kiri dan kanannya, lemari pakaian ukuran sedang, meja dan kursi belajar dan beberapa lukisan di dinding. Maya Nampak puas dengan kamarnya.
“Eyang harap kamu betah tinggal disini , May.”
Maya hanya mengangguk.
“Oh iya Eyang lupa. Eyang sudah mendaftarkan kamu di SMA terbaik di kecamatan ini. Besok eyang antar kamu ke sekolah itu,” ucap eyang Maya tiba-tiba.
“Pokoknya Maya ingin sekolah Maya nanti fasilitasnya yang bagus ya eyang. Maya nggak mau sekolah di tempat yang biasa.” Tuntut Maya.
Sekolah Maya dulu di Jakarta adalah sekolah favorit sekaligus sekolah tempat orang-orang kaya. Fasilitasnya lengkap dan serba modern, selain itu kebanyakan siswanya adalah anak-anak pejabat atau anak pengusaha kaya.
Eyang hanya tertawa.
“Maya,Maya, sebagus-bagusnya sekolah disini tentu aja masih kalah dengan sekolah-sekolah di Jakarta yang gede-gede dan bertingkat-tingkat itu.”
“Maksud eyang?” Maya bertanya curiga.
“Ya kamu lihat aja besok. Sekarang mending kamu istirahat dulu pasti kamu capai.. Sekarang eyang mau ke rumah kepala desa dulu, ngurus tanah.”
Maya mengangguk. Eyangnya pergi beralu meninggalkan Maya seorang diri di kamarnya.
Maya menghela nafas panjang sambil mengamati sekeliling kamarnya. Tiba-tiba Maya menjadi teringat sesuatu.
Maya mengambil HP dari dalam tasjinjingnya. Ternyata ada dua sms masuk . Maya tidak sabar untuk segera membuka pesan yang masuk di HPnya, berharap salah satu sms itu dari Ernest. Walaupun Ernest tidak menemuinya di bandara tadi , tapi paling tidak Ernest masih berniat baik untuk sms dirinya, walau hanya sekedar untuk minta maaf.
Namun, Maya langsung kecewa ketika mengetahui pengirim dua sms tersebut adalah ibunya dan Nika yang sama-sama menayakan apakah dirinya sudah sampai di Yogyakarta dengan selamat.
*
“Ernest selamat, ya,” Tania mendekati Ernest yang sedang asyik bersuka cita, merayakan kemenangan mereka dengan teman-teman bandnya.
Ernest menoleh kea rah Tania.
“Makasih ya Tan.” Balas Ernest tersenyum senang.
“Penampilanmu tadi keren, Nest. Kalian pantes mendapatkan kemenangan ini,” ucap Tania bersemangat.
Ernest hanya mengangguk sambil tersenyum. Terlihat di wajah Ernest sinar kebahagiaan.
“Makasih, Tan udah mau datang melihat penampilan kita. Aku kira kamu marah padaku gara-gara kejadian kemarin”
Pikiran Tania dan Ernest sama-sama melayang ke kejadian saat Maya menampar wajah Tania di depan mata Ernest. Tidak hanya itu saja adegan menjambak rambut pun sempat terjadi diantara mereka berdua. Duel yang berlangsung beberapa menit itu sempat menghebohkan sekolah.
Tania tertawa mengingat kejadian itu.
“Mana mungkin aku marah padamu gara-gara ini, Nest.” Tania menunjuk luka kecil di sudut bibirnya.
“Aku maklum kok sama Maya yang sangat emosian dan labil, nggak bisa mengendalikan amarah,” tambah Tania sedikit mencibir Maya.
Ernest terdiam. Dia menjadi teringat Maya. Maya pasti akan senang jika mendengar kabar kalau The Arian memenangkan festival ini. Selama ini Maya yang selalu setia menemani Ernest latihan demi acara ini. Selama ini Maya juga yang selalu memberinya semangat dan motivasi untuk tetap optimis meraih impian. Ernest berharap Maya ada disini untuk memberikan ucapan selamat padanya.
“Wah, ini patut dirayakan, Nest,” Tania mengalihkan pembicaraan.
Ernest tersadar dari lamunannya.
“Abis ini kita mau makan-makan merayakannya. Kamu boleh ikut kita, Tan,” Ernest menawarkan.
“Beneran, Nest?”
Ernest mengangguk
Tania langsung tersenyum lebar, senang. Serasa mendapat rejeki besar.
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar