Minggu, 17 November 2013

Kain Sraung Buat Bapak


 

            Berkali-kali Nisa  menguap menahan kantuk. Namun, rasa kantuknya, tidak membuat Nisa menyerah untuk menunggu kepulangan bapaknya dari menarik becak. Nisa  masih setia duduk di teras  rumah. Sementara matanya awas melihat jalan setapak  di depan rumahnya.
Sementara itu, emak Nisa sudah dari  sejam yang lalu terlelap dalam tidurnya karena kecapekan. Seharian ini emak  membantu tetangga samping rumah yang sedang menyelenggarakan hajat pernikahan anaknya.
            Sudah jam 10 malam, namun belum juga terlihat tanda-tanda kepulangan bapak. Nisa sengaja mengucuk-ucek matanya untuk mengurangi rasa kantuk yang semakin menyerang.
            Tiba-tiba Telinga  Nisa mendengar  suara berdecik sadel yang diontel. Benar saja tak lama kemudian  bapak Nisa meuncul dari ujung jalan sambil menggenjot  becak tuanya. Nisa bergegas mempersiapkan diri untuk menyambut bapak.
            Bapak heran melihat Nisa yang berdiri di teras rumah menyambut kepulangannya. Biasanya jika bapak pulang Nisa sudah tidur atau asyik mengerjakan tugas di kamar.
Nisa mengamati bapak yang sedang memarkir bacaknya di halaman rumah. Muka bapak terlihat kuyu dan lesu. Mungkin, bapak kelelahan setelah seharian, dari pagi sampai malam  menarik becak.
 Usia bapak belum terlalu tua, sekitar 40 tahunan. Namun, karena beban hidup yang berat, wajah bapak  jadi terlihat lebih tua dari aslinya. Bapak adalah tulang punggung keluarga. Profesinya sebagai tukang becak dengan penghasilan yang minim membuat bapak harus kerja keras untuk  membiayai hidup keluarganya, emak dan Nisa.
Oleh karena itu bapak bekerja keras banting tulang siang malam. Selain sebagai tukang becak, bapak juga rajin membantu pak Hadi, juragan tanah, di sawah saat musim panen tiba. Emak terkadang juga  menerima panggilan untuk mencuci, hitung-hitung  untuk membantu menambah penghasilan keluarga.
            “Kamu belum tidur nak?” tanya bapak  pada anak semata wayangnya yang duduk di bangku SMP ini.
            Nisa menggeleng sambil  menyalami tangan kasar bapak dan menciumnya dengan hormat.
            “Bapak  Nisa mau bicara,” ucap Nisa ketika mereka berdua sudah duduk di kursi ruang tamu. Nisa mengangsurkan secangkir teh yang sudah lumayan dingin karena sudah dibuat sejam yang lalu..
            “Bicara apa nak?” tanya bapak serius menatap Nisa, siap mendengarkan. Walaupun rasa capek terlihat jelas di wajah bapak.
            Nisa diam sebentar nampak ragu untuk mengungkapkan isi hatinya..
            “Bapak, teman sekelas Nisa mau mengadakan acara buka bersama. Nisa  boleh ikut?” tanya Nisa.
            “Tentu saja boleh Nis.”
            “Tapi Nisa  harus bayar iuran buka bersamanya pak,” ucap  Nisa nampak ragu-ragu.
            Bapak terdiam, nampak sedang memikirkan sesuatu. Namun, kemudian seulas senyum menghiasi wajah bapak yang nampak kelelahan.
            “Berapa iuarannya?” tanya bapak.
            “Empat puluh ribu pak,”jawab Nisa pelan.
            “Soalnya kita makan di cafe Jendela pak,” Nisa menyebutkan nama sebuah tempat makan baru di lingkungan mereka.
            “Semua teman-teman Nisa ikut pak. Nisa juga ingin ikut,” ucap Nisa lagi sambil  menunduk.
            “Nanti bapak usahakan cari uangnya ya. Kamu tidak usah khawatir. bapak jamin kamu bisa ikut acara  itu,” jawab bapak Nisa. Nisa tahu kalau  bapak tidak ingin mengecewakannya.
            Uang  40 ribu tentu bukan jumlah sedikit  bagi bapak apalagi penghasilan bapak yang hanya sebagai tukang becak. Namun, Nisa  ingin sekali ikut buber bersama  teman-teman sekelasnya. Nisa juga ingin mencoba makan di tempat makan baru yang makanannya dan tempatnya terkenal enak itu..
Nisa tidak ingin  di cap kudet oleh teman-temannya karena tdak ikut acara buber.  Biarlah kali ini Nisa mengijinkan egonya untuk menang. Selama ini, Nisa  selalu mengalah untuk menahan diri meminta uang banyak kepada bapak. Pernah Nisa  tidak ikut studi tur karena biayanya yang sangat besar bagi keluarga Nisa. Nisa juga  memilih membawa bekal ke sekolah daripada meminta uang saku ke bapak.
Namun, entah kenapa untuk yang satu ini Nisa  ingin sekali ikut. Sekali-kali Nisa  juga ingin makan enak dan berkumpul bersama teman-temannya. Jadi tak apa jika sekali-kali Nisa meminta uang lebih kepada bapak.
Sebenarnya Nisa sendiri mempunyai tabungan, tapi Nisa berencana menggunakan tabungannya untuk membeli baju baru buat lebaran besok dan itupun masih belum cukup.
*
            Hari ini bapak pulang awal. Dengan gembira bapak menyerahkan uang 40 ribu kepada Nisa.
            “Kamu bisa ikut buka bersama teman-temanmu Nis.”
            “Makasih ya pak,” ucap Nisa sangat senang sambil menerima uang itu. Di mata Nisa sudah terbayang makanan enak sambil berkumpul dengan teman-temannya.
            Emak tersenyum melihat kebahagiaaan Nisa.
            “Ayo kita berangkat shalat Terawih  sudah terdengar azan,” ingat emak sambil menyiapkan mukenanya.
            “Ayo pak kita berangkat shalat Terawih,” ajak Nisa.
            Bapak hanya terdiam.
            “Bapak sholat dirumah saja. Bapak capek,” terang bapak sambil memijit-mijit tangannya.
Nisa mengangguk. Kemudian bergegas mengambil air wudhu.
            Sepulang dari shalat Terawih tidak sengaja Nisa lewat depan kamar bapak yang terbuka. Nisa melihat bapaknya sedang khusuk sholat.
Namun, pandangan Nisa langsung tertuju ke sarung bapak. Sarung bapak yang sudah lusuh sobek lumayan panjang dibagian bawah, sehingga celana panjang bapak kelihatan. Padahal Nisa tahu kalau itu adalah kain sarung satu-satunya yang bapak punya. Mungkin karena termakan usia dan selalu dipakai, kain sarung bapak jadi rapuh.
            Nisa tba-tiba tercekat. Mungkin ini yang membuat bapak malu untuk sholat Terawih di masjid, karena Ramadhan tahun lalu dan hari-hari biasa bapak sangat rajin untuk sholat di masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah.
            Ada rasa sedih yang muncul tiba-tiba di hati Nisa
*
            Gema tabir berkumandang dengan khidmatnya. Orang-orang dewasa dan anak kecil bergembira berkeliling kampung untuk mengagungkan Allah SWT. Semua orang bahagia menyambut datangnya hari penuh kemanangan yang akan dirayaan esok hari.
            Nisa, emak dan bapak nampak sedang berkumpul bersama di ruang tamu. Mereka habis buka dan sholat maghrb berjamaah bersama.
            “Bapak Nisa ada sesuatu buat bapak,” ucap Nisa sambil menyerahkan bungkusan coklat ke bapaknya.
            Bapak dan emak heran melihat bungkusan coklat itu.
            “Apa ini Nis?” tanya bapak heran
            “Buka aja pak. Bukanya sambil baca bismillah ya,” perintah Nisa sabil tersenyum penuh rahasia.
            “Bismillah,” ucap bapak dan emak berbarengan.
            Tangan bapak langsung membuka bungkusan itu dengan cekatan. Alangkah terkejutnya bapak ketika melihat isi bungkusan itu. Sebuah sarung.
            Bapak memandang Nisa dengan penuh haru. Mata bapak nampak berkaca-kaca.
            “Maafkan Nisa ya pak, mak. Nisa janji tidak akan egois lagi.” ucap Nisa lirih
            “Kenapa kamu meminta maaf seharusnya bapak yang terimakasih sama kamu,” ucap bapaknya sambil membelai bahu Nisa dengan sayang.
            “Sarung ini dibeli dari uang 40 ribu dari bapak pak. Nisa hanya menambahi sedikit dari tabungan Nisa.”
            Bapak dan emak saling berpandangan dan tersenyum.
            “Terimakasih ya Nis karena kamu mengorbankan acara buka bersama demi sarung bapak,” ucap bapak sambil memeluk Nisa.
            “Besok  kita sholat id bareng di masjid ya pak,” mohon Nisa.
            Bapak menangguk.
            Nisa senang karena sekarang pasti bapak tidak malu lagi untuk ke masjid mengenakan sarung barunya.

Note : Salah satu Cerpenku yang ditolak redaksi